Beranda / Romansa / Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan / Bab 475 Seleramu Murahan!

Share

Bab 475 Seleramu Murahan!

Penulis: Madamme Yellow
last update Tanggal publikasi: 2026-09-22 20:38:35

Sorot matanya tajam, memancarkan aura dominasi yang langsung membungkam riuh ruangan.

Ia melirik Moreno dengan tatapan meremehkan. Persetan dengan harta melimpah pria itu, Karin tidak hidup dari belas kasihannya.

Matanya menyipit saat menangkap sosok Laura yang menyendiri di sudut ruangan, tampak layu dan terintimidasi seolah sedang disiksa secara mental. Sialan!

Karin mengepalkan tangannya. Ia dulu adalah idola, bidadari yang dipuja-puja. Bagaimana bisa sekelompok pria brengsek ini memperlakuk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 475 Seleramu Murahan!

    Sorot matanya tajam, memancarkan aura dominasi yang langsung membungkam riuh ruangan.Ia melirik Moreno dengan tatapan meremehkan. Persetan dengan harta melimpah pria itu, Karin tidak hidup dari belas kasihannya.Matanya menyipit saat menangkap sosok Laura yang menyendiri di sudut ruangan, tampak layu dan terintimidasi seolah sedang disiksa secara mental. Sialan!Karin mengepalkan tangannya. Ia dulu adalah idola, bidadari yang dipuja-puja. Bagaimana bisa sekelompok pria brengsek ini memperlakukan wajah yang mirip dengannya seperti sampah?“Ouh!” Karin melipat tangan di dada, mendongak menatap Moreno dengan dagu terangkat.Kedatangannya yang begitu provokatif membuat Moreno dan sang sekretaris refleks berdiri dengan wajah tegang.“Apa aku mengganggu pesta kalian?” tanya Karin, sinis luar biasa.Teman-teman Moreno terperangah tanpa mampu bersuara.Mereka tidak pernah tahu Laura memiliki kembaran yang begitu berani, seksi dan memancarkan aura bahaya seperti wanita arogan yang siap mencab

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 474 Tidak Sanggup Lagi

    “Mom, tas ini ... bukan Mommy yang beli?” suara Laura bergetar halus sebelum ia menyerahkan tas mewah edisi terbatas yang begitu sulit didapatkan.Selama ini, ia mengira benda itu adalah bentuk kasih sayang ibunya.Namun, fakta menghantamnya telak, tas itu pemberian Moreno, pria yang selalu bersikap dingin kepadanya. Sang ibu hanya berpura-pura mengakuinya demi gengsi.“Iya, Sayang,” jawab Mommynya tanpa beban.Laura tersenyum pahit.Dadanya mendadak sesak oleh ironi yang menyakitkan.Bagaimana bisa barang seindah ini datang dari seseorang yang bahkan tidak memiliki secuil pun rasa cinta untuknya?Lalu, jika itu hadiah, kenapa sekarang Moreno tega memintanya kembali di depan umum?Kemewahan fantastis yang dulu sempat membuncahkan kebahagiaan di hatinya, kini menjelma menjadi sumber kehinaan yang paling keji.“Oke, Mom,” bisik Laura pelan, menunduk dalam-dalam menyembunyikan luka yang mulai berdarah.Di sekelilingnya, teman-teman Moreno, para pengusaha sukses yang angkuh, melempar seny

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 473 Diabaikan

    “Jangan cari dia lagi!” Kalimat Karin terus berdengung di kepala Laura.Begitu ia membalas, Laura langsung meneleponnya, menumpahkan segala sesak yang selama ini menyumbat dada.“Kalau dia yang duluan hubungi?” tanya Laura, suaranya bergetar menahan tangis.Bagaimana mungkin mereka bisa secuek itu?Mereka dijodohkan.Ada saja perintah dari Daddy agar Laura menemui Moreno. Mengajak makan malam, merencanakan liburan, hingga sekedar mengantarkan sarapan pagi hangat yang ujung-ujungnya hanya berakhir di tempat sampah karena tidak dibutuhkan Moreno.Laura dipaksa mengemis perhatian. Saban hari, ia wajib menelpon dan mengirim pesan.Moreno tidak boleh mengeluh sedikit pun tentangnya. Jika pria itu terganggu dan mengadu, Moreno mengancam akan menarik seluruh investasi besarnya, sebuah ancaman fatal yang bisa menghancurkan bisnis keluarga Laura dalam semalam.“Kamu gak bisa nolak?” tanya Karin, nadanya melembut.“Gak bisa….” jawab Laura. Kepalanya menunduk layu, menatap jemarinya yang saling

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 472 Hadiah Misterius

    “Kenapa sih? Kenapa operasi hari ini harus ketemu lagi dengan dr. Dimas?” batin Karin jengkel.Karin benar-benar malas melihat senyum Dimas yang mengembang begitu merekah sejak pagi hingga siang.Ia tahu betul, binar di mata dokter muda itu ada karena dirinya ikut di dalam ruang operasi hari ini. Karin saat ini sedang terjebak mengikuti konsulen dokter bedahnya.Kebetulan, dr. Dimas adalah salah satu dokter spesialis yang ikut berkolaborasi dalam tim untuk menangani pasien tersebut.Operasi kali ini adalah kasus kanker serviks (leher rahim), sebuah tindakan pembedahan besar dan rumit yang melibatkan histerektomi radikal serta pengangkatan jaringan kanker oleh tim dokter bedah demi menyelamatkan nyawa pasien.“Halo, kamu cantik. Kembaran kamu juga cantik,” puji Dimas lembut setelah mereka selesai merapikan alat pasca-operasi.Karin berusaha menjauh sejauh mungkin, menenggelamkan diri di antara kesibukan ruang operasi, tetapi gerak-geriknya masih saja tertangkap oleh netra Dimas.“Makas

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 471 Dibuat Tidak Berharga

    “Pak Moreno, ada?”Siang itu, Laura berdiri di hadapan gedung pencakar langit yang seolah menantang langit Jakarta.Gedung itu adalah poros kekuasaan Moreno, seorang konglomerat muda yang namanya bertengger di daftar teratas orang terkaya di Indonesia.Moreno bukan sekadar pengusaha, ia adalah pemilik gurita bisnis raksasa, mulai dari konsesi pertambangan batu bara dan nikel yang tak habis direngkuh mata, armada penyewaan alat-alat berat berskala internasional, hingga lini properti mewah yang mencengkeram kawasan elite ibu kota.Tak hanya itu, pengaruh finansialnya menancap kuat dalam bentuk kepemilikan saham mayoritas di berbagai perusahaan multinasional, membentang melintasi selat hingga ke Malaysia dan Singapura.Kesibukan tingkat tinggi itulah yang membuat sang mumpuni kerap bolak-balik ke negara tetangga demi mengontrol aset-asetnya.“Maaf Pak, ada Nona Laura,” ucap sekretaris pribadi Moreno, wanita yang penampilannya selalu tampak terlalu sempurna, sembari melangkah masuk tanpa

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 470 Kekacauan Yang Dibuat Laura

    “Akhhhh! Kebakarannn!”Pekikan histeris Laura memecah keheningan pagi, bersaing sengit dengan bunyi nyaring alarm pendeteksi asap di dapur.Di atas wajan, sebongkah benda hitam legam yang dulunya adalah telur mata sapi kini lebih mirip arang prasejarah.Padahal, tepat sepuluh menit yang lalu, pembantu sudah mewanti-wantinya untuk duduk manis saja di meja makan.Alih-alih membuat Karin, saudari kembarnya, kagum dengan 'bakat memasak terpendam' yang selama ini tidak ada, Laura justru sukses menciptakan kepanikan massal.Karin yang sedang terlelap langsung melompat dari tempat tidur. Tanpa sempat berpikir, ia berlari tunggang-langgang menuju sumber suara.Ia hanya mengenakan lingerie sutra merah marun yang sangat seksi.Di koridor, ia nyaris bertabrakan dengan Arlan yang berlari tak kalah panik.Suaminya itu hanya memakai celana pendek dan kimono piyama sewarna dengan lingerie Karin, yang ikat pinggangnya terikat asal-asalan hingga mengekspos dadanya.Begitu sampai di ambang pintu dapur,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status