Masuk“Eugh!” Laura mendesah dengan begitu lembut saat Dimas memulai permainannya di ranjang. Ini malam pertama, tapi Dimas bukan pertama kali melihat miliknya. Andai saja Laura tahu kalau ia akan ternoda oleh Moreno, lebih baik malam itu ia serahkan sepenuhnya tubuh indahnya pada Dimas. Setidaknya Laura tidak akan pernah menyesal. “Kamu menikmatinya?” tanya Dimas dengan begitu lembut di telinga Laura, Laura mengangguk pelan dan tersenyum getir.Laura takut Dimas jijik dengannya, ia bukan perawan!Hamil anak Moreno. Tidak ada yang bisa diharapkan darinya tapi Laura melihat tidak ada gurat penyesalan dari wajah Dimas.“Ya, Dok. Ahhhh. Pelan ya, Sayang.” Laura mencengkram lembut bahu Dimas saat Dimas mulai menekan inti tubuhnya.Di bawah temaram lampu kamar yang sunyi, waktu seolah berjalan melambat.“Ouhhh.”Dimas bergerak dengan sangat perlahan, menepati janjinya untuk menjaga Laura dan janin di dalam kandungannya dengan penuh kehati-hatian.Ini pertama kalinya mereka saling memiliki, d
Dering ponsel Arlan kembali memecah keheningan malam dengan getaran yang jauh lebih bertenaga.Begitu tombol hijau digeser, suara Moreno langsung menggelegar dipenuhi murka yang tak tertahankan.“Kau membohongiku, Arlan! Kau bilang kau baru pulang dari rumah sakit, tapi kau justru menjadi saksi persekongkolan menjijikkan itu!” bentak Moreno dengan napas memburu, emosinya meledak tanpa kendali melalui sambungan telepon.Arlan hanya diam dengan rahang mengeras, mendengarkan setiap makian Moreno dengan dingin.“Aku tidak akan pernah menerima pernikahan sampah itu! Pernikahan siri itu tidak sah dimata hukum! Tidak terdaftar di negara!” teriak Moreno berapi-api, menyuarakan celah hukum yang langsung ia manfaatkan.“Dengar baik-baik, aku akan mengerahkan seluruh koneksiku untuk mendaftarkan pernikahanku dengan Laura lebih dulu ke KUA! Secara hukum negara, dia akan tetap menjadi istriku!”Jeda satu detik, suara Moreno merendah, berubah menjadi ancaman verbal yang sangat pekat dan berbahaya.
“Aamiin.”Setelah doa penutup pernikahan siri selesai dilantunkan, Dimas membawa Laura mendekat ke arah Karin dan kakak iparnya.“Aku gak tau kalau Dokter Arlan tidak ada malam ini, mungkin kami … mungkin sudah tertangkap, terima kasih, Dokter, Karin. Aku pasti akan mengingat yang kalian lakukan untukku,” ucap Dimas dengan tulus. “Santai, Dokter Dimas! Laura saudara Karin, kita sudah jadi keluarga sekarang. Dan tanggung jawabku untuk melindungi kalian.”Mereka musuh sebenarnya dan hari ini bisa jadi keluarga. Dengan ketulusan yang mendalam, Dimas dan Laura berterima kasih pada Arlan dan Karin atas pengorbanan serta perlindungan yang mereka berikan sepanjang malam yang melelahkan ini.Mendengar ucapan terima kasih itu, Arlan tersenyum kaku. Sebagai pria yang selalu berpikir logis dan terstruktur, ia mendadak bingung harus berbuat apa.Di satu sisi, status mereka kini sudah sah di mata agama.Apakah ia harus memberikan ucapan selamat?Namun di sisi lain, nurani rasionalnya berontak. I
“Kamu yakin disini, Dokter Dimas dan Laura melangsungkan pernikahannya?” tanya Arlan setelah sampai di tempat lokasi yang Dimas kirim pada mereka.Aroma wangi kayu gaharu dan lantunan ayat suci yang pelan-pelan terdengar menyambut kedatangan mereka di area pesantren pedalaman Surabaya.“Iya benar kok, sesuai banget tempatnya,” jawab Karin sedikit ragu.Bermodalkan pakaian sederhana, Arlan dan Karin melangkah masuk ke dalam ruangan semi terbuka tempat pernikahan siri itu akan dilangsungkan.Karin hanya mengenakan gamis instan seadanya yang ia sambar dari lemari sebelum kabur, namun keanggunan alaminya tetap terpancar, begitu pula Arlan yang melipat kemeja kerjanya hingga siku, tetap terlihat berwibawa dan tampan meski gurat lelah membayangi wajahnya.“Itu mereka, Sayang!” Acara sudah dimulai saat Karin dan Arlan masuk, Dimas menghampiri Arlan karena Arlan saksi pernikahan mereka.“Terima kasih, Dokter Arlan sudah datang.”“Sama-sama, sudah dimulai acaranya?” tanya Arlan sambil mengeda
“Apa maksudnya? Mengancamku! Dia pikir aku tidak punya kuasa untuk menghancurkannya!”Ketegangan di dalam mobil itu mendadak bergeser.Rasa takut yang semula mendominasi kini berganti menjadi aura dingin yang mengintimidasi.Arlan mengepalkan tangannya kuat-kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras menahan amarah yang menyala di balik sorot matanya yang tajam.Selama ini, orang-orang, termasuk Moreno, mungkin hanya melihatnya sebagai seorang Direktur Rumah Sakit yang sibuk dengan urusan birokrasi, manajemen dan pengadaan alat medis.Mereka lupa bahwa posisi itu tidak didapatkannya hanya dengan modal ijazah, melainkan dengan jaringan, pengaruh dan kekuasaan yang tertanam jauh di akar terdalam kota ini.Arlan bukannya tidak bisa bertindak. Ia hanya memilih untuk tetap berada di bayang-bayang.Namun malam ini, Moreno sudah melewati batas dengan mengancam keselamatan Karin dan eksistensi rumah sakit miliknya.Arlan melonggarkan pelukannya pada Karin, lalu merogoh saku jas
“Sayang, ponsel kamu bunyi dari tadi, angkat dulu!” seru Arlan yang merasa terganggu dengan suara ponsel Karin yang terus berdering. Tengah malam itu, kamar tidur Karin dan Arlan yang semula tenang mendadak diselimuti ketegangan.“Siapa sih yang telpon tengah malam gini, pasti Silvi nih!”Ponsel Karin bergetar di atas nakas, menampilkan tiga panggilan tidak terjawab dan sebaris pesan singkat dari Laura yang memintanya datang ke Surabaya malam ini juga untuk menjadi saksi nikah sirinya dengan Dimas.Pesan itu juga membawa peringatan, jangan sampai ada satu orang pun yang tahu.“Apa ini maksudnya? Laura kenapa?” tanya Karin bingung Bagi Karin, pesan itu rasanya seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.Dengan tangan gemetar, ia langsung membangunkan Arlan yang baru saja terlelap.Pria itu baru saja pulang dari rumah sakit, kelelahan setengah mati setelah seharian penuh disibukkan oleh tanggung jawabnya sebagai Direktur Rumah Sakit yang sedang mengurus pengadaan alat medis baru.“Sayang
“Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a
Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se
Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







