LOGIN“Dokter Dimas?” tanya Arlan setengah terkejut saat langkah kakinya terhenti di koridor kantor polisi yang ramai.Pulang dari Puskesmas, Arlan dan Karin langsung mendampingi Silvi menuju kantor polisi untuk menjenguk sang ayah.Di sana, pengacara independen yang mereka sewa sudah menunggu di depan ruang kunjungan.Namun, pemandangan tak terduga justru tersaji di ruang tunggu utama. Sosok rekan sejawat mereka berdiri di sana.Dimas menoleh, sama terkejutnya melihat kehadiran Arlan, Karin, dan Silvi.“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Arlan heran, menatap jas putih dokter yang dipegang Dimas.Asal Arlan tahu saja, hari-hari Dimas belakangan ini dipenuhi tekanan psikologis. Ia sudah sangat terganggu dengan kelakuan gila Moreno.Pria obsesif itu sengaja menyewa rumah tepat di depan kediaman mereka hanya untuk mengganggu keharmonisan rumah tangganya.Puncaknya, Moreno kini nekat berlatih menembak pada malam hari, menciptakan bunyi letusan yang meneror ketenangan.“Aku melaporkan Moreno.
Suasana di ruang tengah rumah Arlan mendadak hening. Suara penyiar televisi yang membacakan berita utama pagi itu terasa begitu menusuk telinga.“Ayah….”Layar kaca menampilkan foto wajah ayah Silvi dengan tulisan besar di bawahnya, Dugaan Korupsi Ratusan Miliar, Kerugian Negara Fantastis.Karin yang duduk di samping Silvi langsung meletakkan cangkir tehnya dengan tangan sedikit gemetar. Matanya melebar menatap layar, lalu beralih menatap sahabatnya dengan tatapan cemas yang mendalam.“Sil, kasus Ayah kamu jadi besar banget,” bisik Karin, suaranya tercekat.Berita di televisi dan media sosial benar-benar heboh. Semua platform membahas kasus ini tanpa henti.Silvi hanya menatap lurus ke depan. Wajahnya pucat, namun matanya tidak lagi memancarkan ketakutan. Ia tahu betul siapa sutradara di balik semua kehebohan media ini. Aldi!Pria itu sengaja mengerahkan kekuasaan dan uangnya untuk menggoreng kasus ini. Aldi sedang memojokkannya, menciptakan kegelisahan agar Silvi merasa tercekik, fru
“Baik kalau begitu. Aku ingin melihat sejauh mana kamu bisa bertahan, dan kita lihat kapan kamu akan datang mengemis kepadaku meminta ayahmu untuk dibebaskan,” desis Aldi.Kalimatnya terdengar sangat dingin, sebuah ancaman final sebelum ia membalikkan badan dengan gusar.Silvi hanya bergeming di tepi ranjang. Ia tidak peduli lagi pada gertakan itu.Wajahnya datar, menatap kosong ke arah lantai. Ia sudah benar-benar bosan dan muak karena urusan itu selalu saja dijadikan alasan utama untuk membuatnya tunduk di bawah ketiak Aldi.Biarkan saja kasus hukum itu berjalan sebagaimana mestinya. Jika memang ayahnya terbukti bersalah di mata hukum, maka ayahnya harus mempertanggungjawabkan semuanya dan dipenjara atas kesalahan yang diperbuat. Silvi tidak mau lagi menumbalkan sisa hidupnya.Melihat keras kepalanya Silvi yang sudah tidak bisa ditawar lagi, Aldi akhirnya melangkah keluar dari kamar tamu dengan rahang mengeras.Malam itu, Aldi pulang dengan tangan kosong tanpa membawa Silvi bersaman
“Aku tahu Silvi ada di dalam!”Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Aldi bahkan tidak berbasa-basi lagi dengan Arlan selaku tuan rumah.Wajahnya mengeras, rahangnya terkatung rapat, dan matanya langsung menyapu sekeliling ruangan untuk mencari keberadaan wanitanya.“Dia sudah tidur, Pak Aldi,” jawab Arlan tenang, mencoba menahan langkah pria itu di ruang tamu.“Aku ingin bicara dengannya sekarang!” tuntut Aldi tanpa menerima penolakan.Suaranya rendah namun bergetar menahan amarah yang teramat besar.Arlan berada dalam dilema yang mendalam.Di satu sisi, ia ingin melindungi ketenangan rumahnya dan sahabat istrinya.Namun disisi lain, ia sadar Silvi tidak bisa terus-menerus lari dan bersembunyi. Masalah ini harus diselesaikan oleh Silvi sendiri, karena bagaimanapun, Aldi adalah pria berkuasa yang tahu persis di mana mereka tinggal dan bisa berbuat nekat kapan saja.“Dia di kamar tamu,” ucap Arlan akhirnya mengalah.Arlan berbalik dan memberi isyarat agar Aldi mengikutinya menyusuri l
“Non, ada temannya di luar.”Suara ketukan pelan di pintu kamar membuyarkan kantuk Karin. Ia baru saja memejamkan mata setelah kepulangannya dari rumah Laura dan Dimas.Karin tidak menyangka akan ada tamu yang datang mengetuk rumahnya di jam dua malam seperti ini.“Siapa?” tanya Karin dengan kening berkerut.Teman dekatnya hanya Silvi seorang. Karin memang tipe wanita yang tertutup dan tidak memiliki banyak teman di lingkaran sosialnya.“Dokter Silvi, Non.”“Hahh? Ngapain?” Karin terkejut bukan main.Ia segera menyambar jubah tidurnya, mengikatnya terburu-buru, lalu melangkah cepat ke lantai bawah.Di luar, hujan deras sedang mengguyur Jakarta dengan sangat lebat. Begitu sampai di ruang tamu, Karin mendapati Silvi sedang duduk meringkuk di atas sofa.Di sampingnya, berdiri sebuah koper kecil yang basah karena cipratan air hujan. Silvi tampaknya datang menggunakan taksi online di tengah malam ini.“Sil, kamu kenapa? Kamu kabur dari rumah Pak Aldi?” tanya Karin bingung sekaligus khawati
“Akhirnya rumah sepi lagi, Sayang.” Dimas lelah sekali hari ini. Setelah kepulangan Karin, Arlan, dan sang Mommy, malam beranjak semakin larut. Dimas kemudian menuntun Laura masuk ke kamar tidur utama untuk beristirahat.Sayangnya, jendela kaca besar di kamar mereka menghadap lurus ke arah rumah mewah berlantai tiga milik Moreno di seberang jalan.Di seberang sana, dari balik kaca balkonnya, Moreno berdiri dengan rahang mengeras.“Sialan!” umpatnya lirih.Entah mengapa, Moreno tidak akan pernah siap dan selalu kepanasan setiap kali melihat kemesraan Dimas dan Laura, meskipun ia tahu betul bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang sah.Di dalam kamar yang temaram, Dimas menarik selimut dan merapatkan tubuhnya.“Sayang, aku mau peluk kamu. Aku capek banget hari ini,” ucap Dimas lembut sambil membawa Laura masuk ke dalam dekapan hangatnya.Dimas mengecup kening istrinya lama, lalu berbisik cemas.“Soal kejadian tadi siang di ruangan klinis, kamu gak mikir aneh-aneh tentang aku, kan?
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,







