LOGINSetelah memarkirkan mobilnya, Alvino memasuki rumah. Alvino menggenggam gagang pintu dan mencoba untuk membukanya, tapi ternayata Alesha sudah menguncinya. Lampu juga sudah dimatikannya, pertanda kalau Alesha sudah tidur. Alvino melirik ke arah arlojinya, belum selarut itu dan Alesha sudah tidur? "Mungkin dia benar-benar lelah." Alvino merogoh sakunya mencari kunci cadangan yang selalu dibawanya kemana pun. Setelah serhasil membukanya, Alvino berjalan ke arah kamarnya, namun samar-samar dia mendengar suara isak tangis dari dalam sana. "Alesha menangis?" tanyanya yang langsunf bergegas masuk dan mendapati Alesha yang duduk meringkuk di atas ranjang dengan wajah ditelungkupkan.Tentu saja Alvini merasa sangat khawatir, dia berjalan dengan langkah panjang untuk menghampiri Alesha yang sepertinya belum sadar dengan kehadirannya di sana. "Ale, kamu kenapa, Sayang?" tanya Alvino seraya menegakkan badan Alesha. Matanya sembab, air mata masih mengalir di wajahnya yang sudah memerah.Alesh
Donor darah dilakukan dengan lancar tanpa hambatan sedikit pun. Mereka hanya tinggal menunggu Asheeqa bangun saja, namun sudah tujuh hari Asheeqa belum juga berniat membuka matanya barang sedikit pun. Dia masih asik berkelana di alam mimpinya, menjelajahi jalan panjang menuju alam sadarnya.Alvino tidak pernah ingin meninggalkan Asheeqa sebentar saja sampai-sampai dia lah orang yang paling setia berada di sisi Asheeqa. Sejenak saja dia tidak pernah menginjakkan kakinya di rumahnya untuk beristirahat. "Om, ini sudah malam. Om pulanglah sebentar saja, besok pagi-pagi kita akan ke sini lagi," bujuk Alesha yang selalu mendampingi Alvino di sana. Sudah tujuh hari Alesha selalu berusaha membujuk Alvino untuk pulang dan makan, namun sang empu tidak pernah mendengar."Enggak, Ale, aku harus menunggu Asheeqa sadar dulu baru aku akan pulang. Di tertabrak pun gara-gara aku, ini kesalahanku." Selalu saja begini; Alvino menyalahi dirinya atas apa yang terjadi, Alesha tidak menyukai hal itu.Alesh
Setelah melakukan kecocokan darah dengan dokter, Alvino duduk gusar di samping Alesha untuk menanti pemberitahuan dari dokter. Alesha meraih tangan Alvino dan menggenggamnya dengan erat, dia ingin menyalurkan semangat untuk sang suami. Dia tahu kalau saat ini suaminya tengah lemah dan khawatir. Dokter berjalan mendekat ke arah Alesha dan Alvino yang langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri sang dokter. Bukan hanya Alesha dan Alvino yang menanti pemberitahuan dari dokter, tapi Evano, Ghiska dan Adit juga menanti dengan penuh harap; harap-harap darah Alvino dan Asheeqa cocok."Bagaimana, Dok? Apa darah saya cocok dengan darah adik saya?" tanya Alvino yang sudah tidak sabar."Dari hasil tes, ternyata darah anda dengan pasien tidak memiliki kecocokan. Darah pasien AB- sedangkan anda berdarah A," jawabnya."Golongan darah AB-?" tanya Alesha memastikan ucapan dokter."Iya.""Golongan darah saya AB-, Dok, saya siap mendonorkan darah saya untuk Asheeqa.""Ale," panggil Alvino seraya
Adit sudah gemas karena Alesha masih saja diam dan tidak menjawab pertanyaannya. Dengan pelan, Adit menepuk pundak Alesha hingga membuyarkan lamunan sang empu."E-eh, kenapa, Dit?" tanya Alesha setelah sadar dari lamunannya."Ada apa? Kenapa wajah lo setegang itu? Tadi dapet telepon dari suami lo, 'kan? Apa katanya?" Pertanyaan beruntun dilontarkan oleh Adit."Asheeqa tertabrak mobil katanya, sekarang dia lagi ditangani di ruang ICU, Dit. Ayo anterin aku ke sana, aku sangat khawatir padanya," ujar Alesha memohon seraya menggoyang-goyangkan tangan Adit."Asheeqa? Dia adiknya Alvino? Astaga, kejutan ini membuat gue pusing banget. Lagian, biarin aja kali dia tertabrak, selama ini kan dia sudah jahat sama lo. Bahkan gue sangat ingat kejadian di mana lo dituduh maling sama dia." Wajah Adit terlihat benar-benar tidak suka kepada Asheeqa, bahkan terlihat rahangnya mengeras menahan amarah.Alesha melempar senyum kepada Adit, meski di dalam lubuk hatinya masih digerogoti rasa khawatir, Alesha
Alesha masih setia duduk di sofa, menanti kembalinya Alvino. Sesekali dia melirik ke arah jam yang berada di dindingnya, bahkan dia belum pergi membersihkan dirinya karena merasa terlalu khawatir dengan Alvino.Sudah berbagai macam gaya duduk Alesha gunakan untuk mengusir rasa bosannya menunggu, tapi sang empu yang ditunggu belum kunjung datang. Hingga suara bel membuyarkan lamunannya. Dengan segera Alesha berlari menuju ke arah pintu berharap itu adalag Alvino. Alvino? Aneh sekali jika dia memencet bel ke rumahnya sendiri. Alesha membuka perlahan pintunya dan menyembulkan kepalanya melihat siapa orang yang berkunjung malam-malam ke rumahnya. Setelah mengetahui kalau tamunya adalah Adit, dia pun keluar sepenuhnya menghadap ke arah Adit."Alesha," panggil Adit. Dari sorot matanya, Alesha bisa melihat ada kekecewaan dari tatapannya. Ada apa sebenarnya dengan Adit? Pikir Alesha."Adit, ada apa malam-malam ke sini? Dan ... kamu tahu rumahku dari mana?""Tentu saja aku tahu.""Dari mana?"
Dengan amarah yang sudah memuncak, Alvino mencari-cari keberadaan Queenna, hingga dia sampai di sebuah ruangan yang biasa digunakan oleh para orang-orang bermain kartu dengan taruhan uang dalam jumlah yang banyak. Alvino tetap memaksa masuk meski dua orang penjaga yang menjaga pintu mencegatnya, saking kesalnya dia, hingga membuat kekuatannya semakin bertambah dan berhasil menghalau dua orang pejaga itu." Sialan! Siapa anda yang datang-datang memaksa masuk. Apa anda ingin mencari keributan di sini, hah!" seru salah satu dari mereka yang kepalanya botak. "Diamlah, Bedebah. Kekasihku ada di dalam!" Dengan paksa Alvino membuka pintu dengan keras hingga menimbulkan bunyi nyaring dari pintu itu. Orang-orang yang berada di dalam ruangan itu serempak terlonjak kaget. Beberapa dari mereka menatap marah ke arah Alvino yang sudah mengganggu ketenangan main mereka.Lihatlah, masing-masing dari pria-pria itu memiliki pasangan-pasangan yang muda nan cantik. Di sana juga ada Queenna tengah dudu
Tanpa sadar, mereka mulai dekat meski dengan perdebatan-perdebatan kecil. Alesha merasa cukup nyaman dengan keberadaan Alvino meski Alvino menyebalkannya sangat tidak ketulungan. Mobil silver Alvino terparkir rapi dengan mobil-mobil yang lain. Alesha turun lebih dulu setelah mobil Alvino terparkir
Alesha sudah bersiap mengenakan baju putih lengan pendek dipadukan dengan rok hitam yang panjangnya hanya sampai atas lututnya, meski hanya mengenakan pakaian seperti itu, Alesha tetap terlihat cantik dengan tinggi badan yang tidak terlalu tinggi. Sedari tadi Alesha berjalan kedepan dan belakang
Sudah dua hari sejak hari dimana Alesha memutuskan untuk menerima pernikahan paksa dengan anak tuan Malik yang bernama Alvino. Dalam dua hari, Alesha sudah menyiapkan mental serta hatinya. "Ale, hari ini tuan Malik bersama dengan istrinya juga Alvino akan datang ke sini untuk melamar kamu secara
"Bunda, Ayah, cukup!" tegur Kenandra Athariz---Kakak Alesha---seraya berjalan menghampiri dua orang yang tengah asik memarahi adik kesayangannya. "Kenan," ucap mereka serempak dan tentu saja terkejut. "Kalian apa-apaan, sih? Kenapa kalian bisa-bisanya menuduh Ale akan menjual dirinya hanya demi







