登入Sudah dua hari sejak hari dimana Alesha memutuskan untuk menerima pernikahan paksa dengan anak tuan Malik yang bernama Alvino. Dalam dua hari, Alesha sudah menyiapkan mental serta hatinya.
"Ale, hari ini tuan Malik bersama dengan istrinya juga Alvino akan datang ke sini untuk melamar kamu secara langsung." Kenandra berucap. Sebenarnya hari ini Kenandra masih masuk kerja, tapi Kenandra sengaja mengambil libur untuk hari ini saja. Hari penting untuk sang adik, meski Kenandra tahu Alesha hanya terpaksa menerima semua ini. "Untuk apa ngelamar lagi, Bang? Bukankah semuanya sudah siap? Bukankah ayah juga udah bicara sama tuan Malik?" "Itu artinya tuan Malik beserta keluarga adalah orang baik-baik, meski mereka memaksa untuk menikahkan anaknya denganmu, tapi mereka tetap memilih untuk melamar kamu dengan cara baik-baik lagi. Kamu harus bersyukur karena kamu akan mendapat keluarga yang baik seperti mereka," ujar Kenandra yang masih menemani Alesha di kamarnya. "... Dan kamu tidak akan mendapat amukan-amukan ayah sama bunda lagi di sini. Abang jadi lega kalau pergi bekerja sekarang, tidak lagi mencemaskanmu mendapat amukan ayah sama bunda." Alesha yang masih sibuk dengan keyboard-nya pun menghentikan aktivitasnya, Alesha mengalihkan pandangannya ke arah Kenandra yang memilih rebahan di sisi lain tempat tidur Alesha. "Aku sebenarnya nggak masalah mendapat amukan dari mereka, ya ... meski sesekali memang terasa begitu menyakitkan. Tapi tetap saja aku bersyukur banget punya kalian, aku juga bersyukur punya bunda seperti bunda Anindya, dia udah lahirin Ale ke dunia ini bertaruh nyawa. Aku bersyukur punya ayah seperti ayah Arkan, udah rela banting tulang demi menghidupi keluarga kita. Ale juga bersyukur pakai banget memiliki seorang abang sebaik dan se-sayang Bang Kenan. Aku juga pasti bersyukur jika nanti mendapat keluarga dan suami yang baik, Bang," jawab Alesha disertai senyum tulusnya. Ungkapan Alesha membuat Kenandra terdiam. Kenandra memilih tengkurap supaya memudahkan dirinya memandang wajah sang adik. Kenandra menatap intens ke arah Alesha yang kembali sibuk mengetikkan sesuatu di laptopnya. Sejujurnya Kenandra belum siap untuk merelakan Alesha bertemu dengan keluarga baru, tapi Kenandra lega karena Alesha tidak lagi menderita di rumahnya. "Ale harus janji sama, Abang. Ale harus bahagia nanti, jangan mau disakitin siapapun lagi. Jika ada yang menindasmu, maka tindas balik. Jangan menjadi malaikat ketika berhadapan dengan setan, jadilah setan jika sedang berhadapan dengan setan, begitupun sebaliknya. Meskipun kita bukan dari keluarga yang berada, tapi kamu harus tetap menjunjung tinggi harga diri kamu. Kamu paham?" peringat Kenandra. Senyuman seketika terukir di wajah Alesha, dia menutup laptopnya dan menghadap langsung ke arah sang kakak. Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang kakak seperti, Kenandra? Alesha merasa menjadi seseorang paling beruntung di muka bumi ini hanya karena memiliki kakak seperti Kenandra. "Abang tenang aja, nasihat-nasihat Abang ini pasti akan Ale praktekin. Ale juga bisa kok jadi setan jika berhadapan dengan setan. Ale kan turunan Abang, yang jago banget bersikap jahat, padahal mah aselinya super duper baik." Alesha membentuk ok dengan jarinya seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Kenandra yang malah tertawa atas jawaban Alesha. "Baru adeknya Kenandra!" seru Kenandra bersemangat. Alesha berhambur memeluk Kenandra. Berada di sisi Kenandra membuat hidup Alesha terasa damai. "Ale juga yakin kalau sebenarnya bunda sama ayah sayang banget sama Ale. Buktinya bunda rela lahirin Ale sampai bertaruh nyawa. Bener, kan, Bang?" Kenandra rasanya tidak mampu hanya menjawab pertanyaan se-sederhana itu dari Alesha. Mulutnya seketika terasa kelu. Kenandra tidak terlalu yakin kalau orang tuanya akan menyayangi Alesha. Karena tidak mendapat jawaban dari sang kakak, Alesha mengurai pelukannya kemudian menatap lekat ke arah Kenandra. "Abang, kok diam?" "Iya, Sayang? Kenapa?" "Bunda sama ayah sayang juga kan sama, Ale?" Kenandra menjawab hanya dengan anggukan kepala serta senyum tipis saja. **** Hari semakin sore, dan di sinilah Alesha berada sekarang di ruang tamu bersama dengan kedua orang tuanya juga kakaknya untuk menunggu kedatangan keluarga Malik yang sudah membuat janji akan datang sore ini. Alesha meremas tangan Kenandra yang terus menggenggamnya sedari tadi ketika mendengar deru mobil yang berhenti tepat di pekarangan rumahnya. Arkan dan Anindya sudah berjalan keluar untuk menghampiri tamunya, sedangkan Alesha tidak ingin membiarkan Kenandra barang sejenak pun untuk beranjak dari sisinya. Sungguh, Alesha benar-benar merasa begitu gugup serta takut untuk bertemu dengan calon keluarga barunya. "Assalamu'alaikum, Alesha ...," ucap Mikayla Ghiska Malik---Mama Alvino---dengan nada suara lembutnya. Alesha yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya pun seketika mengangkat pandangannya ketika suara lembut itu dengan sopan masuk ke dalam telinganya. Alesha melempar senyum untuk Ghiska yang menatapnya dengan bahagia. "W-wa'alaikumussalaam, Tante," balas Alesha gugup. "Silakan duduk," ajak Alesha berbasa-basi. "Ternyata pilihan Papa nggak salah, ya, anaknya cantik, ramah juga," puji Ghiska dengan bangga. Alesha jadi malu sendiri mendengar pujian keluar dari mulut calon mertuanya, bahkan dari orang tuanya saja Alesha tidak pernah mendnegar pujian seperti itu keluar dari mulut mereka. Mata Alesha menatap ke arah pintu mencari sosok orang yang bernama Alvino, seseorang yang akan menjadi suaminya. "Ah ... kamu pasti mencari Alvino, 'kan? Maafin Alvino ya, Le, dia nggak bisa datang sama kami, masih ada pekerjaan penting katanya di resto," ujar Azkio Evano Malik---Papa Alvino---ketika melihat raut wajah kebingungan Alesha. "Hehe ... nggak pa-pa kok, Om," jawab Alesha. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Kenandra dua hari yang lalu perihal keluarga Malik, Alesha mengakui kalau keluarga Malik memang terlihat baik; tutur katanya yang sopan juga lembut membuat Alesha merasa nyaman bertegur sapa tanpa rasa canggung dengan mereka. Alesha malah merasa kalau keluarga Malik memang lebih baik kepada dirinya daripada orang tuanya sendiri. "Jadi, Nak Alesha, Om mau minta sama kamu buat menerima anak Om jadi suami kamu. Om minta tolong banget sama kamu," ujar Tuan Malik dengan tangan yang ditautkan. Alesha menjadi ragu untuk menerima pernikahan ini. Alesha menjadi takut mendengar permohonan yang terlontar dari mulut calon mertuanya itu. Memangnya ada apa dengan puteranya sampai-sampai dia harus memohon-mohon padanya? Pikir Alesha. "Kamu nggak usah takut, Sayang, kami akan menganggap kamu seperti anak kami sendiri. Kami akan menyayangi kamu layaknya puteri kami." Ghiska menyahut dari samping suaminya untuk memberikan keyakinan kepada Alesha supaya Alesha mau menerima pernikahan ini. Alesha menatap ke arah Kenandra untuk mencari jawaban dan hanya dibalas dengan anggukan oleh Kenandra tentu saja disertai senyuman. Alesha pun beralih menatap kedua orang tuanya yang malah memelototinya. Alesha mengerti arti pelotoan orang tuanya; mereka ingin segera mendengar kata 'iya' keluar dari mulut Alesha. "Bagaimana?" "Bukankah ayah sudah memberitahu kalian jawabannya? Lalu, kenapa kalian masih bertanya?" tanya Alesha sopan. "Iya, ayah kamu memang sudah memberitahu kami, tapi kami ke sini untuk memastikan langsung. Apa kamu bersedia?" "Iya, Om, Ale bersedia untuk menikah dengan putera, Om dan Tante." Kata-kata itu akhirnya lolos dari mulut Alesha dengan sekali tarikan napas. Alesha benar-benar melakukan ini hanya demi kakaknya. Jika bukan karena Kenandra, Alesha mungkin tidak akan pernah melakukan hal ini; menikah dengan terpaksa. Menikah dengan seseorang yang tidak dia kenali samasekali. Menikah tanpa dasar cinta, melainkan hanya karena terlilit hutang. "Terimakasih karena sudah bersedia, Sayang." Tak terelakkan raut wajah bahagia juga lega terpancar jelas di wajah Ghiska. "Besok siang kamu harus bersiap-siap karena besok Alvino akan menjemputmu untuk melakukan fitting baju," ujar Tuan Malik. "Baik, Om." Karena semua urusan sudah selesai, juga tuan Malik dan Ghiska termasuk orang yang sangat sibuk membuat mereka tidak bisa berlama-lama di kediaman Alesha dan pamit untuk pulang. Sepeninggalannya tuan Malik beserta istri, tinggal-lah Alesha dan Kenandra saja yang tersisa di ruang tamu ini. "Abang," cicit Alesha seraya memeluk lengan Kenandra erat. "Kenapa, Ale?" "Ale takut, Bang." "Kenapa kamu harus takut lagi? Bukankah kamu juga sudah tahu kalau keluarga Malik itu orang baik? Apalagi yang buat kamu takut, Sayang?" Kenandra menghadapkan Alesha ke arahnya. "Takut aja kalau ternyata keluarga Malik nggak sebaik covernya." "Hey ... nggak boleh buruk sangka gitu." "Maaf." "Udah, ya, jangan berpikiran yang aneh-aneh lagi, percaya sama Abang, ya. Kalau emang ada sesuatu terjadi nanti sama kamu, jangan pernah sungkan-sungkan buat lapor sama, Abang. Abang akan selalu siap jadi yang terdepan buat kamu!" "Yamaha dong jadinya kalo siap jadi yang terdepan." Kenandra tertawa mendengar lawakan Alesha yang menurut Alesha itu lawakan garing. Bagaimana mungkin Kenandra bisa semudah itu merelakan adik kecilnya bertemu dengan keluarga barunya jika seperti ini?Malam ini ... setelah dua hari yang lalu mempersiapkan segala keperluan pernikahan Alvino dan Alesha, Alesha dijemput oleh Alvino untuk dibawa ke rumahnya dikarenakan besok mereka akan segera melangsungkan pernikahannya di kediaman Malik. Memang sudah begitu perjanjiannya, Alesha akan dibawa H-1 pernikahan akan dilangsungkan."Abang, Ale pergi dulu, ya," pamit Alesha dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sekali mengerjap saja, air mata Alesha akan langsung meluncur dari tempatnya.Kenandra juga sama sedihnya dengan Alesha, tapi dia menahannya dengan memperlihatkan senyum termanisnya untuk sang adik. Dia tidak ingin Alesha semakin merasa tidak rela meninggalkan dirinya. Kenandra tahu ini adalah saatnya untuk dia melepaskan Alesha, sebab Alesha kini sudah memiliki kehidupan baru bersama suaminya."Hey ... jangan sedih gitu, dong, Ale. Kita kan cuma pisah rumah saja, bukan berarti kita putus hubungan, 'kan? Ale masih jadi adik kesayangan, Abang, selamanya. Ale sekarang udah punya kehidupa
Tanpa sadar, mereka mulai dekat meski dengan perdebatan-perdebatan kecil. Alesha merasa cukup nyaman dengan keberadaan Alvino meski Alvino menyebalkannya sangat tidak ketulungan. Mobil silver Alvino terparkir rapi dengan mobil-mobil yang lain. Alesha turun lebih dulu setelah mobil Alvino terparkir. Alesha tidak akan berharap lagi untuk dibukakan pintu oleh Alvino, karena berharap pada Alvino sama saja dengan menyakiti perasaan sendiri. "Padahal baru aja mau bukain kamu pintu mobil, tapi malah keluar duluan. Kamu jadi nggak bisa ngerasai diromantisin sama aku," ujar Alvino setelah berdiri di samping Alesha. Alesha memutar bola matanya malas menatap Alvino dengan gaya sok cool-nya itu. Berada di dekat Alvino memang nyaman, tapi bisa-bisa kalau seharian berdebat dengan Alvino, Alesha bisa darah tinggi. "Sudahlah, Om, hentikan omong kosong, Om. Aku tahu Om hanya berbohong." "Apa tampangku terlihat sedang berbohong?" "Terlihat jelas, Om. Muka-muka seperti Om ini adalah muka-muka seo
Alesha sudah bersiap mengenakan baju putih lengan pendek dipadukan dengan rok hitam yang panjangnya hanya sampai atas lututnya, meski hanya mengenakan pakaian seperti itu, Alesha tetap terlihat cantik dengan tinggi badan yang tidak terlalu tinggi. Sedari tadi Alesha berjalan kedepan dan belakang yang sesekali duduk 'tak karuan menantin kedatang seorang Alvino. Entah kenapa jantungnya berdetak 'tak karuan. Alesha takut-takut berani untuk bertemu dengan Alvino, dia takut jika Alvino tidak sesuai dengan ekspektasinya. Takutnya nanti seseorang yang bernama Alvino itu adalah seorang om-om yang sudah keriputan, mengingat bagaimana memohonnya orang tua Alvino kemarin. "Jangan-jangan Alvino itu udah tua dan nggak laku makanya orang tuanya memohon-mohon sama aku buat dijadiin istrinya dengan berdalih untuk bayar hutang. Please, Ale takut, Tuhan!" gumam Alesha yang masih duduk tidak bisa diam di tempatnya. "Ale," panggil Kenandra yang baru saja keluar dari kamarnya mengejutkan Alesha yang
Sudah dua hari sejak hari dimana Alesha memutuskan untuk menerima pernikahan paksa dengan anak tuan Malik yang bernama Alvino. Dalam dua hari, Alesha sudah menyiapkan mental serta hatinya. "Ale, hari ini tuan Malik bersama dengan istrinya juga Alvino akan datang ke sini untuk melamar kamu secara langsung." Kenandra berucap. Sebenarnya hari ini Kenandra masih masuk kerja, tapi Kenandra sengaja mengambil libur untuk hari ini saja. Hari penting untuk sang adik, meski Kenandra tahu Alesha hanya terpaksa menerima semua ini. "Untuk apa ngelamar lagi, Bang? Bukankah semuanya sudah siap? Bukankah ayah juga udah bicara sama tuan Malik?" "Itu artinya tuan Malik beserta keluarga adalah orang baik-baik, meski mereka memaksa untuk menikahkan anaknya denganmu, tapi mereka tetap memilih untuk melamar kamu dengan cara baik-baik lagi. Kamu harus bersyukur karena kamu akan mendapat keluarga yang baik seperti mereka," ujar Kenandra yang masih menemani Alesha di kamarnya. "... Dan kamu tidak akan m
"Bunda, Ayah, cukup!" tegur Kenandra Athariz---Kakak Alesha---seraya berjalan menghampiri dua orang yang tengah asik memarahi adik kesayangannya. "Kenan," ucap mereka serempak dan tentu saja terkejut. "Kalian apa-apaan, sih? Kenapa kalian bisa-bisanya menuduh Ale akan menjual dirinya hanya demi uang? Kenapa pikiran kalian se-bejat itu, sih?" Kenandra menarik Alesha ke dalam pelukannya. Dia bisa merasakan tubuh bergetar sang adik, tentu dia tidak tega melihat adiknya diperlakukan seperti ini oleh orang tuanya. "Kami cuma minta bantuan padanya, Kenan. Lagian, dia aneh-aneh aja sih malah mau kuliah, dia pikir kita punya banyak uang buat membiyayainya? Beruntung dia masih bisa lulus SMA, mana lulusan sekolah ter-favorite se-Indonesia, lagi." Tatapan Anindya tidak pernah berubah, selalu sinis dan tidak suka. Sampai saat ini, Alesha masih tidak mengerti kenapa dia begitu tidak disukai bahkan sangat dibenci oleh kedua orang tuanya. Hanya Kenan, sang kakak yang begitu menyayanginya mele
Ayah, Bunda, Alesha nggak mau nikah diusia Alesha yang masih sangat muda ini, terlebih dengan seseorang yang nggak pernah Alesha temui sama sekali!" tolak Alesha dengan bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya disertai deraian air mata yang terus mengaliri pipi berisinya tanpa henti. Kedua orang tua Alesha bersedekap dada seraya menatap Alesha tanpa iba. Mereka bosan mendengar anaknya yang memohon-mohon sedari pagi meminta supaya tidak jadi dinikahkan. "Yah, Bun, Alesha mohon sama kalian. Alesha masih mau kuliah, Alesha baru aja lulus SMA masa Alesha udah mau dinikahin, sih?" "Kuliah katamu? Kamu pikir kuliah tidak membutuhkan uang? Biaya kuliah itu mahal, Alesha, sadarlah kalau kita bukan lagi orang kaya seperti dulu. Perusahaan Ayah sudah bangkrut sejak dulu. Jadi untuk mengurangi beban di rumah ini, kamu harus segera pergi dari sini dan menerima pernikahan ini!" tegas Arkan Ghifari---Ayah Alesha Shaqia---tanpa perasaan dengan tatapan menajam seraya menjauhkan kakinya yang masih







