Share

Devil Alesha

Author: Nona Senja
last update publish date: 2026-06-23 15:40:55

Alesha sudah bersiap mengenakan baju putih lengan pendek dipadukan dengan rok hitam yang panjangnya hanya sampai atas lututnya, meski hanya mengenakan pakaian seperti itu, Alesha tetap terlihat cantik dengan tinggi badan yang tidak terlalu tinggi.

Sedari tadi Alesha berjalan kedepan dan belakang yang sesekali duduk 'tak karuan menantin kedatang seorang Alvino. Entah kenapa jantungnya berdetak 'tak karuan. Alesha takut-takut berani untuk bertemu dengan Alvino, dia takut jika Alvino tidak sesuai dengan ekspektasinya. Takutnya nanti seseorang yang bernama Alvino itu adalah seorang om-om yang sudah keriputan, mengingat bagaimana memohonnya orang tua Alvino kemarin.

"Jangan-jangan Alvino itu udah tua dan nggak laku makanya orang tuanya memohon-mohon sama aku buat dijadiin istrinya dengan berdalih untuk bayar hutang. Please, Ale takut, Tuhan!" gumam Alesha yang masih duduk tidak bisa diam di tempatnya.

"Ale," panggil Kenandra yang baru saja keluar dari kamarnya mengejutkan Alesha yang masih dengan pikiran-pikiran anehnya.

"Abang, ngagetin aja, sih!" protesnya.

"Lho, Abang kan cuma manggil biasa, kenapa kamu bisa se-terkejut itu?"

"Abang mau ke mana?"

"Hari ini Abang udah masuk kerja lagi, Sayang."

"Ya udah, Abang hati-hati, ya, semangat kerja juga, Bang Kenan kesayangan Ale."

Kenandra menganggukkan kepalanya kemudian beralih mengecup kening Alesha dengan sayang.

"Ya sudah, Abang berangkat dulu. Nanti kamu juga hati-hati, jangan sampai kamu jantungan kalau ketemu sama, Alvino," canda Kenandra yang mendapat pukulan di lengannya.

Setelah kepergian Kenandra, Alesha kembali berjalan tidak karuan di tempatnya seraya sesekali melihat ke arah jam tangannya. Dering di ponselnya mengintruksi kegiatannya maju mundur di tempat. Kening Alesha mengernyit bingung karena melihat nomor tidak dikenal menelponnya. Dengan segera Alesha menjawab panggilan tersebut.

"Halo ... ini siapa?"

"Ini Alvino!"

Suara tegas dari sebrang sana seketika membuat jantung Alesha berdebar 'tak karuan. Meski suaranya tegas namun terdengar berkarisma.

"O-oh, i-iya, kenapa?" tanya Alesha.

"Cepetan keluar atau aku tinggal!"

Mata Alesha melotot tidak percaya atas ancaman dari Alvino. Alesha memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak kemudian berlari keluar rumah.

Benar saja, sudah ada mobil silver terparkir indah di depan rumahnya.

"Apa sih susahnya masuk? Nggak berperiketamuan banget, emang!" gerutu Alesha kemudian berjalan dengan santai menuju ke mobil Alvino.

Sesampainya di depan mobil tersebut, Alvino keluar mengenakan kemeja dengan warna yang sama seperti yang dikenakan oleh Alesha. Mereka saling memandang tidak percaya, padahal mereka tidak berjanjian akan mengenakan baju warna apa, tapi semesta seolah merestui mereka sampai-sampai tanpa sengaja mereka mengenakan warna baju yang sama.

Pikiran-pikiran buruk Alesha tentang Alvino adalah om-om keriput pun lenyap seketika ketika berhadapan langsung dengan seorang Alvino Rafanial Vidiansah Malik, pria tampan yang tingginya jauh di atasnya.

"Hai, Om!" sapa Alesha refleks.

"Om-om-om, kamu kira aku setua itu, hah?!" protes Alvino yang tidak terima karena dipanggil om oleh Alesha.

"Kelihatan banget."

"Pagi-pagi jangan buat kesel ya, bocil! Cepetan naik atau aku tinggilin kamu sendirian di sini!"

"Ya udah, tinggalin ya tinggal aja, toh yang bakal dimarahin sama om dan tante kan kamu bukan aku. Gih kalau mau tinggalin!"

'Dasar sweet devil, pagi-pagi udah nguji kesabran aja nih bocah, untung cakep,' batin Alvino seraya mengembuskan napasnya kasar.

"Oke-oke, cepetan naik biar urusan cepet kelar, aku juga lagi banyak kerjaan." Kali ini Alvino bernada lebih lembut dari yang sebelumnya.

"Bukain pintu mobil dong, Om, biar romantis kayak di tv-tv itu, lho," pinta Alesha dengan mata mengerjap-ngerjap beberapa kali ke arah Alvino.

Alvino bergidik ngeri melihat tingkah Alesha, dia pikir Alesha kurang waras. Tanpa menghiraukan ucapan Alesha, Alvino memasuki mobilnya dan duduk di jok kemudi.

Alesha menatap tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Alvino, dia kira Alvino akan menuruti permintaannya, tapi dengan tidak berperasaan Alvino malah masuk dan duduk anteng lebih dulu di kursinya.

Dengan langkah panjang Alesha memasuki mobil Alvino kemudian menutupnya dengan begitu keras membuat sang pemiliki terlonjak kaget. Alvino sendiri prihatin dengan nasip mobilnya, jika setahun saja Alesha akan memasuki mobilnya, maka dia yakin kalau pintu mobilnya akan segera minta diganti.

"Gadis aneh!"

"Heh, Om, dikira aku budeg? Aku denger, ya!"

"Apa aku terlihat peduli?" Alvino memasang wajah menyebalkannya.

Andai saja Alesha tidak mengingat kalau laki-laki di depannya sekarang ini adalag calon suaminya, bisa saja Alesha menjambaknya tanpa perasaan sekarang juga.

"Jalan!" titah Alesha karena mobil Alvino masih juga berdiam di tempatnya.

"Sabar, dong. Sensi banget jadi orang!"

"Apa aku terlihat peduli?"

Sekarang giliran Alvino yang kesal sendiri karena kalimatnya diambil oleh Alesha. Alvino jadi ragu kalau rumah tangganya dengan Alesha akan berjalan dengan lancar jika sikap Alesha saja sudah menyebalkan seperti saat ini.

'Dasar, Devil!' gerutu Alvino dalam hati.

Mobil Alvino sudah bergabung dengan para pengendara yang lain di jakan raya yang sudah macet meski masih sangat pagi seperti ini.

"Heh, bocil!"

"Aku punya nama ya, Om! Namaku Alesha Shaqia, umurku sudah 17 tahun, aku baru lulus beberapa hari yang lalu tapi aku dipaksa menjadi istrinya Om sama orang tuanya, Om. Beruntunglah karena menikah dengan gadis semuda aku, padahal aku saja belum mau menikah!" Alesha memperkenalkan dirinya serta alasan kenapa dirinya mau menikah dengan Alvino.

Bola mata Alvino berputar jengah. Alesha pikira dirinya tidak mengenali namanya?

"Bocil, kamu kira aku nggak tahu nama kamu? Kamu juga, manggil-manggil om, dikira aku setua itu? Ubah panggilanmu itu, setidaknya panggil kak atau mas kek, gitu."

"Dih, kok ngatur? Terserah aku dong, yang ngasih panggilan juga aku, kok malah Om yang sewot, sih!"

Alvino menyeringai seraya menatap ke arah Alesha. Dia akan membuat Alesha kesal setiap harinya nanti ketika mereka sudah bersama, lihat saja, Alvino dendam dengan Alesha yang mengesalkan seperti ini.

"Sudah-sudah, terserah kamu saja mau manggil apa. Tapi kamu harus ingat, aku juga menikah denganmu karena paksaan mama sama papa, ini pernikahan bukan keinginanku. Kamu kira aku nggak punya pacar apa? Aku punya, tapi heran banget sama mama-papa yang malah mau menikahkan aku dengan gadis seperti kamu ini; udah jelek, pendek, tepos lagi, apa yang akan buat orang tertarik padamu, Alesha. Ups! Kan jadi body shiming. Kamu sih!"

"Nggak pa-pa, aku sadar diri kok, Om. Meskipun Om nggak berperasaan seperti ini, aku malah makin pengen bunuh Om sekarang juga!"

"Coba orang tua kamu nggak berhutang sama orang tuaku, mungkin saat ini aku sudah menikah dengan pacarku."

"Yaelah, bilang aja kalau sebenarnya Om nggak punya pacar. Lagian siapa coba yang bakalan mau sama orang nggak berperasaan kayak Om ini?" Alesha membalas hinaan untuk Alvino karena sudah menghinanya beberapa saat yang lalu.

Alesha mengingat nasihat abangnya beberapa hari yang lalu yang mengatakan; jika ditindas makan harus menindas balik, jika dihina maka harus menghina balik. Oke, Alesha sudah mempraktekkan nasihat tersebut.

Alvino menyorot tajam ke arah Alesha yang malah menyeringai ke arahnya. Benar-benar gadis yang aneh, juga keras kepala. Jauh sekali dengan tipe idaman Alvino.

"Dasar, Devil Alesha!"

"Om lebih devil daripada aku!"

Suasana tiba-tiba saja hening setelah mereka saling beradu hinaan. Alesha dibuat kikuk sendiri sama keadaan.

"Om," panggil Alesha setelah hening beberapa saat.

"Hah!?"

"Dih, kok nyahutnya sewot, gitu?"

"Cepet ngomong!"

"Nanti kalau udah nikah, aku belum mau punya anak dulu. Aku juga belum siap di-perawanin, aku takut." Alesha berucap pelan takut-takut berani.

Mendengar ucapan Alesha, tawa Alvino seketika meledak. Alvino merasa lucu saja mendengar ucapan Alesha tersebut.

"Ih, apaan sih, Om! Orang lagi serius."

"Dikira aku mau perawanin kamu? Nggak akan! Mending sama pacar aku yang body-nya aduhai."

"Awas ya nanti Om malah minta-minta dikasih nafkah batin sama aku."

"Kan udah aku bilang, kamu nggak ada menarik-nariknya sedikit pun, Alesha! Kamu jauh beda sama pacar aku."

"Oh ... jangan-jangan Om udah nggak anu lagi, ya? Om pasti uda anu sama pacar Om. Ish, aku nggak percaya banget sama, Om!"

"Anu? Kok ambigu sih ngomongnya?"

"Ya, iya ... Om pasti udah nggak perjaka, 'kan? Pasti pernah ngelakuin itu sama pacar, Om. Miris sekali nasipku mendapat suami yang udah nggak perjaka kayak, Om." Alesha berpura-pura sedih mengetahui satu fakta. Sebenarnya Alesha tidak masalah dengan hal itu, toh pernikahan mereka juga tidak berdasar cinta dan artinya mereka tidak akan pernah melakukan hal itu sekali pun.

"Sok miris!"

"Aku mendapat, Devil Husband, ternyata!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami, Ayo Bercerai!    Berbaikan

    Alesha duduk dengan tatapan kosong lurus ke depan. Mungkin selamanya Asheeqa tidak akan pernah menyukainya, mau sebaik apapun dirinya pada Asheeqa, karena yang dia tahu; orang yang sudah membenci akan sulit untuk kembali. Embusan napas terdengar. Lorong rumah sakit bahkan terlihat sangat sepi karena memang Asheeqa sudah dipindahkan ke ruang rawat VIP. Lorong di hadapannya seakan menggambarkan bagaimana dirinya saat ini; sepi, 'tak berpenghuni. Alesha menyandarkan punggungnya pada tembok yang terasa sangat dingin ketika mengenai punggungnya."Kenapa aku tidak bisa membenci Asheeqa? Padahal aku ingin membencinya atas semua perbuatannya, tapi kenapa rasanya sesulit itu?" gumam Alesha. Matanya perlahan dipejamkan untuk mencari ketenangan. Namun hatinya sedikit melega karena permasalahan dengan Alvino sudah selesai, bahkan sekarang Alvino mencintainya dengan sangat. Ah ... setidaknya ada satu alasan yang akan membuatnya terus bertahan di muka bumi ini. ****Tak terelakkan raut wajah ter

  • Suami, Ayo Bercerai!    Darahnya Mengalir di Tubuhmu

    Setelah memarkirkan mobilnya, Alvino memasuki rumah. Alvino menggenggam gagang pintu dan mencoba untuk membukanya, tapi ternayata Alesha sudah menguncinya. Lampu juga sudah dimatikannya, pertanda kalau Alesha sudah tidur. Alvino melirik ke arah arlojinya, belum selarut itu dan Alesha sudah tidur? "Mungkin dia benar-benar lelah." Alvino merogoh sakunya mencari kunci cadangan yang selalu dibawanya kemana pun. Setelah serhasil membukanya, Alvino berjalan ke arah kamarnya, namun samar-samar dia mendengar suara isak tangis dari dalam sana. "Alesha menangis?" tanyanya yang langsunf bergegas masuk dan mendapati Alesha yang duduk meringkuk di atas ranjang dengan wajah ditelungkupkan.Tentu saja Alvini merasa sangat khawatir, dia berjalan dengan langkah panjang untuk menghampiri Alesha yang sepertinya belum sadar dengan kehadirannya di sana. "Ale, kamu kenapa, Sayang?" tanya Alvino seraya menegakkan badan Alesha. Matanya sembab, air mata masih mengalir di wajahnya yang sudah memerah.Alesh

  • Suami, Ayo Bercerai!    Suami Macam Apa?

    Donor darah dilakukan dengan lancar tanpa hambatan sedikit pun. Mereka hanya tinggal menunggu Asheeqa bangun saja, namun sudah tujuh hari Asheeqa belum juga berniat membuka matanya barang sedikit pun. Dia masih asik berkelana di alam mimpinya, menjelajahi jalan panjang menuju alam sadarnya.Alvino tidak pernah ingin meninggalkan Asheeqa sebentar saja sampai-sampai dia lah orang yang paling setia berada di sisi Asheeqa. Sejenak saja dia tidak pernah menginjakkan kakinya di rumahnya untuk beristirahat. "Om, ini sudah malam. Om pulanglah sebentar saja, besok pagi-pagi kita akan ke sini lagi," bujuk Alesha yang selalu mendampingi Alvino di sana. Sudah tujuh hari Alesha selalu berusaha membujuk Alvino untuk pulang dan makan, namun sang empu tidak pernah mendengar."Enggak, Ale, aku harus menunggu Asheeqa sadar dulu baru aku akan pulang. Di tertabrak pun gara-gara aku, ini kesalahanku." Selalu saja begini; Alvino menyalahi dirinya atas apa yang terjadi, Alesha tidak menyukai hal itu.Alesh

  • Suami, Ayo Bercerai!    Aku Mencintaimu

    Setelah melakukan kecocokan darah dengan dokter, Alvino duduk gusar di samping Alesha untuk menanti pemberitahuan dari dokter. Alesha meraih tangan Alvino dan menggenggamnya dengan erat, dia ingin menyalurkan semangat untuk sang suami. Dia tahu kalau saat ini suaminya tengah lemah dan khawatir. Dokter berjalan mendekat ke arah Alesha dan Alvino yang langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri sang dokter. Bukan hanya Alesha dan Alvino yang menanti pemberitahuan dari dokter, tapi Evano, Ghiska dan Adit juga menanti dengan penuh harap; harap-harap darah Alvino dan Asheeqa cocok."Bagaimana, Dok? Apa darah saya cocok dengan darah adik saya?" tanya Alvino yang sudah tidak sabar."Dari hasil tes, ternyata darah anda dengan pasien tidak memiliki kecocokan. Darah pasien AB- sedangkan anda berdarah A," jawabnya."Golongan darah AB-?" tanya Alesha memastikan ucapan dokter."Iya.""Golongan darah saya AB-, Dok, saya siap mendonorkan darah saya untuk Asheeqa.""Ale," panggil Alvino seraya

  • Suami, Ayo Bercerai!    Baik Adalah Pilihan

    Adit sudah gemas karena Alesha masih saja diam dan tidak menjawab pertanyaannya. Dengan pelan, Adit menepuk pundak Alesha hingga membuyarkan lamunan sang empu."E-eh, kenapa, Dit?" tanya Alesha setelah sadar dari lamunannya."Ada apa? Kenapa wajah lo setegang itu? Tadi dapet telepon dari suami lo, 'kan? Apa katanya?" Pertanyaan beruntun dilontarkan oleh Adit."Asheeqa tertabrak mobil katanya, sekarang dia lagi ditangani di ruang ICU, Dit. Ayo anterin aku ke sana, aku sangat khawatir padanya," ujar Alesha memohon seraya menggoyang-goyangkan tangan Adit."Asheeqa? Dia adiknya Alvino? Astaga, kejutan ini membuat gue pusing banget. Lagian, biarin aja kali dia tertabrak, selama ini kan dia sudah jahat sama lo. Bahkan gue sangat ingat kejadian di mana lo dituduh maling sama dia." Wajah Adit terlihat benar-benar tidak suka kepada Asheeqa, bahkan terlihat rahangnya mengeras menahan amarah.Alesha melempar senyum kepada Adit, meski di dalam lubuk hatinya masih digerogoti rasa khawatir, Alesha

  • Suami, Ayo Bercerai!    Jangan Berjanji Apapun Pada Siapapun

    Alesha masih setia duduk di sofa, menanti kembalinya Alvino. Sesekali dia melirik ke arah jam yang berada di dindingnya, bahkan dia belum pergi membersihkan dirinya karena merasa terlalu khawatir dengan Alvino.Sudah berbagai macam gaya duduk Alesha gunakan untuk mengusir rasa bosannya menunggu, tapi sang empu yang ditunggu belum kunjung datang. Hingga suara bel membuyarkan lamunannya. Dengan segera Alesha berlari menuju ke arah pintu berharap itu adalag Alvino. Alvino? Aneh sekali jika dia memencet bel ke rumahnya sendiri. Alesha membuka perlahan pintunya dan menyembulkan kepalanya melihat siapa orang yang berkunjung malam-malam ke rumahnya. Setelah mengetahui kalau tamunya adalah Adit, dia pun keluar sepenuhnya menghadap ke arah Adit."Alesha," panggil Adit. Dari sorot matanya, Alesha bisa melihat ada kekecewaan dari tatapannya. Ada apa sebenarnya dengan Adit? Pikir Alesha."Adit, ada apa malam-malam ke sini? Dan ... kamu tahu rumahku dari mana?""Tentu saja aku tahu.""Dari mana?"

  • Suami, Ayo Bercerai!    Gaun Pernikahan

    Tanpa sadar, mereka mulai dekat meski dengan perdebatan-perdebatan kecil. Alesha merasa cukup nyaman dengan keberadaan Alvino meski Alvino menyebalkannya sangat tidak ketulungan. Mobil silver Alvino terparkir rapi dengan mobil-mobil yang lain. Alesha turun lebih dulu setelah mobil Alvino terparkir

  • Suami, Ayo Bercerai!    Be Better

    Sudah dua hari sejak hari dimana Alesha memutuskan untuk menerima pernikahan paksa dengan anak tuan Malik yang bernama Alvino. Dalam dua hari, Alesha sudah menyiapkan mental serta hatinya. "Ale, hari ini tuan Malik bersama dengan istrinya juga Alvino akan datang ke sini untuk melamar kamu secara

  • Suami, Ayo Bercerai!    Kenapa Bukan Orang Lain Saja?

    "Bunda, Ayah, cukup!" tegur Kenandra Athariz---Kakak Alesha---seraya berjalan menghampiri dua orang yang tengah asik memarahi adik kesayangannya. "Kenan," ucap mereka serempak dan tentu saja terkejut. "Kalian apa-apaan, sih? Kenapa kalian bisa-bisanya menuduh Ale akan menjual dirinya hanya demi

  • Suami, Ayo Bercerai!    Candaan Semesta

    Ayah, Bunda, Alesha nggak mau nikah diusia Alesha yang masih sangat muda ini, terlebih dengan seseorang yang nggak pernah Alesha temui sama sekali!" tolak Alesha dengan bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya disertai deraian air mata yang terus mengaliri pipi berisinya tanpa henti. Kedua orang t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status