Teilen

Gaun Pernikahan

last update Veröffentlichungsdatum: 23.06.2026 15:41:20

Tanpa sadar, mereka mulai dekat meski dengan perdebatan-perdebatan kecil. Alesha merasa cukup nyaman dengan keberadaan Alvino meski Alvino menyebalkannya sangat tidak ketulungan.

Mobil silver Alvino terparkir rapi dengan mobil-mobil yang lain. Alesha turun lebih dulu setelah mobil Alvino terparkir. Alesha tidak akan berharap lagi untuk dibukakan pintu oleh Alvino, karena berharap pada Alvino sama saja dengan menyakiti perasaan sendiri.

"Padahal baru aja mau bukain kamu pintu mobil, tapi malah keluar duluan. Kamu jadi nggak bisa ngerasai diromantisin sama aku," ujar Alvino setelah berdiri di samping Alesha.

Alesha memutar bola matanya malas menatap Alvino dengan gaya sok cool-nya itu. Berada di dekat Alvino memang nyaman, tapi bisa-bisa kalau seharian berdebat dengan Alvino, Alesha bisa darah tinggi.

"Sudahlah, Om, hentikan omong kosong, Om. Aku tahu Om hanya berbohong."

"Apa tampangku terlihat sedang berbohong?"

"Terlihat jelas, Om. Muka-muka seperti Om ini adalah muka-muka seorang pembohong!"

"Das---"

"Alvino, kamu sudah sampai? Kenapa nggak langsung masuk aja?" tanya seseorang mengintruksi perdebatan antara Alesha juga Alvino, seraya berjalan menghampiri Alvino dan Alesha.

"Eh ... Tante Kinan, baru aja mau masuk."

"Ini calon istrimu?" tanya Kinan---Tante Alvino sekaligus pemilik Jerlyn Butik.

"Iya, Tante."

"Hai, Tante, kenalin aku Alesha," ucap Alesha memperkenalkan dirinya.

Seketika Kinan terdiam ketika mendengar nama Alesha. Memorinya berputar ke-17 tahun yang lalu; dimana dirinya harus dengan terpaksa membuang bayinya yang dia beri nama, Alesha.

"Hai ... Tante, kok bengong?" Alvino membuyarkan lamunan Kinan.

"Ah, maaf-maaf. Hai, Alesha, kenalin nama Tante, Kinan." Kinan mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Alesha dan tentu saja dibalas ramah oleh sang empu.

Ada perasaan aneh yang seketika menjalar dalam tubuh Kinan ketika kulitnya bersentuhan langsung dengan Alesha. Seperti ada gemuruh yang menyerang dirinya.

"Calon istri kamu cantik banget, Vin," goda Kinan seraya menyenggol lengan Alvino.

Alvino bingung harus merespon apa ucapan tantenya yang pada kenyataannya memang fakta, tapi dia tidak ingin mengakuinya. Alvino gengsi tentunya.

Alesha malu sendiri mendengar dirinya dipuji oleh Kinan.

Mereka sudah berada di dalam butik. Mata Alesha menyusuri seluruh isi ruangan tersebut dengan mata berbinar serta mulut terbuka karena takjub. Ini kali pertama Alesha menginjakkan kaki di dalam butik selama hidupnya, ternyata rasanya begitu menyenangkan.

"Baju kalian sudah jadi, ayo masuk dulu." Kinan mempersilakan Alvino dan Alesha ke ruangan dimana gaun pengantin dan tuksedo terpajang rapi. Lagi-lagi Alesha dibuat takjub dengan isi ruangan ke-dua ini. Meski banyak gaun pengantin yang ukurannya tidak bisa dikatakan kecil, tapi seluruh ruangan ini tetap tertata dengan sangat rapi.

"Ini gaun kamu, Sha, semoga kamu suka dengan gaunnya dan sesuai dengan keinginan kamu." Kinan menunjukkan gaun berwarna putih yang tampak elegan dan mewah jika dikenakan. Gaun tersebut tidak terlalu panjang juga tidak terlalu ribet jika digunakan, agar memudahkan Alesha berbaur dengan para tamu undangan.

Alesha mengangguk dengan mata berbinar menatap ke arah gaun yang sudah disediakan di hadapannya. "Ini sudah sesuai banget sama ekspektasiku, Tante, bahkan ini jauh lebih indah dari yang aku bayangkan."

"Dan ini tuksedo untuk Alvino, kelihatan serasi banget kalau dipasangkan dengan gaun milik Alesha." Kinan menenteng tukeso pesanan Alvino kemudian menyerahkannya langsung ke arah Alvino.

Alvino dan Alesha mengangguk bersamaan. Setelah mendapat gaun serta tuksedo masing-masing, mereka berjalan masuk ke dalam ruang ganti.

Tentu saja Alesha ditemani oleh Kinan untuk membantunya mengenakan gaun tersebut, siapa tahu Alesha akan kesusahan nantinya. Gaun tersebut terlihat begitu pas di tubuh Alesha dan memperlihatkan bentuk tubuh Alesha yang sangat proposional. Model gaun tersebut memang tidak terlalu terbuka namun tetap saja membuat aura seksi Alesha terlihat.

Alesha berputar di depan cermin setelah gaunnya terpasang dengan sempurna tentu dengan bantuan Kinan. Dia memperhatikan dirinya sendiri di cermin, mengagumi penampilannya yang sudah seperti seorang putri kerajaan seperti yang ditontonnya di drama-drama korea kesukaannya.

"Sumpah, kamu cantik banget, Sha. Tante yang sesama wanita sepertimu saja kagum melihat penampilanmu yang seperti ini, apalagi Alvino yang melihatnya. Sebentar, Tante mau foto kamu dulu buat Tante upload di sosial media butik, Tante." Kinan mengeluarkan handphonenya dari saku jeans yang digunakannya kemudian memotret Alesha beberap kali. Dia benar-benar puas melihat Alesha yang mengenakan gaun hasil rancangannya tersebut. Terlebih karena gaun tersebut sangat cocok di tubuh mungil Alesha.

"Sempurna! Coba kamu keluar dan tunjukin penampilan kamu di hadapan Alvino. Tante yakin kalau Alvino pasti nggak bakalan sabar lagi buat nikahin kamu!" Kinan antusias sendiri saking cantiknya Alesha mengenakan gaun pengantin tersebut.

Alesha mengangguk dan menuruti ucapan Kinan. Alesha keluar ruang ganti, tapi entah kenapa hatinya malah berdebar-debar tidak karuan, padahal dia hanya akan memperlihatkannya kepada Alvino, seseorang yang baru beberapa jam yang lalu dia kenal dan temui. Tapi Alesha penasaran dengan reaksi Alvino ketika melihat penampilannya menggunakan gaun pengantin.

Alvino terlihat sedang duduk dan menunduk sambil memainkan ponselnya serius. Entah apa yang membuat laki-laki itu begitu serius di depan ponselnya. Alvino masih mengenakan tuksedonya, mungkin dia juga ingin menunjukkannya kepada Alesha.

"Om!" panggil Alesha.

Kinan yang mengikuti Alesha dari belakang hampir saja meledakkan tawanya ketika mendengar panggilan Alesha kepada Alvino. Bagaimana mungkin Alesha memanggil Alvino dengan embel-embel 'Om' disaat kebanyakan orang memanggil suaminya dengan embel-embel 'Mas, Bang, atau Sayang' tapi Alesha malah sebaliknya.

Alvino mendongak dan langsunf tercengang melihat Alesha mengenakan gaun pengantinnya. Tatapannya terpaku pada sosok gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Matanya refleks memandang Alesha dari atas sampai bawah. Dengan gaun pengantin seperti itu, Alesha terlihat lebih cantik berkali-kali lipat di mata Alvino meskipun Alesha tidak memakai riasan wajah yang tebal. Untuk kali ini, Alvino ingin mengakui pada dirinya sendiri kalau Alesha lebih cantik daripada pacarnya.

Ditatap seperti itu membuat Alesha malu sendiri dan menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Alvino memang sangat hebat dalam membuat dirinya tersipu malu seperti ini.

Alvino beranjak menghampiri Alesha. Dia menatap Alesha dari jarak yang semakin dekat, alhasil semakin membuat Alesha bergerak-gerak salah tingkah di tempatnya.

Alesha merasa gugup. Tatapan Alvino serta penampilan Alvino yang terlihat semakin tampan mengenakan tuksedo yang melapisi tubuhnya seolah membuat Alesha merasa sedang berhadapan langsung dengan pangeran kerjaan yang sedang melangsungkan lamaran untuk dirinya. Pikiran Alesha memang sudah sangat kejauhan.

"Kamu cantik," puji Alvino melembut. Tidak lagi ada perdebatan antara mereka.

"Terima kasih, Om. Om juga, ya ... lumayan tampan, itupun karena bantuan tuksedo rancangan tante Kinan, kalau nggak, ya ... wajah Om mah biasa-biasa saja." Alesha mulai mengeluarkan aura war antara dirinya juga Alvino. Sebenarnya Alesha merasa gugup dan dia sengaja ingin mencari perdebatan untuk menghilangkan rasa gugupnya berhadapan langsung dengan jarak sedekat itu dengan Alvino.

"Ini nih, harusnya memuji dengan ikhlas bukan malah memuji dengan setengah hati. Dasar iblis kecil!"

"Dasar Devil Husband!"

"Kamu harusnya bersyukur mendapat suami sepertiku, Ale. Diluaran sana, banyak yang mengantre ingin menjadi istriku, termasuk pacarku sendiri. Tapi sayang banget, mama-papa malah milih iblis sepertimu!" protes Alvino masih tidak terima dengan ucapan Alesha.

"Ngapain juga aku harus bersyukur, Om? Apa yang harus aku syukurkan mendapat suami devil sepertimu?" tanya Alesha dengan senyum miringnya.

Kinan yang masih setia berada di belakang Alesha pun bingung sendiri dengan kedua calon pengantin di hadapannya. Dia bingung dengan isi perdebatan mereka.

"Dasar iblis!"

"Iblis kok teriak iblis? Nggak malu, Om?"

"Sudah-sudah, masa calon pengantin mau berdebat seperti ini, sih," ujar Kinan mencoba menengahi perdebatan antara Alvino dan Alesha. "Harusnya kalian saling memuji dan berbahagia bersama, bukan malah saling mendebat seperti ini."

"Ya gini kalau mendapat istri yang nggak bersyukur mendapat suami sepertiku, Tante."

"Idih, malah nyalahin orang. Emang pada dasarnya Om nggak tampan tanpa bantuan tuksedo rancangan dari, Tante Kinan!"

Kinan memilih berlalu meninggalkan dua sejoli yang sepertinya perdebatannya tidak akan pernah selesai. Dia senyum-senyum sendiri melihat Alvino dan Alesha, mengingatkan masa mudanya.

"Apa iya Alesha calon istri Alvino itu adalah anakku yang terpaksa aku buang dulu? Ah ... nggak mungkin, namanya kebetulan sama, mungkin," gumam Kinan kemudian berjalan untuk melayani costumernya yang lain. "Nanti deh kapan-kapan aku akan selediki. Jika memang benar dia anakku, aku ingin berterima kasih kepada orang yang sudah mau merawat anakku dengan baik sampai seperti itu."

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Suami, Ayo Bercerai!    Titisan Setan

    Setelah menyelesaikan mandinya, Alesha keluar hanya dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Dia kesal sendiri karena handuk yang diberikan oleh Alvino terlalu kecil, hingga panjangnya saja hanya sampai di paha atasnya. Betapa terkejutnya Alesha ketika baru saja membuka pintu, Alvino sudah berdiri bersedekap dada di depannya."Kenapa sih Om suka banget ngagetin orang, hah!?" protes Alesha sambil memegangi ujung handuknya yang hampir saja melorot jika tidak ditahan."Lho, memangnya aku mengagetkanmu? Aku hanya berdiri sambil menunggumu di sini. Aku bahkan tidak bersuara untuk mengagetkanmu, Ale. Kamu saja yang terlalu lebay!" Mata Alesha membola tidak terima dikatakan lebay oleh Alvino. Setelah membenarkan posisi handuknya, Alesha sekuat tenaga memukul kepala Alvino kemudian berlari meninggalkannya. "Rasain!""Ale! Ini masih pagi, kamu sudah membuatku emosi saja!" 'Dasar Devil Wife!' batin Alvino kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin segera mandi dan segera pulang ke rumah b

  • Suami, Ayo Bercerai!    Bagaimana Kalau Kita Melakukannya Lagi

    Mata Alesha mengerjap-ngerjap perlahan, maniknya menelisik ke langit-langit kamar, kejadian semalam membuat seluruh tubuhnya terasa panas. Dia tidak menyangka kalau Alvino akan melakukannya dengan sangat gila. Alesha menutup wajahnya yang terasa panas dengan kedua tangannya menahan malu. 'Astaga, aku sudah tidak gadis lagi!' teriak Alesha membatin.Tepat ketika Alesha ingin berbalik menghadap kanan, kedua bola matanya menangkap makhluk yang sudah mengambil ke-gadisannya malam tadi. Bukannya segera mengalihkan tatapannya, tapi Alesha malah mengunci tatapannya tepat di wajah Alvino, dia menelusuri seluruh inci di wajah Alvino tanpa tersisa sedikit pun. Alesha akui kalau Alvino memang pria yang sangat tampan, tapi mengingat kejadian semalam lagi-lagi membuat Alesha ingin membabi-buta Alvino."Kenapa? Aku tampan?" tanya Alvino yang sebenarnya sudah terbangun sejak tadi."Apaan sih, Om!" Alesha membantah ucapan Alvino. Alesha merasa begitu malu karena tercinduk tengah memperhatikan Alvin

  • Suami, Ayo Bercerai!    Malam Pertama

    "Ahh ... akhirnya acaranya selesai juga. Sumpah, kakiku pegel banget seharian berdiri, Om!" ujar Alesha seraya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur empuknya. Hari ini Alesha seperti merasakan sedang melakukan pentas seni di depan banyak orang, tapi dia pun tersadar kalau ternyata itu bukanlah pentas seni, melainkan pernikahannya dengan Alvino. "Itu aja dirasain. Lemah.""Sewot banget sih, Om. Nggak bisa ya sekali aja biarin orang bahagia?""Nggak bisa.""Mati aja deh, sana!" balas Alesha yang sudah duduk seraya menatap tajam ke arah Alvino.Alvino memilih untuk tidak membalas perkataan Alesha. Dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena seharian berdiri dengan senyum yang dia paksakan terbit. Pikiran Alvino seketika melayang-layang ke Queenna, sang kekasih. Alvino benar-benar masih mencintainya, dia juga belum ingin ditinggalkan oleh Quenna yang selama ini selalu ada untuknya; selalu mengerti dirinya, selalu tahu semua kebutuhan hidupnya.

  • Suami, Ayo Bercerai!    Wedding Day

    Alesha duduk di depan cermin seraya wajahnya dipermak oleh sang make over terkenal, tentu saja make over itu pilihan dari Ghiska yang menginginkan acara pernikahan puteranya perfect. Bukan hanya acaranya saja, tapi penampilan sang mempelai juga harus ikut perfect, dia tidak ingin ada satu hal pun yang tidak sempurna di acara besarnya Alvino.Sekitar tiga puluh menitan duduk diam saja dan mengikuti intruksi dari Gita---Make over---yang mempermak wajahnya se-sempurna mungkin, akhirnya sudah berada di tahap finishing dengan mengoleskan lipstik di bibir tipis Alesha. "Nah, sempurna. Coba kamu lihat diri kamu di pantulan cermin itu, Alesha. Maaf kalau kamu kurang suka hasil make up, Mbak."Alesha yang memang jarang sekali memakai make up tebal pun merasa takjub dengan kecantikan dirinya di dalam pantulan cermin. Dia sampai tidak percaya kalau yang di depan sana adalah dirinya. Mulut Alesha terbuka takjub, matanya pun 'tak berhenti memandangi dirinya sendiri."Ini bener-bener Ale ya, Mbak?

  • Suami, Ayo Bercerai!    Peringatan

    Setelah kejadian di ruang tamu, berakhirlah Alesha dan Alvino berada di kamar milik Alvino berdua. Alesha yang baru memasuki kamar bernuansa abu itu pun terus saja merasa takjub dengan semua isi rumah milik keluarga Malik."Ayo, masuk, ngapain bengong coba? Mau cosplay jadi patung, hah!?" Alvino menegur Alesha yang masih saja berdiri di ambang pintu seraya maniknya menelusuri semua isi kamar Alvino."Biasa aja dong, Om, nggak usah ngegas gitu!" Alesha berjalan menghampiri Alvino tentu saja dengan membawa barang-barang bawaannya. Alesha meletakkan barang-barangnya di meja dengan begitu keras hingga menimbulkan bunyi yang tidak mengeenakkan, membuat sang pemilik kamar menatap tajam ke arahnya."Setahun saja kamu di rumah ini, bisa-bisa semua barang-barang kamu hancurin dengan tangan kasar kamu itu. Heran juga aku sama kamu, kamu ini cewek tapi kenapa kasar banget, sih? Bisa nggak sih lembut sedikit, Alesha Shaqia?"Alesha membalas tatapan tajam dari Alvino dengan tatapan menantang sert

  • Suami, Ayo Bercerai!    Musuh Baru

    Sesampainya di dalam, Alvino mengajak Alesha ke ruang tamu yang ukurannya sangatlah luas, mungkin luasnya setengah rumah Alesha. Alesha menatap sekeliling dengan mata takjub. Berbagi guci mahal terpajang di setiap sudut ruangan dengan rapi. "Kak, Vi---" Asheeqa Mazaya Malik---Adik Alvino---terdiam di tempat setelah melihat kehadiran Alesha di sana. Raut wajahnya berubah tidak suka ketika beradu tatap dengan Alesha."Jadi bener Kakak akan menikah dengan gadis ini? Astaga, kenapa selera mama sama papa se-rendah ini sih, Kak?" tanya Asheeqa berdecih tidak suka. Asheeqa benar-benar merasa tidak suka melihat Alesha yang akan menjadi bagian dari keluarga Malik."Mana Kakak tahu, toh Kakak cuma ikutin kemauan mereka doang, padahal mah Kakak aja nggak mau nikah sama modelan gadis kayak, Alesha," balas Alvino menyetujui ucapan Asheeqa, sang adik.Alesha merasa dipojokan oleh kakak-beradik di hadapannya saat ini. Alesha merasa mendapat musuh baru. Alesha benar-benar tidak mengerti kenapa Ashee

  • Suami, Ayo Bercerai!    Devil Alesha

    Alesha sudah bersiap mengenakan baju putih lengan pendek dipadukan dengan rok hitam yang panjangnya hanya sampai atas lututnya, meski hanya mengenakan pakaian seperti itu, Alesha tetap terlihat cantik dengan tinggi badan yang tidak terlalu tinggi. Sedari tadi Alesha berjalan kedepan dan belakang

  • Suami, Ayo Bercerai!    Be Better

    Sudah dua hari sejak hari dimana Alesha memutuskan untuk menerima pernikahan paksa dengan anak tuan Malik yang bernama Alvino. Dalam dua hari, Alesha sudah menyiapkan mental serta hatinya. "Ale, hari ini tuan Malik bersama dengan istrinya juga Alvino akan datang ke sini untuk melamar kamu secara

  • Suami, Ayo Bercerai!    Kenapa Bukan Orang Lain Saja?

    "Bunda, Ayah, cukup!" tegur Kenandra Athariz---Kakak Alesha---seraya berjalan menghampiri dua orang yang tengah asik memarahi adik kesayangannya. "Kenan," ucap mereka serempak dan tentu saja terkejut. "Kalian apa-apaan, sih? Kenapa kalian bisa-bisanya menuduh Ale akan menjual dirinya hanya demi

  • Suami, Ayo Bercerai!    Candaan Semesta

    Ayah, Bunda, Alesha nggak mau nikah diusia Alesha yang masih sangat muda ini, terlebih dengan seseorang yang nggak pernah Alesha temui sama sekali!" tolak Alesha dengan bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya disertai deraian air mata yang terus mengaliri pipi berisinya tanpa henti. Kedua orang t

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status