Teilen

Suami, Ayo Bercerai!
Suami, Ayo Bercerai!
Nona Senja

Candaan Semesta

last update Veröffentlichungsdatum: 23.06.2026 15:39:26

Ayah, Bunda, Alesha nggak mau nikah diusia Alesha yang masih sangat muda ini, terlebih dengan seseorang yang nggak pernah Alesha temui sama sekali!" tolak Alesha dengan bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya disertai deraian air mata yang terus mengaliri pipi berisinya tanpa henti.

Kedua orang tua Alesha bersedekap dada seraya menatap Alesha tanpa iba. Mereka bosan mendengar anaknya yang memohon-mohon sedari pagi meminta supaya tidak jadi dinikahkan.

"Yah, Bun, Alesha mohon sama kalian. Alesha masih mau kuliah, Alesha baru aja lulus SMA masa Alesha udah mau dinikahin, sih?"

"Kuliah katamu? Kamu pikir kuliah tidak membutuhkan uang? Biaya kuliah itu mahal, Alesha, sadarlah kalau kita bukan lagi orang kaya seperti dulu. Perusahaan Ayah sudah bangkrut sejak dulu. Jadi untuk mengurangi beban di rumah ini, kamu harus segera pergi dari sini dan menerima pernikahan ini!" tegas Arkan Ghifari---Ayah Alesha Shaqia---tanpa perasaan dengan tatapan menajam seraya menjauhkan kakinya yang masih setia dipeluk oleh Alesha, sang puteri.

Air mata Alesha semakin banyak mengalir dari pelupuk matanya. Perkataan ayahnya mampu menghancurkan harapannya untuk mengejar cita-citanya sejak dulu. Padahal dia sangat mengingkan menjadi seorang dokter dan membantu orang-orang yang tidak mampu membayar rumah sakit karena tidak memiliki cukup uanh. Karena dia tahu bagaimana rasanya tidak memiliki uang ketika hidupnya sudah seperti di ambang kematian.

Orang-orang bilang, Ayah adalah cinta pertama untuk anak gadis, tapi tidak untuk Alesha. Tapi meski begitu, Alesha selalu menyayangi ayahnya dengan setulus hati, dia tidak pernah ingin kehilangan sosok ayah seperti Arkan.

"Alesha janji sama Ayah, Alesha nggak akan nyusahin Ayah. Alesha akan ikut tes bea siswa supaya Ayah tidak susah-susah membayar uang kuliah untuk Alesha. Asal Alesha jangan dinikahkan, Ayah!"

"Kamu harus tetap menikah, Alesha! Kamu selama ini sudah menjadi beban bagi kami, termasuk bagi abang kamu. Kamu selalu menyusahkan kami selama ini, jadi alangkah baiknya kamu pergi dari rumah ini, beruntunglah karena orang yang akan menikah denganmu ini adalah seseorang dari keluarga yang berada. Nikmati hidupmu dan berhenti menyusahkan kami lagi, sudah cukup kamu menyusahkan kami selama ini!" Anindya Ayu---Bunda Alesha---menyorot tajam ke arah Alesha dengan perkataan yang menghunus ke dalam hati Alesha.

"Kamu sekarang pilih, menikah dengan tuan Alvino, atau kuliah tapi jangan menganggap kami sebagai orang tuamu lagi. Bagaimana? Kamu pilih yang mana?"

Mata Alesha membulat sempurna, air matanya yang beberapa detik lalu berhenti keluar, kini merembes kembali dengan begitu derasnya. Bagaimana mungkin Alesha bisa hidup tanpa kedua orang tuanya, meskipun dia tidak selalu mendapatkan kasih sayang yang dia inginkan, tapi tetap saja dia tidak ingin hidup tanpa kedua orang tua. Tapi bagaimana? Alesha masih ingin melanjutkan kuliahnya. Kenapa semesta tidak adil padanya? Sungguh, Alesha ingin segera mengakhiri semuanya. Hidupnya, juga penderitaannya.

Alesha menyunggingkan senyum getirnya, dia berdiri dari duduknya kemudian menatap lembut ke arah kedua orang tuanya bergantian. Kenapa bisa mereka sangat menginginkan dirinya untuk menikah di usia yang masih se-dini ini? Pikir Alesha.

Sejenak Alesha memasukkan begitu banyak pasokan udara melalui hidungnya kemudian mengembuskannya perlahan. "Ayah, Bunda, kenapa kalian selalu mengatakan kalau aku ini adalah beban bagi kalian? Selama ini, apa pernah aku meminta sesuatu yang aneh-aneh yang bisa menghabiskan uang kalian? Kalaupun aku minta, aku pasti akan kena semprot bahkan tak jarang aku dapat amukan dari kalian. Lalu, kenapa kalian masih mengira kalau aku ini beban bagi kalian?" tanya Alesha lembut, siapa tahu orang tuanya akan berubah pikiran.

"Hentikan omong kosong itu, Alesha! Kita hanya ingin jawaban 'iya' saja dari kamu, apa itu sangat susah untukmu?!" protes Arkan dengan wajah bengisnya membuat nyali Alesha menciut.

"Bukan masalah susah atau tidaknya mengatakan 'iya', Ayah. Tapi ini menyangkut masa depanku, apa kalian tidak memikirkan bagaimana jadinya aku nanti kalau menikah di usia yang masih sangat muda? Apa kalian tidak takut kalau rumah tanggaku hanya akan seumur jagung?"

Anindya memutar bola matanya jengah. Anaknya yang satu ini sangat-sangat mampu membuat emisonya naik drastis. Anindya berkacak pinggang serta tatapan nyalang dilayangkan untuk Alesha. Bagaiamana mungkin nyali Alesha tidak menciut jika seperti ini?

"Kamu ini ..! Sekali saja nurut apa kata orang tua, bisa nggak, sih? Kenapa sih kamu maunya menyusahkan hidup kami terus? Kami muak melihatmu berada di rumah ini, andai bukan karena abang kamu, kami sudah membuangmu ke panti asuhan sejak dulu, Alesha!"

Setiap kalimat yang keluar dari mulut Anindya mampu merobek hati Alesha, bahkan kalimat yang diberikan Nindya menusuk masuk ke dalam ulu hati terdalamnya. Sakit, bahkan perih rasanya ketika kedua orang tua kita tidak menginginkan kita berada di kehidupannya.

"Ini pertama kalinya kami meminta bantuan padamu, Alesha. Apa selama ini kami pernah memintai bantuanmu? Nggak, 'kan? Jadi ini pertama dan terkahir kalinya kami memintai bantuanmu. Hanya kamu yang bisa membantu kami, menikahlah dengan anak tuan Malik, supaya kami terbebas dari hutang-hutang itu." Anindya mencoba untuk melembut. Dia pikir, mungkin Alesha tidak bisa menurut karena dibentak, dan dia memilih untuk melembut.

Selama hidupnya, ini pertama kalinya Anindya, sang bunda berkata selembut ini padanya. Alesha tentu terharu karena itu.

"Baiklah, Bunda, Ayah, Alesha akan bantu kalian untuk bayar hutang ...."

Senyuman seketika terbit di wajah kedua orang tuanya yang sejak tadi hanya menampakkan wajah bengis serta nyalang.

"... Tapi tidak dengan menikah."

Baru saja dibuat terbang setinggi langit, sekarang mereka dihempaskan ke bumi lagi. Alesha memang menyebalkan.

"Kalau tidak menikah dengan tuan Alvino, lalu dengan cara apa kamu akan membantu kami? Menjual diri kamu?" tanya Nindya.

Mulut Anindya memang sangat jahat, pekataannya selalu kejam juga pedas bak cabai merah yang baru matang. Orang tua mana yang mengira anaknya akan bekerja dengan cara menjual dirinya?

"Bunda, bisa nggak sih sekali saja jangan mengira yang buruk-buruk tentang Alesha!" bantah Alesha tidak terima jika dia dikira akan menjual dirinya untuk membantu membayar hutang. Dia tidak akan melakukan hal semurahan itu untuk mendapatkan uang.

Bukannya tersinggung dengan bantahan Alesha, Anindya malah memutar bola matanya malas. Dia sungguh sangat jengah dengan seseorang yang berada di hadapannya sekarang ini. Rasanya dia ingin sekali menendangnya sampai ke galaxy lain supaya tidak melihatnya lagi.

"Kalau nggak mau kayak gitu, ya tinggal minggat dari rumah aja, saran paling simple dari, Bunda!" balas Anindya tentu saja tanpa perasaan sedikit pun.

Alesha merasa kalau bundanya bukanlah angle, tapi dia lebih merasa kalau bundanya adalah devil dengan mulut pedas dan jahatnya. Jika di dunia ini ibu adalah malaikat tanpa sayap, maka Alesha berbanding terbalik dengan kebanyakan orang, dia menganggap bundanya adalah devil tanpa sayap. Karena julukan itu memang sangat cocok untuk Anindya.

'Nggak boleh gitu, Alesha, bunda tetap bunda kamu. Suatu saat bunda pasti bisa bersikap lebih baik lagi padamu, kamu hanya perlu bersabar, Alesha!' batinnya masih mempertahankan senyum getir yang dia paksa terbit di wajahnya.

"Kenapa sih kalian sepertinya sangat tidak menginginkan Alesha berada di rumah ini. Kalau memang seperti itu, kenapa Bunda lahirin Alesha ke dunia kalau Bunda sendiri samasekali nggak menginginkan Alesha?" Alesha lelah tapi dia tidak ingin banyak mengeluh, karena dia tahu tidak akan ada gunanya mengeluh jika orang tuanya saja tidak peduli. Dan Alesha tahu, tidak akan ada perubahan apapun jika hidup ini lebih banyak digunakan untuk mengeluh saja. Hidup ini perlu banyak-banyak besyukur, karena kunci kebahagiaan di dunia ini adalah bersyukur.

"Bersyukurlah karena kamu masih memiliki abang, andai bukan karena abangmu, kamu pikir kami mau menampungmu di sini?!" Arkan berucap sarkas, dia samasekali tidak memiliki rasa iba sedikit pun kepada Alesha malah dia merasa kesal dengan puterinya.

"Bunda, Ayah, cukup!" tegur seseorang yang baru saja sampai di rumah.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Suami, Ayo Bercerai!    Malam Pertama

    "Ahh ... akhirnya acaranya selesai juga. Sumpah, kakiku pegel banget seharian berdiri, Om!" ujar Alesha seraya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur empuknya. Hari ini Alesha seperti merasakan sedang melakukan pentas seni di depan banyak orang, tapi dia pun tersadar kalau ternyata itu bukanlah pentas seni, melainkan pernikahannya dengan Alvino. "Itu aja dirasain. Lemah.""Sewot banget sih, Om. Nggak bisa ya sekali aja biarin orang bahagia?""Nggak bisa.""Mati aja deh, sana!" balas Alesha yang sudah duduk seraya menatap tajam ke arah Alvino.Alvino memilih untuk tidak membalas perkataan Alesha. Dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena seharian berdiri dengan senyum yang dia paksakan terbit. Pikiran Alvino seketika melayang-layang ke Queenna, sang kekasih. Alvino benar-benar masih mencintainya, dia juga belum ingin ditinggalkan oleh Quenna yang selama ini selalu ada untuknya; selalu mengerti dirinya, selalu tahu semua kebutuhan hidupnya.

  • Suami, Ayo Bercerai!    Wedding Day

    Alesha duduk di depan cermin seraya wajahnya dipermak oleh sang make over terkenal, tentu saja make over itu pilihan dari Ghiska yang menginginkan acara pernikahan puteranya perfect. Bukan hanya acaranya saja, tapi penampilan sang mempelai juga harus ikut perfect, dia tidak ingin ada satu hal pun yang tidak sempurna di acara besarnya Alvino.Sekitar tiga puluh menitan duduk diam saja dan mengikuti intruksi dari Gita---Make over---yang mempermak wajahnya se-sempurna mungkin, akhirnya sudah berada di tahap finishing dengan mengoleskan lipstik di bibir tipis Alesha. "Nah, sempurna. Coba kamu lihat diri kamu di pantulan cermin itu, Alesha. Maaf kalau kamu kurang suka hasil make up, Mbak."Alesha yang memang jarang sekali memakai make up tebal pun merasa takjub dengan kecantikan dirinya di dalam pantulan cermin. Dia sampai tidak percaya kalau yang di depan sana adalah dirinya. Mulut Alesha terbuka takjub, matanya pun 'tak berhenti memandangi dirinya sendiri."Ini bener-bener Ale ya, Mbak?

  • Suami, Ayo Bercerai!    Peringatan

    Setelah kejadian di ruang tamu, berakhirlah Alesha dan Alvino berada di kamar milik Alvino berdua. Alesha yang baru memasuki kamar bernuansa abu itu pun terus saja merasa takjub dengan semua isi rumah milik keluarga Malik."Ayo, masuk, ngapain bengong coba? Mau cosplay jadi patung, hah!?" Alvino menegur Alesha yang masih saja berdiri di ambang pintu seraya maniknya menelusuri semua isi kamar Alvino."Biasa aja dong, Om, nggak usah ngegas gitu!" Alesha berjalan menghampiri Alvino tentu saja dengan membawa barang-barang bawaannya. Alesha meletakkan barang-barangnya di meja dengan begitu keras hingga menimbulkan bunyi yang tidak mengeenakkan, membuat sang pemilik kamar menatap tajam ke arahnya."Setahun saja kamu di rumah ini, bisa-bisa semua barang-barang kamu hancurin dengan tangan kasar kamu itu. Heran juga aku sama kamu, kamu ini cewek tapi kenapa kasar banget, sih? Bisa nggak sih lembut sedikit, Alesha Shaqia?"Alesha membalas tatapan tajam dari Alvino dengan tatapan menantang sert

  • Suami, Ayo Bercerai!    Musuh Baru

    Sesampainya di dalam, Alvino mengajak Alesha ke ruang tamu yang ukurannya sangatlah luas, mungkin luasnya setengah rumah Alesha. Alesha menatap sekeliling dengan mata takjub. Berbagi guci mahal terpajang di setiap sudut ruangan dengan rapi. "Kak, Vi---" Asheeqa Mazaya Malik---Adik Alvino---terdiam di tempat setelah melihat kehadiran Alesha di sana. Raut wajahnya berubah tidak suka ketika beradu tatap dengan Alesha."Jadi bener Kakak akan menikah dengan gadis ini? Astaga, kenapa selera mama sama papa se-rendah ini sih, Kak?" tanya Asheeqa berdecih tidak suka. Asheeqa benar-benar merasa tidak suka melihat Alesha yang akan menjadi bagian dari keluarga Malik."Mana Kakak tahu, toh Kakak cuma ikutin kemauan mereka doang, padahal mah Kakak aja nggak mau nikah sama modelan gadis kayak, Alesha," balas Alvino menyetujui ucapan Asheeqa, sang adik.Alesha merasa dipojokan oleh kakak-beradik di hadapannya saat ini. Alesha merasa mendapat musuh baru. Alesha benar-benar tidak mengerti kenapa Ashee

  • Suami, Ayo Bercerai!    Memangnya Aku Babu?

    Malam ini ... setelah dua hari yang lalu mempersiapkan segala keperluan pernikahan Alvino dan Alesha, Alesha dijemput oleh Alvino untuk dibawa ke rumahnya dikarenakan besok mereka akan segera melangsungkan pernikahannya di kediaman Malik. Memang sudah begitu perjanjiannya, Alesha akan dibawa H-1 pernikahan akan dilangsungkan."Abang, Ale pergi dulu, ya," pamit Alesha dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sekali mengerjap saja, air mata Alesha akan langsung meluncur dari tempatnya.Kenandra juga sama sedihnya dengan Alesha, tapi dia menahannya dengan memperlihatkan senyum termanisnya untuk sang adik. Dia tidak ingin Alesha semakin merasa tidak rela meninggalkan dirinya. Kenandra tahu ini adalah saatnya untuk dia melepaskan Alesha, sebab Alesha kini sudah memiliki kehidupan baru bersama suaminya."Hey ... jangan sedih gitu, dong, Ale. Kita kan cuma pisah rumah saja, bukan berarti kita putus hubungan, 'kan? Ale masih jadi adik kesayangan, Abang, selamanya. Ale sekarang udah punya kehidupa

  • Suami, Ayo Bercerai!    Gaun Pernikahan

    Tanpa sadar, mereka mulai dekat meski dengan perdebatan-perdebatan kecil. Alesha merasa cukup nyaman dengan keberadaan Alvino meski Alvino menyebalkannya sangat tidak ketulungan. Mobil silver Alvino terparkir rapi dengan mobil-mobil yang lain. Alesha turun lebih dulu setelah mobil Alvino terparkir. Alesha tidak akan berharap lagi untuk dibukakan pintu oleh Alvino, karena berharap pada Alvino sama saja dengan menyakiti perasaan sendiri. "Padahal baru aja mau bukain kamu pintu mobil, tapi malah keluar duluan. Kamu jadi nggak bisa ngerasai diromantisin sama aku," ujar Alvino setelah berdiri di samping Alesha. Alesha memutar bola matanya malas menatap Alvino dengan gaya sok cool-nya itu. Berada di dekat Alvino memang nyaman, tapi bisa-bisa kalau seharian berdebat dengan Alvino, Alesha bisa darah tinggi. "Sudahlah, Om, hentikan omong kosong, Om. Aku tahu Om hanya berbohong." "Apa tampangku terlihat sedang berbohong?" "Terlihat jelas, Om. Muka-muka seperti Om ini adalah muka-muka seo

  • Suami, Ayo Bercerai!    Devil Alesha

    Alesha sudah bersiap mengenakan baju putih lengan pendek dipadukan dengan rok hitam yang panjangnya hanya sampai atas lututnya, meski hanya mengenakan pakaian seperti itu, Alesha tetap terlihat cantik dengan tinggi badan yang tidak terlalu tinggi. Sedari tadi Alesha berjalan kedepan dan belakang

  • Suami, Ayo Bercerai!    Be Better

    Sudah dua hari sejak hari dimana Alesha memutuskan untuk menerima pernikahan paksa dengan anak tuan Malik yang bernama Alvino. Dalam dua hari, Alesha sudah menyiapkan mental serta hatinya. "Ale, hari ini tuan Malik bersama dengan istrinya juga Alvino akan datang ke sini untuk melamar kamu secara

  • Suami, Ayo Bercerai!    Kenapa Bukan Orang Lain Saja?

    "Bunda, Ayah, cukup!" tegur Kenandra Athariz---Kakak Alesha---seraya berjalan menghampiri dua orang yang tengah asik memarahi adik kesayangannya. "Kenan," ucap mereka serempak dan tentu saja terkejut. "Kalian apa-apaan, sih? Kenapa kalian bisa-bisanya menuduh Ale akan menjual dirinya hanya demi

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status