Home / Romansa / Suami Dingin Pilihan Mama / BAB 4: Janji Suci di Altar

Share

BAB 4: Janji Suci di Altar

Author: Ppuding 🍮
last update publish date: 2026-09-13 13:40:27

Alunan musik organ pipa yang membawakan lagu Bridal Chorus menggema lambat, memenuhi setiap sudut langit-langit tinggi gedung gereja katedral bergaya arsitektur modern-klasik itu. Cahaya matahari pagi hari ini menembus kaca patri berwarna-warni, memantulkan pendar indah di sepanjang altar yang dihiasi ribuan bunga mawar putih segar. Tempat duduk jemaat telah dipenuhi oleh keluarga besar Wilson dan Adhitama, serta jajaran kolega bisnis kelas atas Jakarta yang menghadiri undangan sakral ini.

Di depan altar, Theodore berdiri dengan posisi tegap yang sempurna. Setelan jas tailored-made berpotongan tegas melekat pas di tubuh tingginya, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu hitam. Penampilannya tampak sangat luar biasa tampan, berwibawa, namun seperti biasa wajahnya kaku tanpa senyuman. Sejak pagi tadi saat melangkah masuk ke ruang konsistori, matanya terus menatap lurus ke depan, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang berdegup jauh lebih cepat dari biasanya.

Bagi Theodore, hari ini adalah garis batas baru. Suka atau tidak, dia akan mengikat janji setia seumur hidup di hadapan Tuhan.

Detik berikutnya, pintu ganda gereja terbuka lebar. Seluruh jemaat spontan berdiri dan menoleh ke belakang.

Catleiya melangkah masuk perlahan, menggandeng lengan sang papa, William. Kain Brokat dari gaun pengantin putih berpotongan A-line panjang miliknya menyapu karpet merah kelopak mawar. Sebuah tudung transparan sutra menutupi sebagian wajah cantiknya, memberikan kesan anggun dan luar biasa sakral. Namun, di balik tudung tipis itu, sepasang mata bulat bergerak penuh binar. Begitu jaraknya mengikis dan ia bisa melihat Theodore yang berdiri kaku di depan altar, jiwa nakalnya langsung berbisik. Suamiku ganteng banget hari ini, tapi mukanya tegang seperti mau sidang skripsi, batin Catleiya geli.

Langkah mereka berhenti di undakan altar. William menetap putrinya dengan mata berkaca-kaca, lalu mengalihkan tangan Catleiya untuk diletakkan di atas telapak tangan Theodore yang hangat dan kokoh.

"Theodore, saya serahkan putri saya, Leiya. ke dalam tanggung jawabmu. Sayangi dia," bisik William dengan suara bergetar menahan haru.

"Baik, om—maksud saya, Papa. Saya akan menjaganya," jawab Theodore mantap dengan suara bariton berat.

Saat jemari mereka saling bertautan, Theodore sempat melirik ke arah Catleiya dari samping. Sedetik kemudian, dia tertegun. Dari jarak sedekat ini, indra penciumannya langsung disergap oleh aroma buah stroberi yang manis dan segar dari tubuh Catleiya, bercampur dengan wangi melati pengantin yang lembut. Catleiya yang sadar diperhatikan, sengaja meremas pelan punggung tangan Theodore dan memberikan senyuman termanisnya dari balik tudung transparan. Theodore buru-buru membuang muka, mengetatkan rahangnya untuk menahan diri agar tidak salah tingkah di depan pendeta.

Prosesi ibadah pemberkatan berlangsung dengan sangat khidmat. Nada-nada lagu pujian jemaat menaikkan atmosfer sakral di dalam ruangan, hingga tibalah saatnya bagi mereka untuk mengucapkan janji suci pernikahan di depan mimbar altar.

Pendeta menatap mereka berdua dengan senyum hangat, lalu memberikan isyarat agar mereka saling berhadapan dan berpegangan tangan.

Theodore menarik napas dalam-dalam, mengunci tatapan mata abu-abunya langsung pada sepasang mata bulat Catleiya. Dengan suara terdengar mutlak, tegas, dan bergema di seluruh ruangan gereja, Theodore memulai janjinya.

"Saya, Theodore Kailash Wilson, mengambil engkau, Catleiya Izora Adhitama, menjadi istri saya yang sah dan satu-satunya. Di hadapan Tuhan dan jemaat ini, saya berjanji untuk selalu mengasihi dan menghormati, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan ketetapan kudus Tuhan."

Mendengar janji yang diucapkan Theodore tanpa keraguan sedikitpun, ada sesuatu yang berdesir aneh di dalam dada Catleiya. Jantungnya berdetak sedikit tidak beraturan. Meskipun pernikahan ini berawal dari sebuah keterpaksaan bisnis dan utang budi, mendengar komitmen sakral dari pria sedingin Theodore tenyata mampu membuat hatinya sedikit tersentuh.

Kini giliran Catleiya. Dia menarik napas, menegakkan bahunya, lalu mengucapkan janjinya dengan suara yang lembut, jernih, namun terdengar sangat tulus di telinga semua orang.

"Saya, Catleiya Izora Adhitama, mengambil engkau, Theodore Kailash Wilson, menjadi suami saya yang sah dan satu-satunya. Di hadapan Tuhan dan jemaat ini, saya berjanji untuk selalu mengasihi dan menghormati, dalam kelimpahan maupun kekurangan, dalam sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan ketetapan kudus Tuhan."

Setelah kedua janji diucapkan, Theodore mengambil sebuah cincin emas putih polos dan saling menyematkan cincin di jari manis.

"Sekarang, saudara Theodore, silahkan membuka tudung pengantin istrimu, dan berikan kecupan pertama sebagai tanda kasih suami," ucap Pendeta.

Theodore menelan ludah pelan. Dia memajukan tubuhnya satu langkah, mengikis jarak di antara mereka. Kedua tangan kokohnya terangkat perlahan, menyentuh pinggiran kain tudung sutra milik Catleiya, lalu mengangkatnya ke atas secara perlahan.

Theodore mengetatkan cengkeraman jarinya di bahu Catleiya. Ia menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke wajah Catleiya. Sadar ratusan pasang mata dan kamera menyorot kepada mereka, ego Theodore terusik melihat tatapan menantang istrinya. Tanpa ragu, ia menunduk lebih dalam dan langsung mendaratkan ciuman tegas tepat di atas bibir Catleiya.

Sentuhan bibir yang hangat itu berlangsung beberapa detik, mengunci napas Catleiya seketika. Tubuhnya mendadak kaku dalam kekuasaan Theodore.

Begitu Theodore menjauhkan wajahnya dengan ekspresi kaku andalannya, Catleiya langsung menghirup oksigen banyak-banyak. Ia segera menguasai diri, lalu mendongak sambil berbisik sangat lirih.

"Wah... diam-diam ternyata Mas Theo agresif juga ya kalau di depan umum," bisik Catleiya centil, menyembunyikan rasa salah tingkahnya di balik kedipan mata andalannya.

Mendengar bisikan nakal itu, Theodore langsung mengetatkan rahangnya. Muka Theodore yang biasanya sedingin es seketika berubah merona merah tipis di bagian telinga karena menahan malu dan jengkel akibat Catleiya.

Gereja seketika dipenuhi oleh gemuruh tepuk tangan meriah dari seluruh jemaat yang ikut berbahagia. Di baris kursi depan, Abraham dan Dayana tampak tersenyum lega, sementara William dan Sara menyeka air mata haru mereka. Tepat di samping kedua orang tuanya, Aaron abang Catleiya tampak bertepuk tangan bangga sembari merangkul pinggang Bella, istrinya yang merupakan kakak ipar Catleiya. Pasangan suami istri itu melemparkan senyuman bahagia kepada sang adik yang kini telah resmi melepas masa lajangnya.

Sementara itu, di sudut seberang bangku jemaat, Stefan, Marco, dan Julian tampak mati-matian menahan tawa melihat telinga Theodore memerah padam setelah berinteraksi dengan istrinya. Misi perjodohan ini telah resmi berhasil.

Theodore menghela napas panjang, mencoba menstabilkan emosinya yang baru saja diacak-acak oleh Catleiya. Ia mengulurkan siku lengannya yang kokoh ke samping. "Pegang lengan saya, Catleiya. Kita harus berjalan keluar menemui tamu," perintah Theodore ketat, berusaha mengembalikan wibawanya yang runtuh.

"Siap, Suamiku sayang," jawab Catleiya riang. Ia langsung merangkul kedua tangannya dengan sangat erat dan manja ke lengan Theodore, menempelkan tubuhnya tanpa jarak saat mereka mulai melangkah beriringan membelah altar menuju pintu keluar gereja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 10: Umpan di Tepi Kolam Renang

    Keesokan paginya, matahari Bali bersinar cerah, memantulkan cahaya berkilauan di atas permukaan air kolam renang pribadi resor mereka. Angin laut yang hangat berhembus lembut, menggoyahkan daun-daun pohon palem di sekitar teras. Namun, keindahan pemandangan tropis itu sama sekali tidak dialihkan oleh Theodore. pria itu sudah duduk tegak di salah satu kursi malas teras sejak pukul tujuh pagi. Kemeja linen putih nya sengaja tidak dikancingkan sepenuhnya, menampilkan kesan santai namun tatapan mata abu-abunya tetap fokus serius pada layar laptop. Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik, meninjau laporan keuangan perusahaannya yang sempat tertunda karena acara pernikahan. Baginya liburan lima hari ini hanyalah perpindahan ruang kerja dari Jakarta ke Bali. ketenangan kerja Theodore mendadak terganggu ketika suara langkah kaki ringan terdengar mendekat dari arah dalam resor. Ia menoleh sekilas, berniat menyuruh Catleiya untuk segera sarapan. Namun, begitu matanya menangkap sosok sa

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 9: Satu Ranjang di Tepi Pantai

    Deru suara ombak malam di pantai Bali terdengar samar-samar dari balik dinding kaca besar resor privat yang mereka tempati. Setelah menempuh penerbangan menjelang malam yang cukup melelahkan dari Jakarta, Catleiya akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar utama resor mewah tersebut. Koper-koper mereka sudah tertata rapi di dekat lemari pakaian oleh pelayan resor. Namun, begitu Catleiya menyalakan lampu kamar, langkah kakinya langsung terhenti. Mata bulatnya menatap luru ke tengah ruangan. Di sana, sebuah ranjang berukuran king size berdiri dengan megah, lengkap dengan taburan kelopak bunga mawar merah membentuk hati di atas sprei putih bersih. Aroma harum, perpaduan wangi esensial melati dan mawar yang sangat khas untuk pasangan pengantin baru. Hanya ada satu ranjang besar. Tidak ada sofa panjang yang cukup luas untuk ditiduri, dan tidak ada kamar tidur tambahan di dalam resor privat ini. Catleiya menghela napas pendek, merasa situasi ini mendadak menjadi sangat canggung. Ingatan ten

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 8: Lima Hari Penuh Intrik

    Suasana di meja makan mendadak hening. Catleiya langsung merasa tenggorokannya mendadak kering. Nyali centilnya yang tadi sempat bangkit seketika menciut mengingat ancaman intens Theodore semalam yang tidak main-main. "Ah, s-soal itu..." Catleiya langsung kehilangan kata-kata. Wajahnya memerah padam. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya dengan gugup di bawah meja, benar-benar bingung harus menjawab apa hingga mencubit paha Theodore demi meminta bantuan. "Aunty Leiya mukanya merah banget, kayak tomat!" celetuk Galilo tiba-tiba dengan nada polosnya yang khas, menunjuk ke arah wajah Catleiya. Bocah berusia tujuh tahun itu langsung membuat semua orang menoleh ke arahnya. Tawa renyah langsung pecah dari mereka yang ada di sana mendengar celetukan spontan dari Galilo. Catleiya hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan malu, sementara tangan di bawah meja semakin erat mencubit paha Theodore karena kesal. Theodore melirik sekilas ke arah istrinya yang kini sedang mati kutu. S

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 7: Meja Sarapan dan Pertanyaan yang Mengusik

    Theodore sudah runtuh. Pria kaku itu tidak lagi menahan diri. Ia langsung menunduk dan mengunci bibir Catleiya dalam sebuah ciuman yang tegas, dalam, dan menuntut. Catleiya terbelalak, tubuhnya gemetar karena terkejut sekaligus takut menghadapi dominasi Theodore yang begitu nyata. Kedua tangannya yang semula berniat menggoda kini mencengkram erat kemeja hitam Theodore karena lemas. Selama beberapa saat, keheningan kamar hotel mewah itu hanya dipenuhi oleh deru napas mereka yang saling memburu, sebelum akhirnya Theodore menjauhkan wajahnya perlahan. Catleiya menghirup oksigen banyak-banyak, wajahnya memerah alami dan napasnya tersengal-sengal karena syok yang teramat sangat. Ia langsung menundukkan kepala, tidak berani lagi menatap mata suaminya. Menatap lekat-lekat bibir ranum istrinya yang kini tampak merona. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai tipis, merasa puas akhirnya berhasil menjinakkan gadis berisik ini hingga gemetar ketakutan di dalam dekapannya. "Sekarang masuk k

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 6: Malam Pertama di Balik Pintu Terkunci

    Bunyi klik pelan dari pintu kamar presidensial suite yang tertutup menandakan bahwa pesta pernikahan yang melelahkan itu akhirnya benar-benar selesai. Theo langsung berjalan menuju area ruang tamu kamar hotel tersebut. Ia melonggarkan ikatan dasinya dengan kasar menggunakan satu tangan, lalu melempar jas hitamnya begitu saja ke atas sofa. Pria itu menghembuskan napas panjang, mencoba mengusap wajahnya yang terasa kaku setelah seharian dipaksa mengikuti skenario pernikahan ibunya. Dia mengembalikan tubuh, dan pandangannya langsung terkunci pada Catleiya yang berdiri di dekat jendela besar. Wanita itu tampak sedang bersusah payah meraih resleting di bagian punggung gaun pengantinnya yang rumit. Kain brokat putih gading itu bergeser sedikit, mengekspos punggungnya yang putih halus. Ditambah lagi, aroma manis buah stroberi yang segar dari tubuh Catleiya seketika memenuhi ruangan sunyi, mengusik ketenangan Theodore. "Mas," panggil Catleiya, menoleh ke belakang dengan kerlingan mata centi

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 5: Kue Pernikahan dan Kulkas Berjalan

    Kilatan cahaya lampu kilat kamera dari ratusan jurnalis dan fotografer, menerangi aula utama hotel bintang lima yang telah disulap menjadi ruang resepsi super mewah. Dekorasi malam itu didominasi oleh perpaduan warna emas, kristal gantung yang berkilauan, dan rangkaian bunga mawar merah yang megah. Ribuan tamu undangan dari kalangan penjabat, investor asing, hingga selebritas papan atas mengular panjang di karpet merah, Mengantri untuk memberikan selamat kepada pasangan pengantin baru dari keluarga Wilson dan Adhitama. Di atas pelaminan megah, Theodore berdiri tegak dengan setelan tuxedo hitam yang sangat elegan. Meski penampilannya malam itu begitu karismatik dan memukau, ekspresi wajahnya masih tetap sama datar dan dingin tanpa senyuman sedikit pun. Berdiri selama tiga jam menyalami ribuan orang asing adalah definisi siksaan batin bagi pria sekaku Theodore. Namun, siksaan itu terasa berkali-kali lipat lebih berat karena sosok wanita yang berdiri di sampingnya, Catleiya Adhitama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status