LOGIN“Ada apa dengan mbak Dania? Apa kalian memintaku untuk mundur?” tanya Sova terdengar sarkas.
Semua orang yang berada di meja itu pun saling berpandangan mendengar kalimat sarkas dari Sova. Tak sempat terpikir oleh mereka jika Sova akan berpikiran demikian. Mereka hanya sibuk dengan pikiran dan teka-teki mereka sendiri.“Aku memang masih muda. Aku bisa pergi dari kehidupan Akang dan mengejar cita-cita yang sempat tertunda. Aku juga bisa jadi janda muda yang kaya raya karena Akang pMalam terasa begitu panjang bagi Sova.Ia duduk memeluk Rafa yang terus tertidur di dalam gendongannya. Jemarinya tak berhenti mengusap punggung bayi itu, seolah sentuhan kecil itu mampu mengusir rasa takut yang sejak tadi menguasai dadanya.Di sampingnya, Hilda bersandar pada senderan ranjang sambil sesekali melirik layar ponselnya.Belum ada kabar dari Roy. Sunyi memenuhi ruangan hingga suara napas mereka terdengar begitu jelas.Tok... tok... tok...Ketukan di pintu membuat tubuh Sova menegang. Begitu pun Hilda, ia bahkan langsung duduk tegak dengan tangan terkepal erat."Bu Sova, ini saya. Hari."Sova langsung berdiri. Ia berjalan menuju pintu dengan menggendong Rafa, diikuti oleh Hilda."Bu Sova? Anda masih di dalam kan? Saya Hari." Suara itu kembali terdengar memanggilnya."Hari?" suara Sova bergetar, antara senang dan rasa takut ketika mendengar suara pengawal itu."Iya. Keadaan di l
Suara yang terdengar dari seberang sambungan telepon itu membuat detak jantung Roy seolah berhenti sejenak. Tangan yang memegang benda pipih itu terasa gemetar, bukan karena takut, melainkan karena campuran rasa bersalah yang menumpuk setinggi gunung dan rasa malu yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Ia yang biasanya berbicara dengan nada tegas, berwibawa, bahkan kerap membuat orang lain ciut nyalinya hanya dengan satu tatapan tajam, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang kikuk bagaikan anak sekolah yang baru pertama kali diminta maju ke depan kelas untuk membaca puisi. Ia menelan ludah dengan susah payah, matanya melirik sekilas ke arah Sova yang kini duduk di sampingnya dengan ekspresi menahan senyum—tampaknya istrinya itu sangat menikmati pemandangan langka di mana sang suami yang biasanya sok gagah itu kini tampak kacau balau. “Halo… Beni… ini saya, Bos-mu,” sapa Roy dengan suara yang keluar agak serak dan terdengar terbata-bata. Ia menggaruk-garuk bela
Malam itu, langit di atas gudang tua masih gelap tanpa bintang. Udara dingin menyusup di sela-sela papan kayu yang lapuk, membawa bau debu, minyak tanah, dan besi berkarat. Roy berdiri diam di antara keributan yang perlahan mereda. Napasnya masih berat, dadanya naik turun menahan rasa sakit di sekujur tubuh. Darah dari luka di pelipisnya menetes perlahan ke pipi, lalu jatuh ke lantai berdebu. Di depannya, Rian sudah tergeletak tak berdaya dengan tangan yang patah, sementara dua petugas polisi memborgolnya dan membawanya keluar. Di sudut ruangan, Beni sedang ditolong oleh paramedis. Wajahnya pucat, tubuhnya penuh memar, tapi matanya perlahan terbuka. Saat ia melihat Roy, ia tersenyum tipis—senyum lega yang hampir tak terlihat. Roy membalasnya dengan anggukan kecil. “Kau aman, Pak,” bisik Beni pelan. Roy mengangguk lagi, tapi hatinya belum benar-benar tenang. Bayangan tentang Sova dan Rafa masih memenuhi kepalanya. Selama per
"Jangan pedulikan saya, pak Roy! Ingat bu Sova di rumah," tolak Beni dengan suara yang terdengar payah.Roy mengangguk pelan seolah memberi isyarat bahwa ia ada di sana, bahwa ia datang untuk menyelamatkan Beni. "Lepaskan dia. Urusan ini hanya antara kau dan aku. Dia tidak ada hubungannya sama sekali." Rian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa keras, suaranya bergema di dinding gudang kosong itu. "Ah, Roy... kau tidak pernah pandai bernegosiasi. Kau pikir aku bodoh? Jika aku melepaskan dia sekarang, kau akan membunuhku di tempat ini, bukan? Tidak, tidak. Dia adalah jaminan terbaikku. Dan kau... kau adalah kunci dari segalanya." Rian melangkah lebih dekat lagi, matanya menyala penuh kebencian. "Dengar baik-baik. Selama sembilan tahun ini aku bersembunyi, membangun kembali kekuasaanku, menyusup diam-diam. Aku tahu segalanya tentangmu—perusahaan barumu, rumah mewahmu, istri cantikmu, anakmu, bahkan Beni yang begitu setia kepada bos-nya. K
Asap knalpot berputar liar di udara malam saat mobil Roy melesat semakin kencang, membelok tajam memasuki jalanan berbatu di pinggiran utara kota, daerah yang sepi, penuh bangunan tua yang terbengkalai, sisa-sisa pabrik tekstil yang sudah ditutup puluhan tahun lalu. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena amarah yang membakar setiap inci tubuhnya. Roy tersenyum smirk, pertanda bahwa semua masih bisa ia kendalikan, meskipun rasa takut akan kehilangan Sova membuncah. Bukan tanpa perhitungan ia mendatangi tempat ini, tapi rencana yang sudah ia susun runtuh seketika saat pertahanan terakhirnya diusik. Di balik keningnya yang berkerut, bayangan wajah Sova yang menangis, suara tangisan bayinya, dan ketakutan di mata mereka terus berputar tanpa henti. Sosok lembut dan damai yang ia bangun selama bertahun-tahun kini runtuh seketika; pria yang dulu dikenal sebagai pemimpin kejam dan tak kenal ampun, sosok yang ia kubur dalam-dalam kini bangkit kembali,
"Ayo!" pinta Hilda agar Sova terus bergerak masuk ke dalam kamar. Sova pun mengikutinya. Sova terdiam di sofa kamar, sementara Hilda memeriksa setiap jendela, kemudian menutup gordennya. "Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres." Hilda duduk di sofa yang bersebelahan dengan Sova. "Maksudnya?" "Rumah ini sudah gak aman," sahut Hilda. "Sova, ingat, apapun yang terjadi, kamu tidak boleh keluar dari sini. Setidaknya, kita bisa lebih aman di dalam. Cepat hubungi Roy!" titah Hilda. "Kang Roy tadi pergi dengan tergesa-gesa, wajahnya sangat serius. Dia bilang ada urusan pekerjaan, tapi... aku merasa ini ada hubungannya dengan Beni yang hilang." Hilda mengangguk pelan, matanya menatap ke arah jendela-jendela besar yang tertutup tirai tebal. Ia juga tahu sedikit banyak tentang masa lalu Roy, hal-hal yang tidak pernah dibicarakan secara terang-terangan namun terasa berat di bahu pria itu. "Tenanglah, Roy orang yang hebat, dia pasti bisa mengatasi semuanya. Selama ini dia selalu bisa men
SLTC 094"Akang!" Sova terisak. Ia menaikkan kakinya ke atas gazebo, memeluk lututnya dan melanjutkan tangisnya dengan pilu. "Akang, kenapa?" tanya Sova di sela-sela isak tangisnya. "Aku udah kasih semua buat Akang, semua yang Aku punya. Aku udah berharap ba
SLTC - 092Roy menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah ruangan. Ada denyut nyeri saat Sova nampak ingin menolaknya. Tapi, Ia pun tak ingin menyalahkan Sova karena kesalahan itu ada pada dirinya. "Jangan berisik!" Ucap sofa lagi, Kemudian tangannya menunjuk ke arah rancan
SLTC - 091Roy menatap ke arah Sova yang sudah berlalu meninggalkannya. Ia ingin menghentikan langkah Sova dan berlalu ke dalam rumah, hanya dengan Sova dan Rafa. Tapi, istrinya itu tak mau mengerti. Roy mendengkus sepelan mungkin, agar Ia tak menyakiti hati Dania. "A
Hari ini Baby Rafa sudah boleh dibawa pulang ke rumah. Meskipun kondisi badannya masih nampak kecil, tapi sudah kuat untuk diperlakukan seperti bayi normal pada umumnya. Namun, tetap saja Sova memilih seorang perawat untuk membantunya merawat Rafa. Ia tak ingin coba-coba untuk urusan bayi prematurny







