Share

sltc - 087

last update publish date: 2024-02-17 23:43:43

"Bibi senang banget diajakin nengok Den Rafa di rumah sakit. Kelihatannya... Den Rafa sudah semakin sehat ya, Non? " ucap Bi Ais dengan wajah penuh senyuman. Di pelupuk matanya, Ia seolah masih melihat dengan jelas bagaimana Rafa, Baby Boy milik Sova dan Roy itu nampak semakin sehat. Bahkan, tangisannya sudah mengeluarkan suara.

" Iya, Bi." Hanya kalimat itu yang Sova ucapkan, tanpa memperpanjang basa-basi. Pandangannya fokus ke arah handphone yang membuka GPS, arah cafe yang menjadi tempat j
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   113

    Asap knalpot berputar liar di udara malam saat mobil Roy melesat semakin kencang, membelok tajam memasuki jalanan berbatu di pinggiran utara Bandung—daerah yang sepi, penuh bangunan tua yang terbengkalai, sisa-sisa pabrik tekstil yang sudah ditutup puluhan tahun lalu. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena amarah yang membakar setiap inci tubuhnya. Di balik keningnya yang berkerut, bayangan wajah Sova yang menangis, suara tangisan bayinya, dan ketakutan di mata Hilda terus berputar tanpa henti. Sosok lembut dan damai yang ia bangun selama bertahun-tahun kini runtuh seketika; pria yang dulu dikenal sebagai pemimpin kejam dan tak kenal ampun—sosok yang ia kubur dalam-dalam—kini bangkit kembali, tajam dan berbahaya. Ponselnya masih digenggam erat di tangan kiri, layarnya masih menampilkan foto yang membuat darahnya mendidih. Di bawah pesan ancaman itu, ada alamat lengkap: Gudang tua nomor 17, kawasan Padasuka. Tempat itu ia kenal betul—dul

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   112

    Asap knalpot berputar liar di udara malam saat mobil Roy melesat semakin kencang, membelok tajam memasuki jalanan berbatu di pinggiran utara Bandung—daerah yang sepi, penuh bangunan tua yang terbengkalai, sisa-sisa pabrik tekstil yang sudah ditutup puluhan tahun lalu. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena amarah yang membakar setiap inci tubuhnya. Di balik keningnya yang berkerut, bayangan wajah Sova yang menangis, suara tangisan bayinya, dan ketakutan di mata Hilda terus berputar tanpa henti. Sosok lembut dan damai yang ia bangun selama bertahun-tahun kini runtuh seketika; pria yang dulu dikenal sebagai pemimpin kejam dan tak kenal ampun—sosok yang ia kubur dalam-dalam—kini bangkit kembali, tajam dan berbahaya. Ponselnya masih digenggam erat di tangan kiri, layarnya masih menampilkan foto yang membuat darahnya mendidih. Di bawah pesan ancaman itu, ada alamat lengkap: Gudang tua nomor 17, kawasan Padasuka. Tempat itu ia kenal betul—dulu, bertahun

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   112. Termakan umpan

    Roy mematikan layar ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya tampak menonjol. Pesan ancaman itu tercetak jelas di benaknya, setiap kata seolah berubah menjadi pisau yang menusuk tajam ke dalam kesadarannya. Ia tahu betul siapa pengirim pesan itu—orang yang mengenal dirinya luar dalam, orang yang paham betul apa yang paling ia takuti, dan orang yang sengaja memanfaatkan kelemahan terbesarnya untuk menjeratnya. "Kang... siapa yang menelepon? Ada apa?" suara Sova terdengar pelan dan cemas, ia melangkah mendekat, tangannya yang lembut menyentuh lengan Roy dengan penuh kekhawatiran. Matanya yang bening menatap lurus ke manik mata suaminya, berusaha membaca apa yang sedang terjadi di balik raut wajah yang berubah pucat itu. Roy menoleh perlahan, menatap wajah wanita yang telah mengubah seluruh hidupnya. Wanita yang dulu hanya ia anggap sebagai sarana untuk mewariskan segala hartanya, namun kini telah menjadi satu-sat

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   111. Richard

    Roy menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya dwngan sedikit kasar.Suara itu adalah suara Richard. Bos mafia yang dulu berada di bawah kendalinya. “Richard… ini saya” jawab Roy dengan suara yang tenang namun tegas. Ada jeda beberapa detik di seberang sana, seolah orang yang dipanggil itu sedang terkejut sekaligus senang mendengar suara orang yang sudah lama tidak berkomunikasi dengannya. “Bos Roy. Wah, sungguh keajaiban. Sekian purnama saya menunggu anda menghubungis saya, akhirnya hal itu tiba. Pasti ada masalah besar yang membuat anda memutuskan untuk memecah kesunyian ini, kan?” tanya Richard dengan nada yang terdengar antusias sekaligus penasaran. “Kamu benar. Saya butuh bantuanmu, Richard.""Dengan senang hati saya akan membantu. Maaf, karena saya menghentikan pengawasan dan perlindungan diam-diam terhadap anda karena permintaan anak buah anda saat itu," ucapnya membuka kisah lama. Sepeninggal Roy, Richard

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   110. Rencana Roy

    “Raut wajahmu saat mempertanyakan hal tadi benar, Sayang. Semua yang akang katakan tadi hanyalah kebohongan dan strategi saja.""Maksud Akang?" Sova mengernyitkan wajahnya, menuntut penjelasan dari ucapan Roy."Akang tahu persis ada orang yang masih bekerja untuk musuh kita di antara mereka."Roy memainkan sebuah pulpen yang berada di atas meja kerjanya."Bagaimana mungkin orang-orang itu bisa tahu persis kapan Beni akan keluar, kalau tidak ada yang memberitahu dari dalam? Mereka datang berbondong-bondong seolah sudah menunggu dengan sabar, itu berarti mereka mendapat laporan yang akurat dari seseorang yang ada di sini. Begitu maksudnya?" tanya Sova sambil berjalan mondar-mandir, dengan gaya detektif yang memecahkan puzzle sebuah kasus.Roy berbalik, menghadap ke arah Sova. "Ya. Dan Akang tidak bisa langsung menuduh siapa-siapa.""Ya, karena kalau akang bertindak sembarangan, orang itu akan semakin berhati-hati dan kita tidak ak

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   109. Instruksi

    Suara panggilan yang memecah ratapan di hati Roy, membuat ia segera melepaskan diri dari pelukan Sova. Roy segera menghapus sisa-sisa air mata yang sempat menetes di pipinya, lalu menegakkan tubuhnya kembali. Wajah Roy yang tadi menunjukkan kesedihan, perlahan berubah menjadi topeng ketegasan yang biasa ia tunjukkan. Namun di balik tatapan matanya yang tajam, tersimpan amarah yang membara dan kewaspadaan yang sangat tinggi. Ia tahu, saat ini bukanlah waktu untuk terus larut dalam penyesalan, tapi waktu untuk bertindak cepat dan tepat. Ia berbalik, berjalan ke arah halaman depan rumah yang luas itu. Di sana, semua pekerja, penjaga keamanan, dan orang-orang yang bekerja di bawah perintahnya telah berkumpul sesuai dengan perintah yang ia sampaikan tadi. Mereka berdiri berbaris rapi, menatap ke arah Roy dengan tatapan yang beragam—ada yang tampak cemas, ada yang bingung, ada yang penuh semangat untuk membantu, namun ada juga yang

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   SLTC - 089

    Sova melirik sekilas ke arah dokter Hilda, kemudian ke arah bi Ais secara bergantian. Ada kata yang menggelitik pendengarannya, meminta kejelasan bahwa apa yang Ia dengar tak salah. “Ya, kami... bukan hanya pak Beni.” Bi Ais melihat Sova dengan sorot mata sendu. “Maksudnya?” tanya Sova dengan suara

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   SLTC - 088

    “Ada apa dengan mbak Dania? Apa kalian memintaku untuk mundur?” tanya Sova terdengar sarkas. Semua orang yang berada di meja itu pun saling berpandangan mendengar kalimat sarkas dari Sova. Tak sempat terpikir oleh mereka jika Sova akan berpikiran demikian. Mereka hanya sibuk dengan pikiran d

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   SLTC - 086

    "Hei!" ucap Roy seraya mengibaskan tangannya di depan Hilda.Psikiater muda itu pun segera mengerjapkan matanya, kemudian mengulas sedikit senyum.Beni segera berdiri dari kursi, kemudian Ia pamit undur diri dan pergi bersama Bi Ais."Baru datang atau udah lama?" tanya Roy sekali lagi. Setelah itu, Ia

  • Suami Lansiaku Ternyata CEO   SLTC - 085

    Sova menoleh ke arah sumber suara. Di sana, nampak Hilda yang sedang berjalan ke arahnya seraya merentangkan kedua tangannya. Sedangkan Sari, ia meletakkan beberapa paper bag yang dibawa oleh Hilda sebagai hadiah atas kelahiran baby boy Sova dan Roy." Apa kabar, Mama muda? " ucap Hilda seraya memelu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status