Masuk
“Nyonya Kanina, hasil pemeriksaan Anda sudah keluar. Silahkan datang ke rumah sakit untuk mengambilnya hari ini.”
Setelah mengalami keguguran untuk kedua kalinya, Kanina Zahira memutuskan menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui lebih jauh mengenai kondisinya. Hari ini, dia mendapat kabar bahwa hasil pemeriksaannya sudah keluar. Setelah jam makan siang, dia langsung pergi ke rumah sakit bersama ibu mertuanya. Ada harapan yang begitu besar di dalam hatinya. Tapi, apa yang dia dapat setelah menggenggam hasil pemeriksaan itu justru melenyapkan sisa harapan yang sempat ada. Di sana tertulis dengan jelas; dinding rahimnya mengalami penipisan yang cukup parah dan kemungkinan untuk hamil lagi sangat kecil dan beresiko tinggi. “Ini semua salahmu yang terlalu egois!” Sartika Hapsari melemparkan hasil pemeriksaan itu ke wajah Kanina dan langsung memarahi. “Dulu kamu sengaja menunda-nunda kehamilan! Tiga tahun pernikahan, baru mau coba punya anak, tapi baru dua bulan hamil, kamu malah keguguran!” “Sekarang, sudah hampir lima tahun menikah, kamu bukan cuma keguguran untuk kedua kalinya, tapi juga divonis akan sulit untuk hamil lagi!” “Apa kamu belum sadar juga? Ini semua gara-gara kamu yang terlalu egois dan hanya mementingkan diri sendiri!” Kata demi kata meluncur seperti ribuan jarum yang menusuk. Kanina tertunduk diam, membiarkan emosi yang meledak-ledak itu menghujaninya seperti badai. Hatinya bergemuruh hebat, tapi bibirnya tertutup rapat, seolah tak ada satu kata pun yang bisa dia ucapkan sebagai pembelaan. “Sekarang, apa lagi yang bisa diharapkan dari kamu?” Sartika bertolak pinggang dan terus memarahi. “Kalau untuk hamil saja sudah sulit, bagaimana bisa kasih keturunan?” “Padahal, Harsya itu anak laki-laki satu-satunya. Kalau dia nggak bisa punya anak, siapa yang akan jadi penerus keluarga Danuarta?” Kanina menarik napas dalam-dalam, mencoba menekan sesak yang menghimpit dada, sementara bibirnya tetap bungkam. Sartika yang melihatnya diam menjadi semakin tidak sabar. “Sudahlah! Karena kamu nggak bisa kasih Harsya keturunan, biarkan dia menikah lagi!” Ucapan itu menghantam Kanina lebih keras dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya, dia mengangkat pandangan dan menatap Sartika dengan mata berkaca-kaca. Sartika tahu apa yang dia pikirkan dan sengaja mengejek, “Kamu pikir, Harsya masih mau terima perempuan nggak berguna seperti kamu?” “Lima tahun sudah terbuang sia-sia, dia nggak akan sebodoh itu untuk tetap mempertahankan kamu!” Setelah berkata begitu, Sartika berbalik dan melangkah pergi. Hentakan sepatunya menggema di lorong rumah sakit yang sepi. Kanina menatap punggung yang kian menjauh itu. Angin dingin berhembus kencang, menyapu wajahnya yang mulai basah oleh air mata. ... Saat keluar dari rumah sakit, hujan mulai turun. Kanina menghentikan taksi yang lewat dan menyebutkan alamat rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang, kata-kata Sartika terus terngiang di telinganya, dan bayangan wajah Harsya terus berputar dalam benaknya. Beberapa bulan terakhir, sikap Harsya memang sudah mulai berubah. Tidak lagi seperti dulu yang selalu hangat dan penuh cinta. Kanina teringat saat awal pernikahan, dia memang sengaja menunda kehamilan, bukan karena tidak menginginkannya, tapi karena tuntutan pekerjaan. Dulu, dia seorang wanita karir, memiliki jabatan penting di sebuah perusahaan. Kesibukan yang luar biasa membuatnya harus menunda kehamilan. Saat itu, Harsya setuju dengan keputusannya dan sama sekali tidak mempermasalahkan. “Nggak apa-apa, kita memang nggak perlu terburu-buru. Selama kamu sehat dan bahagia, aku masih bisa menunggu,” katanya. Namun, tekanan dari keluarga besar Harsya terus berdatangan. Di tahun ketiga pernikahan, Kanina memutuskan berhenti dari pekerjaan. Saat Kanina akhirnya hamil, kondisi kandungannya terlalu lemah dan hanya bertahan selama dua bulan. Semua orang menyalahkannya, tapi Harsya tidak. Pria itu justru selalu berada di sisinya, menghiburnya, menenangkannya, bahkan membelanya dari kemarahan Sartika dan keluarga besar. Tapi semuanya mulai terasa berbeda sejak beberapa bulan yang lalu, saat Kanina lagi-lagi harus kehilangan janinnya yang baru berusia tiga bulan. Sejak saat itu, sikap Harsya tidak lagi sama. Dia hanya menghibur sekenanya, lalu mulai acuh tak acuh dan menjadi jauh lebih diam dari biasanya. Harsya juga mulai jarang pulang tepat waktu dengan alasan sibuk di kantor. Ketika di rumah pun, suasananya terasa begitu asing dan berjarak. Kanina tidak bodoh, dia tahu Harsya mulai kehilangan kesabaran karena kegagalannya mempertahankan kehamilan. “Kalau dia tahu hasil pemeriksaan hari ini, apa dia akan marah dan nggak mau lagi menerimaku?” Perasaan Kanina berkecamuk saat memikirkan segala kemungkinan. Genggaman tangannya pada hasil pemeriksaan pun menjadi semakin erat. ... Tiba di rumah, Kanina disambut dengan suasana sepi yang tidak lagi terasa asing. Dia menutup pintu, lalu masuk ke kamar dan baru keluar saat malam datang. Setelah memasak hidangan makan malam dan menyajikannya di atas meja, Kanina duduk di sofa ruang tamu dan menunggu kepulangan Harsya. Akhir-akhir ini, Harsya semakin sering pulang larut dan nyaris tidak pernah menyentuh makan malam di atas meja. Tapi, Kanina tetap bersikeras menyiapkan. Ketika waktu hampir menunjuk pukul sebelas malam, suara derit pintu akhirnya terdengar. Kanina refleks menoleh. Sosok Harsya Danuarta yang tinggi dan tampan segera tampak di depan mata. Pandangan mereka bertemu dalam sorot yang tak lagi sama seperti dulu. Kanina bangkit, mencoba menyambut dengan senyuman. “Kamu sudah pulang. Mau makan dulu? Aku sudah siapkan makan malam.” Harsya melirik sekilas, mengabaikan ucapannya dan langsung bertanya dengan acuh tak acuh, “Bagaimana hasil pemeriksaanmu?” Kanina terpaku. Hanya satu pertanyaan, tapi berhasil membuat jantungnya berdentum dan berdebar dengan keras. Dia tahu Harsya pasti akan bertanya soal hasil pemeriksaannya, tapi dia tetap saja merasa terkejut dan tidak siap saat mendengarnya. Rasa takut yang sedari tadi berusaha dia tepis, kini semakin menggerogoti hatinya. Kanina menelan ludah dengan susah payah, berusaha menenangkan diri. Lalu, tangannya perlahan mengambil map hasil pemeriksaan yang tergeletak di atas meja dan menyerahkannya tanpa berkata apa-apa. Harsya menerima map itu, membukanya dan mulai membaca isi di dalamnya. Hanya dalam hitungan detik, raut wajahnya berubah muram. Kanina melihat perubahan itu dari ujung matanya. Rasa dingin menjalar di hatinya dan debar jantungnya menjadi semakin tak terkendali. “Memang nggak ada yang bisa diharapkan lagi,” ucap Harsya sambil menghempaskan map ke atas meja. Nada bicaranya terdengar datar dan tanpa emosi, tapi kata-kata yang dia ucapkan justru menusuk hati Kanina lebih dalam dari apa pun. Saat Harsya berbalik dan hendak naik ke lantai atas, Kanina refleks meraih tangannya. “Dokter bilang, aku bisa terapi hormon. Masih ada harapan...” Harsya berhenti sejenak, melirik wajah Kanina yang pucat dan bertanya, “Kamu yakin itu akan berhasil?” Kanina terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia memang sempat menemui dokter dan mendapatkan sedikit harapan, tapi tidak ada jaminan untuk itu. Melihat Kanina tak bisa menjawab, Harsya menghela napas, lalu dengan malas melepaskan sepasang tangan yang menggenggam lengannya erat-erat. “Sudahlah, lupakan saja.” Tiga kata itu ditinggalkan bersama Kanina yang hanya bisa mematung, memandangi punggung suaminya dengan air mata yang mulai jatuh. ... Sejak malam itu, Kanina menyadari bahwa hubungannya dengan Harsya menjadi semakin retak dan berjarak. Harsya semakin terang-terangan membangun jarak, mengabaikannya dan tidak pernah lagi membuka pembicaraan dengannya. Setiap kali Kanina buka suara, dia hanya menanggapi seadanya, terkadang hanya melirik sekilas dan berlalu begitu saja. Hati Kanina remuk, tapi dia tidak pernah berpikir untuk menyerah. Setiap hari, dia terus berusaha memperbaiki, meski tak juga membuahkan hasil. Di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-lima, Kanina sengaja menyiapkan makan malam istimewa, berharap ini adalah moment yang tepat untuk memperbaiki segalanya. Malam itu, setelah menyajikan semua hidangan di atas meja makan, dia duduk di kursi, bersiap menyambut kepulangan Harsya dengan penampilan terbaiknya. Sebelumnya, dia sudah beberapa kali mengirimkan pesan, mengingatkan Harsya untuk pulang lebih awal. Tidak ada balasan, tapi dia tetap menunggu. Entah berapa lama waktu berlalu. Ketika pikirannya mulai melayang, suara notifikasi tiba-tiba terdengar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. [Lihat, siapa yang sedang makan malam bersama?] Alis Kanina berkerut. Hanya berselang dua detik, satu foto menyusul, menampilkan sesuatu yang membuat jantungnya langsung berdentum dengan keras. Di dalam foto itu, dia melihat Harsya, sedang makan malam di sebuah restoran mewah dengan penampilan formal seperti biasa. Ada Sartika di sana. Tapi, pandangan Kanina langsung terhenti pada sosok yang duduk tepat di samping Harsya. Seorang wanita berwajah cantik dan berpenampilan anggun— tersenyum lebar, seolah sedang menikmati kebersamaan itu. Seraut wajah yang tidak asing membawa kembali ingatan lama yang tidak akan pernah Kanina lupakan. Ralia Anindita—gadis kaya dan sombong yang dulu selalu merundungnya saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Setelah lulus sekolah, Kanina sudah tidak pernah lagi bertemu atau mendengar kabar tentang Ralia. Tapi sekarang, wanita itu tiba-tiba muncul dalam sebuah potret yang mengejutkan, duduk di samping suaminya, menikmati makan malam bersama. Bagaimana bisa? Kanina bahkan tidak tahu kalau Ralia dan Harsya saling mengenal. Dia bingung, pikirannya kacau, berbagai kemungkinan terburuk merayapi kepalanya. Saat dia masih mencoba menenangkan pikirannya, denting notifikasi kembali terdengar, pesan lain masuk—dari nomor yang sama. [Restoran Aravella, ruang VIP nomor 3. Kalau ingin tahu ada apa di antara mereka, jangan buang-buang waktu, cepat datang ke sana sekarang juga!]Suara gesekan sapu dengan lantai terdengar pelan, berulang-ulang memecah kesunyian toko bunga yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Ralia menggenggam gagang sapu erat hingga ruas jemarinya memutih. Wajahnya muram, bibirnya terkatup kaku, sementara sorot matanya dipenuhi emosi yang dipaksa ditekan.Setiap gerakan tangannya tampak kaku dan penuh keterpaksaan. Pecahan pot bunga di lantai dikumpulkannya perlahan, tanah yang berhamburan dibersihkan sedikit demi sedikit.Di dekat rak bunga, Althan masih berdiri dengan tenang. Tubuh tingginya bersandar di sisi rak kayu. Tidak ada ekspresi berarti di wajah pria itu. Namun tatapannya jelas sedang mengawasi.Di sisi lain, Kanina membawa Artanti duduk di kursi dekat meja kerja. Emosinya tampak sudah reda, digantikan ekspresi kebingungan, seolah tidak mengerti apa sedang terjadi.“Ibu di sini saja, ya?” ucap Kanina sambil mengusap tangan ibunya dengan lembut.Artanti tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan polos. Kanina memberinya se
Kalimat Althan terdengar ringan. Hampir seperti ucapan yang wajar. Tidak keras, tidak pula diwarnai emosi. Namun justru karena itu, sindiran di dalamnya terasa begitu jelas.Ralia langsung membeku, seolah seseorang baru saja menampar wajahnya di depan banyak orang—pelan, namun telak hingga meninggalkan rasa panas yang menjalar sampai ke dada.Untuk sesaat, dia lupa mempertahankan ekspresi rapuh yang sejak tadi dia bangun dengan susah payah. Matanya membelalak tipis, sementara bibirnya menegang tanpa sadar.“Masih mau berpura-pura?” Artanti berseru jengkel. Tangannya mengangkat botol semprot lagi, seakan sudah siap menghujani Ralia dengan semburan air jika masih bersandiwara.Kanina menahan tangan ibunya dengan lembut, namun senyum tipis tampak jelas di bibirnya. Ralia melihat itu sebagai ejekan dan kemarahan di dalam hatinya semakin bergejolak.Dia akhirnya menarik napas pelan, lalu perlahan bangkit berdiri dari lantai yang kotor, mengabaikan gaunnya yang sudah ternoda tanah di b
Suara langkah sepatu terdengar pelan dan teratur, semakin mendekat dari arah pintu. Ralia yang semula masih dipenuhi amarah seketika terdiam saat menyadarinya.Dia tidak menoleh. Namun matanya bergerak cepat, seolah dalam satu detik itu pikirannya langsung bekerja mencari sesuatu.Lalu, hampir seketika, raut wajahnya berubah. Amarah di matanya menghilang, digantikan dengan ekspresi sedih yang tampak begitu meyakinkan. “Kanina…” suaranya bergetar halus, nyaris berubah menjadi tangisan. “Aku nggak tahu apa salahku…”“Aku ke sini cuma mau beli bunga… sekalian menyapa kamu dan ibumu… Tapi kalian... malah memperlakukan aku seperti ini…”Kalimat itu keluar terbata-bata, diiringi isak kecil yang terdengar menyedihkan.Jika orang lain melihatnya sekarang, mungkin mereka benar-benar akan percaya bahwa Ralia adalah korban yang tidak tahu apa-apa.Gaunnya kotor terkena tanah, rambutnya sedikit berantakan, sementara tetes air di wajahnya membuat penampilannya tampak semakin memperihatinka
Kanina menatap perempuan di depannya seperti sedang melihat orang bodoh. “Mengadu?” ulangnya perlahan.Sebuah tawa kecil lalu lolos dari bibirnya—ringan, pendek, tetapi mengandung sesuatu yang tidak bisa disalahartikan. Bukan tawa yang hangat, bukan pula tawa yang menunjukkan kegembiraan. Lebih seperti ejekan yang tidak repot-repot disembunyikan.“Tuduhan macam apa itu?” katanya sambil menggeleng tak habis pikir.Reaksinya membuat Ralia menatap dengan tajam, tampak tersinggung. Namun, sebelum dia sempat buka suara, Kanina sudah mendahului.“Aku bukan mengadu,” ucapnya dengan nada santai. “Aku hanya ingin suamimu melihat sendiri apa yang kamu kirimkan padaku, tentang betapa bahagianya kalian… tentang bagaimana kamu begitu ingin menunjukkannya padaku.”Kanina tersenyum kecil. “Bukankah itu hal yang bagus?” tanyanya kemudian. “Suamimu pasti bangga, punya istri yang begitu rajin menunjukkan betapa bahagianya dia setelah berpisah denganku.”Kata-kata itu dipenuhi sarkasme—halus
Keesokan harinya, pagi datang dengan tenang, seolah waktu sengaja melangkah lebih pelan dari biasanya. Cahaya matahari jatuh miring melalui kaca depan toko, membentuk bayang-bayang lembut di lantai dan rak-rak bunga yang tersusun rapi.Udara masih menyimpan kesejukan sisa malam, bercampur dengan wangi segar dedaunan dan kelopak yang baru disiram.Kanina baru saja membuka pintu toko. Lonceng kecil di atasnya berdenting pelan, menjadi penanda dimulainya hari yang lain.Dia meletakkan buket pesanan Althan di atas meja kerja dengan hati-hati. Hari ini, bunga daisy putih menjadi pusatnya, kelopaknya bersih dengan inti kuning yang cerah. Di sekelilingnya, Kanina memadukan beberapa tangkai baby’s breath yang halus seperti kabut tipis, diselipi mawar peach yang lembut dan beberapa daun eucalyptus.Semuanya dibungkus dengan kertas berwarna krem pucat, diikat pita cokelat muda yang sederhana namun elegan.“Ibu sedang apa?” Kanina bertanya dengan penasaran saat mengalihkan pandangan dan
Ralia mengerjap, jantungnya berdentum keras dan keterkejutan melintas cepat di matanya. Sejenak, dia terdiam, lalu perlahan, raut wajahnya berubah menjadi bingung.“Apa maksudmu, Mas?” Harsya tidak menanggapi pertanyaan itu. Dia hanya bangkit berdiri, berjalan mendekat dan memperlihatkan tangkapan layar berisi foto-foto dan pesan yang barusan dia terima di ponselnya.“Kamu sengaja mengirimkan semua ini pada Kanina? Untuk apa?” tanyanya dengan nada mendesak.Ralia menegang. Matanya terpaku pada layar ponsel di tangan Harsya, seolah kata-kata dan gambar di sana tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang asing.Dia tidak menyangka bahwa Kanina—yang selama ini hanya diam, yang tidak pernah membalas, yang seolah tidak peduli—akan memilih cara seperti ini untuk menjawab. Bukan dengan kata-kata. Bukan dengan emosi. Melainkan dengan mengembalikan semuanya tepat ke sumbernya, dan membuat Harsya tahu apa yang dia lakukan.Ralia berdiri kaku di tempatnya. Handuk di tangannya tergenggam erat







