Share

Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi
Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi
Author: Vhiena Vhie

Bab 1

Author: Vhiena Vhie
last update publish date: 2025-05-30 17:08:43

“Nyonya Kanina, hasil pemeriksaan Anda sudah keluar. Silahkan datang ke rumah sakit untuk mengambilnya hari ini.”

Setelah mengalami keguguran untuk kedua kalinya, Kanina Zahira memutuskan menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui lebih jauh mengenai kondisinya.

Hari ini, dia mendapat kabar bahwa hasil pemeriksaannya sudah keluar. Setelah jam makan siang, dia langsung pergi ke rumah sakit bersama ibu mertuanya.

Ada harapan yang begitu besar di dalam hatinya. Tapi, apa yang dia dapat setelah menggenggam hasil pemeriksaan itu justru melenyapkan sisa harapan yang sempat ada.

Di sana tertulis dengan jelas; dinding rahimnya mengalami penipisan yang cukup parah dan kemungkinan untuk hamil lagi sangat kecil dan beresiko tinggi.

“Ini semua salahmu yang terlalu egois!”

Sartika Hapsari melemparkan hasil pemeriksaan itu ke wajah Kanina dan langsung memarahi.

“Dulu kamu sengaja menunda-nunda kehamilan! Tiga tahun pernikahan, baru mau coba punya anak, tapi baru dua bulan hamil, kamu malah keguguran!”

“Sekarang, sudah hampir lima tahun menikah, kamu bukan cuma keguguran untuk kedua kalinya, tapi juga divonis akan sulit untuk hamil lagi!”

“Apa kamu belum sadar juga? Ini semua gara-gara kamu yang terlalu egois dan hanya mementingkan diri sendiri!”

Kata demi kata meluncur seperti ribuan jarum yang menusuk. Kanina tertunduk diam, membiarkan emosi yang meledak-ledak itu menghujaninya seperti badai.

Hatinya bergemuruh hebat, tapi bibirnya tertutup rapat, seolah tak ada satu kata pun yang bisa dia ucapkan sebagai pembelaan.

“Sekarang, apa lagi yang bisa diharapkan dari kamu?”

Sartika bertolak pinggang dan terus memarahi. “Kalau untuk hamil saja sudah sulit, bagaimana bisa kasih keturunan?”

“Padahal, Harsya itu anak laki-laki satu-satunya. Kalau dia nggak bisa punya anak, siapa yang akan jadi penerus keluarga Danuarta?”

Kanina menarik napas dalam-dalam, mencoba menekan sesak yang menghimpit dada, sementara bibirnya tetap bungkam.

Sartika yang melihatnya diam menjadi semakin tidak sabar. “Sudahlah! Karena kamu nggak bisa kasih Harsya keturunan, biarkan dia menikah lagi!”

Ucapan itu menghantam Kanina lebih keras dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya, dia mengangkat pandangan dan menatap Sartika dengan mata berkaca-kaca.

Sartika tahu apa yang dia pikirkan dan sengaja mengejek, “Kamu pikir, Harsya masih mau terima perempuan nggak berguna seperti kamu?”

“Lima tahun sudah terbuang sia-sia, dia nggak akan sebodoh itu untuk tetap mempertahankan kamu!”

Setelah berkata begitu, Sartika berbalik dan melangkah pergi. Hentakan sepatunya menggema di lorong rumah sakit yang sepi.

Kanina menatap punggung yang kian menjauh itu. Angin dingin berhembus kencang, menyapu wajahnya yang mulai basah oleh air mata.

...

Saat keluar dari rumah sakit, hujan mulai turun. Kanina menghentikan taksi yang lewat dan menyebutkan alamat rumahnya.

Sepanjang perjalanan pulang, kata-kata Sartika terus terngiang di telinganya, dan bayangan wajah Harsya terus berputar dalam benaknya.

Beberapa bulan terakhir, sikap Harsya memang sudah mulai berubah. Tidak lagi seperti dulu yang selalu hangat dan penuh cinta.

Kanina teringat saat awal pernikahan, dia memang sengaja menunda kehamilan, bukan karena tidak menginginkannya, tapi karena tuntutan pekerjaan.

Dulu, dia seorang wanita karir, memiliki jabatan penting di sebuah perusahaan. Kesibukan yang luar biasa membuatnya harus menunda kehamilan.

Saat itu, Harsya setuju dengan keputusannya dan sama sekali tidak mempermasalahkan.

“Nggak apa-apa, kita memang nggak perlu terburu-buru. Selama kamu sehat dan bahagia, aku masih bisa menunggu,” katanya.

Namun, tekanan dari keluarga besar Harsya terus berdatangan. Di tahun ketiga pernikahan, Kanina memutuskan berhenti dari pekerjaan.

Saat Kanina akhirnya hamil, kondisi kandungannya terlalu lemah dan hanya bertahan selama dua bulan. Semua orang menyalahkannya, tapi Harsya tidak.

Pria itu justru selalu berada di sisinya, menghiburnya, menenangkannya, bahkan membelanya dari kemarahan Sartika dan keluarga besar.

Tapi semuanya mulai terasa berbeda sejak beberapa bulan yang lalu, saat Kanina lagi-lagi harus kehilangan janinnya yang baru berusia tiga bulan.

Sejak saat itu, sikap Harsya tidak lagi sama. Dia hanya menghibur sekenanya, lalu mulai acuh tak acuh dan menjadi jauh lebih diam dari biasanya.

Harsya juga mulai jarang pulang tepat waktu dengan alasan sibuk di kantor. Ketika di rumah pun, suasananya terasa begitu asing dan berjarak.

Kanina tidak bodoh, dia tahu Harsya mulai kehilangan kesabaran karena kegagalannya mempertahankan kehamilan.

“Kalau dia tahu hasil pemeriksaan hari ini, apa dia akan marah dan nggak mau lagi menerimaku?”

Perasaan Kanina berkecamuk saat memikirkan segala kemungkinan. Genggaman tangannya pada hasil pemeriksaan pun menjadi semakin erat.

...

Tiba di rumah, Kanina disambut dengan suasana sepi yang tidak lagi terasa asing. Dia menutup pintu, lalu masuk ke kamar dan baru keluar saat malam datang.

Setelah memasak hidangan makan malam dan menyajikannya di atas meja, Kanina duduk di sofa ruang tamu dan menunggu kepulangan Harsya.

Akhir-akhir ini, Harsya semakin sering pulang larut dan nyaris tidak pernah menyentuh makan malam di atas meja. Tapi, Kanina tetap bersikeras menyiapkan.

Ketika waktu hampir menunjuk pukul sebelas malam, suara derit pintu akhirnya terdengar. Kanina refleks menoleh.

Sosok Harsya Danuarta yang tinggi dan tampan segera tampak di depan mata. Pandangan mereka bertemu dalam sorot yang tak lagi sama seperti dulu.

Kanina bangkit, mencoba menyambut dengan senyuman. “Kamu sudah pulang. Mau makan dulu? Aku sudah siapkan makan malam.”

Harsya melirik sekilas, mengabaikan ucapannya dan langsung bertanya dengan acuh tak acuh, “Bagaimana hasil pemeriksaanmu?”

Kanina terpaku. Hanya satu pertanyaan, tapi berhasil membuat jantungnya berdentum dan berdebar dengan keras.

Dia tahu Harsya pasti akan bertanya soal hasil pemeriksaannya, tapi dia tetap saja merasa terkejut dan tidak siap saat mendengarnya.

Rasa takut yang sedari tadi berusaha dia tepis, kini semakin menggerogoti hatinya. Kanina menelan ludah dengan susah payah, berusaha menenangkan diri.

Lalu, tangannya perlahan mengambil map hasil pemeriksaan yang tergeletak di atas meja dan menyerahkannya tanpa berkata apa-apa.

Harsya menerima map itu, membukanya dan mulai membaca isi di dalamnya. Hanya dalam hitungan detik, raut wajahnya berubah muram.

Kanina melihat perubahan itu dari ujung matanya. Rasa dingin menjalar di hatinya dan debar jantungnya menjadi semakin tak terkendali.

“Memang nggak ada yang bisa diharapkan lagi,” ucap Harsya sambil menghempaskan map ke atas meja.

Nada bicaranya terdengar datar dan tanpa emosi, tapi kata-kata yang dia ucapkan justru menusuk hati Kanina lebih dalam dari apa pun.

Saat Harsya berbalik dan hendak naik ke lantai atas, Kanina refleks meraih tangannya. “Dokter bilang, aku bisa terapi hormon. Masih ada harapan...”

Harsya berhenti sejenak, melirik wajah Kanina yang pucat dan bertanya, “Kamu yakin itu akan berhasil?”

Kanina terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia memang sempat menemui dokter dan mendapatkan sedikit harapan, tapi tidak ada jaminan untuk itu.

Melihat Kanina tak bisa menjawab, Harsya menghela napas, lalu dengan malas melepaskan sepasang tangan yang menggenggam lengannya erat-erat.

“Sudahlah, lupakan saja.”

Tiga kata itu ditinggalkan bersama Kanina yang hanya bisa mematung, memandangi punggung suaminya dengan air mata yang mulai jatuh.

...

Sejak malam itu, Kanina menyadari bahwa hubungannya dengan Harsya menjadi semakin retak dan berjarak.

Harsya semakin terang-terangan membangun jarak, mengabaikannya dan tidak pernah lagi membuka pembicaraan dengannya.

Setiap kali Kanina buka suara, dia hanya menanggapi seadanya, terkadang hanya melirik sekilas dan berlalu begitu saja.

Hati Kanina remuk, tapi dia tidak pernah berpikir untuk menyerah. Setiap hari, dia terus berusaha memperbaiki, meski tak juga membuahkan hasil.

Di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-lima, Kanina sengaja menyiapkan makan malam istimewa, berharap ini adalah moment yang tepat untuk memperbaiki segalanya.

Malam itu, setelah menyajikan semua hidangan di atas meja makan, dia duduk di kursi, bersiap menyambut kepulangan Harsya dengan penampilan terbaiknya.

Sebelumnya, dia sudah beberapa kali mengirimkan pesan, mengingatkan Harsya untuk pulang lebih awal. Tidak ada balasan, tapi dia tetap menunggu.

Entah berapa lama waktu berlalu. Ketika pikirannya mulai melayang, suara notifikasi tiba-tiba terdengar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

[Lihat, siapa yang sedang makan malam bersama?]

Alis Kanina berkerut. Hanya berselang dua detik, satu foto menyusul, menampilkan sesuatu yang membuat jantungnya langsung berdentum dengan keras.

Di dalam foto itu, dia melihat Harsya, sedang makan malam di sebuah restoran mewah dengan penampilan formal seperti biasa.

Ada Sartika di sana. Tapi, pandangan Kanina langsung terhenti pada sosok yang duduk tepat di samping Harsya.

Seorang wanita berwajah cantik dan berpenampilan anggun— tersenyum lebar, seolah sedang menikmati kebersamaan itu.

Seraut wajah yang tidak asing membawa kembali ingatan lama yang tidak akan pernah Kanina lupakan.

Ralia Anindita—gadis kaya dan sombong yang dulu selalu merundungnya saat masih duduk di bangku sekolah menengah atas.

Setelah lulus sekolah, Kanina sudah tidak pernah lagi bertemu atau mendengar kabar tentang Ralia.

Tapi sekarang, wanita itu tiba-tiba muncul dalam sebuah potret yang mengejutkan, duduk di samping suaminya, menikmati makan malam bersama.

Bagaimana bisa? Kanina bahkan tidak tahu kalau Ralia dan Harsya saling mengenal. Dia bingung, pikirannya kacau, berbagai kemungkinan terburuk merayapi kepalanya.

Saat dia masih mencoba menenangkan pikirannya, denting notifikasi kembali terdengar, pesan lain masuk—dari nomor yang sama.

[Restoran Aravella, ruang VIP nomor 3. Kalau ingin tahu ada apa di antara mereka, jangan buang-buang waktu, cepat datang ke sana sekarang juga!]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 127

    Cahaya sore yang masuk dari jendela panjang di ujung lorong perlahan berubah menjadi lebih redup, meninggalkan bayangan hangat di lantai putih yang tampak dingin.Kanina masih duduk di tempatnya, menggenggam foto di tangannya dengan hati-hati sambil menatap Althan di sampingnya dengan tatapan rumit. “Jadi, Anda...”Kalimat itu belum sempat selesai, tapi Althan sudah lebih dulu mengangguk. “Saya Barra.”Dua kata sederhana. Namun bagi Kanina terasa seperti sesuatu yang mengguncang seluruh ingatannya.Matanya perlahan membesar. Dia menatap Althan seolah ingin memastikan dirinya tidak salah dengar.“Bagaimana bisa?” Pertanyaan itu keluar begitu saja. Untuk beberapa saat, Kanina tidak tahu harus percaya atau tidak. Semua terasa begitu tidak nyata.Anak laki-laki yang dulu dia pikir sudah hilang entah ke mana, ternyata kini ada di hadapannya sebagai sosok yang berbeda.Sebagai seorang Althan Swargantara, pria dingin dengan ketenangan tak tergoyahkan yang disegani banyak orang.T

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 126

    Foto itu diambil dengan kamera instan. Kualitas gambarnya tidak terlalu bagus. Warna-warnanya sudah agak memudar dimakan waktu.Bagian tepinya mulai terlihat usang, seolah foto kecil itu sudah berkali-kali disentuh dan disimpan selama bertahun-tahun.Namun, potret dua anak yang berdiri di dalamnya masih terlihat cukup jelas. Seorang anak perempuan. Dan seorang anak laki-laki.Penampilan mereka cukup kontras. Anak perempuan itu tersenyum lebar ke arah kamera. Senyum yang begitu cerah dan polos.Matanya berbinar. Wajahnya penuh keceriaan. Sementara anak laki-laki di sampingnya tampak seperti kebalikan dari dirinya.Dia berdiri dengan tubuh yang tampak kaku. Tangannya menggantung di sisi tubuh. Wajahnya datar tanpa senyuman. Tidak ada ekspresi ceria seperti anak-anak lain seusianya.Hanya ada tatapan tenang yang hampir sulit dibaca dari sepasang iris gelap yang sebagian tertutup oleh helaian rambutnya yang sedikit panjang.Saat Kanina melihat foto itu, dia langsung terpaku. Hanya

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 125

    Untuk sesaat, Kanina benar-benar kehilangan kemampuan untuk bereaksi. Suara-suara di sekitar mereka seperti menghilang. Koridor rumah sakit yang tadi masih sesekali dilewati suara langkah kaki dan aktivitas kecil mendadak terasa sangat jauh. Yang tersisa hanya satu kalimat yang baru saja dia dengar, “Perasaan saya padamu... itu juga tulus.” Kanina terpaku. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dia bahkan tidak yakin apakah dia tidak salah dengar. Pikirannya semakin kacau. Sejak tadi dia sudah berusaha keras menepis segala kemungkinan yang muncul di kepalanya. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua yang Althan lakukan dan apapun yang pria itu ucapkan hanya sebatas kebaikan. Tetapi sekarang, setelah mendengar kalimat terakhirnya, Kanina bahkan tidak tahu harus menepis kemungkinan itu dengan cara apa lagi. Selama beberapa detik, dia menatap pria di sampingnya dengan ekspresi kosong. Seolah sedang mencoba mencari tanda bahwa Althan hanya bercanda. Namun

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 124

    Koridor rumah sakit kembali dipenuhi keheningan. Suara langkah kaki orang-orang yang berlalu lalang di kejauhan terdengar samar. Sesekali terdengar suara roda ranjang pasien yang bergerak melewati lorong, lalu menghilang bersama gema langkah kaki.Namun di antara semua suara itu, Kanina hanya menyadari satu hal, dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Althan.“Kata-kata yang saya ucapkan pada pria itu tadi... Apakah menurutmu itu tidak cukup tulus?”Pertanyaan itu mengantar ingatan Kanina kembali pada beberapa saat lalu, ketika Althan berhadapan dengan Harsya di lorong yang sama.Saat Althan berbicara tentang caranya memandang seseorang bukan dari status dan kekurangan, Kanina percaya itu tulus.Tapi, saat Althan mengaku sedang mendekatinya dan menyiratkan dirinya sebagai seseorang yang dia pilih, Kanina ragu.“Apa itu juga tulus? Apa dia serius?” batin Kanina bertanya-tanya.Dia tidak berani menyimpulkan. Karena itu, sedari tadi, dia terus berusaha meyakinkan diri

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 123

    Harsya tidak ingat bagaimana dirinya bisa sampai ke parkiran rumah sakit. Langkahnya terlalu cepat, seolah ada sesuatu yang ingin segera dia tinggalkan.Pintu mobil dibuka dengan kasar. Detik berikutnya, keranjang buah dan buket bunga yang sejak tadi dibawanya langsung dilempar ke jok belakang.Buket bunga itu terjatuh miring. Beberapa kelopak bunga rontok dan berserakan di jok. Buah-buahan di keranjang juga berhamburan entah ke mana.Namun Harsya tidak memedulikannya sama sekali. Pintu mobil tertutup keras. Suara benturannya memantul di area parkir yang sepi.Dia menjatuhkan tubuh ke kursi pengemudi. Wajahnya suram, rahangnya mengeras, dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya dan napasnya terdengar begitu berat.Tangannya mencengkeram setir dengan kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Pikirannya berkecamuk, mengingat kembali kejadian di koridor rumah sakit beberapa menit lalu.Saat Althan pertama kali muncul dan menghadang jalannya, berdiri tegap dengan ketenangan yang ber

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 122

    Kalimat itu jatuh begitu saja—ringan, santai, seolah tidak mengandung makna apa pun yang perlu diperdebatkan. Namun justru karena itulah dampaknya terasa jauh lebih besar.Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara. Koridor rumah sakit yang sejak awal sudah dipenuhi ketegangan kembali tenggelam dalam keheningan yang aneh.Kanina membeku di tempatnya. Matanya sedikit membesar. Pandangannya terpaku pada Althan, sementara pikirannya seakan terlambat mengejar apa yang baru saja didengarnya.“Setidaknya saya masih punya kesempatan untuk menjadi lebih dari sekadar orang lain.” Ucapan pria itu terngiang-ngiang di telinganya. Kanina mengernyit. “Apa maksudnya?”Dia bingung, tapi jantungnya tiba-tiba berdentum dan berdebar dengan keras. Jari-jarinya tanpa sadar menggenggam ujung lengan bajunya sendiri.Sejurus kemudian, dia buru-buru mengalihkan pandangan. Tidak berani menatap terlalu lama, bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.Sementara itu, di sisi lain, wajah H

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 100

    Ralia pulang ke rumah membawa sisa kemarahan yang belum juga reda. Sepanjang perjalanan, bayangan tentang kejadian di toko bunga itu terus berputar di kepalanya tanpa henti. Semakin diingat, semakin dadanya terasa sesak oleh kemarahan dan kebencian. Dia mengemudikan mobilnya lebih cepat. Jemarin

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 99

    Suara gesekan sapu dengan lantai terdengar pelan, berulang-ulang memecah kesunyian toko bunga yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Ralia menggenggam gagang sapu erat hingga ruas jemarinya memutih. Wajahnya muram, bibirnya terkatup kaku, sementara sorot matanya dipenuhi emosi yang dipaksa ditekan.

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 95

    Keesokan harinya, pagi datang dengan tenang, seolah waktu sengaja melangkah lebih pelan dari biasanya. Cahaya matahari jatuh miring melalui kaca depan toko, membentuk bayang-bayang lembut di lantai dan rak-rak bunga yang tersusun rapi.Udara masih menyimpan kesejukan sisa malam, bercampur dengan

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 93

    Malam itu, toko sudah lama ditutup. Lampu di bagian depan dimatikan, menyisakan cahaya hangat dari lampu kerja di sudut meja.Di ruang belakang, Artanti sudah tertidur lelap—napasnya teratur, memberi rasa damai yang sederhana.Kanina sendiri masih duduk di antara rak bunga, menyelesaikan pesanan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status