Share

Bab 2

Author: Vhiena Vhie
last update publish date: 2025-06-05 20:13:47

Foto dan pesan dari nomor tak dikenal itu akhirnya mendorong Kanina untuk datang ke restoran Aravella. Dengan perasaan campur aduk, dia melangkah masuk.

Suasana di dalam restoran tampak ramai saat itu. Kanina menolak tawaran pelayan yang ingin membantunya memilih tempat duduk dan langsung naik ke lantai atas.

“Ruang VIP nomor 3,” gumamnya sambil menyusuri lorong panjang yang tampak sepi.

Pintu-pintu kayu berjejer di kanan kiri, tertutup rapat tanpa celah. Kanina melangkah pelan dengan pikiran kalut dan jantung berdegup kencang.

Saat pintu ruangan yang dia cari akhirnya terlihat, langkah Kanina sempatnterhenti. Memikirkan apa yang mungkin dia temukan di dalam sana, dia sempat tidak berani membuka pintu.

Tapi, ada hal-hal yang harus dia pastikan. Karena itu, Kanina memberanikan diri. Pintu akhirnya dibuka dengan sangat pelan dan hati-hati, menciptakan celah sempit untuk mengintip ke dalam.

Saat tatapannya menerobos masuk, pemandangan yang tidak jauh berbeda dari foto yang dikirimkan padanya tadi langsung terpampang di depan mata.

Di sana, di meja panjang dengan cahaya lampu hangat yang menggantung di atasnya, Harsya duduk berdampingan dengan Ralia.

Di seberang mereka, ada Sartika yang tampak begitu semringah. Wanita itu tertawa kecil, terlihat bersemangat saat sederet kalimat terucap dari bibirnya.

“Ralia, kamu memang calon istri yang sesuai untuk Harsya. Nggak salah, saya dan ibumu sepakat menjodohkan kalian berdua.”

“Saat Ibumu pulang dari luar negeri nanti, kita adakan makan malam bersama lagi, sekalian membicarakan tentang rencana pernikahan kalian.”

Kata demi kata mengalun lembut, tapi justru terdengar seperti sambaran petir di telinga Kanina. Dia membeku, napasnya tercekat dan dadanya tiba-tiba terasa sesak.

“Jadi... Mas Harsya akan menikah lagi? Dengan Ralia?” gumamnya tak percaya.

Kemungkinan Harsya menikah lagi memang sudah ada dalam bayangannya akhir-akhir ini, tapi Kanina tidak menyangka itu akan benar-benar terjadi.

Lebih tidak disangka lagi, orang yang akan Harsya nikahi adalah Ralia—perundungnya di masa lalu. Bagaimana mungkin Kanina tidak terkejut?

Rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya. Segala emosi bergejolak di dalam dirinya. Matanya yang mulai berair perlahan menatap Harsya yang duduk tenang di samping Ralia.

“Soal pernikahan Harsya sebelumnya, kamu nggak perlu khawatir. Mereka sudah bercerai, jadi nggak akan ada yang mengganggu kalian berdua,” lanjut Sartika.

Begitu kalimat itu jatuh, Kanina tanpa sadar menoleh. Matanya yang mulai digenangi air mata menatap Sartika dengan tatapan tak percaya.

“Sudah bercerai?”

Dua kata itu menghantamnya dengan keras. Kanina tidak menyangka, Sartika akan mengucapkan kebohongan seperti itu.

Emosi Kanina melonjak, darahnya seakan mendidih. Saat melihat Harsya hanya diam alih-alih menyangkal kebohongan ibunya, dia tidak bisa lagi menahan diri.

Dengan tubuh gemetar, dia mendorong pintu dan menerobos masuk. “Siapa yang sudah bercerai?!”

Teriakannya mengejutkan semua orang yang ada di sana, termasuk Harsya yang awalnya tampak begitu tenang, kini menatapnya dengan mata terbuka lebar.

Kanina melihat wajah-wajah terkejut itu dengan tatapan nyalang. Matanya memerah dan tangannya mengepal karena marah.

“Kanina, apa yang kamu lakukan di sini? Cepat pergi! Jangan buat kekacauan!”

Sartika adalah orang pertama yang bereaksi. Dengan wajah muram, dia menghampiri Kanina dan hendak menyeretnya pergi.

Tapi, Kanina mengelak bahkan sebelum tangannya sempat disentuh. “Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kalian lakukan di sini?”

Untuk pertama kalinya, Kanina berani membalas ucapan Sartika. Tidak ada lagi kepatuhan, yang ada hanyalah kemarahan dan sakit hati yang mendalam.

Suaranya bahkan penuh sarkasme saat bertanya, “Apa kalian sedang membicarakan pernikahan? Antara suamiku dan wanita lain?”

Beberapa kata terakhir sengaja ditekankan. Sekilas, Kanina melirik Harsya dan Ralia yang tampak bingung harus bereaksi bagaimana.

"Ini bukan urusanmu."

Sartika mendesis marah. Dia sama sekali tidak menyangka Kanina akan tiba-tiba datang dan membuat keributan.

Dia ingin segera mengusirnya, tapi Kanina kembali mengelak sebelum lengannya sempat dicekal.

"Bukan urusanku?" tanya Kanina, tajam.

"Mertua dan suamiku sedang merencanakan pernikahan dengan wanita lain. Bagaimana mungkin itu bukan urusanku?"

"Lalu, apa yang Ibu katakan tadi? Aku dan Mas Harsya sudah bercerai?" Kanina tersenyum getir. "Asal Ibu tahu, kami bahkan masih tidur di ranjang yang sama hari ini, jadi sejak kapan kami bercerai?”

Mendengar sederet kalimat terakhir, tubuh Sartika sontak menegang. Dia tanpa sadar melirik ke arah Ralia yang sedari tadi tak bersuara.

Melihat perubahan di wajah gadis itu, Sartika mulai panik. “Ralia, jangan dengarkan dia. Harsya dan dia sudah bercerai. Dia cuma nggak mau terima kenyataan!" katanya, berusaha meyakinkan.

Sartika lalu menatap Kanina dan memarahi, "Jangan bicara omong kosong, pergi dari sini sekarang juga!"

Kanina tertawa pahit. Netranya yang panas dan kabur oleh air mata kini beralih pada Harsya. “Mas Harsya, apa kita sudah bercerai?”

Sebaris tanya terlontar dan semua atensi langsung berpindah pada Harsya. Ralia menatapnya dengan rumit, sementara Sartika diam-diam memberi isyarat.

Tapi, Harsya tidak melihat mereka berdua. Tatapannya yang dalam hanya tertuju pada Kanina yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Pandangan mereka bertemu dalam sorot yang berbeda. Diam panjang sempat menggantung di udara, sampai satu kalimat akhirnya terucap dari bibir Harsya.

"Kita belum bercerai.”

"Harsya!" Sartika tanpa sadar berteriak. Dia sudah sangat marah dengan kedatangan Kanina yang tiba-tiba dan mengacaukan semuanya.

Lalu sekarang, Harsya malah membuat situasi semakin buruk karena jawaban yang terlalu jujur dan tidak sesuai dengan keinginannya.

Sartika menatap Ralia dengan panik. Baru hendak menjelaskan, gadis itu tiba-tiba buka suara, “Sudah bercerai atau belum, itu bukan masalah untukku.”

“Karena aku sudah memutuskan, apapun yang terjadi, aku akan tetap menikah dengan Mas Harsya.”

Kata-katanya terucap dengan tenang, tapi justru mengejutkan semua orang. Ralia menatap mereka satu persatu, lalu berhenti pada Kanina yang terpaku.

“Kanina, kita ini teman lama. Aku tahu kamu orang yang baik dan rendah hati," ucapnya dengan senyuman lembut di ujung bibir.

“Kalau kamu memang nggak mau bercerai dengan Mas Harsya... aku nggak keberatan jadi adik madumu."

"Apa?" Kanina terperangah, nyaris tak mempercayai telinganya sendiri saat mendengar ucapan Ralia yang tidak disangka-sangka.

Sartika juga tercengang. Bahkan Harsya tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh pada Ralia dengan kening berkerut dalam.

Namun, Ralia tetap tenang. Senyumnya bahkan semakin dalam. Kanina seketika teringat bagaimana dulu Ralia juga selalu tersenyum seperti itu saat merundungnya.

Kenangan pahit di masa lalu perlahan bercampur dengan luka dan rasa sakit yang digoreskan pada saat ini. Amarah yang sempat tertahan pun akhirnya meledak begitu saja.

Kanina tiba-tiba kehilangan kendali, dia dengan cepat menerjang ke arah Ralia, mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berteriak dengan marah.

"Ralia, kamu benar-benar nggak tahu malu!”

Tamparan keras hampir jatuh ke wajah Ralia. Tapi, tangan Kanina tiba-tiba dicekal dan ditahan di udara. Saat mendongak, tatapannya langsung bertemu dengan sepasang iris kelam yang menatapnya tajam.

“Jangan keterlaluan.”

Suara yang dingin dan dalam terdengar, penuh peringatan dan ketidaksenangan. Lalu, tubuh Kanina didorong, membuatnya terhuyung dan jatuh ke lantai.

Di antara rasa rakit di tubuhnya, Kanina tertegun, nyaris tak percaya bahwa orang yang barusan bicara dan mendorongnya adalah Harsya.

Matanya yang memerah menatap pria itu dengan tatapan penuh luka, dan air mata yang sedari tadi di tahan akhirnya jatuh begitu saja.

“Kanina, maaf. Aku nggak bermaksud membuatmu marah.” Ralia bersembunyi di belakang Harsya, tampak ketakutan dan butuh perlindungan.

“Aku... cuma berpikir, kalau kamu nggak mau cerai, aku nggak keberatan jadi istri kedua. Tapi, kamu sepertinya salah memahami maksudku. Aku benar-benar minta maaf.”

Suaranya bergetar saat bicara, seolah benar-benar dipenuhi rasa bersalah. Tapi, saat Kanina meliriknya, Ralia diam-diam menyeringai.

Gadis itu jelas sedang berpura-pura, sama seperti apa yang sering dia lakukan dulu. Berlagak baik dan polos agar orang-orang memercayainya.

Hanya saja, Kanina tidak menyangka, setelah bertahun-tahun, dia akan melihat kepura-puraan itu lagi tepat di depan matanya.

Dan orang yang berhasil Ralia tipu dengan kepura-puraannya kali ini adalah Harsyaㅡsuaminya sendiri. Kanina benar-benar tidak menyangka.

“Ralia, kenapa yang kamu minta maaf? Dia yang sudah mencoba memukulmu!” Sartika berkata sambil menatap Kanina dengan kesal.

Tepat pada saat ini, pintu diketuk dari luar lalu terbuka perlahan. Dua orang pelayan datang membawa makanan penutup.

Sartika melihat mereka dan segera berteriak, “Kalian! Cepat bawa orang ini pergi! Dia sudah membuat keributan dan mengacaukan makan malam kami!”

Tangannya menunjuk Kanina yang masih terduduk di lantai. Dua pelayan itu saling berpandangan, tampak bingung dan ragu-ragu.

Sartika yang tidak sabar langsung mendorong mereka dan berteriak, “Apa yang kalian tunggu? Cepat bawa dia pergi!”

Pada akhirnya, para pelayan itu menurut. Kanina ditarik dan digiring ke luar. Tidak ada perlawanan. dia mengikuti mereka dengan langkah goyah, tapi kedua netranya tak lepas menatap Harsya.

Ada harapan terakhir dalam tatap matanya, tapi Harsya hanya melirik sekilas, lalu berpaling, seolah enggan peduli.

Saat pintu akhirnya tertutup rapat, Kanina tahu sudah tidak ada lagi yang bisa dia harapkan. Sambil menahan air matanya, dia melepaskan diri.

“Saya bisa pergi sendiri.”

Tanpa menunggu tanggapan, Kanina buru-buru beranjak. Langkahnya berat, nafasnya tercekat, hati dan pikirannya berantakan.

Penampilannya nyaris seperti orang linglung yang berjalan tak tentu arah. Dia bahkan tak sadar sudah menuruni tangga dan tiba di lantai bawah.

Pandangan yang tertutup kabut air mata juga membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Saat seorang pelayan lewat di depannya, Kanina tak sengaja menabrak.

Pelayan itu terhuyung, gelas yang dia bawa jatuh, isinya tumpah mengenai kemeja seorang pria yang duduk tak jauh dari sana, sebelum berguling dan menghantam lantai.

Suara pecahan gelas dan desis terkejut terdengar bersamaan. Beberapa pengunjung menoleh, suasana yang semula tenang mendadak berubah menjadi tegang.

“Ya Tuhan! Apa yang kamu lakukan?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 97

    Suara langkah sepatu terdengar pelan dan teratur, semakin mendekat dari arah pintu. Ralia yang semula masih dipenuhi amarah seketika terdiam saat menyadarinya.Dia tidak menoleh. Namun matanya bergerak cepat, seolah dalam satu detik itu pikirannya langsung bekerja mencari sesuatu.Lalu, hampir seketika, raut wajahnya berubah. Amarah di matanya menghilang, digantikan dengan ekspresi sedih yang tampak begitu meyakinkan. “Kanina…” suaranya bergetar halus, nyaris berubah menjadi tangisan. “Aku nggak tahu apa salahku…”“Aku ke sini cuma mau beli bunga… sekalian menyapa kamu dan ibumu… Tapi kalian... malah memperlakukan aku seperti ini…”Kalimat itu keluar terbata-bata, diiringi isak kecil yang terdengar menyedihkan.Jika orang lain melihatnya sekarang, mungkin mereka benar-benar akan percaya bahwa Ralia adalah korban yang tidak tahu apa-apa.Gaunnya kotor terkena tanah, rambutnya sedikit berantakan, sementara tetes air di wajahnya membuat penampilannya tampak semakin memperihatinka

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 96

    Kanina menatap perempuan di depannya seperti sedang melihat orang bodoh. “Mengadu?” ulangnya perlahan.Sebuah tawa kecil lalu lolos dari bibirnya—ringan, pendek, tetapi mengandung sesuatu yang tidak bisa disalahartikan. Bukan tawa yang hangat, bukan pula tawa yang menunjukkan kegembiraan. Lebih seperti ejekan yang tidak repot-repot disembunyikan.“Tuduhan macam apa itu?” katanya sambil menggeleng tak habis pikir.Reaksinya membuat Ralia menatap dengan tajam, tampak tersinggung. Namun, sebelum dia sempat buka suara, Kanina sudah mendahului.“Aku bukan mengadu,” ucapnya dengan nada santai. “Aku hanya ingin suamimu melihat sendiri apa yang kamu kirimkan padaku, tentang betapa bahagianya kalian… tentang bagaimana kamu begitu ingin menunjukkannya padaku.”Kanina tersenyum kecil. “Bukankah itu hal yang bagus?” tanyanya kemudian. “Suamimu pasti bangga, punya istri yang begitu rajin menunjukkan betapa bahagianya dia setelah berpisah denganku.”Kata-kata itu dipenuhi sarkasme—halus

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 95

    Keesokan harinya, pagi datang dengan tenang, seolah waktu sengaja melangkah lebih pelan dari biasanya. Cahaya matahari jatuh miring melalui kaca depan toko, membentuk bayang-bayang lembut di lantai dan rak-rak bunga yang tersusun rapi.Udara masih menyimpan kesejukan sisa malam, bercampur dengan wangi segar dedaunan dan kelopak yang baru disiram.Kanina baru saja membuka pintu toko. Lonceng kecil di atasnya berdenting pelan, menjadi penanda dimulainya hari yang lain.Dia meletakkan buket pesanan Althan di atas meja kerja dengan hati-hati. Hari ini, bunga daisy putih menjadi pusatnya, kelopaknya bersih dengan inti kuning yang cerah. Di sekelilingnya, Kanina memadukan beberapa tangkai baby’s breath yang halus seperti kabut tipis, diselipi mawar peach yang lembut dan beberapa daun eucalyptus.Semuanya dibungkus dengan kertas berwarna krem pucat, diikat pita cokelat muda yang sederhana namun elegan.“Ibu sedang apa?” Kanina bertanya dengan penasaran saat mengalihkan pandangan dan

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 94

    Ralia mengerjap, jantungnya berdentum keras dan keterkejutan melintas cepat di matanya. Sejenak, dia terdiam, lalu perlahan, raut wajahnya berubah menjadi bingung.“Apa maksudmu, Mas?” Harsya tidak menanggapi pertanyaan itu. Dia hanya bangkit berdiri, berjalan mendekat dan memperlihatkan tangkapan layar berisi foto-foto dan pesan yang barusan dia terima di ponselnya.“Kamu sengaja mengirimkan semua ini pada Kanina? Untuk apa?” tanyanya dengan nada mendesak.Ralia menegang. Matanya terpaku pada layar ponsel di tangan Harsya, seolah kata-kata dan gambar di sana tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang asing.Dia tidak menyangka bahwa Kanina—yang selama ini hanya diam, yang tidak pernah membalas, yang seolah tidak peduli—akan memilih cara seperti ini untuk menjawab. Bukan dengan kata-kata. Bukan dengan emosi. Melainkan dengan mengembalikan semuanya tepat ke sumbernya, dan membuat Harsya tahu apa yang dia lakukan.Ralia berdiri kaku di tempatnya. Handuk di tangannya tergenggam erat

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 93

    Malam itu, toko sudah lama ditutup. Lampu di bagian depan dimatikan, menyisakan cahaya hangat dari lampu kerja di sudut meja.Di ruang belakang, Artanti sudah tertidur lelap—napasnya teratur, memberi rasa damai yang sederhana.Kanina sendiri masih duduk di antara rak bunga, menyelesaikan pesanan buket untuk besok. Rencananya, dia akan bermalam di toko.Tangkai-tangkai bunga tersusun rapi di atas meja, sebagian sudah dia potong, sebagian lagi menunggu untuk dirangkai. Tangannya bergerak perlahan, tidak tergesa, justru hati-hati, menikmati setiap proses kecil yang kini terasa semakin akrab.Dalam hening, ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar pelan. Kanina melirik sekilas, lalu meraihnya ke dalam genggaman.Satu pesan masuk, dari nomor yang tidak tersimpan di dalam kontak, tetapi terlalu familiar untuk tidak dikenali.“Ralia, apa lagi kali ini?” gumamnya samar.Beberapa hari yang lalu, Ralia sempat mengirimkan belasan foto pernikahannya dengan Harsya. Dengan penuh rasa

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 92

    Sejak hari itu, sesuatu yang baru diam-diam menjadi bagian dari rutinitas Kanina. Tidak datang dengan perubahan yang mencolok, tidak pula terasa terburu-buru.Setiap malam, tepat di waktu-waktu yang nyaris sama, ponselnya akan berbunyi. Getaran kecil yang kini mulai terasa akrab, bahkan tanpa sadar sering dia tunggu.Satu pesan singkat selalu datang dari Althan. Isinya tidak pernah panjang—hanya menyebutkan jenis bunga yang dia inginkan untuk buket keesokan hari.“Mawar merah.”“Tulip kuning.”“Lily.”Sesederhana itu. Tanpa salam, tanpa penjelasan, tanpa tambahan apa pun yang tidak perlu. Namun justru karena itu, semuanya terasa lebih mudah dan juga jelas.Kanina tidak pernah kebingungan memahami maksudnya. Dia membaca pesan itu, lalu membiarkannya tinggal sejenak di benaknya, sebelum mulai merangkai bunga-bunga.Meski pesannya singkat, Kanina tidak banyak bertanya. Dia justru merasa seolah Althan menyerahkan sisanya padanya.Bagaimana bunga-bunga itu dirangkai, bagaimana ben

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status