MasukFoto dan pesan dari nomor tak dikenal itu akhirnya mendorong Kanina untuk datang ke restoran Aravella. Meski perasaannya campur aduk, dia tetap melangkah masuk.
Suasana di dalam restoran tampak ramai saat itu. Kanina menolak tawaran pelayan yang ingin membantunya memilih tempat duduk dan langsung naik ke lantai atas. “Ruang VIP nomor 3,” gumamnya sambil menyusuri lorong panjang yang tampak sepi. Pintu-pintu kayu berjejer di kanan kirinya, tertutup rapat tanpa celah. Kanina melangkah pelan dengan pikiran kalut dan jantung berdegup kencang. Saat pintu ruangan yang dia cari akhirnya terlihat, langkah Kanina terhenti. Memikirkan apa yang mungkin dia temukan di dalam sana, dia sempat tidak berani membuka pintu. Tapi, ada hal-hal yang harus dia pastikan. Karena itu, Kanina memberanikan diri. Pintu akhirnya dibuka dengan sangat pelan dan hati-hati, menciptakan celah sempit untuk mengintip ke dalam. Saat tatapannya menerobos masuk, pemandangan yang tidak jauh berbeda dari foto yang dikirimkan padanya tadi langsung terpampang di depan mata. Di sana, di meja panjang dengan cahaya lampu hangat yang menggantung di atasnya, Harsya duduk berdampingan dengan Ralia. Di seberang mereka, ada Sartika yang tampak begitu anggun. Wanita itu tertawa kecil, terlihat bersemangat saat sederet kalimat terucap dari bibirnya. “Ralia, kamu memang calon istri yang sesuai untuk Harsya. Nggak salah, saya dan ibumu sepakat menjodohkan kalian berdua.” “Saat Ibumu pulang dari luar negeri nanti, kita adakan makan malam bersama lagi, sekalian membicarakan tentang rencana pernikahan kalian.” Kata demi kata mengalun lembut, tapi justru terdengar seperti sambaran petir di telinga Kanina. Dia tersentak, napasnya tercekat dan dadanya tiba-tiba terasa sesak. “Jadi... Mas Harsya akan menikah lagi? Dengan Ralia?” gumamnya tak percaya. Kemungkinan Harsya menikah lagi memang sudah ada dalam bayangannya akhir-akhir ini, tapi Kanina tidak menyangka itu akan benar-benar terjadi. Lebih tidak disangka lagi, orang yang akan Harsya nikahi adalah Ralia—perundungnya di masa lalu. Bagaimana mungkin Kanina tidak terkejut? Rasa sakit yang luar biasa menghantam dadanya. Segala emosi bergejolak di dalam dirinya. Matanya yang mulai berair perlahan menatap Harsya yang duduk tenang di samping Ralia. “Soal pernikahan Harsya sebelumnya, kamu nggak perlu khawatir. Mereka sudah bercerai, jadi nggak akan ada yang mengganggu kalian berdua,” lanjut Sartika. Begitu kalimat itu jatuh, Kanina tersentak untuk kedua kalinya. Matanya yang mulai digenangi air mata menatap Sartika dengan tatapan tak percaya. “Sudah bercerai?” Bagaimana bisa Sartika mengucapkan kata-kata itu? Bukan hanya merencanakan pernikahan di belakangnya, dia bahkan menyebut Harsya dan dirinya sudah bercerai? Emosi Kanina melonjak, darahnya seakan mendidih. Saat melihat Harsya hanya diam alih-alih menyangkal kebohongan ibunya, dia tidak bisa lagi menahan diri. Dengan tubuh gemetar, dia mendorong pintu dan menerobos masuk. “Siapa yang sudah bercerai?!” Teriakannya mengejutkan semua orang yang ada di sana. Bahkan Harsya yang awalnya tampak tenang, kini menatapnya dengan mata terbuka lebar. Kanina melihat wajah-wajah terkejut itu dengan tatapan nyalang. Matanya memerah dan tangannya mengepal karena marah. “Kanina, apa yang kamu lakukan di sini? Cepat pergi! Jangan buat kekacauan!” Sartika adalah orang pertama yang bereaksi. Dengan wajah muram, dia menghampiri Kanina dan hendak menyeretnya pergi. Tapi, Kanina mengelak bahkan sebelum tangannya sempat disentuh. “Aku yang seharusnya bertanya, apa yang kalian lakukan di sini?” Untuk pertama kalinya, Kanina berani membalas ucapan Sartika. Tidak ada lagi kepatuhan, yang ada hanyalah kemarahan dan sakit hati yang mendalam. Suaranya bahkan penuh sarkasme saat bertanya, “Apa kalian sedang membicarakan pernikahan? Antara Mas Harsya dan wanita lain?” Beberapa kata terakhir sengaja ditekankan. Sekilas, Kanina melirik Harsya dan Ralia yang masih terkejut dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Sartika menggeram marah. Dia sama sekali tidak menyangka Kanina akan tiba-tiba datang dan membuat keributan. Dia ingin segera mengusirnya. Tapi, Kanina sudah kembali buka suara bahkan sebelum dia sempat bicara. “Lalu, apa yang Ibu katakan tadi? Aku dan Mas Harsya sudah bercerai? Asal Ibu tahu, kami bahkan masih tidur di ranjang yang sama hari ini, jadi sejak kapan kami bercerai?” Begitu kalimat itu terucap, ekspresi semua orang langsung berubah. Tubuh Sartika menegang, matanya tanpa sadar melirik ke arah Ralia. Melihat perubahan di wajah gadis itu, Sartika mulai panik. “Ralia, jangan dengarkan dia. Harsya dan dia sudah bercerai. Dia cuma nggak mau terima kenyataan!" katanya, berusaha meyakinkan. Kanina tertawa getir. Netranya yang panas dan kabur oleh air mata kini beralih pada Harsya. “Apa kita sudah bercerai?” Sebaris tanya terlontar dan semua atensi segera berpindah pada Harsya. Ralia menatap pria itu dengan tatapan rumit, sementara Sartika diam-diam memberi isyarat. Tapi, Harsya tidak melihat mereka berdua. Tatapannya yang dalam hanya tertuju pada Kanina yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Pandangan mereka bertemu dalam sorot yang berbeda. Diam panjang sempat menggantung di udara, sampai satu kalimat akhirnya terucap dari bibir Harsya. “Kita... belum bercerai.” Tiga kata itu membuat Sartika langsung meradang. Dia sudah sangat marah dengan kedatangan Kanina yang tiba-tiba dan mengacaukan semuanya. Lalu sekarang, Harsya malah membuat situasi semakin buruk karena jawaban yang terlalu jujur dan tidak sesuai dengan keinginannya. Sartika menatap Ralia dengan panik. Baru hendak menjelaskan, gadis itu tiba-tiba buka suara dan berkata dengan tenang, “Sudah bercerai atau belum, itu bukan masalah untukku.” Sartika tertegun, begitu pula dengan Kanina dan Harsya. Ralia menatap mereka satu persatu, lalu menambahkan dengan lembut, “Karena aku sudah memutuskan, apapun yang terjadi, aku akan tetap menikah dengan Mas Harsya.” “Apa?” Kanina terbelalak, nyaris tidak mempercayai telinganya sendiri. Ralia mengalihkan pandangan padanya. Dengan senyum tipis di ujung bibir, dia berkata, “Kanina, kita ini teman lama. Aku tahu kamu orang yang baik dan rendah hati.” “Kalau kamu memang nggak mau bercerai dengan Mas Harsya... aku nggak keberatan jadi adik madumu.” Kata-katanya mengalir lembut, tapi mengejutkan semua orang. Sartika tercengang, Kanina melotot tak percaya. Bahkan Harsya tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh dan mengerutkan kening. Namun, Ralia masih tetap tenang. Senyumnya bahkan semakin dalam. Kanina seketika teringat bagaimana dulu Ralia juga selalu tersenyum seperti itu saat merundungnya. Kenangan pahit di masa lalu perlahan bercampur dengan luka dan rasa sakit yang digoreskan pada saat ini. Amarah yang sempat tertahan pun akhirnya meledak begitu saja. Kanina tiba-tiba kehilangan akal, dia dengan cepat menerjang ke arah Ralia, mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berteriak dengan marah, "Ralia, kamu benar-benar nggak tahu malu!” Tamparan keras hampir jatuh ke wajah Ralia. Tapi, tangan Kanina tiba-tiba dicekal dan ditahan di udara. Saat dia mendongak, tatapannya langsung bertemu dengan sepasang iris kelam yang menatapnya tajam. “Jangan keterlaluan.” Suara yang dingin dan dalam terdengar, penuh peringatan dan ketidaksenangan. Lalu, tubuh Kanina didorong, membuatnya terhuyung dan jatuh ke lantai. Di antara rasa rakit di tubuhnya, Kanina tertegun, nyaris tak percaya bahwa orang yang barusan bicara dan mendorongnya adalah Harsya. Matanya yang memerah menatap pria itu dengan tatapan penuh luka, dan air mata yang sedari tadi di tahan akhirnya jatuh begitu saja. “Kanina, maaf. Aku nggak bermaksud membuatmu marah.” Ralia bersembunyi di belakang Harsya, tampak ketakutan dan butuh perlindungan. “Aku... cuma berpikir, kalau kamu nggak mau cerai, aku nggak keberatan jadi istri kedua. Tapi, kamu sepertinya salah memahami maksudku. Aku benar-benar minta maaf.” Suaranya bergetar saat bicara, seolah benar-benar dipenuhi rasa bersalah. Tapi, saat Kanina meliriknya, Ralia diam-diam menyeringai. Gadis itu jelas sedang berpura-pura, sama seperti apa yang sering dia lakukan dulu. Berlagak baik dan polos agar orang-orang memercayainya. Hanya saja, Kanina tidak menyangka, setelah bertahun-tahun, dia akan melihat kepura-puraan itu lagi tepat di depan matanya. Dan orang yang berhasil Ralia tipu dengan kepura-puraannya kali ini adalah Harsyaㅡsuaminya sendiri. Kanina benar-benar tidak menyangka. “Ralia, kenapa kamu minta maaf? Dia yang sudah mencoba memukulmu!” Sartika berkata sambil menatap Kanina dengan kesal. Tepat pada saat ini, pintu diketuk dari luar lalu terbuka perlahan. Dua orang pelayan datang membawa makanan penutup. Sartika melihat mereka dan segera berteriak, “Kalian! Cepat bawa orang ini pergi! Dia sudah membuat keributan dan mengacaukan makan malam kami!” Tangannya menunjuk Kanina yang masih terduduk di lantai. Dua pelayan itu saling berpandangan, tampak bingung dan ragu-ragu. Sartika yang tidak sabar langsung mendorong mereka dan berteriak, “Apa yang kalian tunggu? Cepat bawa dia pergi!” Pada akhirnya, para pelayan itu menurut. Kanina ditarik dan digiring ke luar. Tidak ada perlawanan. dia mengikuti mereka dengan langkah goyah, tapi kedua netranya tak lepas menatap Harsya. Ada harapan terakhir dalam tatap matanya, tapi Harsya hanya melirik sekilas, lalu berpaling, seolah enggan peduli. Saat pintu akhirnya tertutup rapat, Kanina tahu sudah tidak ada lagi yang bisa dia harapkan. Sambil menahan air matanya, dia melepaskan diri dan berkata dengan suara serak, “Saya bisa pergi sendiri.” Tanpa menunggu tanggapan, Kanina buru-buru beranjak. Langkahnya berat, nafasnya tercekat, hati dan pikirannya berantakan. Penampilannya nyaris seperti orang linglung yang berjalan tak tentu arah. Dia bahkan tak sadar sudah menuruni tangga dan tiba di lantai bawah. Pandangan yang tertutup kabut air mata juga membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Saat seorang pelayan lewat di depannya, Kanina tak sengaja menabrak. Pelayan itu terhuyung, gelas yang dia bawa jatuh, isinya tumpah mengenai kemeja seorang pria yang duduk tak jauh dari sana, sebelum berguling dan menghantam lantai. Suara pecahan gelas dan desis terkejut terdengar bersamaan. Beberapa pengunjung menoleh, suasana yang semula tenang mendadak berubah menjadi tegang. “Ya Tuhan! Apa yang kamu lakukan?!”Sosok familiar yang duduk di kursi kerja itu membawa ingatan Kanina kembali ke kejadian di restoran malam tadi. Tepat saat dirinya tak sengaja menubruk pelayan hingga segelas minuman tumpah ke baju seorang pria yang duduk di dekat sana. Meski hanya melihat sekali, Kanina masih ingat seraut wajah yang tetap tenang di tengah kekacauan yang dia buat saat itu.Wajah yang tidak menunjukkan emosi apapun, tapi cukup untuk membuat nyalinya ciut karena aura yang tidak biasa. Sorot mata yang tajam dan dingin, namun menyimpan sesuatu yang sulit ditebak di balik tatapannya. Setelah kejadian semalam, Kanina tidak pernah menyangka akan melihat wajah dan tatapan itu lagi, tepat di depan matanya. “Selamat siang, Nona Kanina.” Althan Swargantara menyapa dengan tenang. Di balik meja kerja, pria itu duduk tegak. Jemarinya yang panjang menahan sebuah dokumen berisi daftar klien hari ini. Nama Kanina ada di urutan paling atas. Begitu suaranya terdengar, jantung Kanina langsung berdentum dengan kera
Sebelumnya, Kanina terlalu kalut sampai tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi yang sedang terjadi saat ini. Dia bahkan masih merasa semuanya seperti mimpi buruk yang tiba-tiba datang, terlalu sulit untuk dianggap nyata. Tapi, setelah berbicara langsung dan mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Harsya—dia akhirnya menyadari. Pernikahan mereka sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Apa yang dia perjuangkan selama ini, sudah saatnya dia lepaskan. “Aku akan segera mengajukan gugatan.” Setelah berkata begitu, Kanina bangkit dari duduk dengan perlahan dan beranjak meninggalkan ruang makan. Harsya menahannya di pintu. Lengannya ditarik dengan kuat dan tatapan penuh amarah jatuh di atas kepalanya. “Nggak akan ada perceraian,” ucap Harsya, penuh penekanan. Kanina tidak menanggapi, hanya tersenyum dingin, lalu menghempaskan tangan Harsya dan melanjutkan langkah. Malam ini, dia tidak mau tidur sekamar dengan pria itu lagi. Jadi, dia memilih pindah ke kamar la
Erhan membenahi posisi duduk sambil menatap Althan dalam-dalam, tak sabar mendengar jawaban yang sedari tadi membuatnya penasaran. Namun, saat Althan melanjutkan kalimat, yang terdengar hanya sederet kata yang sama seperti sebelumnya, “Cuma nggak mau ribut.” Bahu Erhan langsung merosot turun. Dia tanpa sadar berdecak, memutar bola matanya dan menatap Althan dengan kesal. Sebagai asisten pribadi yang sudah mengikuti Althan selama bertahun-tahun, Erhan tidak percaya alasannya sesederhana itu. Selama ini, dia tahu Althan bukan tipikal orang yang akan memaklumi kesalahan orang lain hanya karena enggan ribut. Sebaliknya, Althan sangat perhitungan, tidak mau mentolerir hal-hal yang menyinggung dan merugikan dirinya, tidak peduli siapapun pelakunya. Erhan sendiri sudah sering dimarahi dan diberi hukuman hanya karena kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disengaja. Tapi, wanita itu... bagaimana bisa Althan melepaskannya begitu saja? Kejadian tadi bahkan hanya dianggap masalah
Kejadian itu terlalu cepat. Kanina yang tengah kalut hampir tidak tahu apa yang sedang terjadi, sampai teriakan seseorang terdengar lantang di telinganya. “Ya Tuhan! Apa yang kamu lakukan?” Seorang pria berkacamata bangkit berdiri, menunjuk pelayan yang menumpahkan minuman ke baju pria lain di meja yang sama, dan berteriak dengan marah. “Kamu bisa kerja atau tidak? Lihat apa yang sudah kamu lakukan pada Bos saya?!”Kanina secara refleks menoleh ke samping, dan tatapannya langsung jatuh pada seorang pria dengan bercak kemerahan di kemeja putihnya. Pria itu duduk diam dengan tatapan tajam yang jatuh pada permukaan meja. Wajahnya yang dingin nyaris tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Sikapnya terlalu tenang dan acuh tak acuh, berbanding terbalik dengan pria berkacamata yang tampak begitu marah dan tidak sabar. Tapi, aura yang terpancar dari dirinya justru membuat Kanina merasa takut dan gelisah. Jantungnya berdegup kencang dan rasa gugup mulai menjalar di dalam hatiny
Foto dan pesan dari nomor tak dikenal itu akhirnya mendorong Kanina untuk datang ke restoran Aravella. Meski perasaannya campur aduk, dia tetap melangkah masuk. Suasana di dalam restoran tampak ramai saat itu. Kanina menolak tawaran pelayan yang ingin membantunya memilih tempat duduk dan langsung naik ke lantai atas. “Ruang VIP nomor 3,” gumamnya sambil menyusuri lorong panjang yang tampak sepi. Pintu-pintu kayu berjejer di kanan kirinya, tertutup rapat tanpa celah. Kanina melangkah pelan dengan pikiran kalut dan jantung berdegup kencang. Saat pintu ruangan yang dia cari akhirnya terlihat, langkah Kanina terhenti. Memikirkan apa yang mungkin dia temukan di dalam sana, dia sempat tidak berani membuka pintu. Tapi, ada hal-hal yang harus dia pastikan. Karena itu, Kanina memberanikan diri. Pintu akhirnya dibuka dengan sangat pelan dan hati-hati, menciptakan celah sempit untuk mengintip ke dalam. Saat tatapannya menerobos masuk, pemandangan yang tidak jauh berbeda dari fo
“Nyonya Kanina, hasil pemeriksaan Anda sudah keluar. Silahkan datang ke rumah sakit untuk mengambilnya hari ini.” Setelah mengalami keguguran untuk kedua kalinya, Kanina Zahira memutuskan menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui lebih jauh mengenai kondisinya. Hari ini, dia mendapat kabar bahwa hasil pemeriksaannya sudah keluar. Setelah jam makan siang, dia langsung pergi ke rumah sakit bersama ibu mertuanya. Ada harapan yang begitu besar di dalam hatinya. Tapi, apa yang dia dapat setelah menggenggam hasil pemeriksaan itu justru melenyapkan sisa harapan yang sempat ada. Di sana tertulis dengan jelas; dinding rahimnya mengalami penipisan yang cukup parah dan kemungkinan untuk hamil lagi sangat kecil dan beresiko tinggi. “Ini semua salahmu yang terlalu egois!” Sartika Hapsari melemparkan hasil pemeriksaan itu ke wajah Kanina dan langsung memarahi. “Dulu kamu sengaja menunda-nunda kehamilan! Tiga tahun pernikahan, baru mau coba punya anak, tapi baru dua bulan su







