INICIAR SESIÓNTidak membutuhkan waktu lama bagi Ralia untuk mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan oleh Harsya akhir-akhir ini.Orang suruhannya bilang, beberapa hari terakhir, Harsya sering pergi ke toko bunga milik Kanina. Bukan hanya sekali, tapi setiap pagi.Namun, Harsya tidak masuk ke dalam toko, hanya duduk diam di dalam mobil, seperti sedang mengawasi dari kejauhan.Lebih dari itu, orang suruhannya juga mengatakan ada seorang pria lain yang datang ke toko bunga tersebut setiap pagi untuk membeli buket.Seorang pria muda yang tampak bukan orang biasa. Dan tampaknya, Harsya juga memperhatikan pria itu.Ralia merasa sangat marah. Keesokan harinya, saat Harsya berangkat dari rumah seperti biasa, dia diam-diam mengikutinya.Mobil Harsya melaju tenang membelah jalanan kota yang masih diselimuti udara pagi. Ralia menjaga jarak aman agar tidak disadari.Tatapannya terus tertuju lurus pada mobil Harsya di depan sana, sementara jemarinya mencengkeram setir dengan erat.Saat mobil Harsya ber
Ralia mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari sikap Harsya. Awalnya hanya hal-hal kecil yang hampir tidak terlihat, namun semakin lama, semakin terasa jelas.Sebenarnya, sejak awal menikah, sikap Harsya memang belum memenuhi apa yang Ralia inginkan. Dia tidak romantis, tidak pernah mengucapkan kata-kata manis, bahkan mungkin belum menaruh perasaan padanya.Tetapi setidaknya, selama ini Harsya tetap bersikap baik padanya, memperlakukannya sebagai seorang istri, membuatnya merasa dipedulikan dan punya kesempatan untuk benar-benar menggantikan posisi Kanina.Namun belakangan ini, Ralia merasa sikap Harsya terlalu acuh tak acuh. Dia jarang memulai pembicaraan, hanya menjawab singkat saat diajak bicara dan terkesan seperti sengaja menghindar darinya.Ralia pikir, itu karena kejadian sebelumnya, di mana dia ketahuan mengirimkan foto-foto kebersamaan mereka dan pesan provokasi pada Kanina. Tapi, bukankah masalah itu sudah selesai?Sartika bilang, Harsya sama sekali tidak marah
Cara Althan bicara begitu tenang dan ringan, seolah apa yang barusan dia katakan hanyalah keputusan kecil yang tidak perlu dipikirkan terlalu jauh.Namun justru karena itulah, Erhan merasa sedikit bingung. Dia sempat tertegun sambil berpikir di dalam hati, “Kenapa tiba-tiba sekali?”Proposal kerja sama dari PT. Cipta Danuarta memang sudah cukup lama berada di meja pertimbangan Grup Swargantara. Selama ini pihak mereka tidak pernah benar-benar menunjukkan ketertarikan, tetapi juga tidak langsung menolaknya.Dibandingkan puluhan proposal lain yang masuk setiap bulan, proposal milik PT. Cipta Danuarta memang sama sekali tidak istimewa.Erhan sendiri tahu, nilainya bahkan nyaris tidak cukup menarik untuk masuk ke dalam tahap pembahasan yang lebih serius. Tetapi meski begitu, Erhan tetap tidak menyangka Althan akan tiba-tiba mengambil keputusan seperti ini.Apalagi dalam suasana yang tidak terduga, saat dia sedang dikelilingi oleh orang-orang yang sengaja mendekati untuk tujuan bi
Pikiran itu muncul begitu saja di kepala Harsya, bersamaan dengan bayangan Kanina dan pria asing yang dia lihat di depan toko bunga pagi tadi. Sosok berwibawa dengan wajah tenang dan aura yang sulit dijelaskan itu terlalu mudah untuk diingat, membuat Harsya meyakini bahwa dia tidak mungkin salah mengenali. “Tapi... bagaimana mungkin Kanina memiliki hubungan dengan Presdir Grup Swargantara?” gumamnya kebingungan. Saat itu, Harsya memang sudah yakin bahwa pria yang bersama Kanina bukan orang biasa. Tetapi dia sama sekali tidak menyangka kenyataannya akan sebesar ini. Untuk sesaat, Harsya mulai meragukan tuduhannya sendiri. Tatapannya perlahan mengikuti langkah pria itu yang berjalan memasuki ballroom dengan tenang. Beberapa pengusaha senior yang biasanya sulit merendahkan diri bahkan terlihat lebih dulu mendekat untuk menyapa. Ada pula yang buru-buru membenarkan posisi jas mereka sebelum mengulurkan tangan dengan wajah penuh senyum profesional. Namun pria itu tetap terlih
Malam turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke jalanan basah yang berkilau seperti permukaan kaca. Sekitar pukul tujuh malam, Harsya tiba di Hotel Grand Aston. Setelah menghubungi Adijaya tadi pagi, dia berhasil mendapatkan akses untuk hadir di jamuan makan malam yang diadakan di tempat itu.Acara tersebut memang bukan jamuan biasa. Yang hadir sebagian besar adalah tokoh penting dunia bisnis, investor besar, direktur perusahaan ternama, serta orang-orang yang memiliki posisi cukup tinggi di kota ini. Tidak semua orang bisa datang begitu saja tanpa undangan resmi. Tetapi untungnya, hubungan Harsya dengan Adijaya selama ini cukup baik.Mereka pernah bekerja sama dalam beberapa proyek sebelumnya, sehingga permintaan seperti ini masih bisa dipenuhi.Begitu memasuki lobi hotel, hawa hangat dari pendingin ruangan langsung menyambut tubuhnya yang masih membawa sisa udara dingin malam di luar.Harsya berjalan menuju aula utama
Langit masih diselimuti mendung ketika mobil Harsya memasuki area parkir kantor pusat perusahaannya. Gedung tinggi berlapis kaca itu berdiri di tengah kawasan bisnis kota, tampak sibuk seperti biasa meski cuaca sedang muram. Karyawan berlalu-lalang membawa map dan laptop, sementara suara langkah kaki serta percakapan formal memenuhi lobi utama. Sejak turun dari mobil hingga memasuki lift khusus eksekutif, ekspresi Harsya tetap terlihat suram. Pikirannya sama sekali tidak tenang. Bayangan tentang Kanina dan laki-laki asing yang dia lihat di depan toko tadi terus muncul di kepalanya tanpa bisa dia kendalikan. Sikap Kanina saat dia bertanya dan menuntut penjelasan semakin membuatnya yakin bahwa tuduhannya tidak meleset. “Laki-laki itu pasti bukan pelanggan biasa, dia pasti orang yang diceritakan Ibu semalam. Dan Kanina pasti sudah lama berhubungan dengannya.” Pikiran itu terus memenuhi kepalanya. Se







