로그인Foto itu diambil dengan kamera instan. Kualitas gambarnya tidak terlalu bagus. Warna-warnanya sudah agak memudar dimakan waktu.Bagian tepinya mulai terlihat usang, seolah foto kecil itu sudah berkali-kali disentuh dan disimpan selama bertahun-tahun.Namun, potret dua anak yang berdiri di dalamnya masih terlihat cukup jelas. Seorang anak perempuan. Dan seorang anak laki-laki.Penampilan mereka cukup kontras. Anak perempuan itu tersenyum lebar ke arah kamera. Senyum yang begitu cerah dan polos.Matanya berbinar. Wajahnya penuh keceriaan. Sementara anak laki-laki di sampingnya tampak seperti kebalikan dari dirinya.Dia berdiri dengan tubuh yang tampak kaku. Tangannya menggantung di sisi tubuh. Wajahnya datar tanpa senyuman. Tidak ada ekspresi ceria seperti anak-anak lain seusianya.Hanya ada tatapan tenang yang hampir sulit dibaca dari sepasang iris gelap yang sebagian tertutup oleh helaian rambutnya yang sedikit panjang.Saat Kanina melihat foto itu, dia langsung terpaku. Hanya
Untuk sesaat, Kanina benar-benar kehilangan kemampuan untuk bereaksi. Suara-suara di sekitar mereka seperti menghilang. Koridor rumah sakit yang tadi masih sesekali dilewati suara langkah kaki dan aktivitas kecil mendadak terasa sangat jauh. Yang tersisa hanya satu kalimat yang baru saja dia dengar, “Perasaan saya padamu... itu juga tulus.” Kanina terpaku. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dia bahkan tidak yakin apakah dia tidak salah dengar. Pikirannya semakin kacau. Sejak tadi dia sudah berusaha keras menepis segala kemungkinan yang muncul di kepalanya. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua yang Althan lakukan dan apapun yang pria itu ucapkan hanya sebatas kebaikan. Tetapi sekarang, setelah mendengar kalimat terakhirnya, Kanina bahkan tidak tahu harus menepis kemungkinan itu dengan cara apa lagi. Selama beberapa detik, dia menatap pria di sampingnya dengan ekspresi kosong. Seolah sedang mencoba mencari tanda bahwa Althan hanya bercanda. Namun
Koridor rumah sakit kembali dipenuhi keheningan. Suara langkah kaki orang-orang yang berlalu lalang di kejauhan terdengar samar. Sesekali terdengar suara roda ranjang pasien yang bergerak melewati lorong, lalu menghilang bersama gema langkah kaki.Namun di antara semua suara itu, Kanina hanya menyadari satu hal, dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Althan.“Kata-kata yang saya ucapkan pada pria itu tadi... Apakah menurutmu itu tidak cukup tulus?”Pertanyaan itu mengantar ingatan Kanina kembali pada beberapa saat lalu, ketika Althan berhadapan dengan Harsya di lorong yang sama.Saat Althan berbicara tentang caranya memandang seseorang bukan dari status dan kekurangan, Kanina percaya itu tulus.Tapi, saat Althan mengaku sedang mendekatinya dan menyiratkan dirinya sebagai seseorang yang dia pilih, Kanina ragu.“Apa itu juga tulus? Apa dia serius?” batin Kanina bertanya-tanya.Dia tidak berani menyimpulkan. Karena itu, sedari tadi, dia terus berusaha meyakinkan diri
Harsya tidak ingat bagaimana dirinya bisa sampai ke parkiran rumah sakit. Langkahnya terlalu cepat, seolah ada sesuatu yang ingin segera dia tinggalkan.Pintu mobil dibuka dengan kasar. Detik berikutnya, keranjang buah dan buket bunga yang sejak tadi dibawanya langsung dilempar ke jok belakang.Buket bunga itu terjatuh miring. Beberapa kelopak bunga rontok dan berserakan di jok. Buah-buahan di keranjang juga berhamburan entah ke mana.Namun Harsya tidak memedulikannya sama sekali. Pintu mobil tertutup keras. Suara benturannya memantul di area parkir yang sepi.Dia menjatuhkan tubuh ke kursi pengemudi. Wajahnya suram, rahangnya mengeras, dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya dan napasnya terdengar begitu berat.Tangannya mencengkeram setir dengan kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Pikirannya berkecamuk, mengingat kembali kejadian di koridor rumah sakit beberapa menit lalu.Saat Althan pertama kali muncul dan menghadang jalannya, berdiri tegap dengan ketenangan yang ber
Kalimat itu jatuh begitu saja—ringan, santai, seolah tidak mengandung makna apa pun yang perlu diperdebatkan. Namun justru karena itulah dampaknya terasa jauh lebih besar.Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara. Koridor rumah sakit yang sejak awal sudah dipenuhi ketegangan kembali tenggelam dalam keheningan yang aneh.Kanina membeku di tempatnya. Matanya sedikit membesar. Pandangannya terpaku pada Althan, sementara pikirannya seakan terlambat mengejar apa yang baru saja didengarnya.“Setidaknya saya masih punya kesempatan untuk menjadi lebih dari sekadar orang lain.” Ucapan pria itu terngiang-ngiang di telinganya. Kanina mengernyit. “Apa maksudnya?”Dia bingung, tapi jantungnya tiba-tiba berdentum dan berdebar dengan keras. Jari-jarinya tanpa sadar menggenggam ujung lengan bajunya sendiri.Sejurus kemudian, dia buru-buru mengalihkan pandangan. Tidak berani menatap terlalu lama, bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.Sementara itu, di sisi lain, wajah H
Althan Swargantara berdiri tenang dengan kedua tangan menyusup ke dalam saku celana. Tubuhnya tinggi. Posturnya tegap. Wajahnya tenang tanpa riak emosi.Tetapi entah kenapa, ketenangan itu justru membuat kehadirannya terasa semakin sulit diabaikan. Seakan seluruh koridor ini tanpa sadar berubah menjadi wilayah yang dikuasainya.Harsya membeku. Untuk sesaat, suara-suara di koridor rumah sakit seolah menjauh. Yang terdengar di telinganya hanyalah beberapa kalimat yang diucapkan oleh pria di depannya.Di ambang pintu ruang rawat, Kanina juga terpaku. Jari-jarinya yang semula menggenggam gagang pintu perlahan mengendur.Kedua netranya menatap lurus ke arah Althan dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan—terkejut, bingung dan tak percaya.Dia sama sekali tidak menyangka Althan akan muncul tiba-tiba seperti ini, berdiri menghalangi Harsya dan berbicara seolah mewakili dirinya.Di sisi lain, Harsya juga tidak pernah menyangka dirinya akan dihalangi oleh seorang Althan Swargantara
Keesokan harinya, langit di luar jendela rumah sakit tampak mendung. Awan-awan kelabu menggantung rendah, membuat suasana terasa sedikit suram meskipun hari masih siang. Kanina duduk sendirian di kursi yang berjajar di depan ruang rawat Artanti. Tatapannya jatuh pada layar ponsel yang menyala, me
Saat mendengar bagaimana petugas itu menggambarkan sosok pria yang membayar tagihan rumah sakit ibunya, Kanina tidak bisa membayangkan orang lain selain Althan.Dia langsung teringat kejadian hari itu. Saat Althan membantu membawa ibunya ke rumah sakit. Pria itu tidak langsung pergi, tapi ikut men
Hari-hari berikutnya berlalu dengan lambat. Terlalu lambat. Seolah waktu sengaja berjalan lebih pelan ketika seseorang sedang menunggu sebuah keajaiban.Setelah menjalani observasi ketat di ruang resusitasi, Artanti akhirnya dipindahkan ke ICU. Namun kepindahan itu tidak membawa kabar yang lebih b
Udara dingin langsung menyambut Kanina begitu dia melangkah masuk ke dalam ruang resusitasi. Aroma antiseptik yang khas memenuhi indera penciumannya.Ruangan itu terang. Terlalu terang. Lampu putih di langit-langit memantulkan cahaya yang membuat segala sesuatu di dalamnya terlihat pucat dan dingi







