Home / Romansa / Suami Misteriusku / Bab 2 Menikah

Share

Bab 2 Menikah

last update publish date: 2026-02-27 18:40:06

“Ka-kamu yakin dia calon suamimu?” bisikku di telinga Shana. Cara bicaraku sampai tergugup.

“Iya, dia tampan, kan?” sahut Shana.

Bukan soal itu maksudku. Namun, aku tahu siapa dia.

Tristan, tentu saja dia, memasuki rumah ini beserta dua orang lelaki tua. Mereka bersalaman dengan keluarga Shana.

“Loh, kamu ada di sini?” tanya Tristan. Dia menyalamiku.

“Shana sepupuku!” jawabku singkat. Aku membuang muka ke arah lain.

Shana heran terhadap kami. Lantas bertanya, “Loh, kalian saling mengenal?”

Aku tidak menjawab, hanya duduk dalam keadaan tidak tenang.

“Kami tetanggaan. Iya, kan, Sophia?” sahut Tristan. Dia menyunggingkan senyum manis ke arahku.

Aku tidak menjawab, hatiku sudah sangat tidak tenang. Kulihat Shana bahagia dengan acara ini. Ini tidak bisa dibiarkan, pernikahan ini tidak boleh terjadi.

“Shana! Aku mau ngomong sebentar sama kamu. Ini penting!” Aku menarik tangan Shana.

“Ada apa, sih? Acaranya mau dimulai, loh!” sahut Shana.

Kulirik sekilas Tristan, dia tersenyum tipis saat kutarik tangan Shana. Aku tidak peduli dengan tatapannya. Mau dia beranggapan aku cemburu, masa bodoh. Aku hanya ingin menyelamatkan nyawa sepupuku ini.

Aku membawa masuk Shana ke dalam kamarnya. Kukunci pintu kamar ini, supaya tidak ada orang yang mengganggu obrolan kami.

“Kamu yakin mau menikah dengannya?” tanyaku memastikan.

Shana mengernyitkan dahinya.

“Kenapa harus nggak yakin? Tristan kekasihku, dia baik, kami saling mencintai. Bahkan orang tuaku sudah sangat setuju. Tunggu-tunggu, kenapa kamu tanya seperti itu?” jawabnya.

Sebelah tanganku berkacak pinggang. Sebelah tanganku lagi mengusap wajahku dengan kasar. Mondar-mandir tak jelas, aku mencari cara supaya pernikahan ini tidak sampai terjadi.

“Apaan sih, Sop? Nggak jelas tahu, nggak? Kamu bawa aku ke sini, hanya untuk menyaksikan kamu mondar-mandir? Buang-buang waktu!” cetus Shana.

Aku menghentikan langkahku. Ku tatap mata Shana, tajam, dalam.

“Jangan menikah dengannya. Aku tahu siapa dia!” ucapku lirih.

Shana membeliak, dia menggelengkan kepalanya pelan, seraya tersenyum miring.

“Apa maksudmu, Sop? Apa hakmu melarang kami menikah? Tahu apa kamu soal Tristan?” tanyanya, kulihat tatapan sepele di matanya.

“Dengar, Shana! Seperti jawaban Tristan tadi, aku dan dia tetanggaan di kota tempatku bekerja. Jadi aku tahu bagaimana kehidupan Tristan. Dia sudah sering menikah, semua istrinya berakhir tragis. Mereka meninggal tak wajar. Seminggu yang lalu dia habis memakamkan Anastasya, istrinya. Dan … sekarang, seenaknya dia mau menikahi kamu? Tidak, aku tidak akan membiarkan kalian menikah. Aku tidak mau kamu menjadi korban selanjutnya,” ungkapku.

Shana bergeming, kulihat dia seperti syok mendengar apa yang aku jelaskan. Kuharap dia percaya, hanya ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawanya.

Hening, dia tidak bersuara. Dia menunduk, dia diam, hanya helaan napas yang terdengar.

“Aku sudah tahu semuanya. Tristan sudah cerita semua bahwa dia sudah beberapa kali menikah dan istrinya meninggal. Semua mendiang istrinya ada yang kecelakaan, ada juga yang sakit. Jadi kematian itu adalah hal yang wajar. Aku akan tetap menikah dengannya. Jadi jangan pernah berprasangka buruk padanya!” seru Shana, dia sangat keras kepala.

Celaka! Shana sudah terpengaruh. Tristan menggunakan ketampanannya untuk menjerat Shana.

“Jangan, Shana, aku mohon!”

Plak!

Shana geram, dia menamparku begitu kerasnya. Perih, panas, kuusap pipi ini.

“Jangan coba-coba menghalangi kebahagiaanku, Sophia. Aku tahu kamu bicara seperti ini karena apa? Kamu cemburu, kan, karena bukan kamu yang dinikahi? Kasihan … sampai berusaha menghasutku!” pungkas Shana.

Aku sama sekali tidak tersinggung atas ucapannya. Namun, aku takut jika kemungkinan terburuk akan terjadi. Shana tidak tahu saja, sebelum dirinya dan mendiang-mendiang istrinya, aku yang telah lebih dulu dilamar olehnya. Bahkan bukan hanya satu kali.

Shana memutar kunci yang masih menggantung. Bergegas dia keluar, melanjutkan acara pernikahannya.

Aku masih diam menunduk. Rasa panas dan perih masih terasa di sebelah pipiku. Namun, jika diam saja, itu sama saja aku menyerahkan nyawa Shana, membiarkan jasadnya tertanam di halaman itu.

Aku memutuskan untuk mencegah mereka. Aku keluar dari kamar, bukan dengan langkah biasa, aku berlari secepat mungkin.

“Sah!”

Aku membeku di belakang orang-orang. Bahuku berguncang hebat. Tidak, Shana sudah masuk perangkap. Aku … aku gagal menyelamatkannya.

Shana terlihat sangat bahagia. Kini mereka tengah berfoto berdua, lanjut dengan keluarga Shana.

“Kenapa berdiri saja di sana? Sini foto sama kami!” Tristan tiba-tiba melambaikan tangannya ke arahku.

Sementara Shana, dia diam, hanya lirikan mata yang berbicara, seolah dia masih marah padaku.

“Tidak usah, aku tidak suka difoto!” tolakku.

Acara ini pun selesai dengan cepat. Tanpa menunggu lama, Tristan langsung memboyong Shana ke kediamannya.

“Apakah Tristan akan langsung mengeksekusinya?” batinku.

Aku memutuskan kembali ke kota. Remon datang menjemputku, sesuai permintaanku. Dia harus tahu tentang Shana, hanya dia satu-satunya orang yang percaya padaku!

“Kok bisa?”

Bahkan Remon pun tak habis pikir. Kini kami berada di jalan, mengobrol dengan motor dalam keadaan melaju.

“Iya makanya … aku butuh bantuanmu. Kita harus awasi Tristan, jangan sampai Shana mati di tangannya!” sahutku.

Sesampainya di kontrakan, aku dan Remon memperhatikan rumah Tristan. Memasang mata dan telinga dengan baik, menunggu sekecil apa pun hal yang memicu kecurigaan.

Satu hari, dua hari, satu minggu, bahkan telah lewat satu bulan Shana menikah, tidak ada kejadian aneh. Setiap hari aku selalu mengawasi rumah itu. Selalu kulihat Shana tertawa lepas dengan Tristan di teras.

“Syukurlah, semoga ketakutanku tidak akan terjadi!” gumamku.

Aku berdiam di kontrakan. Selama ini, Shana tidak pernah mengunjungi tempatku. Aku merasa Shana masih marah padaku. Kubiarkan dia dengan egonya. Namun, tetap kuawasi keselamatannya dari sini.

Aku tengah membersihkan tubuhku di bawah guyuran air dingin. Lempengan kecil es yang berasal dari es batu, mengambang bebas di dalam bak. Yeah! Sengaja aku mandi dicampur es batu, demi mendapatkan kesegaran di tengah-tengah cuaca yang sangat panas ini.

Aku kembali ke kamar dengan tubuh yang segar, segera aku membuka lemari pakaianku dan mengambil satu stel baju santai.

Stok makanan yang habis, perut yang lapar, terpaksa membuatku harus keluar mencari makanan.

Berjalan kaki seorang diri, bersenandung kecil menghilangkan rasa jenuh, kuayunkan kedua kaki ini menuju jalan raya. Rute yang harus dilewati memutar melewati rumah Tristan.

Sesampainya di jalan raya, kubelokkan kaki ini ke tempat penjual nasi, aku pun membelinya. Tidak hanya itu, aku juga mampir ke minimarket, untuk membeli cemilan untuk nanti malam dan keperluan lainnya.

Aku kembali melewati samping rumah Tristan. Berjalan santai kembali bersenandung kecil. Menikmati hari libur dengan versiku sendiri. Tak ada Remon, hanya sendiri. Ya, sendirian!

“Aaaargh!”

Hening, kuhentikan senandung kecilku, berdiri mematung dengan pendengaran yang kutajamkan. Saat ini, jantungku kembali berdetak hebat. Rasa takut, rasa khawatir, rasa curiga kembali meluap-luap dalam diriku.

“Shana!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Misteriusku    Bab 116 Tergeletak

    “Apa yang tepat, Yah?” Ayah membalikkan tubuhnya menghadapku, lantas ia mencopot headset bluetooth yang sebelumnya terpasang di sebelah telinganya.“Sayang! Kamu sudah pulang? Ayah baru saja telponan dengan sekretaris Ayah di kantor. Em … bagaimana kuliahmu hari ini? Apakah mereka masih mengganggumu?” tanya Ayah.Aku menggeleng, aku mendaratkan bokongku ke atas sofa, dan Ayah duduk menyusul di sebelahku.“Tidak, Yah. Cuma ….”Aku bingung untuk mengatakan bahwa Mawar telah mengancamku. Aku menunduk, ini salahku, ini semua buah dari kecerobohanku.“Cuma apa?” tanya Ayah, matanya menyipit.“Tidak apa-apa, Yah. Tidak ada masalah apa pun!” jawabku.Ayah bergeming, pandangannya tak lepas dari wajahku. Tatapan itu cukup membuatku tak nyaman. Jika Ayah merasa ragu dengan ucapanku, hal semacam ini pasti akan terjadi. Dia memandangiku tanpa henti. Seolah tengah menyelami dasar pikiranku.“Kenapa … Ayah natap aku kayak gitu? Beneran, Yah, tidak ada masalah,” ucapku. Namun, Bola mataku bergerak

  • Suami Misteriusku    Bab 115 Evakuasi

    Aku diam, tidak menjawab iya atau tidak. Begitu sulit untuk menjawab salah satunya.“Bagaimana, Elia? Sebuah pilihan yang sangat menarik, bukan?” tanyanya.Napasku memburu, ingin rasanya aku memberi pelajaran pada wanita ini. “Jawab, Elia!” titahnya. Nada suaranya halus. Namun, terkesan mengejek.Jambakan tangannya pada rambutku semakin kuat, semakin terasa sakit. Aku tidak mampu lagi bergerak. Sedikit saja bergerak, semakin terasa sakit pula kulit kepalaku.“Jawab, atau detik ini juga, akan aku viralkan isi diary itu!” tambahnya.Dengan bibir bergetar, aku mulai membuka mulutku hendak menjawab.“A … ku–”“Woy! Perhatian semuanya! Ada yang meninggal!”Aku terkesiap, tiba-tiba tangan Mawar terlepas dari rambutku. Kami berdua menoleh ke arah lelaki yang berteriak lantang memberikan informasi.“Siapa? Di mana?” tanya Mawar.“Di perpus! Sebaiknya kamu lihat sendiri!” Mawar beranjak, dia berlari menuju perpustakaan. Aku merapikan rambutku yang kacau. Lantas aku pun beranjak dari kursi,

  • Suami Misteriusku    Bab 114 Pemandangan Langka

    “Kamu … Mawar, kan?” tanya Ayah, tanpa keluar dari dalam mobilnya. Ayah hanya melihat dari celah jendela yang sedikit terbuka.Fix! Mawar telah menghubungi Ayah, sehingga Ayah mengenali wanita ini. Kedua tanganku terkepal kuat.“Iya, Om. Aku temannya Elia, yang waktu kemarin mau menolong Elia, tapi sudah keduluan Om!” jawab Mawar.Wanita sialan! Dia memanipulasi keadaan. Dia telah menipu ayahku. Padahal jelas-jelas dialah otak di balik jebakan itu.“Tapi dia–”“Diam, atau diary kamu aku bongkar di hadapan anak-anak!” “Aw!” pekikku. Mawar mencubitku di bagian pinggang.“Kenapa, Elia? Ada yang sakit?” tanya Ayah. Matanya mengawasiku.Aku menggeleng cepat-cepat. Membantah pertanyaannya. Berusaha menyembunyikan reaksi sakitku.“Ayah sebaiknya cepat pergi kerja. Jangan buang-buang waktu lagi!” seruku. Padahal aku tidak ingin Ayah berlama-lama di sini, apalagi ada Mawar.Ayah tersenyum kecil, lantas mengangguk.“Baiklah, Little Princes!” sahut Ayah.Ayah lantas melanjutkan perjalanan, berl

  • Suami Misteriusku    Bab 113 Menjadi Posesif

    Aku membeliak, lantas menunduk menatap resleting celanaku.Ya Tuhan … malunya aku. Bisa-bisanya aku lupa menutupnya.“Kamu–”“Eh nggak ada. Ke mana, dia?”Aku mengedarkan pandangan, lelaki itu sudah tidak terlihat lagi. Aku tidak sadar jika dia pergi.Segera aku menutup resleting celanaku. Beruntung aku belum kembali ke kantin. Jika tidak, aku pasti menjadi bahan tertawaan banyak orang.“Ehem! Orang itu hanya selewat, kita nggak mungkin ketemu lagi!” gumamku. Aku menegakkan tubuhku, berjalan membusungkan dada. Demi membuang jauh ingatan tentang kejadian memalukan barusan.Aku melanjutkan niatku, memesan makanan untuk kami bertiga. Cukup lama menunggu, akhirnya tiga bungkus makanan telah terpampang di hadapanku.“Makan dulu, Tan, Neni. Habiskan, ya!” seruku.Mereka berdua menerima makanan ini.“Kamu memang anak baik. Pantas Neni selalu cerita dan memuji kamu, Elia. Tante jadi tenang, Neni memiliki teman seperti kamu. Kamu jangan sungkan kalau misal mau ke rumah kami, rumah kami akan se

  • Suami Misteriusku    Bab 112 Bertabrakan

    “Tante, aku Elia, temannya Neni. Bagaimana keadaan Tante sekarang? Sudah baikan?” tanyaku.Aku menyalaminya, ibunya Neni tersenyum kecil. Kuraih sebelah tangannya, kucium punggung tangannya tersebut.“Saya Tante Ella, keadaan Tante baik-baik saja. Kamu cantik, sesuai yang diceritakan oleh Neni,” jawab Tante Ella.Kulihat wajah Tante Ella begitu pucat. Bahkan tak jarang dia terbatuk. Tubuhnya pun terlihat sangat lemas.“Tante sudah minum obat? Sudah dibawa ke dokter?” tanyaku.Neni menimpali, “Ibu tidak dibawa ke dokter, El. Kami nggak ada uang. Sudah dua hari ini Ibu nggak jualan, jadi kami nggak punya uang untuk ke dokter!”Kuusap bahu Neni. Ternyata kehidupan Neni jauh dari yang aku bayangkan.“Maaf, Tante, Neni, ayah Neni di mana memangnya? Kok Tante yang kerja?” tanyaku.Neni tiba-tiba menunduk, dia terlihat sedih.“Ayahku sudah meninggal, El. Jadi Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga. Aku bisa kuliah juga berkat beasiswa!” jelas Neni.Sebagai seorang teman, aku merasa tidak

  • Suami Misteriusku    Bab 111 Menjenguk

    Tak berselang lama, pesan baru kuterima. Masih dari nomor Mawar.Lekas kubuka pesan tersebut, berupa foto.“Ya Tuhan!” Aku terkesiap, jantungku tiba-tiba berpacu begitu kencang, sulit sekali untuk kukontrol.Kuraih tasku, ceroboh! Benar-benar ceroboh. Buku diary-ku ….(Bagaimana, Elia? Apakah kamu ingin aku viralkan tentang isi diary ini? Aku tidak menyangka, Elia si cupu ini ternyata tidak lain adalah anak dari wanita seorang pembunuh).Aku memejamkan mataku sejenak, setelah menerima pesan tersebut dari Mawar.Dahiku tiba-tiba berkeringat, padahal AC di kamar ini telah kunyalakan.Aku tidak membalas. Namun, aku menghubunginya dengan panggilan telepon.Sayangnya, Mawar mematikan panggilan ini tanpa mau menerima telepon dariku.“Sial! Kenapa wanita itu selalu saja membuatku muak? Tidak bisakah dia membiarkanku tenang walau sedikit?”Aku pun mengirim pesan padanya.(Kembalikan diary itu. Jangan macam-macam).Mawar tidak membalas, hal itu membuatku cukup setres!(Oke, fine! Aku kirim nom

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status