Masuk“Ka-kamu yakin dia calon suamimu?” bisikku di telinga Shana. Cara bicaraku sampai tergugup.
“Iya, dia tampan, kan?” sahut Shana. Bukan soal itu maksudku. Namun, aku tahu siapa dia. Tristan, tentu saja dia, memasuki rumah ini beserta dua orang lelaki tua. Mereka bersalaman dengan keluarga Shana. “Loh, kamu ada di sini?” tanya Tristan. Dia menyalamiku. “Shana sepupuku!” jawabku singkat. Aku membuang muka ke arah lain. Shana heran terhadap kami. Lantas bertanya, “Loh, kalian saling mengenal?” Aku tidak menjawab, hanya duduk dalam keadaan tidak tenang. “Kami tetanggaan. Iya, kan, Sophia?” sahut Tristan. Dia menyunggingkan senyum manis ke arahku. Aku tidak menjawab, hatiku sudah sangat tidak tenang. Kulihat Shana bahagia dengan acara ini. Ini tidak bisa dibiarkan, pernikahan ini tidak boleh terjadi. “Shana! Aku mau ngomong sebentar sama kamu. Ini penting!” Aku menarik tangan Shana. “Ada apa, sih? Acaranya mau dimulai, loh!” sahut Shana. Kulirik sekilas Tristan, dia tersenyum tipis saat kutarik tangan Shana. Aku tidak peduli dengan tatapannya. Mau dia beranggapan aku cemburu, masa bodoh. Aku hanya ingin menyelamatkan nyawa sepupuku ini. Aku membawa masuk Shana ke dalam kamarnya. Kukunci pintu kamar ini, supaya tidak ada orang yang mengganggu obrolan kami. “Kamu yakin mau menikah dengannya?” tanyaku memastikan. Shana mengernyitkan dahinya. “Kenapa harus nggak yakin? Tristan kekasihku, dia baik, kami saling mencintai. Bahkan orang tuaku sudah sangat setuju. Tunggu-tunggu, kenapa kamu tanya seperti itu?” jawabnya. Sebelah tanganku berkacak pinggang. Sebelah tanganku lagi mengusap wajahku dengan kasar. Mondar-mandir tak jelas, aku mencari cara supaya pernikahan ini tidak sampai terjadi. “Apaan sih, Sop? Nggak jelas tahu, nggak? Kamu bawa aku ke sini, hanya untuk menyaksikan kamu mondar-mandir? Buang-buang waktu!” cetus Shana. Aku menghentikan langkahku. Ku tatap mata Shana, tajam, dalam. “Jangan menikah dengannya. Aku tahu siapa dia!” ucapku lirih. Shana membeliak, dia menggelengkan kepalanya pelan, seraya tersenyum miring. “Apa maksudmu, Sop? Apa hakmu melarang kami menikah? Tahu apa kamu soal Tristan?” tanyanya, kulihat tatapan sepele di matanya. “Dengar, Shana! Seperti jawaban Tristan tadi, aku dan dia tetanggaan di kota tempatku bekerja. Jadi aku tahu bagaimana kehidupan Tristan. Dia sudah sering menikah, semua istrinya berakhir tragis. Mereka meninggal tak wajar. Seminggu yang lalu dia habis memakamkan Anastasya, istrinya. Dan … sekarang, seenaknya dia mau menikahi kamu? Tidak, aku tidak akan membiarkan kalian menikah. Aku tidak mau kamu menjadi korban selanjutnya,” ungkapku. Shana bergeming, kulihat dia seperti syok mendengar apa yang aku jelaskan. Kuharap dia percaya, hanya ini jalan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawanya. Hening, dia tidak bersuara. Dia menunduk, dia diam, hanya helaan napas yang terdengar. “Aku sudah tahu semuanya. Tristan sudah cerita semua bahwa dia sudah beberapa kali menikah dan istrinya meninggal. Semua mendiang istrinya ada yang kecelakaan, ada juga yang sakit. Jadi kematian itu adalah hal yang wajar. Aku akan tetap menikah dengannya. Jadi jangan pernah berprasangka buruk padanya!” seru Shana, dia sangat keras kepala. Celaka! Shana sudah terpengaruh. Tristan menggunakan ketampanannya untuk menjerat Shana. “Jangan, Shana, aku mohon!” Plak! Shana geram, dia menamparku begitu kerasnya. Perih, panas, kuusap pipi ini. “Jangan coba-coba menghalangi kebahagiaanku, Sophia. Aku tahu kamu bicara seperti ini karena apa? Kamu cemburu, kan, karena bukan kamu yang dinikahi? Kasihan … sampai berusaha menghasutku!” pungkas Shana. Aku sama sekali tidak tersinggung atas ucapannya. Namun, aku takut jika kemungkinan terburuk akan terjadi. Shana tidak tahu saja, sebelum dirinya dan mendiang-mendiang istrinya, aku yang telah lebih dulu dilamar olehnya. Bahkan bukan hanya satu kali. Shana memutar kunci yang masih menggantung. Bergegas dia keluar, melanjutkan acara pernikahannya. Aku masih diam menunduk. Rasa panas dan perih masih terasa di sebelah pipiku. Namun, jika diam saja, itu sama saja aku menyerahkan nyawa Shana, membiarkan jasadnya tertanam di halaman itu. Aku memutuskan untuk mencegah mereka. Aku keluar dari kamar, bukan dengan langkah biasa, aku berlari secepat mungkin. “Sah!” Aku membeku di belakang orang-orang. Bahuku berguncang hebat. Tidak, Shana sudah masuk perangkap. Aku … aku gagal menyelamatkannya. Shana terlihat sangat bahagia. Kini mereka tengah berfoto berdua, lanjut dengan keluarga Shana. “Kenapa berdiri saja di sana? Sini foto sama kami!” Tristan tiba-tiba melambaikan tangannya ke arahku. Sementara Shana, dia diam, hanya lirikan mata yang berbicara, seolah dia masih marah padaku. “Tidak usah, aku tidak suka difoto!” tolakku. Acara ini pun selesai dengan cepat. Tanpa menunggu lama, Tristan langsung memboyong Shana ke kediamannya. “Apakah Tristan akan langsung mengeksekusinya?” batinku. Aku memutuskan kembali ke kota. Remon datang menjemputku, sesuai permintaanku. Dia harus tahu tentang Shana, hanya dia satu-satunya orang yang percaya padaku! “Kok bisa?” Bahkan Remon pun tak habis pikir. Kini kami berada di jalan, mengobrol dengan motor dalam keadaan melaju. “Iya makanya … aku butuh bantuanmu. Kita harus awasi Tristan, jangan sampai Shana mati di tangannya!” sahutku. Sesampainya di kontrakan, aku dan Remon memperhatikan rumah Tristan. Memasang mata dan telinga dengan baik, menunggu sekecil apa pun hal yang memicu kecurigaan. Satu hari, dua hari, satu minggu, bahkan telah lewat satu bulan Shana menikah, tidak ada kejadian aneh. Setiap hari aku selalu mengawasi rumah itu. Selalu kulihat Shana tertawa lepas dengan Tristan di teras. “Syukurlah, semoga ketakutanku tidak akan terjadi!” gumamku. Aku berdiam di kontrakan. Selama ini, Shana tidak pernah mengunjungi tempatku. Aku merasa Shana masih marah padaku. Kubiarkan dia dengan egonya. Namun, tetap kuawasi keselamatannya dari sini. Aku tengah membersihkan tubuhku di bawah guyuran air dingin. Lempengan kecil es yang berasal dari es batu, mengambang bebas di dalam bak. Yeah! Sengaja aku mandi dicampur es batu, demi mendapatkan kesegaran di tengah-tengah cuaca yang sangat panas ini. Aku kembali ke kamar dengan tubuh yang segar, segera aku membuka lemari pakaianku dan mengambil satu stel baju santai. Stok makanan yang habis, perut yang lapar, terpaksa membuatku harus keluar mencari makanan. Berjalan kaki seorang diri, bersenandung kecil menghilangkan rasa jenuh, kuayunkan kedua kaki ini menuju jalan raya. Rute yang harus dilewati memutar melewati rumah Tristan. Sesampainya di jalan raya, kubelokkan kaki ini ke tempat penjual nasi, aku pun membelinya. Tidak hanya itu, aku juga mampir ke minimarket, untuk membeli cemilan untuk nanti malam dan keperluan lainnya. Aku kembali melewati samping rumah Tristan. Berjalan santai kembali bersenandung kecil. Menikmati hari libur dengan versiku sendiri. Tak ada Remon, hanya sendiri. Ya, sendirian! “Aaaargh!” Hening, kuhentikan senandung kecilku, berdiri mematung dengan pendengaran yang kutajamkan. Saat ini, jantungku kembali berdetak hebat. Rasa takut, rasa khawatir, rasa curiga kembali meluap-luap dalam diriku. “Shana!”“A-ayah! Ayah masih hidup?” tanyaku. Suaraku sampai tergugup. Aku terkejut tiba-tiba melihatnya datang.Ayah tersenyum dengan anggukan kecilnya.“Kamu lupa siapa Ayah?” Ayah tersenyum tipis.“Ayah tidak benar-benar pergi, Sayang. Maaf, Ayah tidak bermaksud membuatmu dan ibumu sedih dan tidak cepat-cepat pulang. Ayah hanya memerlukan sedikit waktu untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan pada keluarga kita dari jauh,” jawabnya. Dia menunjuk Arion dan Om Remon.Aku tersenyum haru, ada gejolak bahagia ketika melihat pahlawanku masih hidup. Seketika sebutan pembunuh pada dirinya, hilang terkikis haru. Ini terasa seperti mimpi. Namun, dia memang ada di hadapanku, bersuara, bahkan senyumannya bisa kulihat jelas.Ayah menatap nyalang ke arah Arion yang masih tersungkur di lantai.“Anak bodoh! Kamu kira aku tidak tahu tujuanmu mendekati putriku!” maki Ayah.Arion perlahan berdiri, menunduk di hadapan Ayah. Arion tidak bersuara, apakah dia takut?“Kamu merasa pintar karena telah berhasil
Om Remon memutar kursinya menghadapku. Kulihat matanya sembab, dia menangis?“Maaf, Om. Kenapa Om menangisi orang yang pernah bermasalah dengan keluarga Om?” tanyaku, sebelah tanganku menunjuk ke arah foto yang Om Remon pegang.Om Remon lantas melirik Foto tersebut, lantas beralih padaku.“Bermasalah?” tanyanya, aku mengangguk.“Iya, Arion yang bilang!” jawabku.“Arion mengatakan itu padamu?” Aku kembali mengangguk.Dari belakang, kudengar suara langkah kaki berhenti tepat di belakangku. Saat aku menoleh, ternyata Arion.Kini pandangan Om Remon beralih kepada Arion. Cukup lama, cukup membuatku bingung dari caranya menatap Arion.“Dia mati!” ucap Om Remon, seraya kembali menatap foto lelaki itu.“Iya, Om. Aku sudah tahu!” Aku menunduk. Kemungkinan besar Arion telah memberitahu Om Remon nasib orang yang ada di foto tersebut. Namun, yang aku heran, kenapa Om Remon menangisi foto tersebut?“Ayahmu yang membunuhnya!” lanjutnya. Aku semakin menunduk dalam.“Maaf! Maafkan ayahku!” ucapku lir
“Tapi aku tidak tahu Ayah membuang atau menguburnya di mana,” lanjutku.Arion tampak menyibak rambutnya ke belakang. Kudengar hembusan napas panjang dari hidungnya.“Baiklah … ayahmu sudah mewakili. Hanya saja caranya yang salah. Kalau begitu aku pamit, ya! Aku harus ke kantor, ayahku bisa marah jika aku berlama-lama meninggalkan pekerjaanku,” pamit Arion.Aku mengangguk, kupandangi kepergian Arion sampai mobilnya tidak lagi terlihat dari pandangan.Aku kembali ke rumah, kulihat Ibu tidak sedikit pun menyentuh makanan yang ada di atas meja. Hanya Glenn yang sibuk makan. Tatapan Ibu begitu kosong sepeninggal Ayah.Aku berjongkok di depan Ibu, kuraih kedua tangannya.“Aku juga sedih, Bu. Aku menyesal telah membenci Ayah. Tapi semua kehendak Tuhan. Kita tidak bisa terus menerus seperti ini. Ada aku, Glenn, yang membutuhkan Ibu. Jika Ibu serapuh ini, lalu bagaimana dengan kita?”Ibu menunduk, bahunya berguncang hebat. Namun, sesegera mungkin ia menegakkan tubuhnya, menghapus jejak air mat
Samar kudengar suara isak tangis seorang wanita. Serta sentuhan di pergelangan tanganku. Hangat, serta kecil.Perlahan kubuka mata ini, kuedarkan pandanganku, kamarku. Aku berada di dalam kamarku. Gorden yang tertutup rapat, menandakan hari telah malam.“Elia!” Kulihat Arion mendekatiku, tersenyum haru ketika melihatku membuka mata.Di samping kananku kulihat Ibu dan Glenn yang tengah duduk di sampingku. Ibu menangis, aku tahu hatinya terluka.Tidak terasa air mataku mengalir. Tidak kupungkiri, aku pun sama halnya seperti Ibu. Aku memang membenci Ayah. Namun, aku tidak ingin dia meninggal.Aku menangis sesenggukan, teringat uluran tangan yang dia lakukan padaku. Dia menatapku penuh cinta. Namun, aku menatapnya penuh kebencian. Dan kini … semua tinggal kenangan. Ayah tidak akan pernah lagi pulang ke rumah ini.“Bu, kenapa harus Ayah, Bu?” Aku mencoba untuk bangun. Arion segera membantuku.Ibu memelukku begitu erat. Kami saling menumpahkan tangis di kedua bahu yang berbeda pemilik.“Ibu
“Baik, Om Remon!” sahutku. Aku mengangguk kecil.“Oh iya, silahkan duduk, Elia! Bi–”“Em … Ayah, aku sudah menyuruh Bibi buatin minum tadi. Sepertinya sebentar lagi minumannya jadi,” potong Arion.Om Remon mengangguk-anggukkan kepalanya. “Anak pintar!”“Oke, baiklah. Em … Elia, Om mau tahu, Om penasaran juga, apa yang membuatmu jatuh cinta sama anak Om ini? Dia nakal loh, padahal. Bahkan sejak di bangku SMA, Om sangat sering dipanggil oleh guru BP. Hampir setiap hari anak ini membuat ulah. Om sampai bosan terus menerus mendatangi sekolahnya untuk meminta maaf. Kok bisa kamu menaklukan kenakalan dia? Bagaimana caranya?” tanya Om Remon.“Ayah … sudah, tidak usah membongkar masa laluku, aku malu. Aku sudah berubah, loh!” timpal Arion. Hal itu membuat Om Remon terkekeh.Wajah Arion sedikit memerah. Entah kenapa ketika melihatnya seperti itu, dia terlihat lucu dan konyol.“Tidak apa-apa, dong. Daripada orang lain yang membongkar, lebih baik Ayah sendiri memberitahunya. Lagi pula Elia ini p
Aku berlari menghampiri Ibu, kubantu Ibu untuk berdiri.“Ibu sakit?” tanyaku. Aku cemas melihatnya.Ibu menggeleng pelan, wajahnya begitu sayu.“Ibu tidak apa-apa, Sayang. Perasaan Ibu tidak enak, semoga ayahmu baik-baik saja di mana pun berada,” jawabnya.Aku membawa Ibu ke dalam rumah. Kubantu dia untuk duduk di sofa ruang tamu. Sementara Glenn, kubiarkan dia bermain dengan anak tetangga. Aku tidak mau mengganggu waktunya bermain. Kupantau dia dari kaca jendela.“Tidak usah berpikir buruk, Bu. Kita tahu siapa Ayah, dia pasti bisa jaga diri,” ucapku. Berusaha menenangkannya.Ibu mengangguk kecil, walaupun wajahnya masih terlihat murung. Aku mengambilkan air minum untuknya.“Sudah lebih tenang?” tanyaku.“Iya, Sayang. Ibu sudah tenang, terima kasih, ya!” Aku mengangguk, lantas mengusap lengannya dan bersandar pada bahunya.“Permisi!” Aku mengangkat kepalaku, kami berdua serempak menoleh ke ambang pintu.“Arion!” Lelaki itu berdiri di ambang pintu, dengan seulas senyuman yang dia lem
“Apa yang Ayah lakukan?” tanyaku.Ayah seketika terdiam, tangan yang memegang pisau ia turunkan. Tampak darah menetes dari ujung pisau membasahi lantai gudang.Ayah berbalik badan ke arahku. Tatapannya teduh, seulas senyuman terlempar ke arahku.“Ayah baru saja menyelamatkan adikmu, Elia!” jawabnya
Kemungkinan terbesar Ibu dibawa ke rumah sakit. Aku yakin itu.Detik ini juga aku pergi ke rumah sakit terdekat. Sampai sana, Ibu memang tengah mendapatkan penanganan di rumah sakit tersebut.“Apa yang kamu lakukan pada ibuku?” tanyaku.Aku berdiri dengan dada bergerak naik turun. Ayah yang tengah
“Eka!” pekikku. Aku membekap mulutku sendiri.Tiba-tiba Eka tak sadarkan diri, bahkan ketika kucoba mengguncang tubuhnya beberapa kali, Eka tidak kunjung membuka mata.“Tolong! Eka pingsan, tolong!” teriakku, mengundang orang-orang supaya mendekat.Satu persatu orang-orang berlarian mendekati kami.
“Elia! Apa … yang kamu lakukan? Apa kamu diminta untuk melakukan pertunjukan di sini?” tanya salah satu dari mereka.Aku menatap penampilanku sendiri, lantas ke arah mereka. Satu persatu sepasang mata terarah padaku. Terdiam dengan tawa yang tertahan.Penampilanku berubah menjadi sebuah tawa yang m







