ログインRonan bersumpah tidur di atas kain linen tipis di kamarnya lebih baik daripada tidur di atas tumpukan jerami di kandang keledai ini. Seratus kali lebih baik terbangun melihat wajah pulas Nora yang mulutnya sedikit terbuka saat mendengkur daripada melihat keledai abu-abu bergelung.Ronan tertawa kecil dengan pemikiran absurd-nya. Dia beranjak dari sana menuju dapur. Menyeduh kopi hitam, duduk menunggu katlenya bersuara seperti peluit. Tidak banyak yang bisa Ronankerjakan pagi ini, semua pekerjaan sudah dia lakukan kemarin. Setelah keluar dari kamar mandi, yang bisa Ronan lakukan untuk menekan birahinya hanya memotong kayu bakar hingga menggunung. Dia bahkan menjemput anaknya sendirian dan bersikeras menyuruh Nora istirahat. Hanya untuk menghindari wanitanya itu. "Kau sudah bangun?" suara Nora melayang saat Ronan sedang menuang kopi ke cangkir kecil.Ronan tersenyum menyambut Nora yang masih terlihat mengantuk. Rambutnya masih terlihat berantakan seperti biasa. Dengan cekatan Ronan me
Nora memejamkan matanya, dia tidak cukup kuat terus berpandangan dengan Ronan. Tapi, setelah ditunggu cukup lama. Nora tidak merasakan apa-apa. Bahkan dia merasa jarak diantara mereka merenggang.Nora akhirnya berani membuka mata. Hal yang pertama Nora lihat adalah wajah Ronan yang memerah, dan matanya yang tidak fokus. Dahi Nora berkerut melihat pemandangan itu. Entah kenapa dia merasa perlu menoleh ke samping.Nora membelalakkan matanya saat melihat seorang wanita paruh baya tersenyum lebar. Wajah wanita itu jelas terlihat menggodanya."Ah... Maaf, aku tidak menyangka akan mendapatkan pemandangan seperti ini di kandang babiku," katanya. "Maaf nyonya, kami di kejar lebah jadi kami masuk kesini," jawab Ronan dengan nada yang dia usahakan tenang. Ronan mengangkat badan Nora. Istrinya masih bergeming di tempatnya berdiri lalu menurunkan Nora di luar kandang. Dia kembali ke kandang untuk membawa kembali topi jaring yang mereka kenakan tadi."Saya Alex Wilmington, ini istri saya Nora,"
Ronan entah kenapa mengikuti cara berjalan Nora yang mengendap. Dia memegang goni terbakar yang diikat pada ranting. Asap putih mengelilingi mereka berdua sejak mereka keluar dari pondok. Topi jaring Ronan tidak menghalangi pandangannya. Tanpa sadar tangannya terjulur untuk memegang tangan Nora. Wanita itu sedikit kaget saat merasakan tangan Ronan. Tangan kokoh dan kasar yang menggenggam tangannya itu membuat Nora sedikit tidak nyaman, meski kulit mereka terhalang sarung tangan tebal. Tapi di situasi seperti ini akan canggung jika Nora berusaha melepaskan tangan mereka. "Kita tidak perlu mengendap seperti ini," ucap Nora tiba-tiba."Apa? Aku hanya mengikuti cara mu berjalan," jawab Ronan di balik topi jaringnya."Ya... Aku hanya sedikit takut dengan lebah," ucapan Nora membuat langkah Ronan terhenti."Kalau begitu kembalilah ke pondok, kenapa bersikeras untuk ikut?" omelan keluar dari mulut pria itu."Hmm... Aku takut kau melakukan kesalahan dan lebah-lebah itu menyerangmu," jawab
Nora melihat Ronan melambai dari gerbang rumah mereka. Senyum Ronan semakin lebar saat menangkap Matt yang berlari ke arahnya. Pria itu berjalan mendekat sambil memangku Matt. Nora -anehya- bisa menangkap sesuatu yang tidak biasa dari Ronan. Pandangan Nora menjelajahi suaminya itu. Keningnya berkerut saat matanya menangkap noda merah di ujung lengan baju Ronan. "Apa yang terjadi?" tanya Nora dengan mata yang menyipit. "Apa itu ... darah?" tanya Nora lagi. "Ini hanya darah babi liar," jawab Ronan, menurunkan Matt dari gendongannya. Lalu berjalan lebih mendekat pada Nora istrinya yang hamil besar itu. "Tiba-tiba ada 2 babi liar berlari mengejar beberapa orang. Jadi kami ... Maksudku aku, menembak babi-babi itu," jelas Ronan dengan senyum canggung. "Kau menembak?" "Semua itu terjadi begitu saja. Tanpa sadar tubuh ku bergerak sendiri. Ada polisi muda yang masih gemetar dan ragu menembak. Aku rasa itu wajar. Takut melukai orang lain," jelas Ronan pajang. "Dan kau tidak r
Ronan menatap deretan buku yang berjajar di dalam rak. Mata hitamnya kian menajam saat membaca satu persatu judul buku yang ada disana. Mencari buku tentang lebah dan madu. "Apa anda sudah menemukan buku yang anda cari?" tanya seorang wanita muda dengan riasan wajah yang cukup berlebihan. Ronan tersenyum canggung saat wanita itu menatapnya sambil memelintir rambut hitamnya yang panjang. "Belum," sahut Ronan melangkah ke samping untuk menjauh dari wanita muda yang mengenalkan dirinya sebagai penjaga perpustakaan. "Ini pertama kalinya saya melihat anda. Saya terkejut ada pria tampan di desa ini," ucap wanita itu lagi. Mata wanita itu tanpa segan menatap wajah Ronan dengan kentara. Dia menggigit bibir bawahnya yang dipoles warna merah terang. Matanya menjelajahi Ronan dari bawah ke atas. Dan lalu terpaku pada garis rahang Ronan. Cukup membuatnya menelan ludah. "Ini memang pertama kalinya saya kemari," jawab Ronan masih sopan. Pagi ini suasana hari Ronan sedang tenang dan
Hari-hari yang Ronan jalani di rumah ini, selalu berjalan cepat. Sejak dia membuka mata, membuat sarapan hingga memandikan anak-anak. Lalu melanjutkan kegiatan membersihkan rumah. Dan akhirnya menidurkan anak-anaknya lagi. Ronan terduduk di meja makan dan mulai menghitung semua uang yang dia punya. Membuat catatan di buku agenda yang dia beli kemarin. Lalu menulis pengeluaran dan bahkan menuliskan perkiraan pengeluaran bulanan. Nora keluar kamar karena haus saat melihat wajah serius Ronan. Dia penasaran dengan pria yang sekarang suaminya itu. Nora mendekat dan mendudukkan diri di hadapan Ronan. Mata wanita itu menjelajahi koin emas dan perak yang tersusun rapi diatas meja. Ronan mengerlingnya sebentar sebelum kembali pada buku agendanya. "Ingin aku ambilkan air?" tanya Ronan tanpa menatap Nora. "Tidak, aku bisa mengambilnya sendiri," Nora menggelengkan kepala dan beranjak mengambil air minum. Nora melihat punggung Ronan. Penasaran dengan apa yang pria itu pikirkan. "Aku tidak







