Home / Romansa / Suami Palsuku / Bab 5 Rumah

Share

Bab 5 Rumah

Author: Ayuu
last update publish date: 2026-05-07 20:00:07

Denting pecahan piring yang menghantam lantai kayu dapur terdengar begitu nyaring, memutus keheningan sore itu dengan kejam.

Nora berdiri terpaku di tempatnya, menatap potongan keramik yang berserakan di dekat ujung kakinya bersama dengan kuah sup hangat yang tumpah seadanya.

Napasnya mendadak tersengal, memburu cepat seiring dengan rasa panik yang merayap naik dari dada dan mencekik tenggorokannya seketika.

Suara pecahan benda. Bagi Nora, itu bukanlah sekadar kecelakaan dapur biasa, melainkan sebuah melodi pembuka dari siksaan yang sudah sangat hafal di luar kepala.

Sebelum Ronan sempat melangkah masuk ke dapur untuk memeriksa apa yang terjadi, trauma lima tahun terakhir telanjur mengambil alih seluruh kesadaran Nora.

Tubuhnya bergetar hebat sampai ke ujung jari. Tanpa memikirkan perut buncitnya yang terasa besar dan berat, wanita itu langsung berbalik dan berlari setengah panik menuju kamar utama.

Dia menutup pintu kayu itu dengan rapat, menguncinya dari dalam seolah papan rapuh tersebut bisa melindunginya dari amukan yang akan segera datang.

Ronan yang baru saja hendak melangkah ke area dapur menghentikan langkah kakinya tepat di pembatas ruangan. Dia menatap pintu kamar yang baru saja tertutup rapat dengan dahi berkerut, lalu beralih menatap lantai dapur yang kacau oleh tumpahan sup.

Di sudut ruang tengah, Matt berdiri kaku dengan mainan kayu di genggamannya. Mata bulat anak itu mulai berkaca-kaca, memancarkan ketakutan yang begitu masif.

Pria itu menghela napas berat, mencoba meredam denyut nyeri yang mendadak menyerang pelipisnya lagi. Dia berjalan mendekat, lalu berjongkok di hadapan Matt untuk menyamakan tinggi mereka agar anak itu tidak merasa terintimidasi oleh postur tubuhnya yang besar.

"Ayah...." panggil Matt pelan, suaranya berupa cicitan lirih yang bergetar.

"Ya?" Ronan menyahut selembut mungkin, melunakkan tatapan matanya yang tajam.

"Jangan... marahi... mama," ucap Matt agak terbata, jemari kecilnya meremas ujung bajunya sendiri dengan erat.

Ronan memejamkan matanya sesaat untuk menahan segala pikiran dan emosi liar yang mendadak bergejolak hebat di dalam dadanya. Dia menelan ludah dengan susah payah, merasakan sesak yang aneh di balik tulang rusuknya.

Begitu ternyata. Pola asuh macam apa yang dilemparkan pria ini kepada keluarganya dulu?

"Apa ayah sering marah pada mama?" tanya Ronan pelan, menatap lurus ke dalam manik mata jernih anak itu.

Matt mengangguk kecil tanpa ragu. Lalu, wajah ketakutan yang pernah Ronan lihat di bangsal rumah sakit seminggu lalu itu muncul kembali dengan begitu jelas. Anak ini bahkan tidak berani menatap dadanya yang bidang.

Ibunya, lalu anaknya, batin Ronan. Ia merasa sangat terganggu, muak, sekaligus jijik dengan kenyataan tentang masa lalu sosok 'Alex Wilmington'

"Jadi kau menangis karena kau takut ayah memarahi mama?" Ronan berusaha mengeluarkan suara selembut mungkin, menahan sekuat tenaga gejolak amarah di dalam kepalanya.

Melihat Matt kembali mengangguk lagi dengan mata yang basah, Ronan meringis tipis di dalam hati. Iblis sialan, umpatnya kasar, mengutuk habis-habisan sosok Alex asli yang kini entah membusuk di mana.

"Apa kau percaya jika ayah bilang... ayah tidak akan memarahi mama?" tanya Ronan lagi pada Matt.

Anehnya, Matt tidak butuh waktu lama untuk langsung mengangguk kecil. Anak itu seolah bisa merasakan perbedaan besar dari intonasi suara dan ketulusan yang terpancar dari pria di hadapannya sekarang.

Ronan sempat terpana dengan gestur polos dan kepercayaan instan yang diberikan Matt. Perlahan, dia menjulurkan tangannya yang besar dan penuh kapalan untuk mengelus rambut halus anak itu dengan penuh kehati-hatian.

Dia cukup terhibur dengan anggukan percaya dari Matt, setidaknya hal kecil itu bisa sedikit meredam emosi liar yang berkecamuk di dalam kepalanya sendiri.

"Pintar. Sekarang, Matt tidur ya? Biar Ayah yang bereskan dapur," bisik Ronan hangat.

Dengan sabar, Ronan menuntun Matt ke ranjang kecilnya di sudut ruangan yang beralaskan kain katun tipis. Dia menyelimuti tubuh mungil itu hingga sebatas dada, lalu menepuk-nepuk bahunya pelan dengan ritme yang konstan, sampai napas anak itu mulai beraturan dan kedua kelopak matanya terpejam sepenuhnya.

Menidurkan Matt ternyata tidak sesulit yang dia bayangkan; anak itu seolah sudah sangat lama merindukan sentuhan tenang dan usapan lembut dari seorang figur ayah.

Setelah memastikan Matt terlelap dan membersihkan seluruh sisa pecahan piring serta kuah sup di lantai dapur hingga bersih, Ronan berjalan pelan mendekati kamar utama. Langkah kakinya sengaja dibuat seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara berisik yang bisa menambah kepanikan wanita di dalam.

Ia mengetuk pintu kayu tua itu dua kali dengan pelan sebelum akhirnya memutar kenopnya yang longgar. Pintu terbuka tanpa hambatan karena Nora ternyata lupa mengunci selotnya dengan benar akibat terlalu panik.

Di dalam kamar yang temaram dan hanya diterangi cahaya rembulan yang menembus celah jendela, Nora duduk menyendiri di tepi ranjang. Kedua lututnya ditekuk erat ke dada, menyembunyikan wajahnya di sana seolah ingin menghilang dari dunia.

Bahunya tampak naik turun, terguncang hebat oleh isak tangis yang berusaha dia redam sekuat tenaga agar tidak terdengar sampai ke luar kamar. Dia masih mengira bahwa malam ini, dia akan kembali menerima pukulan, makian, atau kurungan di bawah tanah yang biasa dia dapatkan setiap kali melakukan kesalahan kecil.

Ronan melangkah masuk dengan sangat pelan, menutup pintu di belakangnya tanpa menimbulkan suara yang mengejutkan. Pria itu berjalan mendekat, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di sisi kasur yang kosong, tepat di samping wanita yang sedang gemetar hebat itu.

Merasakan kasur yang bergerak turun dan amblas karena bobot tubuh Ronan yang berat, Nora langsung mendongak dengan wajah yang kacau. Mata hijau jernihnya tampak basah, merah, dan dipenuhi binar kepasrahan yang menyedihkan.

"Alex... maaf. Aku sungguh tidak sengaja memecahkannya. Tolong... jangan kurung aku lagi..." rintih Nora bersiap untuk menerima hal terburuk.

"Nora,"

"Lihat aku. Tenanglah."

Nora menatap wajah pucat dengan potongan rambut pendek di hadapannya. Dia mencari-cari kilat kegilaan, kemarahan, atau kekejaman yang biasa terpancar dari suaminya yang dulu, namun dia tidak menemukan apa pun di dalam mata hitam Ronan.

Yang ada hanyalah ketenangan pekat yang menghanyutkan.

Perlahan dan tanpa paksaan, Ronan mengulurkan kedua lengan kokohnya ke depan. Dia menarik tubuh Nora yang ringkih dan gemetar itu ke dalam dekapannya yang hangat.

Nora sempat menegang kaku selama beberapa detik, namun kehangatan dada bidang Ronan serta usapan lembut yang perlahan bergerak di punggungnya perlahan-lahan meruntuhkan benteng pertahanan trauma wanita itu.

Nora akhirnya menyerah. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria itu, membiarkan tangis ketakutannya tumpah sepenuhnya di sana tanpa kata.

Ronan tidak protes, dia juga tidak menyela. Dia membiarkan wanita itu menumpahkan seluruh beban trauma dan ketakutannya terlebih dahulu di dalam pelukannya.

Setelah beberapa menit berlalu dan isakan Nora mulai mereda menjadi helaan napas yang teratur, Ronan mengurai pelukan mereka dengan perlahan.

Ibu jarinya yang kasar bergerak lembut menyeka sisa air mata di pipi Nora, lalu beralih mendongakkan dagu wanita itu sedikit ke atas, memaksa sepasang mata hijau indah itu untuk kembali menatapnya langsung.

Tanpa berkata apa-apa lagi, seolah kata-kata hanya akan merusak keheningan yang intim itu, Ronan memajukan wajahnya.

Bibirnya menyentuh bibir Nora dengan sebuah kecupan yang teramat lembut, seolah sedang menyalurkan rasa penyesalan yang mendalam atas segala rasa sakit yang pernah wanita itu rasakan selama ini.

Ciuman itu awalnya terasa lambat, hati-hati, dan menenangkan, namun perlahan-lahan berubah menjadi tuntutan.

“Ah..”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Palsuku   Bab 6 Lahir Kembali

    Nora terkejut mendengar desahannya sendiri. Dia tersadar diantara kemelut perasaannya. Dia tidak mau melakukan ini. Tidak dengan pria yang tidak pernah dia kenal ini. Tapi disisi lain, Nora tidak mampu menolak. Dia terlalu takut. Nora memejamkan matanya, menghitung dalam hati -seperti hari-hari yang lalu saat suaminya melakukan itu padanya. Berharap semuanya segera berlalu. Sedang Ronan dia tidak menyadari perasaan Nora. Pikirannya tertutup kabut. Bibir kering Nora menggelitik kulit bibirnya. Membangunkan naluri alami Ronan sebagai dominan. Ia ingin lebih. Tangan besarnya memeluk pinggang Nora untuk mendekatkan tubuh mereka. Hingga perut besar Nora memberinya alarm. Ronan membuka matanya, menatap mata hijau berair yang menatapnya nanar. Tidak ada air mata yang mengalir. Hanya tatapan menyerah yang kerap Ronan lihat di mata Nora. Dada Ronan mencelos. Dia menelan ludahnya yang terasa pahit. Ronan merasa bodoh. Bagaimana dia bisa melakukan itu pada Nora. Padahal dia sudah berja

  • Suami Palsuku   Bab 5 Rumah

    Denting pecahan piring yang menghantam lantai kayu dapur terdengar begitu nyaring, memutus keheningan sore itu dengan kejam. Nora berdiri terpaku di tempatnya, menatap potongan keramik yang berserakan di dekat ujung kakinya bersama dengan kuah sup hangat yang tumpah seadanya. Napasnya mendadak tersengal, memburu cepat seiring dengan rasa panik yang merayap naik dari dada dan mencekik tenggorokannya seketika. Suara pecahan benda. Bagi Nora, itu bukanlah sekadar kecelakaan dapur biasa, melainkan sebuah melodi pembuka dari siksaan yang sudah sangat hafal di luar kepala. Sebelum Ronan sempat melangkah masuk ke dapur untuk memeriksa apa yang terjadi, trauma lima tahun terakhir telanjur mengambil alih seluruh kesadaran Nora. Tubuhnya bergetar hebat sampai ke ujung jari. Tanpa memikirkan perut buncitnya yang terasa besar dan berat, wanita itu langsung berbalik dan berlari setengah panik menuju kamar utama. Dia menutup pintu kayu itu dengan rapat, menguncinya dari dalam seolah papa

  • Suami Palsuku   Bab 4 Seorang Suami

    Banyak pekerjaan yang harus Ronan lakukan sejak dia terbangun dini hari. Yang pertama kali dia kerjakan adalah bagian dalam rumah. Dia mengeluarkan sofa lusuh dan karpet compang-camping dibawah sofa. Menanggalkan gorden lusuh. Membersihkan perapian, membersihkan dapur. Dan terakhir mengepel lantai. Dia masuk ke kamar tempat uang dan pergi pagi sekali sambil membawa gerobak. Membeli karpet baru, beberapa selimut, kain linen dan gorden. Ronan mampir ke toko roti sebelum pulang. Membeli roti dan kue kering manis untuk Matt. Tidak lupa memesan sofa baru dan kursi goyang untuk Nora. Lalu pulang, meninggalkan rumor di seluruh desa. Kalau tuan Wilmington akhirnya menampakkan dirinya. Ronan sampai dirumah saat Matt sedang dimandikan. Nora tidak banyak bereaksi saat Ronan datang. Nora bahkan tidak banyak bicara saat Ronan menggelar karpet baru dan memasang gorden. "Aku membeli selimut dan kain linen baru. Sofa juga akan diantar ke rumah ini," Ronan mengumumkan pada Nora. Matanya menjel

  • Suami Palsuku   Bab 3 Terbangun

    Hari pertama berjalan dengan ketegangan yang merayap di setiap sudut rumah. Ronan, mencoba membantu sebisanya—mengambilkan air dari sumur luar atau sekadar memindahkan kotak kayu yang berat—meski kepalanya terkadang masih berdenyut hebat. Setiap kali pria itu bergerak mendekat, Nora dan Matt secara refleks akan langsung menjauh, menciptakan jarak aman yang tak kasatmata namun sangat terasa bagi Ronan. "Nora," panggil Ronan saat hari mulai beranjak sore. Dia berdiri di ambang pintu dapur, menatap Nora yang sedang memotong sayuran dengan gerakan kaku. "Apa biasanya aku... sekasar itu pada kalian?" Pertanyaan tiba-tiba itu membuat pisau di tangan Nora nyaris meleset mengenai jarinya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar di suaranya sebelum mendongak menatap sepasang mata hitam yang kini memancarkan rasa bersalah yang teramat dalam. "Kenapa tanya begitu?" Nora balik bertanya, nadanya datar tanpa emosi. Ronan menunduk, menatap telapak tangannya sendiri ya

  • Suami Palsuku   Bab 2 Pria Misterius

    Semua bermula dari kebohongan yang tidak sengaja Nora tebar di koridor rumah sakit semalam. Pria itu, Ronan, kini benar-benar percaya bahwa dirinya adalah Alex Wilmington—seorang suami abai dan ayah dari anak yang bahkan tidak mengenali wajahnya sendiri. Amnesia sialan itu telah menghapus identitasnya, menyisakan seorang pria linglung yang mendadak diserahi tanggung jawab atas sebuah keluarga miskin yang hancur berantakan. Nora melangkah mundur selangkah. Debaran di dadanya kian menggila saat mata hitam Ronan kembali mengunci tatapannya dari balik tubuh mungil Matt yang berada di dekapannya. "Dia... tidak mengingat apa pun, Dokter?" Nora memastikan sekali lagi. Suaranya bergetar tipis, sengaja dia samarkan sebagai bentuk rasa syok seorang istri yang terpukul. Dokter Pedro mengangguk pelan sembari merapikan catatan medis di tangannya. "Sama sekali tidak, Nyonya Wilmington. Cedera di kepalanya cukup parah akibat benturan itu. Untuk sementara, bawa dia pulang ke rumah. Lingkunga

  • Suami Palsuku   Bab 1

    "Kamu... istriku?" Nora mematung di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu seperti terkunci. Pertanyaan itu lolos dari bibir pucat pria itu begitu saja, tanpa keraguan, meluncur bersama napasnya yang berat. Ruangan yang sedari tadi pengap oleh bau obat-obatan mendadak terasa makin menghimpit dada Nora, membuatnya kesusahan untuk sekadar menarik oksigen. Pria itu... amnesia? Akal sehat Nora menjeritkan alarm bahaya. Ia ingin berteriak, menggeleng, atau mengatakan yang sebenarnya bahwa pria di ranjang itu adalah orang asing yang malam tadi datang seperti malaikat maut untuk suaminya. Namun, tatapan Ronan mengunci pergerakannya. Sepasang mata elang yang malam lalu terlihat begitu dingin dan mematikan di bawah guyuran hujan, kini menatapnya dengan binar yang sama sekali berbeda. Ada rasa bingung yang kentara di sana, bercampur dengan setitik rasa bersalah yang amat dalam. Sebelum Nora sempat bersuara untuk meluruskan—atau entah memperpanjang kebohongan yang telanjur bergu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status