LOGINBanyak pekerjaan yang harus Ronan lakukan sejak dia terbangun dini hari. Yang pertama kali dia kerjakan adalah bagian dalam rumah. Dia mengeluarkan sofa lusuh dan karpet compang-camping dibawah sofa. Menanggalkan gorden lusuh. Membersihkan perapian, membersihkan dapur. Dan terakhir mengepel lantai.
Dia masuk ke kamar tempat uang dan pergi pagi sekali sambil membawa gerobak. Membeli karpet baru, beberapa selimut, kain linen dan gorden. Ronan mampir ke toko roti sebelum pulang. Membeli roti dan kue kering manis untuk Matt. Tidak lupa memesan sofa baru dan kursi goyang untuk Nora. Lalu pulang, meninggalkan rumor di seluruh desa. Kalau tuan Wilmington akhirnya menampakkan dirinya. Ronan sampai dirumah saat Matt sedang dimandikan. Nora tidak banyak bereaksi saat Ronan datang. Nora bahkan tidak banyak bicara saat Ronan menggelar karpet baru dan memasang gorden. "Aku membeli selimut dan kain linen baru. Sofa juga akan diantar ke rumah ini," Ronan mengumumkan pada Nora. Matanya menjelajahi isi rumah. "Apa aku harus mengecat ulang dinding juga?" gumam Ronan lebih pada dirinya sendiri. Matt yang baru mandi dan masih basah berlari ke arah Ronan. Ronan dengan sigap menangkapnya. "Kenapa berlari?" tanya Ronan. Menggendong anak balita itu. Baju Ronan basah terkena air. "Kita juga sebenarnya tidak punya banyak handuk," ucap Nora tiba-tiba. Ronan melihat Nora. Gaun rumah yang istrinya pakai itu basah di beberapa bagian. Bagian kerahnya telah terlihat longgar, jika Nora menunduk Ronan bisa mengintip sedikit ke dalam bajunya. Perut Nora yang besar membuat kain gaun itu terlihat tipis. Pria itu memindahkan pandangannya ke tempat lain. Membawa Matt dan mengeringkan badan anak itu dengan handuk. "Dimana kita menyimpan baju anak-anak?" tanya Ronan pada Nora. Nora menunjuk laci kecil dekat dapur. Ronan mengernyit melihat laci itu. Siapa yang menyimpan baju di dapur? Pikirnya. Tapi tentu saja, rumah ini memang tidak biasa. Ronan menelan ludahnya getir dan membuka laci. Tidak banyak isinya disana. Ronan mengeluarkan celana panjang dan baju lengan panjang anaknya. Dan memakaikannya dengan usaha cukup keras. Ronan melihat Matt yang tidak nyaman menarik bajunya yang kekecilan dengan kening yang mengernyit. Pandangannya beralih pada Nora. "Apa?" tanya Nora sadar dengan tatapan Ronan. Ronan menggelengkan kepalanya. Entah kenapa dia berpikir kalau diam adalah hal yang terbaik untuk saat ini. Dia lalu beranjak membawa sisir dan mulai menyisir rambut Matt. "Lihat apa yang ayah bawa," kata Ronan. Dia membawa bungkusan kertas dengan ukuran besar. Matt menatap bungkusan itu penasaran. "Apa itu?" tanya Matt. Mata hitam pria kecil berbinar menanti ayahnya membuka bungkusan itu. "Duduk disini," Ronan membawa Matt ke meja makan. Matt meletakan dua tangannya diatas meja dengan patuh. Ronan membuka bungkusan berisi roti dan kue kering. Membuat mata Matt membesar lucu. Matt menatap ayahnya. Antara penasaran dan kagum. Ronan tersenyum dan mengambil 1 kue kering, mematahkannya jadi bagian kecil. Dan menyuapi Matt. Mata Matt membulat, pipinya yang gembul bergerak naik turun saat dia mengunyah. "Ini. Ini lezat sekali," Matt merasa kagum dengan apa yang dia makan. Kue itu terasa manis dan lembut di mulutnya. Anak itu tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. "Kau suka?" tanya Ronan lembut. Pria kecil itu mengangguk bersemangat. Membuat senyum Ronan melebar. Lalu, pandangannya kembali kepada Nora. Istrinya sedang bergeming di tempatnya duduk tadi. "Nora kemarilah. Aku juga membelikanmu roti gandum dan mentega. Ah ... Dan selai arbei," ucap Ronan sambil menunjuk kaleng kaca cantik berisi selai arbei berwarna merah muda. Seperti terhipnotis, Nora berdiri berjalan ke arah Ronan. Tatapannya tidak lepas dari wajah Ronan. Membuat Ronan, anehnya merasa sedikit tersipu. "Kenapa menatap ku begitu?" tanya Ronan, tangannya sibuk mengolesi roti dengan selai Arbei. "Kau tersenyum," jawaban Nora menghentikan gerakan tangan Ronan. Ronan diam sejenak lalu melanjutkan kegiatannya. Dia merobek roti yang sudah berlumur selai itu dan tangannya terjulur menyuapi Nora. Tentu saja, Nora tidak lantas membuka mulutnya. Matanya memicing menatap tangan Ronan ke wajahnya. Ke tangannya lagi. "Ini pertama kalinya aku menyuapi mu?" tanya Ronan pelan. "Ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum selebar itu," jawab Nora. Matanya masih memincing curiga. Ronan tidak bisa membalas perkataan istrinya. Menghela napas pun sepertinya salah. Jadi dia hanya menurunkan tangannya dengan canggung. Ronan menyimpan roti yang dia olesi selai di atas piring. Lalu menyimpannya di depan Nora. Tanpa bicara dia menyiapkan 2 gelas susu hangat. Meletakkan di depan anak dan istrinya. "Kau juga selalu tersenyum saat bersama Matt. Aku rasa, aku sekarang mengerti alasannya. Entah dulu aku buta atau gila. Aku rasa keduanya," Ronan mengatakannya dengan diakhiri tawa getir. "Aku lebih gila lagi," gumam Nora pelan. Tentu saja Ronan bisa mendengarnya. "Makanlah rotinya, itu enak dan masih hangat." Nora akhirnya mengambil sesobek roti dan menjejalkannya ke dalam mulut. Saat roti yang lembut dan manis selai menyentuh lidahnya. Matanya sedikit membesar. Rasanya lezat sekali. Dia tidak tahu kalau ada selai semanis ini. . . . Brak! "Kau terluka?" tanya Ronan khawatir saat wanita itu tak sengaja menjatuhkan piring. Ia menunduk dan berjongkok membersihkan pecahan piring itu. Saat ia menatapnya. Yang dia lihat hanya wajah shock Nora. Istrinya yang entah kenapa mengucurkan keringat. "Nora ...."Nora terkejut mendengar desahannya sendiri. Dia tersadar diantara kemelut perasaannya. Dia tidak mau melakukan ini. Tidak dengan pria yang tidak pernah dia kenal ini. Tapi disisi lain, Nora tidak mampu menolak. Dia terlalu takut. Nora memejamkan matanya, menghitung dalam hati -seperti hari-hari yang lalu saat suaminya melakukan itu padanya. Berharap semuanya segera berlalu. Sedang Ronan dia tidak menyadari perasaan Nora. Pikirannya tertutup kabut. Bibir kering Nora menggelitik kulit bibirnya. Membangunkan naluri alami Ronan sebagai dominan. Ia ingin lebih. Tangan besarnya memeluk pinggang Nora untuk mendekatkan tubuh mereka. Hingga perut besar Nora memberinya alarm. Ronan membuka matanya, menatap mata hijau berair yang menatapnya nanar. Tidak ada air mata yang mengalir. Hanya tatapan menyerah yang kerap Ronan lihat di mata Nora. Dada Ronan mencelos. Dia menelan ludahnya yang terasa pahit. Ronan merasa bodoh. Bagaimana dia bisa melakukan itu pada Nora. Padahal dia sudah berja
Denting pecahan piring yang menghantam lantai kayu dapur terdengar begitu nyaring, memutus keheningan sore itu dengan kejam. Nora berdiri terpaku di tempatnya, menatap potongan keramik yang berserakan di dekat ujung kakinya bersama dengan kuah sup hangat yang tumpah seadanya. Napasnya mendadak tersengal, memburu cepat seiring dengan rasa panik yang merayap naik dari dada dan mencekik tenggorokannya seketika. Suara pecahan benda. Bagi Nora, itu bukanlah sekadar kecelakaan dapur biasa, melainkan sebuah melodi pembuka dari siksaan yang sudah sangat hafal di luar kepala. Sebelum Ronan sempat melangkah masuk ke dapur untuk memeriksa apa yang terjadi, trauma lima tahun terakhir telanjur mengambil alih seluruh kesadaran Nora. Tubuhnya bergetar hebat sampai ke ujung jari. Tanpa memikirkan perut buncitnya yang terasa besar dan berat, wanita itu langsung berbalik dan berlari setengah panik menuju kamar utama. Dia menutup pintu kayu itu dengan rapat, menguncinya dari dalam seolah papa
Banyak pekerjaan yang harus Ronan lakukan sejak dia terbangun dini hari. Yang pertama kali dia kerjakan adalah bagian dalam rumah. Dia mengeluarkan sofa lusuh dan karpet compang-camping dibawah sofa. Menanggalkan gorden lusuh. Membersihkan perapian, membersihkan dapur. Dan terakhir mengepel lantai. Dia masuk ke kamar tempat uang dan pergi pagi sekali sambil membawa gerobak. Membeli karpet baru, beberapa selimut, kain linen dan gorden. Ronan mampir ke toko roti sebelum pulang. Membeli roti dan kue kering manis untuk Matt. Tidak lupa memesan sofa baru dan kursi goyang untuk Nora. Lalu pulang, meninggalkan rumor di seluruh desa. Kalau tuan Wilmington akhirnya menampakkan dirinya. Ronan sampai dirumah saat Matt sedang dimandikan. Nora tidak banyak bereaksi saat Ronan datang. Nora bahkan tidak banyak bicara saat Ronan menggelar karpet baru dan memasang gorden. "Aku membeli selimut dan kain linen baru. Sofa juga akan diantar ke rumah ini," Ronan mengumumkan pada Nora. Matanya menjel
Hari pertama berjalan dengan ketegangan yang merayap di setiap sudut rumah. Ronan, mencoba membantu sebisanya—mengambilkan air dari sumur luar atau sekadar memindahkan kotak kayu yang berat—meski kepalanya terkadang masih berdenyut hebat. Setiap kali pria itu bergerak mendekat, Nora dan Matt secara refleks akan langsung menjauh, menciptakan jarak aman yang tak kasatmata namun sangat terasa bagi Ronan. "Nora," panggil Ronan saat hari mulai beranjak sore. Dia berdiri di ambang pintu dapur, menatap Nora yang sedang memotong sayuran dengan gerakan kaku. "Apa biasanya aku... sekasar itu pada kalian?" Pertanyaan tiba-tiba itu membuat pisau di tangan Nora nyaris meleset mengenai jarinya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar di suaranya sebelum mendongak menatap sepasang mata hitam yang kini memancarkan rasa bersalah yang teramat dalam. "Kenapa tanya begitu?" Nora balik bertanya, nadanya datar tanpa emosi. Ronan menunduk, menatap telapak tangannya sendiri ya
Semua bermula dari kebohongan yang tidak sengaja Nora tebar di koridor rumah sakit semalam. Pria itu, Ronan, kini benar-benar percaya bahwa dirinya adalah Alex Wilmington—seorang suami abai dan ayah dari anak yang bahkan tidak mengenali wajahnya sendiri. Amnesia sialan itu telah menghapus identitasnya, menyisakan seorang pria linglung yang mendadak diserahi tanggung jawab atas sebuah keluarga miskin yang hancur berantakan. Nora melangkah mundur selangkah. Debaran di dadanya kian menggila saat mata hitam Ronan kembali mengunci tatapannya dari balik tubuh mungil Matt yang berada di dekapannya. "Dia... tidak mengingat apa pun, Dokter?" Nora memastikan sekali lagi. Suaranya bergetar tipis, sengaja dia samarkan sebagai bentuk rasa syok seorang istri yang terpukul. Dokter Pedro mengangguk pelan sembari merapikan catatan medis di tangannya. "Sama sekali tidak, Nyonya Wilmington. Cedera di kepalanya cukup parah akibat benturan itu. Untuk sementara, bawa dia pulang ke rumah. Lingkunga
"Kamu... istriku?" Nora mematung di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu seperti terkunci. Pertanyaan itu lolos dari bibir pucat pria itu begitu saja, tanpa keraguan, meluncur bersama napasnya yang berat. Ruangan yang sedari tadi pengap oleh bau obat-obatan mendadak terasa makin menghimpit dada Nora, membuatnya kesusahan untuk sekadar menarik oksigen. Pria itu... amnesia? Akal sehat Nora menjeritkan alarm bahaya. Ia ingin berteriak, menggeleng, atau mengatakan yang sebenarnya bahwa pria di ranjang itu adalah orang asing yang malam tadi datang seperti malaikat maut untuk suaminya. Namun, tatapan Ronan mengunci pergerakannya. Sepasang mata elang yang malam lalu terlihat begitu dingin dan mematikan di bawah guyuran hujan, kini menatapnya dengan binar yang sama sekali berbeda. Ada rasa bingung yang kentara di sana, bercampur dengan setitik rasa bersalah yang amat dalam. Sebelum Nora sempat bersuara untuk meluruskan—atau entah memperpanjang kebohongan yang telanjur bergu







