LOGINHari pertama berjalan dengan ketegangan yang merayap di setiap sudut rumah. Ronan, mencoba membantu sebisanya—mengambilkan air dari sumur luar atau sekadar memindahkan kotak kayu yang berat—meski kepalanya terkadang masih berdenyut hebat.
Setiap kali pria itu bergerak mendekat, Nora dan Matt secara refleks akan langsung menjauh, menciptakan jarak aman yang tak kasatmata namun sangat terasa bagi Ronan. "Nora," panggil Ronan saat hari mulai beranjak sore. Dia berdiri di ambang pintu dapur, menatap Nora yang sedang memotong sayuran dengan gerakan kaku. "Apa biasanya aku... sekasar itu pada kalian?" Pertanyaan tiba-tiba itu membuat pisau di tangan Nora nyaris meleset mengenai jarinya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar di suaranya sebelum mendongak menatap sepasang mata hitam yang kini memancarkan rasa bersalah yang teramat dalam. "Kenapa tanya begitu?" Nora balik bertanya, nadanya datar tanpa emosi. Ronan menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang dipenuhi bekas luka lama. "Matt tidak mau menatap mataku sama sekali sejak kita pulang dari rumah sakit. Dan kamu... kamu selalu gemetar setiap kali aku tidak sengaja berdiri terlalu dekat di belakangmu. Aku mungkin kehilangan ingatanku, tapi aku tidak buta untuk melihat ketakutan di mata kalian." Nora tersenyum getir di dalam hati. Tentu saja mereka takut. Pria di hadapannya ini adalah monster yang bisa mencabut nyawa orang dalam sekejap di tengah hutan berkabut. Namun, fakta bahwa Ronan mengira ketakutan itu bersumber dari kelakuan buruk ' Ronan Wilmington' yang asli, membuat Nora melihat celah aman untuk mempertahankan sandiwaranya. "Kamu... memang bukan suami atau ayah yang baik selama ini," ucap Nora pelan, memilih untuk mengatakan sebagian kebenaran tentang Ronan untuk memperkuat amnesia Ronan. "Kamu lebih sering mengurung kami, berteriak, dan tidak suka jika Matt membuat suara bising di dekatmu." Mendengar penuturan itu, rahang Ronan mengeras. Kilat kemarahan—bukan pada Nora, melainkan pada dirinya sendiri yang dia kira adalah Ronan—melintas cepat di matanya. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat, merasa sangat muak dengan sosok masa lalunya yang digambarkan oleh wanita itu. "Kalau begitu, aku minta maaf," ujar Ronan, suaranya terdengar sangat tulus dan berbobot, membuat Nora terpaku sesaat. Pria itu melangkah maju satu tapak, membuat Nora refleks menahan napas, namun Ronan segera berhenti saat menyadari reaksi defensif wanita itu. "Aku tidak ingat siapa aku dulu, tapi aku berjanji... aku tidak akan pernah menyentuh atau menyakiti kalian lagi seperti itu. Aku akan memperbaiki semuanya, Nora." Nora hanya bisa terdiam, menatap punggung tegap Ronan yang berbalik pergi meninggalkan dapur untuk kembali menemani Matt yang baru terbangun di ruang tengah. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Nora mendengar kata maaf yang sungguh-sungguh dari sosok yang menempati posisi suaminya. Ada rasa hangat yang aneh yang sempat menyusup ke dadanya, namun dengan cepat Nora menepisnya jauh-jauh. Dia tidak boleh lengah sedikit pun. Pria itu bukan suaminya. Dan kenyataan bahwa mereka kini hidup bersama di bawah satu atap hanyalah sebuah sandiwara berbahaya yang terpaksa dia mainkan demi melindungi senyuman Matt. ** Nora terdiam dengan anaknya di meja makan. Dia bingung. Sejak tadi, dia tidak tahu apa yang benar dan salah. Keputusan yang dia buat menjadikan pembunuh itu suaminya. Adalah keputusan gila yang berasal dari kepalanya yang sudah tidak waras. Entah itu insting bertahan hidup atau dia yang sudah menyerah untuk hidup. Nora terlonjak kaget saat melihat Ronan berjalan dari pintu itu. Ronan melewatinya menuju ruangan yang dilarang dimasuki oleh Nora. Dia mendobrak pintunya karena tidak tahu dimana dia menyimpan kunci kamar itu. Empat kali usaha dan pintu terbuka. Yang dilihat Ronan benar-benar mencegangkan. Berkantong-kantong koin emas dan perak. Perhiasan dan bahkan lukisan yang terlihat mahal ada di kamar itu. Dengan semua yang ada disini mereka bahkan bisa membangun rumah mewah. Kenapa dia menyimpannya? Untuk apa? "Nora ...." panggil Ronan pelan. "Bisa kau kemari sebentar?" Nora merasa gugup dengan perintah itu, dia menelan ludah dan menghampiri Ronan. Pria itu menatapnya dengan mata hitamnya yang jernih. "Apa kau tahu apa ini?" tanya Ronan hati-hati. "Hartamu?" Nora menjawab dengan nada bertanya. "Ini semua aku kumpulkan dari menjual madu?" tanya Ronan lagi. "Tidak. Itu sudah ada sejak pertama kita pindah kemari. Saat mabuk kau selalu bergumam akan pergi ke suatu tempat. Hanya itu yang aku tahu," Nora menatap Ronan dengan bimbang. "Kita berdua ... Jarang bicara satu sama lain," ucap Nora datar. "Lalu bagaimana kita bisa memiliki anak?" Ronan bertanya bukan tanpa alasan. Jika bicara satu sama lain saja adalah hal yang tidak biasa mereka lakukan, lalu bagaimana dengan hal lainnya. Dia menelan ludahnya merasa jijik dengan dirinya sendiri. Ronan menatap reaksi Nora. Istrinya itu mengatupkan bibirnya rapat. Wanita itu bahkan menggigit bibir bawahnya. Menelan ludahnya gugup. Menatapnya takut. Mendapatkan jawaban dari pertanyaannya Ronan merasa sangat mual. Dorongan untuk memuntahkan isi perutnya sangat kuat. Ronan terburu berlari menuju pintu keluar dan akhirnya muntah di samping tumpukan kayu bakar. Perasaan jijik dan amarah yang mendominasi setiap kali dia mendapatkan jawaban atas sikap iblisnya. Dia tidak bisa melampiaskan semuanya. Yang dia bisa hanya meninju batang pohon yang masih belum dipotong. Sekali, dua kali, tiga kali hingga kepalan tangannya berdarah. Ronan merasa gusar saat Nora menyajikan makanan hanya untuknya dan hanya dia yang makan di meja makan. Sementara istri dan anaknya duduk dilantai. Dia beranjak dan mengangkat Matt lalu diikuti tatapan gugup Nora. Lalu dengan cekatan memangku istrinya yang hamil itu. "Apa yang kau lakukan!" Nora berteriak, tapi Ronan tidak menjawab. Dia mendudukkan Nora di kursi lalu menuju tungku. Menggoreng sosis dengan mentega seperti yang diinginkan Matt tadi. Anehnya hal itu tampak biasa dia lakukan. Mungkin tidak sepenuhnya dia tidak berguna. Ronan menyajikan sosis yang banyak di hadapan keluarganya. Matt menyambutnya dengan wajah bahagia. Dan berteriak mengangkat tangannya riang. Nora masih terlihat bingung. "Makanlah. Ini perintah," ucap Ronan pada istrinya yang entah kenapa langsung bereaksi. Nora langsung memakan sosis itu dengan terburu. Tidak peduli jika sosis itu panas dan membakar lidahnya. Membuat Ronan semakin frustasi. Ronan menahan tangan Nora. Mengunci mata hijau Nora dengan tatapan sendu. "Mulai sekarang dan seterusnya. Kau dan Matt akan tidur di kamar itu." Nora hanya diam saat Ronan mengatakan kalimat panjang itu. Dia membasahi bibir bawahnya dengan gugup. "Bagaimana ... bagaimana kalau kau tiba-tiba ingat dan marah karena kau melakukan hal itu?" gumam Nora datar. Nora tahu, jika laki-laki ini ingat kembali masalalunya. Hal yang pertama kali dia lakukan mungkin membunuhnya. Menguburnya di dalam hutan. Tapi tetap saja, sisi otaknya yang lain menganggap laki-laki ini suaminya. Sesuatu yang aneh yang bahkan dia tidak tahu kenapa. "Bunuh saja aku kalau begitu atau minta tolong nyonya Maggie, tuan Thomas, dokter Pedro. Siapa saja agar mereka menjebloskan ku ke penjara, Nora." Ada nada frustasi yang terdengar dalam suara Ronan. "Setiap kali ...." Ronan menelan ludahnya. "Setiap kali aku sadar kalau aku adalah iblis, aku ...." Dia menghela napas. "Aku merasa marah. Entah pada siapa." Ronan menutup matanya. Dia tidak berharap kalau Nora mengerti apa yang jadi pergulatan dalam pikirannya. Dia hanya ingin menjelaskan bahwa dia paham tentang kondisi rumah tangga mereka. Tapi disisi lain dia ingin dan berharap bisa merubahnya. Entah dia mampu atau tidak. "Tidurlah, ini sudah malam," ucap Ronan akhirnya. Dia mengelus rambut Nora pelan lalu melengang keluar.Nora terkejut mendengar desahannya sendiri. Dia tersadar diantara kemelut perasaannya. Dia tidak mau melakukan ini. Tidak dengan pria yang tidak pernah dia kenal ini. Tapi disisi lain, Nora tidak mampu menolak. Dia terlalu takut. Nora memejamkan matanya, menghitung dalam hati -seperti hari-hari yang lalu saat suaminya melakukan itu padanya. Berharap semuanya segera berlalu. Sedang Ronan dia tidak menyadari perasaan Nora. Pikirannya tertutup kabut. Bibir kering Nora menggelitik kulit bibirnya. Membangunkan naluri alami Ronan sebagai dominan. Ia ingin lebih. Tangan besarnya memeluk pinggang Nora untuk mendekatkan tubuh mereka. Hingga perut besar Nora memberinya alarm. Ronan membuka matanya, menatap mata hijau berair yang menatapnya nanar. Tidak ada air mata yang mengalir. Hanya tatapan menyerah yang kerap Ronan lihat di mata Nora. Dada Ronan mencelos. Dia menelan ludahnya yang terasa pahit. Ronan merasa bodoh. Bagaimana dia bisa melakukan itu pada Nora. Padahal dia sudah berja
Denting pecahan piring yang menghantam lantai kayu dapur terdengar begitu nyaring, memutus keheningan sore itu dengan kejam. Nora berdiri terpaku di tempatnya, menatap potongan keramik yang berserakan di dekat ujung kakinya bersama dengan kuah sup hangat yang tumpah seadanya. Napasnya mendadak tersengal, memburu cepat seiring dengan rasa panik yang merayap naik dari dada dan mencekik tenggorokannya seketika. Suara pecahan benda. Bagi Nora, itu bukanlah sekadar kecelakaan dapur biasa, melainkan sebuah melodi pembuka dari siksaan yang sudah sangat hafal di luar kepala. Sebelum Ronan sempat melangkah masuk ke dapur untuk memeriksa apa yang terjadi, trauma lima tahun terakhir telanjur mengambil alih seluruh kesadaran Nora. Tubuhnya bergetar hebat sampai ke ujung jari. Tanpa memikirkan perut buncitnya yang terasa besar dan berat, wanita itu langsung berbalik dan berlari setengah panik menuju kamar utama. Dia menutup pintu kayu itu dengan rapat, menguncinya dari dalam seolah papa
Banyak pekerjaan yang harus Ronan lakukan sejak dia terbangun dini hari. Yang pertama kali dia kerjakan adalah bagian dalam rumah. Dia mengeluarkan sofa lusuh dan karpet compang-camping dibawah sofa. Menanggalkan gorden lusuh. Membersihkan perapian, membersihkan dapur. Dan terakhir mengepel lantai. Dia masuk ke kamar tempat uang dan pergi pagi sekali sambil membawa gerobak. Membeli karpet baru, beberapa selimut, kain linen dan gorden. Ronan mampir ke toko roti sebelum pulang. Membeli roti dan kue kering manis untuk Matt. Tidak lupa memesan sofa baru dan kursi goyang untuk Nora. Lalu pulang, meninggalkan rumor di seluruh desa. Kalau tuan Wilmington akhirnya menampakkan dirinya. Ronan sampai dirumah saat Matt sedang dimandikan. Nora tidak banyak bereaksi saat Ronan datang. Nora bahkan tidak banyak bicara saat Ronan menggelar karpet baru dan memasang gorden. "Aku membeli selimut dan kain linen baru. Sofa juga akan diantar ke rumah ini," Ronan mengumumkan pada Nora. Matanya menjel
Hari pertama berjalan dengan ketegangan yang merayap di setiap sudut rumah. Ronan, mencoba membantu sebisanya—mengambilkan air dari sumur luar atau sekadar memindahkan kotak kayu yang berat—meski kepalanya terkadang masih berdenyut hebat. Setiap kali pria itu bergerak mendekat, Nora dan Matt secara refleks akan langsung menjauh, menciptakan jarak aman yang tak kasatmata namun sangat terasa bagi Ronan. "Nora," panggil Ronan saat hari mulai beranjak sore. Dia berdiri di ambang pintu dapur, menatap Nora yang sedang memotong sayuran dengan gerakan kaku. "Apa biasanya aku... sekasar itu pada kalian?" Pertanyaan tiba-tiba itu membuat pisau di tangan Nora nyaris meleset mengenai jarinya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar di suaranya sebelum mendongak menatap sepasang mata hitam yang kini memancarkan rasa bersalah yang teramat dalam. "Kenapa tanya begitu?" Nora balik bertanya, nadanya datar tanpa emosi. Ronan menunduk, menatap telapak tangannya sendiri ya
Semua bermula dari kebohongan yang tidak sengaja Nora tebar di koridor rumah sakit semalam. Pria itu, Ronan, kini benar-benar percaya bahwa dirinya adalah Alex Wilmington—seorang suami abai dan ayah dari anak yang bahkan tidak mengenali wajahnya sendiri. Amnesia sialan itu telah menghapus identitasnya, menyisakan seorang pria linglung yang mendadak diserahi tanggung jawab atas sebuah keluarga miskin yang hancur berantakan. Nora melangkah mundur selangkah. Debaran di dadanya kian menggila saat mata hitam Ronan kembali mengunci tatapannya dari balik tubuh mungil Matt yang berada di dekapannya. "Dia... tidak mengingat apa pun, Dokter?" Nora memastikan sekali lagi. Suaranya bergetar tipis, sengaja dia samarkan sebagai bentuk rasa syok seorang istri yang terpukul. Dokter Pedro mengangguk pelan sembari merapikan catatan medis di tangannya. "Sama sekali tidak, Nyonya Wilmington. Cedera di kepalanya cukup parah akibat benturan itu. Untuk sementara, bawa dia pulang ke rumah. Lingkunga
"Kamu... istriku?" Nora mematung di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu seperti terkunci. Pertanyaan itu lolos dari bibir pucat pria itu begitu saja, tanpa keraguan, meluncur bersama napasnya yang berat. Ruangan yang sedari tadi pengap oleh bau obat-obatan mendadak terasa makin menghimpit dada Nora, membuatnya kesusahan untuk sekadar menarik oksigen. Pria itu... amnesia? Akal sehat Nora menjeritkan alarm bahaya. Ia ingin berteriak, menggeleng, atau mengatakan yang sebenarnya bahwa pria di ranjang itu adalah orang asing yang malam tadi datang seperti malaikat maut untuk suaminya. Namun, tatapan Ronan mengunci pergerakannya. Sepasang mata elang yang malam lalu terlihat begitu dingin dan mematikan di bawah guyuran hujan, kini menatapnya dengan binar yang sama sekali berbeda. Ada rasa bingung yang kentara di sana, bercampur dengan setitik rasa bersalah yang amat dalam. Sebelum Nora sempat bersuara untuk meluruskan—atau entah memperpanjang kebohongan yang telanjur bergu







