Home / Romansa / Suami Palsuku / Bab 3 Terbangun

Share

Bab 3 Terbangun

Author: Ayuu
last update publish date: 2026-05-05 21:22:33

Hari pertama berjalan dengan ketegangan yang merayap di setiap sudut rumah. Ronan, mencoba membantu sebisanya—mengambilkan air dari sumur luar atau sekadar memindahkan kotak kayu yang berat—meski kepalanya terkadang masih berdenyut hebat.

Setiap kali pria itu bergerak mendekat, Nora dan Matt secara refleks akan langsung menjauh, menciptakan jarak aman yang tak kasatmata namun sangat terasa bagi Ronan.

"Nora," panggil Ronan saat hari mulai beranjak sore. Dia berdiri di ambang pintu dapur, menatap Nora yang sedang memotong sayuran dengan gerakan kaku. "Apa biasanya aku... sekasar itu pada kalian?"

Pertanyaan tiba-tiba itu membuat pisau di tangan Nora nyaris meleset mengenai jarinya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar di suaranya sebelum mendongak menatap sepasang mata hitam yang kini memancarkan rasa bersalah yang teramat dalam.

"Kenapa tanya begitu?" Nora balik bertanya, nadanya datar tanpa emosi.

Ronan menunduk, menatap telapak tangannya sendiri yang dipenuhi bekas luka lama.

"Matt tidak mau menatap mataku sama sekali sejak kita pulang dari rumah sakit. Dan kamu... kamu selalu gemetar setiap kali aku tidak sengaja berdiri terlalu dekat di belakangmu. Aku mungkin kehilangan ingatanku, tapi aku tidak buta untuk melihat ketakutan di mata kalian."

Nora tersenyum getir di dalam hati. Tentu saja mereka takut. Pria di hadapannya ini adalah monster yang bisa mencabut nyawa orang dalam sekejap di tengah hutan berkabut.

Namun, fakta bahwa Ronan mengira ketakutan itu bersumber dari kelakuan buruk ' Ronan Wilmington' yang asli, membuat Nora melihat celah aman untuk mempertahankan sandiwaranya.

"Kamu... memang bukan suami atau ayah yang baik selama ini," ucap Nora pelan, memilih untuk mengatakan sebagian kebenaran tentang Ronan untuk memperkuat amnesia Ronan.

"Kamu lebih sering mengurung kami, berteriak, dan tidak suka jika Matt membuat suara bising di dekatmu."

Mendengar penuturan itu, rahang Ronan mengeras. Kilat kemarahan—bukan pada Nora, melainkan pada dirinya sendiri yang dia kira adalah Ronan—melintas cepat di matanya. Dia mengepalkan tangan kuat-kuat, merasa sangat muak dengan sosok masa lalunya yang digambarkan oleh wanita itu.

"Kalau begitu, aku minta maaf," ujar Ronan, suaranya terdengar sangat tulus dan berbobot, membuat Nora terpaku sesaat. Pria itu melangkah maju satu tapak, membuat Nora refleks menahan napas, namun Ronan segera berhenti saat menyadari reaksi defensif wanita itu.

"Aku tidak ingat siapa aku dulu, tapi aku berjanji... aku tidak akan pernah menyentuh atau menyakiti kalian lagi seperti itu. Aku akan memperbaiki semuanya, Nora."

Nora hanya bisa terdiam, menatap punggung tegap Ronan yang berbalik pergi meninggalkan dapur untuk kembali menemani Matt yang baru terbangun di ruang tengah.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Nora mendengar kata maaf yang sungguh-sungguh dari sosok yang menempati posisi suaminya. Ada rasa hangat yang aneh yang sempat menyusup ke dadanya, namun dengan cepat Nora menepisnya jauh-jauh.

Dia tidak boleh lengah sedikit pun.

Pria itu bukan suaminya.

Dan kenyataan bahwa mereka kini hidup bersama di bawah satu atap hanyalah sebuah sandiwara berbahaya yang terpaksa dia mainkan demi melindungi senyuman Matt.

**

Nora terdiam dengan anaknya di meja makan. Dia bingung. Sejak tadi, dia tidak tahu apa yang benar dan salah. Keputusan yang dia buat menjadikan pembunuh itu suaminya.

Adalah keputusan gila yang berasal dari kepalanya yang sudah tidak waras. Entah itu insting bertahan hidup atau dia yang sudah menyerah untuk hidup.

Nora terlonjak kaget saat melihat Ronan berjalan dari pintu itu. Ronan melewatinya menuju ruangan yang dilarang dimasuki oleh Nora. Dia mendobrak pintunya karena tidak tahu dimana dia menyimpan kunci kamar itu. Empat kali usaha dan pintu terbuka.

Yang dilihat Ronan benar-benar mencegangkan. Berkantong-kantong koin emas dan perak. Perhiasan dan bahkan lukisan yang terlihat mahal ada di kamar itu. Dengan semua yang ada disini mereka bahkan bisa membangun rumah mewah. Kenapa dia menyimpannya? Untuk apa?

"Nora ...." panggil Ronan pelan. "Bisa kau kemari sebentar?"

Nora merasa gugup dengan perintah itu, dia menelan ludah dan menghampiri Ronan. Pria itu menatapnya dengan mata hitamnya yang jernih.

"Apa kau tahu apa ini?" tanya Ronan hati-hati.

"Hartamu?" Nora menjawab dengan nada bertanya.

"Ini semua aku kumpulkan dari menjual madu?" tanya Ronan lagi.

"Tidak. Itu sudah ada sejak pertama kita pindah kemari. Saat mabuk kau selalu bergumam akan pergi ke suatu tempat. Hanya itu yang aku tahu," Nora menatap Ronan dengan bimbang.

"Kita berdua ... Jarang bicara satu sama lain," ucap Nora datar.

"Lalu bagaimana kita bisa memiliki anak?" Ronan bertanya bukan tanpa alasan. Jika bicara satu sama lain saja adalah hal yang tidak biasa mereka lakukan, lalu bagaimana dengan hal lainnya. Dia menelan ludahnya merasa jijik dengan dirinya sendiri.

Ronan menatap reaksi Nora. Istrinya itu mengatupkan bibirnya rapat. Wanita itu bahkan menggigit bibir bawahnya. Menelan ludahnya gugup. Menatapnya takut.

Mendapatkan jawaban dari pertanyaannya Ronan merasa sangat mual. Dorongan untuk memuntahkan isi perutnya sangat kuat. Ronan terburu berlari menuju pintu keluar dan akhirnya muntah di samping tumpukan kayu bakar. Perasaan jijik dan amarah yang mendominasi setiap kali dia mendapatkan jawaban atas sikap iblisnya.

Dia tidak bisa melampiaskan semuanya. Yang dia bisa hanya meninju batang pohon yang masih belum dipotong. Sekali, dua kali, tiga kali hingga kepalan tangannya berdarah.

Ronan merasa gusar saat Nora menyajikan makanan hanya untuknya dan hanya dia yang makan di meja makan. Sementara istri dan anaknya duduk dilantai. Dia beranjak dan mengangkat Matt lalu diikuti tatapan gugup Nora. Lalu dengan cekatan memangku istrinya yang hamil itu.

"Apa yang kau lakukan!" Nora berteriak, tapi Ronan tidak menjawab. Dia mendudukkan Nora di kursi lalu menuju tungku. Menggoreng sosis dengan mentega seperti yang diinginkan Matt tadi. Anehnya hal itu tampak biasa dia lakukan. Mungkin tidak sepenuhnya dia tidak berguna.

Ronan menyajikan sosis yang banyak di hadapan keluarganya. Matt menyambutnya dengan wajah bahagia. Dan berteriak mengangkat tangannya riang. Nora masih terlihat bingung.

"Makanlah. Ini perintah," ucap Ronan pada istrinya yang entah kenapa langsung bereaksi.

Nora langsung memakan sosis itu dengan terburu. Tidak peduli jika sosis itu panas dan membakar lidahnya. Membuat Ronan semakin frustasi. Ronan menahan tangan Nora. Mengunci mata hijau Nora dengan tatapan sendu.

"Mulai sekarang dan seterusnya. Kau dan Matt akan tidur di kamar itu."

Nora hanya diam saat Ronan mengatakan kalimat panjang itu. Dia membasahi bibir bawahnya dengan gugup.

"Bagaimana ... bagaimana kalau kau tiba-tiba ingat dan marah karena kau melakukan hal itu?" gumam Nora datar.

Nora tahu, jika laki-laki ini ingat kembali masalalunya. Hal yang pertama kali dia lakukan mungkin membunuhnya. Menguburnya di dalam hutan. Tapi tetap saja, sisi otaknya yang lain menganggap laki-laki ini suaminya. Sesuatu yang aneh yang bahkan dia tidak tahu kenapa.

"Bunuh saja aku kalau begitu atau minta tolong nyonya Maggie, tuan Thomas, dokter Pedro. Siapa saja agar mereka menjebloskan ku ke penjara, Nora." Ada nada frustasi yang terdengar dalam suara Ronan.

"Setiap kali ...." Ronan menelan ludahnya. "Setiap kali aku sadar kalau aku adalah iblis, aku ...." Dia menghela napas. "Aku merasa marah. Entah pada siapa." Ronan menutup matanya.

Dia tidak berharap kalau Nora mengerti apa yang jadi pergulatan dalam pikirannya. Dia hanya ingin menjelaskan bahwa dia paham tentang kondisi rumah tangga mereka. Tapi disisi lain dia ingin dan berharap bisa merubahnya. Entah dia mampu atau tidak.

"Tidurlah, ini sudah malam," ucap Ronan akhirnya. Dia mengelus rambut Nora pelan lalu melengang keluar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Palsuku   Bab 26 Pemburuan

    Ronan bersiap diatas pohon dengan senapannya. Disisi lain pohon yang sama Karl juga duduk dengan waspada. Jejak serigala akhirnya terlihat tak lama setelah mereka masuk ke dalam hutan. Jelas serigala itu selalu bergerak disana. Empat orang dari kelompok berburu membuat api unggun dibagian hutan yang lapang, empat lainnya naik ke atas pohon untuk berjaga. Karl tidak banyak mengoceh seperti biasanya. Ketegangan terlihat jelas dari wajah pria muda itu. Sedang Ronan anehnya merasa tenang. Peluru yang dia punya tidak banyak. Tapi entah kenapa dia yakin dia bisa berhasil berburu hewan buas itu. Di kejauhan, Ronan bisa melihat pergerakan hewan berbulu itu. Cara berjalan hewan itu terlihat sedang bersiap untuk berburu juga. Mengendap pelan tapi terlihat kuat. Dan sasaran hewan itu adalah kelompok pemburu yang menyalakan api. "Karl arah jam 2," ucap Ronan pelan. "Aku siap, sir," jawab Karl. Ronan membidikan senapannya ke arah target. Ronan mengintruksikan Karl menembak setelah dia menem

  • Suami Palsuku   Bab 25 Bunga Lili

    Di perjalan pulang, Ronan bertemu dengan nyonya Morton. Wanita paruh baya ramah itu memberinya bucket bunga lili putih. Nyonya Morton bilang dia sedang bosan dan membuatnya, tapi di rumahnya sudah banyak hiasan bunga. Jadi dia memberikan pada Ronan sebagai hadiah. Ronan tidak sampai hati menolak kebaikan nyonya Morton. Jadi dia menerima bunga itu. Berniat memberikan pada Nora. Memasuki pekarangan rumahnya, Ronan merasa heran. Kemana Matt? Biasanya dia akan ribut menyambut Ronan pulang. Bahkan saat memasuki rumahnya, tidak ada wangi makanan manis yang akhir-akhir ini selalu Nora buat. Rumahnya tampak lebih berantakan dari hari-hari kemarin. Nora sepertinya tidak membersihkan rumah hari ini. Di meja makan, piring bekas makan masih ada disana. Perubahan kecil yang membuat Ronan merasa gelisah. Ronan dengan spontan membuka pintu kamar Matt. Anak itu tidak ada disana. Lalu dengan perlahan membuka pintu kamarnya. Dan mendapati istri dan anaknya berbaring saling berpelukan diatas ranjang.

  • Suami Palsuku   Bab 24 Ingatan Matt

    "Matt apa kau bilang?" Suara Nora bergetar gugup, bagaimana dia tidak menyadarinya. Dia kira Matt tidak mengingat wajah ayah kandungnya. Bukan salah anak itu. Dia lah yang selama ini berdelusi. Dia yang berharap pria jahat itu tidak ada di ingatan anaknya. Nora mengangkat Matt dan memangkunya. Memeluknya erat. Menciumi wajah mungil Matt. Suara tawa Matt membuat Nora tenang. Dia membawa anaknya ke sofa. Masih memangkunya. Membelai rambut hitam Matt dengan sayang. "Matt... Kau tahu dia ayah baru?" tanya Nora hati-hati. Matt mengangguk. Mata hitam anak itu menatap ibunya polos. "Kau ingat wajah ayah yang lama?" Nora bertanya lagi. Dia berhasil membuat suaranya terdengar tenang di tengah ribut gemuruh hatinya.Matt mengangguk lagi, perlahan tatapan anak itu berubah. Pupilnya terlihat lebih gelap. Ekspresi cerianya menghilang. Tiba-tiba wajahnya terlihat ketakutan. "Dia tidak akan kembali kan mama?" bisik Matt. Mendengar itu hati Nora mencelos. Dia merasa bodoh karena baru menanyak

  • Suami Palsuku   Bab 23 Kau Mau?

    Desahan terdengar memecah kesunyian di dalam kamar kecil itu. Nora tidak sadar kapan mereka berpindah dari sofa dekat perapian ke ranjang mereka. Yang memenuhi kepala Nora hanya jejak panas bekas bibir Ronan di seluruh leher dan dadanya. Lebih panas, lebih intens daripada apa yang dia rasakan di bawah pohon asam tempo hari. Jawaban apa yang dia beri saat Ronan bertanya tadi? "Alex...." pekik Nora menyebut nama suaminya saat gaunnya tersingkap ke atas. Nora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa malu yang tiba-tiba menyadarkan tindakan agresifnya yang tidak bisa dia halau dengan logika. Apa yang dia lakukan? Lagi, dia terbawa arus, terjebak dalam gelombang yang menenggelamkan semua akal sehat yang tersisa di dalam kepalanya. Benda basah dan lembut yang menyentuh kulit diantara kakinya membuat Nora tersentak. Dengan spontan memundurkan pinggulnya menjauh, tapi tangan besar berurat Ronan membawanya kembali mendekat, menahannya untuk tidak bergerak.Di tengan erangan dan d

  • Suami Palsuku   Bab 22 Perapian

    Nora menghirup teh nya dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman pada sandaran sofa. Hawa hangat terasa dari perapian. Malam merayap lebih lambat hari ini. Baginya yang tidak memiliki kegiatan apapun selain merajut benang wol. Dari ujung matanya, dia menangkap Ronan baru keluar dari kamar Matt. Seperti biasa, anak balita itu tertidur dalam pangkuan ayahnya setiap malam. Seperti Nora, Matt pun pasti merasa aman dan nyaman berada dekat pria itu. "Kau melamun?" suara berat Ronan dan sentuhan telapak tangan kasar yang Nora rasakan di pipinya tidak membuatnya tersentak. Sebaliknya ada ketenangan yang menyusup perlahan ke sanubarinya. Hangat, seperti hawa perapian. "Tidak," jawab Nora singkat. Menunggu Ronan duduk disampingnya. "Bagaimana harimu?" tanya Ronan pelan. Tangannya dengan otomatis mengambil rambut terurai istrinya. Kebiasaan yang muncul akhir-akhir ini. "Entah kenapa terasa sangat lambat," Nora tidak melebihkan. Itu yang dia rasakan. Baginya waktu terasa lambat jik

  • Suami Palsuku   Bab 21 Kelompok Pemburu

    Kediaman Marquess Hildergar tidak semegah yang Ronan bayangkan. Kastil tua itu berdiri di tengah hutan. Jauh dari desa dan kediaman Ronan. Lebih sunyi dari tempat tinggalnya. Ronan mengikuti langkah Thomas. Mereka disambut beberapa pelayan -yang tampak sudah akrab dengan Thomas. Ronan masih mengikuti langkah Thomas dalam diam. Mereka menyusuri jalan dari gerbang besi besar ke arah pintu kastil. Panas terik matahari menyelimuti seluruh badan Ronan. Setetes keringan meluncur dari pelipisnya. Berbeda dengan atmosfer diluar kastil, di dalam kastil Ronan merasa panas matahari yang tadi dia rasa hilang bersama dengan angin yang menyertai langkah kakinya. Semakin Ronan melangkah, hawa dingin semakin dia rasakan. Dinding kastil dipenuhi ornamen kuno, dan lukisan. Di sepanjang lorong yang Ronan lintasi berjajar patung-patung tanah liat. Mereka menaiki tangga, hingga lanyai ke 4 -Ronan menghitung dalam diam. Sampai pelayan mereka berhenti di sebuah pintu kayu Mahogany berpelitur mewah."Si

  • Suami Palsuku   Bab 17 Datang

    Sebagian dari Ronan berharap Nora menolak. Agar akal sehatnya yang sudah tertutup kabut kembali jernih lagi. Agar dia bisa membangun batas itu lagi. Sedang di sisi lain, Nora sudah menyerah pada hasrat. Ia tahu bahwa keserakahan yang ada pada dirinya tumbuh semakin besar setiap waktu. Pria misteri

  • Suami Palsuku   Bab 16 Pohon Asam

    "Hai sayang... Ini ayah nak," suara Ronan bergetar saat mengucapkannya. Ia merasa sangat emosional. Ronan menelan ludahnya gugup. Dia menatap wajah Nora lagi. Dan lega karena tidak ada ketegangan yang terlihat disana. "Dia berhenti bergerak," ucap Ronan pelan. "Dia tertidur," jawab Nora diiringi

  • Suami Palsuku   Bab 11 Pangeran Lebah

    Nora melihat Ronan melambai dari gerbang rumah mereka. Senyum Ronan semakin lebar saat menangkap Matt yang berlari ke arahnya. Pria itu berjalan mendekat sambil memangku Matt. Nora -anehya- bisa menangkap sesuatu yang tidak biasa dari Ronan. Pandangan Nora menjelajahi suaminya itu. Keningnya berk

  • Suami Palsuku   Bab 7 Permen

    Ronan berjalan menelusuri jalanan desa. Membeli beberapa handuk baru. Dan masuk ke rumah penjahit. Wanita dengan tubuh gempal berwajah ramah menyambutnya dengan senyum. "Bisa saya bantu?" sambut wanita itu sopan. Membalas sapaan singkat Ronan yang membuka topi koboinya dan sedikit mengangguk.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status