LOGINLayar komputer di ruang kerja Alex memancarkan sinar biru yang tajam di tengah kegelapan malam. Dinding kaca penthouse yang memperlihatkan lanskap Jakarta yang gulita seolah menjadi saksi bisu keheningan yang mencekam. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga dini hari.
Aruna duduk di sofa panjang dengan tumpukan berkas keuangan yang tersebar di meja kopi, sementara Alex berada di balik meja kerjanya. Keduanya tak bersuara selama lebih dari dua jam terakhir. Hanya suara detikan jemariAlex baru saja duduk di dalam mobil ketika Aruna memasang sabuk pengaman di sampingnya. Setelah memastikan istrinya nyaman, Alex meraih tangannya sebentar sebelum mobil mulai bergerak meninggalkan lokasi penangkapan Adrian.“Capek?” tanyanya.“Sedikit, tapi aku lega semuanya sudah selesai.” Aruna membalas genggamannya, lalu tersenyum kecil. “Sekarang kamu tidak perlu lagi memikirkan Vandermeer setiap malam.”Alex mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. “Aku masih harus memastikan semua bukti ditangani dengan benar. Setelah itu, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu tanpa gangguan.”“Janji?” Aruna mengangkat alis, sengaja menggodanya.“Janji.” Alex mendekat dan mengecup keningnya sebelum kembali duduk tegak.Dari kursi depan, Dimas menoleh sebentar. “Kalau kalian sudah selesai bermesraan, saya punya kabar yang mungkin ingin kalian dengar.”Aruna terkekeh, sedangkan Alex hanya mengangkat alis. “Katakan.”“Saya baru menerima konfirmasi dari pihak berwenang. Dokumen tambahan sudah d
Gedung tua di pinggiran Jakarta itu masih berdiri seperti yang Alex ingat. Ia melangkah memasuki ruangan utama dengan ekspresi tenang, sementara dua orang penjaga membukakan pintu tanpa mengajukan pertanyaan. Di ujung ruangan, Adrian Vandermeer duduk di balik meja panjang, mengenakan setelan gelap dengan senyum tipis yang sama seperti bertahun-tahun lalu.“Kau akhirnya datang juga,” sambut Adrian sambil berdiri. “Aku mulai khawatir Hendra sudah mengajarimu terlalu banyak cara untuk menghindari masalah.”Alex berhenti beberapa langkah di hadapannya. “Jangan membawa nama ayah mertuaku ke dalam urusan kita.”Adrian tertawa kecil, lalu menuangkan minuman ke dalam gelas. “Kau masih sama. Selalu melindungi orang-orang yang kau anggap keluarga.” Ia mendorong satu gelas ke arah Alex. “Padahal, beaku yang membentukmu menjadi seperti sekarang.”Alex tidak menyentuh gelas itu. “Kau membantuku bertahan hidup. Aku tidak pernah menyangkalnya. Tapi itu tidak memberimu hak untuk mengatur hidupku sel
Pagi berikutnya, suasana penthouse terasa berbeda. Tidak ada kepanikan atau percakapan tergesa-gesa, tetapi sejak bangun Alex bergerak dengan kewaspadaan lebih tinggi. Ia memeriksa laporan keamanan gedung, memastikan akses lift pribadi yang hanya bisa digunakan penghuni terdaftar, lalu meminta petugas memperketat pemeriksaan terhadap siapa pun yang menemui Aruna.Aruna memperhatikan semua itu dari meja makan sambil menyeruput kopi. “Kamu benar-benar serius soal pesan Vandermeer semalam,” katanya.Alex menutup tablet setelah memeriksa laporan terakhir. “Aku serius karena dia tidak pernah mengancam tanpa menyiapkan cara untuk melakukannya.”“Dan apa rencanamu?” tanya Aruna.Alex menatapnya sejenak. “Membuat dia berhenti bermain dari balik layar.”Aruna meletakkan cangkirnya. “Kamu mau memancingnya?”“Bukan memancing.” Alex mengambil jas dari sandaran kursi. “Memberinya sesuatu yang membuat dia merasa sudah menang.”Aruna mengamati suaminya mengenakan jam tangan, lalu menggeleng pelan. “
Malam sudah cukup larut ketika Alex berdiri di depan jendela besar penthouse, memandangi lampu Jakarta yang berkilauan jauh di bawah sana. Ponselnya masih berada di tangannya, layar menampilkan nomor yang baru saja meneleponnya. Tidak ada nama, tidak ada identitas, tetapi Alex tidak membutuhkan keduanya untuk tahu siapa yang berada di balik panggilan itu.Vandermeer.Pria yang selama bertahun-tahun hanya hidup sebagai bagian dari masa lalu yang sengaja Alex tinggalkan, kini kembali setelah menyerang Hartawan Group dan memaksanya kehilangan jabatan. Semua itu, menurut Vandermeer, dilakukan demi satu tujuan.Mendapatkan Alex kembali.Alex menurunkan ponselnya perlahan ketika suara langkah terdengar dari arah ruang tengah. Aruna muncul sambil membawa dua cangkir kopi, tetapi langkahnya melambat begitu melihat ekspresi Alex yang berbeda dari biasanya.“Kamu bicara dengannya?” tanya Aruna, meletakkan salah satu cangkir di meja sebelum mendekat.Alex tidak langsung menjawab. Ia memasukkan p
Alex belum sempat meninggalkan lantai eksekutif ketika Dimas menyusulnya dari tangga darurat. Napas pria itu sedikit terengah, tetapi tangannya masih menggenggam tablet.Alex berhenti di dekat lift. “Kenapa kamu mengikuti saya?”Dimas memastikan tidak ada siapa pun di sekitar mereka sebelum menjawab pelan, “Karena saya berhasil menyelamatkan sebagian data sebelum akses saya ikut dibatasi.”Alex menatap tablet di tangan Dimas. “Tunjukkan.”Dimas membuka sebuah folder tersembunyi. “Saya salin melalui jalur lokal sebelum sistem memblokir beberapa akun.”Alex mengambil tablet tersebut dan membaca isi file satu per satu. Beberapa transaksi terlihat biasa, tetapi ada pola kedua yang tersembunyi di antara transaksi kecil.Alex langsung mengerutkan kening.Dimas memperhatikan perubahan wajahnya. “Ada sesuatu?”Alex menunjuk salah satu transaksi. “Lima puluh miliar bukan tujuan akhirnya.”Dimas mendekat. “Apa maksud Anda?”Alex memperbesar data tersebut. “Lihat jalur ini. Dana memang dipindahk
Pagi itu, suasana di lantai eksekutif Hartawan Group terasa jauh lebih tegang daripada biasanya. Beberapa staf berjalan cepat sambil membawa tablet dan berkas, sementara suara notifikasi dari ruang server terus terdengar sejak hampir satu jam terakhir.Di ruang server, Alex berdiri di depan layar utama bersama Dimas. Cahaya biru dari beberapa monitor memantul di wajah mereka, menampilkan deretan kode dan aktivitas jaringan yang bergerak terlalu cepat untuk dibaca oleh orang biasa.Dimas memperbesar salah satu jendela log sambil menunjuk bagian yang baru muncul. “Pak Alex, ada yang masuk ke server lama. Bukan dari jaringan kantor.”Alex langsung mendekat. Matanya menyapu deretan angka dan alamat jaringan yang muncul di layar. “Sejak kapan?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.Dimas mengetik beberapa perintah untuk menarik rekaman sebelumnya. “Sekitar empat puluh tujuh menit lalu. Awalnya hanya membaca data, tapi lima belas menit terakhir dia mulai menghapus jejak akses.”Alex mengamb







