Home / Romansa / Suami Perkasa / Aku Mencintaimu

Share

Aku Mencintaimu

last update Last Updated: 2025-09-25 18:19:27

---

Mobil hitam Carlos melaju meninggalkan panti pijat. Aroma darah dan minyak pijat masih membekas di udara, tapi di dalam mobil, suasana hening kecuali deru mesin yang berat. Mariana duduk di samping Carlos, wajahnya datar, tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa cemas.

Sesampainya dirumah,Carlos berdiri tegak di ruang tamu, tatapan matanya menusuk Mariana yang berdiri di depannya dengan kepala menunduk sedikit, tapi wajahnya tetap menantang. Elina duduk di sofa, tubuhnya gemetar, air matanya masih basah, menahan rasa takut sekaligus lega karena akhirnya bisa menceritakan semuanya. Suaranya pecah saat ia mulai berbicara, “Mas… semua ini… semua ini gara-gara Mariana… dia yang menyuruh aku ke panti pijat… katanya… katanya untuk… mengencangkan daerah kewanitaan…”

Mariana tersentak, bibirnya mengerucut, tapi tetap mencoba menatap Carlos dengan tajam. “Itu… itu demi kebaikanmu, Elina. Kau kan… mantan pelacur, dan aku tidak suka Mas menikah dengan cewek miskin, bekas pelacur!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Perkasa   Mimi

    Sebelumnya, Mariana sudah tahu ada yang tidak beres sejak pertama kali melihat foto anak Dinda di Nistagram.Anak itu bernama Mimi. Kecil, pipinya bulat, matanya besar dan hidup. Rambutnya hitam pekat, sedikit bergelombang. Tipe anak yang bikin orang refleks senyum saat melihatnya.Lucu. Terlalu lucu.Masalahnya bukan di kelucuannya.Masalahnya ada pada satu pikiran yang terus mengganggu kepala Mariana sejak scroll foto itu:“Kok nggak ada bule-bulenya sama sekali?”Padahal suami Dinda, Nick, bule Jerman tulen. Tinggi, putih, rambut terang, hidung tegas. Kombinasi yang secara genetika seharusnya muncul minimal satu ciri blasteran.Tapi Mimi?Kulit putih oriental. Rambut hitam lebat. Tatapan mata… sialnya mirip sekali dengan Edgar — suami Mariana.Bukan mirip sekilas.Mirip nggak sopan.Cara alisnya naik waktu tersenyum. Cara matanya menyipit sedikit kalau tertawa. Bahkan ekspresi bengalnya.Mariana berusaha menepis pikiran itu. Menuduh orang tanpa bukti itu gila. Tapi insting perempua

  • Suami Perkasa   DNA

    -- Edgar menatap amplop cokelat itu seperti menatap vonis. Tidak ada logo mencolok. Tidak ada tulisan dramatis. Hanya nama klinik dan satu kalimat kecil: Hasil Uji DNA – Rahasia Tangannya sempat gemetar ketika ia merobek tepinya. Bukan karena takut pada hasilnya—melainkan karena ia sudah tahu, jauh di dalam dirinya, apa yang akan tertulis. Ia membaca sekali. Lalu dua kali. Lalu duduk. Probabilitas hubungan biologis: 99,98%. Dunia tidak runtuh. Tidak ada petir. Tidak ada musik latar. Yang ada hanya dada Edgar yang terasa sesak, seolah udara tiba-tiba menjadi barang langka. Mimi. Anak itu… anaknya. Ia memejamkan mata. Wajah kecil itu muncul lagi—cara ia tersenyum malu-malu, cara ia memegang ujung baju ibunya. Cara ia memandang dunia tanpa tahu bahwa dunia orang dewasa terlalu sering berbohong. Edgar mengusap wajah. Napasnya berat. Ini bukan sekadar hasil tes. Ini adalah utang hidup karena kesalahan Edgar dimasa lalu. --- Mariana pulang lebih awal hari i

  • Suami Perkasa   Pemecatan

    Beberapa hari Kemudian. Dinda tidak berniat mengatakan apa pun hari itu. Ia datang ke kantor hanya untuk satu hal sederhana: menyerahkan kartu akses, laptop kantor, dan satu map tipis berisi dokumen yang selama ini ia rapikan dengan tangan sendiri. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada air mata. Ia sudah terlalu sering kalah untuk masih berharap keajaiban. Edgar berdiri ketika Dinda masuk. Wajahnya tegang. Lebih lelah daripada marah. “Aku nggak akan lama,” kata Dinda lebih dulu. “Aku cuma mau beresin administrasi.” Edgar mengangguk. “Terima kasih.” Sunyi. Sunyi yang berat, seperti ada kalimat besar yang menggantung tapi tidak tahu harus dijatuhkan di mana. Dinda sudah hampir melangkah keluar ketika Edgar memanggil pelan, “Din.” Ia berhenti. “Aku minta maaf,” kata Edgar. “Aku tahu ini nggak adil.” Dinda tersenyum kecil. “Aku tahu. Dunia nggak pernah adil dari awal.” Edgar menatap punggungnya. Kata-kata itu menekan dadanya. “Kalau ada yang bisa aku bantu—” Dinda berbalik. Me

  • Suami Perkasa   Keputusan Edgar

    ---Edgar menutup map biru itu perlahan, seolah takut suara kertas bisa memanggil keputusan yang belum siap ia buat.Nama Dinda Larasati tercetak rapi di halaman pertama: usia, riwayat kerja, status—janda, satu anak perempuan. Semua data itu dulu terasa administratif. Sekarang terasa seperti beban moral.Sebagai direktur, Edgar tahu satu hal dengan pasti: tidak ada perusahaan yang sehat memecat karyawan tanpa alasan. Jabatan setinggi apa pun tidak mengubah hukum tenaga kerja. Bahkan kekuasaan punya pagar—dan kali ini pagar itu bernama alasan objektif.Ia memijat pelipis.Mariana sudah jelas. Ia tidak mau Dinda ada di gedung yang sama. Bukan karena kinerja. Justru karena sejarah masa lalu.Dan sejarah itu… Edgar yang menulisnya.---Dinda tidak pernah datang ke hidup Edgar sebagai perempuan yang minta diselamatkan. Ia datang sebagai perempuan yang berdiri sendiri, terlalu mandiri untuk usianya, terlalu dewasa untuk lingkar pergaulan Edgar saat itu.Flashback itu datang tanpa izin.Dulu

  • Suami Perkasa   Pernah Tidur

    ---Suasana Malam di rumah itu jatuh dengan cara yang tidak ramah.Lampu ruang tamu menyala terang, terlalu terang untuk suasana hati yang ingin sembunyi. Edgar duduk di sofa dengan punggung tegak, tangan di lutut, posisi defensif tanpa sadar. Jas kerjanya sudah digantung, dasi dilepas, tapi ketegangannya masih melekat seperti parfum yang terlalu mahal untuk dicuci sekali.Mariana berdiri di dekat dapur terbuka. Tidak membawa pisau kali ini. Tidak perlu. Suaranya saja cukup.Ia menuang air ke gelas. Pelan. Terlalu pelan. Bunyi air terdengar jelas di keheningan yang menunggu ledakan.“Kantor kamu hari ini ramai,” katanya akhirnya, tanpa menoleh.Edgar mengangguk. “Ada audit.”“Dan sekretaris.”Satu kata itu jatuh berat.Edgar menghela napas. “Mar—”Mariana berbalik. Tatapannya datar. “Jangan potong. Aku belum nanya.”Ia berjalan ke sofa, duduk berseberangan. Menyilangkan kaki dengan rapi. Sikapnya tenang, hampir santai. Itu yang membuat Edgar lebih waspada.“Aku mau tanya satu hal,” ka

  • Suami Perkasa   Tanya Jawab

    Mariana berdiri di dapur dengan ekspresi tenang, tapi matanya—oh, matanya—tajam seperti laser pointer murahan yang dipakai dosen di power point kuliah jam tujuh pagi.Di tangan kirinya, pisau dapur masih menempel sisa wortel dari masakan sore tadi. Tapi bukan itu yang bikin Edgar pucat seperti tembok belum dicat. Edgar berdiri canggung di ambang pintu dapur, menelan ludah. Kali ini, jakunnya gak naik-turun. Kayak sinyal HP yang udah pasrah di basement mal, nungguin keajaiban.“Edgar,” kata Mariana pelan, nadanya santai tapi jelas-jelas mengandung racun. “Sekarang bagian yang paling penting. Kapan kamu lepas keperjakaan?”Edgar langsung berkeringat. Butir-butirnya besar, jatuh satu per satu seperti air hujan pertama di musim kemarau. Tangannya refleks ingin nyari sapu tangan, tapi dia cuma nemu kemoceng.Dia berdiri. Lalu duduk lagi. Lalu berdiri. Lalu mendekat meja, tapi gak jadi. Seperti tokoh figuran di sinetron yang gak tau harus ke mana, tapi tetap harus ada di frame.“Beb… sebene

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status