Teilen

Kamu Punya Apa

last update Veröffentlichungsdatum: 06.12.2025 08:50:44

Edgar berdiri di depan gerbang besar rumah keluarga Eduardo dengan napas yang terdengar seperti campuran antara gugup dan nekad. Kemejanya rapi, rambutnya disisir, dan tangan kanannya menggenggam kotak cincin yang harganya… yah, cukup untuk membuat dompetnya menjerit tiga bulan penuh.

“Ini demi Mariana,” gumamnya. “Demi cinta. Demi masa depan.”

Satpam membuka pintu dengan wajah ketat tapi sopan. “Silakan masuk, Pak Edgar. Pak Eduardo sedang menunggu di ruang kerja.”

Edgar hampir ingin bali
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Suami Perkasa   Rahasia

    Pagi itu terasa lebih berat dari biasanya.Carlos datang tanpa pemberitahuan, langkahnya cepat dan wajahnya sudah menyimpan emosi yang tidak perlu ditebak lagi. Edgar yang sedang berdiri di dapur hanya sempat melirik sekilas sebelum kembali menunduk, seolah sudah tahu percakapan seperti apa yang akan terjadi.“Kamu lagi senggang?” tanya Carlos, suaranya datar tapi tegang.Edgar mengangguk pelan. “Iya. Ada apa?”Carlos tertawa singkat, tapi sama sekali tidak terdengar ringan.“Aku cuma mau tanya satu hal… kamu ngasih uang 500 juta ke Nadia?”Tangan Edgar berhenti sesaat di atas meja, lalu ia mengangkat wajahnya.“Iya.”---Jawaban itu langsung memicu ledakan.“Kamu serius ngasih uang sebanyak itu?” suara Carlos naik tanpa ditahan. “Kamu pikir itu wajar? ngasih uang ke babysitter, untuk apa?”Edgar tetap diam.Tidak membela.Tidak juga menjelaskan.Dan sikap itu justru membuat Carlos semakin emosi.“Pantas saja Mariana marah!” lanjutnya tajam. “Selama ini aku kira dia yang salah—dia selin

  • Suami Perkasa   Bener Bener

    Satu hari kemudian. ketika Edgar akhirnya diperbolehkan pulang. Langkahnya masih sedikit pincang saat keluar dari rumah sakit. Carlos berjalan di sampingnya, sesekali menahan siku Edgar agar tidak kehilangan keseimbangan. “Bisa jalan kamu?” tanya Carlos singkat saat mereka sampai di mobil. Edgar mengangguk. “Bisa.” Sepanjang perjalanan pulang, suasana hening. Hanya suara mesin mobil dan sesekali helaan napas berat yang terdengar. Sesampainya di rumah, lampu ruang tengah masih menyala. Pintu terbuka bahkan sebelum mereka sempat mengetuk. Nadia berdiri di sana. Sebagai baby sitter Lucy, ia memang sudah terbiasa tidur malam.Tapi malam ini, ekspresinya jauh lebih dari sekadar profesional. Wajahnya langsung berubah khawatir begitu melihat Edgar terluka. “Pak Edgar…” suaranya pelan, penuh kekhawatiran. “Ya Tuhan… ini kenapa?” Ia segera mendekat, matanya menelusuri tangan yang diperban dan kaki yang masih kaku—terlalu detail, terlalu cemas untuk ukuran sekadar pengasuh.

  • Suami Perkasa   Futsal

    Malam itu jalanan tampak lebih lengang dari biasanya. Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil, menciptakan bayangan samar yang terus bergerak seiring laju kendaraan.Carlos menggenggam setir dengan kuat. Rahangnya mengeras, napasnya berat, tapi ia berusaha tetap fokus. Di kursi sebelahnya, Edgar duduk bersandar, tubuhnya sedikit miring. Telapak tangannya luka. sementara kaki kirinya tampak kaku.“Gar… tahan sedikit lagi,” ucap Carlos pelan, meski suaranya terdengar tertahan emosi.Edgar hanya mengangguk tipis. Keringat dingin membasahi pelipisnya, tapi ia tetap berusaha terlihat tenang.“Ini cuma luka biasa,” gumamnya pelan.Carlos langsung melirik tajam. “Biasa, kamu bilang?” Ia menghela napas kasar. “Kamu dipukulin sampai kayak gitu, itu bukan biasa.”Edgar tidak menjawab.Mobil melaju lebih cepat saat Carlos menekan pedal gas. Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Tanpa menunggu lama, Carlos turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Edgar.“Pelan,” katanya,

  • Suami Perkasa   Adik Ipar

    Udara di ruangan itu terasa berat, seolah setiap napas harus dipaksakan keluar masuk paru-paru. Lampu gantung menyala redup, memantulkan kilau dingin di atas meja kaca yang penuh dengan sisa minuman. Bau alkohol bercampur dengan ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Di tengah ruangan, Edgar berdiri dengan napas tertahan, rahangnya mengeras, matanya tidak pernah lepas dari sosok di depannya. Edward. Pria itu berdiri santai, satu tangan memegang gelas, seolah ini hanya pertemuan biasa. Padahal tidak ada yang biasa dari cara dia menatap Edgar—tajam, merendahkan, penuh kendali. “Akhirnya dateng juga chiken loser,” ucap Edward pelan, bibirnya melengkung tipis. “Gue kira lo bakal terus sembunyi di balik alasan-alasan lo.” Edgar tidak menjawab. Tangannya mengepal di samping tubuhnya, menahan sesuatu yang jelas-jelas hampir meledak. “Lo maunya apa?” tanyanya singkat. Edward tertawa kecil, berjalan mendekat dengan langkah santai. “Langsung ke inti. Bagus. Gue juga gak suka basa-basi.” Ia

  • Suami Perkasa   Sebelas Dua Belas

    Carlos memang terbiasa menertawakan apa pun, termasuk sindiran yang seharusnya menyinggungnya. Sore itu pun sama. Ia duduk santai di lounge langganannya, satu tangan memutar gelas minuman, sementara matanya menyapu ruangan tanpa benar-benar fokus pada apa pun. Di depannya, Gerald bersandar dengan ekspresi yang terlalu santai untuk sesuatu yang jelas-jelas sedang ia siapkan. “Lo tuh ya, Carlos…” Gerald membuka percakapan sambil menggeleng pelan. “Kadang gue bingung. Lo ini sadar gak sih diri lo kayak apa?” Carlos menyeringai. “Sadar banget. Ganteng, kaya, menarik. Mau lanjut?” Gerald terkekeh pendek, tapi matanya tidak ikut tertawa. “Playboy cap kadal. Itu julukan yang paling cocok.” Carlos mengangkat bahu, santai. “Gue gak pernah bilang gue cowok baik baik.” “Iya,” Gerald mengangguk pelan. “Masalahnya… sifat kayak gitu ternyata nular juga ya di keluarga lo,ternyata turun temurun.” Carlos berhenti sebentar, lalu tertawa kecil. “Mulai nih. Mau bawa-bawa siapa lagi sekarang?

  • Suami Perkasa   Pecat Nadia

    Perasaan bersalah itu tidak pernah benar-benar pergi dari Mariana;Lucy bernapas dengan sisa-sisa berat yang belum sepenuhnya hilang, bayangan tentang asap rokok dan sosok Edward selalu ikut muncul, menempel seperti bayangan yang tak bisa dilepaskan. Ia sempat ingin mengakhiri semuanya, memutus Edward sekali dan untuk selamanya, demi Lucy, demi dirinya sendiri. Jarinya pernah berhenti di atas layar ponsel, tepat di nama itu. “Udah cukup…” bisiknya pelan. Tapi sebelum keputusan itu benar-benar jadi, bayangan itu muncul—Durasi? Tahan uji.Stamina.. terlalu KuatTeknik.. sangat Kreatif.Dan yang paling pentimg Edward hafal titik-titik sensitif tubuhnya..Mariana tidak rela kehilangan kesenangan begitu aja. “Kalau aku lepas semuanya… aku bakal kehilangan kepuasan.” gumamnya. Pada akhirnya, ia tidak jadi menekan apa pun. Lucy perlahan sembuh. Batuknya mereda, napasnya kembali teratur, dan tangisnya kembali hidup. Rumah yang sempat tegang mulai menemukan ritmenya lagi, meski tidak

  • Suami Perkasa   Persaingan Dua Wanita

    Setelah mandi dan beres-beres, Sukma dan Steve turun ke restoran hotel. Meja mereka dekat jendela besar, sinar matahari pagi masuk hangat, memantulkan sisa embun hujan di luar. Sukma duduk dengan rambut masih setengah basah, wajah polos tanpa riasan, tapi justru itu membuat Steve tak bisa melep

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-26
  • Suami Perkasa   Kita Akan Menikah

    Laura masih duduk terpaku di ruang tamu. Rumah yang selama ini ia pikir sebagai tempat perlindungan, kini lebih mirip penjara dengan jeruji tak kasat mata. Ketika suara pintu depan berderit, tubuh Laura menegang. Farel baru pulang. Pria itu masuk dengan wajah lelah, kemeja kusut, dasi longgar meng

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-26
  • Suami Perkasa   Hujan Penuh Cinta

    Tanpa pikir panjang, Steve melangkah keluar apartemen. Ia tidak membawa payung, tidak mengenakan jaket, hanya tubuhnya yang segera diguyur hujan deras. Jalanan apartemen tampak sepi, lampu-lampu padam, hanya sesekali kilat yang menerangi kegelapan. “Sukmaaa!” teriak Steve, suaranya parau diterp

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-26
  • Suami Perkasa   Pagi Yang Nyata

    Hujan belum reda ketika mereka akhirnya tiba di sebuah hotel Nafas Sukma masih memburu, tubuhnya menggigil. Gaun tipis yang melekat di kulitnya dingin, berat oleh air hujan. Steve menggenggam tangannya erat, seakan takut jika ia melepaskannya barang sedetik saja, Sukma akan menghilang lagi. Mer

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-26
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status