LOGINRuang bersalin itu tidak pernah benar-benar tenang. Suara alat medis berdetak pelan. Langkah kaki perawat berlalu-lalang. Dan di tengah semua itu— Suara Mariana. “SAKIT BANGET,ADUH!” Gema suaranya hampir mengalahkan semua yang lain. Keringat membasahi pelipisnya, rambutnya menempel berantakan di wajah. Tangan kanannya mencengkeram seprai, sementara tangan kirinya— menjambak rambut Edgar tanpa ampun. “AA— SAYANG, RAMBUT AKU—” “DIEM LO!” bentak Mariana, napasnya tersengal. “INI GARA-GARA LO!” Edgar meringis, setengah jongkok karena kepalanya tertarik ke bawah. “Iya… iya… salah aku… semua salah aku…” “TAU LO!” --- “Tarik napas, Bu… ya… pelan…” suara dokter tetap tenang di tengah kekacauan itu. Tapi Mariana sudah tidak peduli. “PELAAAN GIMANA?! INI KAYAK MAU MATI!” Edgar mencoba lepas dari cengkeraman. Gagal. Rambutnya masih jadi korban. --- Di sudut ruangan, berdiri seorang gadis muda—Aura, adik Mariana. Tangannya bersedekap, wajahnya antara kasihan dan… geli. Ia
Memasuki trimester kedua, perubahan Mariana terasa… drastis. Kalau dulu ia bisa tiba-tiba bengong memikirkan Alan, sekarang? Tidak sama sekali. Bahkan ketika nama Alan disebut, reaksinya datar. Sangat datar. Seolah fase itu… sudah lewat begitu saja.Bagi Mariana.,Alan sama sekali tidak menarik. --- Di sisi lain, Alan tetap datang ke rumah Mariana. Awalnya untuk “ngecek kondisi Mariana”. Lalu jadi “sekadar mampir”. Lalu entah sejak kapan… jadi rutinitas. Dan yang paling aneh— Edgar tidak pernah melarang ataupun marah. --- Sore itu, suara riuh terdengar dari ruang keluarga. “WOI! KENA HEADSHOT!” teriak Alan sambil berdiri dari sofa. “Tenang aja, itu lu cuma hoki,” jawab Edgar santai, matanya tetap fokus ke layar TV. Dua laki-laki itu duduk berdampingan, masing-masing memegang stik PlayStation . dengan ekspresi yang sama seriusnya. Mariana berdiri di ambang pintu, memandangi mereka dengan wajah tanpa ekspresi. Ia menyilangkan tangan. “Ini… rumah aku
Sore itu, Alan duduk sendirian di kantin kampus.Segelas minuman dingin di depannya sudah mulai berembun, tapi belum juga ia sentuh. Sedotannya hanya ia putar-putar tanpa tujuan, seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk mengisi kekosongan.Di depannya, Raka memperhatikan dengan alis berkerut.“Lu kenapa murung gitu?”Alan mendesah panjang, bahunya sedikit turun.“Kak Mariana udah tiga hari nggak chat gue.”Raka langsung menepuk meja, cukup keras sampai beberapa orang menoleh.“Nah! Bagus dong!”Alan menatapnya tidak percaya.“Bagus dari mana?”“Dari semua sisi!” jawab Raka cepat. “Bro, dia itu istri orang. Istri orang yang lagi hamil pula.”Alan menghela napas lagi, lebih pelan kali ini.“Iya juga sih…”“Terus?”Alan mengalihkan pandangannya ke taman kampus. Angin sore menggerakkan daun-daun, mahasiswa lalu-lalang seperti biasa.Biasanya… di jam seperti ini, ponselnya sudah berbunyi.Biasanya, Mariana sudah menyuruhnya membeli sesuatu.Sekarang… kosong.“Dia nggak nyuruh
Langit sudah gelap ketika Mariana akhirnya keluar dari gedung kampus. Angin malam berhembus pelan, membawa suasana yang lebih tenang setelah seharian penuh pikiran. Ia baru saja melangkah ke halaman parkir saat sebuah mobil berhenti pelan di depannya. Kaca jendela turun. “Naik, Kak Mariana.” Mariana menghela napas. “Kamu lagi…” Alan tersenyum santai dari balik kemudi. “Aku lewat. Kebetulan ketemu kakak lagi disini.” Mariana menyipitkan mata. “Kampus ke rumahku itu nggak searah sama tempat tinggal kamu.” Alan langsung menjawab cepat, “Hari ini searah.” Mariana menatapnya beberapa detik… lalu tanpa banyak protes, membuka pintu dan masuk. “Makasih,” gumamnya singkat. Mobil melaju pelan meninggalkan kampus. --- Di dalam mobil, suasana tidak benar-benar sunyi. Ada sesuatu yang menggantung—aneh, canggung, tapi juga hangat. Alan sesekali melirik Mariana. “Kakak capek?” tanyanya. Mariana bersandar di kursi. “Lumayan.” Beberapa detik hening. Lalu tiba-tiba M
Perpustakaan mulai sedikit lebih ramai saat sore menjelang malam. Beberapa mahasiswa berdatangan, mencari tempat duduk sambil membawa buku dan laptop. Suara kursi yang digeser pelan dan bisikan-bisikan kecil memenuhi ruangan. Mariana masih duduk di tempat yang sama. Laptopnya sudah terbuka lagi, tapi layar yang menyala itu lebih lama menampilkan halaman kosong daripada tulisan. Pikirannya tidak di situ. Tatapannya kosong, jemarinya diam di atas keyboard. “Kalau Edgar itu pakai topeng… aku nggak,aku masih ori” Kalimat Alan terus terngiang. Mariana menghela napas panjang, lalu mengetik asal-asalan—beberapa angka, lalu dihapus lagi. “Fokus, Mariana… fokus,” gumamnya pelan. “Fokus apa kak?” Suara itu datang tiba-tiba dari sampingnya. Mariana langsung menoleh—dan hampir kaget setengah mati. “Aurora?!” Seorang perempuan berdiri di samping meja dengan tangan bersedekap, alis terangkat tinggi. Penampilannya rapi, tegas, dengan aura percaya diri yang khas. Aurora—adik Mariana. “
Keesok harinya, perpustakaan kampus terasa lebih sepi dari biasanya. Hanya suara halus pendingin ruangan dan sesekali lembaran buku yang dibalik terdengar samar. Di salah satu meja dekat jendela, Mariana duduk sambil menyusun laporan bahan baku di laptopnya. Alisnya sedikit berkerut, fokus, tapi sesekali ia menghela napas kecil. Alan datang seperti biasa—tanpa suara berisik, tapi kehadirannya selalu terasa. Ia membawa buku catatan tebal, rambut gondrongnya diikat setengah, kaos putihnya sedikit kusut, namun tetap saja… entah kenapa terlihat menarik. Ia berhenti di samping meja Mariana. “Boleh duduk sini Kak?” tanyanya pelan, menjaga volume suaranya agar tidak mengganggu suasana perpustakaan. Mariana bahkan tidak langsung menoleh. “Duduk aja, Lan. Emang siapa yang larang?” Alan tersenyum tipis lalu duduk di sebelahnya. Ia membuka buku catatan, berpura-pura membaca. Namun beberapa detik kemudian, matanya mulai melirik ke arah Mariana—diam-diam, tapi cukup sering untuk ketahuan. M
Carlos duduk di ruang tengah dengan ekspresi wajah seperti tengah memimpin rapat saham yang menentukan nasib negara. Kursi empuk tak membuatnya nyaman, sementara tangan terlipat di dada — tegang, dingin, dan jelas bukan karena AC yang menyala terlalu dingin. Diam-diam, matanya menatap layar tab
Carlos Devareux tak pernah membuka pintu hati untuk siapa pun—tapi perempuan-perempuan itu tetap mengetuk. Hari demi hari. Dengan mata penuh api dan bibir penuh janji. Tiga istrinya—Keira, Rubi, dan Livia—sudah cukup untuk membuat rumah tangganya seperti istana kecil. Tapi tetap saja… Par
Sukma berdiri di depan layar televisi besar di ruang tamunya yang redup. Jemarinya gemetar memegang remote, tapi tak juga mematikannya. Siaran televisi dari gereja tua di pusat kota menayangkan sebuah pernikahan mewah — Dimitri dan Luna pasangan yang hari ini bersumpah sehidup semati di hadapan Tuh
Carlos duduk di balkon vila pribadinya yang menghadap laut Capri, mengenakan jubah sutra emas, menghirup espresso pagi tanpa susu—seperti biasa.Para istri akur..meski punya rumah sendiri sendiri, kadang mereka juga tinggal divilla utama carlos. Tiga istrinya belum bangun. Keira mungkin masih me







