Home / Romansa / Suami Perkasa / Puas Didepanmu

Share

Puas Didepanmu

last update Last Updated: 2025-09-25 12:58:01

---

Malam itu, Elina terdiam di sudut kamar, tubuhnya membeku, mata menatap Carlos dan wanita itu dengan perasaan campur aduk. Napasnya tersengal saat melihat gerakan mereka, desahan yang menusuk telinga, dan keintiman yang seharusnya hanya miliknya. Hatinya sakit, marah, cemburu—tapi entah mengapa tubuhnya merespons. Dada berdebar, pipi panas, dan tubuh bagian bawahnya basah tanpa bisa ia kendalikan.

Ia ingin menjerit, ingin menutup mata, tapi rasa penasaran dan rasa sakitnya bersatu membuatnya tetap terpaku. Setiap sentuhan Carlos pada wanita itu, setiap desahan yang terdengar, menusuk hati dan membakar keinginannya sendiri. Air mata jatuh, menetes di pipi, tapi rasa terangsang itu tak hilang—malah menambah rasa bersalah dan malu.

Elina merasakan kebingungan: ia ingin menjauh tapi tak bisa, ingin menangis tapi tubuhnya bereaksi, ingin memalingkan pandang tapi matanya tertahan. Campuran cemburu, sakit, dan gairah membuatnya hancur, tak mampu berkata atau bergerak. Malam itu, ia m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Perkasa   Pemecatan

    Beberapa hari Kemudian. Dinda tidak berniat mengatakan apa pun hari itu. Ia datang ke kantor hanya untuk satu hal sederhana: menyerahkan kartu akses, laptop kantor, dan satu map tipis berisi dokumen yang selama ini ia rapikan dengan tangan sendiri. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada air mata. Ia sudah terlalu sering kalah untuk masih berharap keajaiban. Edgar berdiri ketika Dinda masuk. Wajahnya tegang. Lebih lelah daripada marah. “Aku nggak akan lama,” kata Dinda lebih dulu. “Aku cuma mau beresin administrasi.” Edgar mengangguk. “Terima kasih.” Sunyi. Sunyi yang berat, seperti ada kalimat besar yang menggantung tapi tidak tahu harus dijatuhkan di mana. Dinda sudah hampir melangkah keluar ketika Edgar memanggil pelan, “Din.” Ia berhenti. “Aku minta maaf,” kata Edgar. “Aku tahu ini nggak adil.” Dinda tersenyum kecil. “Aku tahu. Dunia nggak pernah adil dari awal.” Edgar menatap punggungnya. Kata-kata itu menekan dadanya. “Kalau ada yang bisa aku bantu—” Dinda berbalik. Me

  • Suami Perkasa   Keputusan Edgar

    ---Edgar menutup map biru itu perlahan, seolah takut suara kertas bisa memanggil keputusan yang belum siap ia buat.Nama Dinda Larasati tercetak rapi di halaman pertama: usia, riwayat kerja, status—janda, satu anak perempuan. Semua data itu dulu terasa administratif. Sekarang terasa seperti beban moral.Sebagai direktur, Edgar tahu satu hal dengan pasti: tidak ada perusahaan yang sehat memecat karyawan tanpa alasan. Jabatan setinggi apa pun tidak mengubah hukum tenaga kerja. Bahkan kekuasaan punya pagar—dan kali ini pagar itu bernama alasan objektif.Ia memijat pelipis.Mariana sudah jelas. Ia tidak mau Dinda ada di gedung yang sama. Bukan karena kinerja. Justru karena sejarah masa lalu.Dan sejarah itu… Edgar yang menulisnya.---Dinda tidak pernah datang ke hidup Edgar sebagai perempuan yang minta diselamatkan. Ia datang sebagai perempuan yang berdiri sendiri, terlalu mandiri untuk usianya, terlalu dewasa untuk lingkar pergaulan Edgar saat itu.Flashback itu datang tanpa izin.Dulu

  • Suami Perkasa   Pernah Tidur

    ---Suasana Malam di rumah itu jatuh dengan cara yang tidak ramah.Lampu ruang tamu menyala terang, terlalu terang untuk suasana hati yang ingin sembunyi. Edgar duduk di sofa dengan punggung tegak, tangan di lutut, posisi defensif tanpa sadar. Jas kerjanya sudah digantung, dasi dilepas, tapi ketegangannya masih melekat seperti parfum yang terlalu mahal untuk dicuci sekali.Mariana berdiri di dekat dapur terbuka. Tidak membawa pisau kali ini. Tidak perlu. Suaranya saja cukup.Ia menuang air ke gelas. Pelan. Terlalu pelan. Bunyi air terdengar jelas di keheningan yang menunggu ledakan.“Kantor kamu hari ini ramai,” katanya akhirnya, tanpa menoleh.Edgar mengangguk. “Ada audit.”“Dan sekretaris.”Satu kata itu jatuh berat.Edgar menghela napas. “Mar—”Mariana berbalik. Tatapannya datar. “Jangan potong. Aku belum nanya.”Ia berjalan ke sofa, duduk berseberangan. Menyilangkan kaki dengan rapi. Sikapnya tenang, hampir santai. Itu yang membuat Edgar lebih waspada.“Aku mau tanya satu hal,” ka

  • Suami Perkasa   Tanya Jawab

    Mariana berdiri di dapur dengan ekspresi tenang, tapi matanya—oh, matanya—tajam seperti laser pointer murahan yang dipakai dosen di power point kuliah jam tujuh pagi.Di tangan kirinya, pisau dapur masih menempel sisa wortel dari masakan sore tadi. Tapi bukan itu yang bikin Edgar pucat seperti tembok belum dicat. Edgar berdiri canggung di ambang pintu dapur, menelan ludah. Kali ini, jakunnya gak naik-turun. Kayak sinyal HP yang udah pasrah di basement mal, nungguin keajaiban.“Edgar,” kata Mariana pelan, nadanya santai tapi jelas-jelas mengandung racun. “Sekarang bagian yang paling penting. Kapan kamu lepas keperjakaan?”Edgar langsung berkeringat. Butir-butirnya besar, jatuh satu per satu seperti air hujan pertama di musim kemarau. Tangannya refleks ingin nyari sapu tangan, tapi dia cuma nemu kemoceng.Dia berdiri. Lalu duduk lagi. Lalu berdiri. Lalu mendekat meja, tapi gak jadi. Seperti tokoh figuran di sinetron yang gak tau harus ke mana, tapi tetap harus ada di frame.“Beb… sebene

  • Suami Perkasa   Palsu

    ---Pagi itu kantor lantai tiga belas sudah berdenyut sejak jam delapan lewat sepuluh. Pintu lift terbuka, tertutup, terbuka lagi. Sepatu hak beradu dengan lantai marmer. Aroma kopi dan parfum mahal bercampur, membentuk atmosfer profesional yang rapuh—rapuh karena gosip selalu lebih cepat dari email resmi.Dinda sudah duduk di mejanya ketika notifikasi kalender Edgar berbunyi: Meeting with Board — 09.00.Ia mengenakan rok hitam selutut yang jatuh pas di pinggul, atasan krem berpotongan rapi, rambutnya disanggul longgar. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang salah. Tapi cara ia duduk—punggung tegak, bahu rileks, tatapan tenang—selalu membuat orang merasa ia tahu sesuatu yang tidak mereka ketahui.Beberapa pegawai laki-laki melirik sekilas, lalu cepat-cepat kembali ke layar komputer. Bukan karena Dinda berusaha menarik perhatian. Justru sebaliknya. Ia terlalu nyaman dengan dirinya sendiri.Pintu lift berbunyi lagi.Kali ini berbeda.Suara hak tinggi yang menghentak lantai tidak ragu

  • Suami Perkasa   Putus

    flash back.Mereka putus bukan karena bosan. Mereka masih sering saling tatap di antara ciuman yang panas. Tapi… sesuatu mulai berubah setelah terlalu sering “menghangatkan” rasa yang seharusnya dibiarkan tumbuh dulu dari awal.Dinda pernah bilang:> “Edgar, kamu tahu nggak bedanya cinta sama kecanduan?”Edgar, menoleh.> “Yang satu bikin deg-degan… yang satu bikin nagih. Tapi dua-duanya bisa bikin nyesel.”Mereka ketemu pertama kali di kos Dinda, saat hujan turun dan listrik mati. lalu satu kasur yang dingin, lalu satu kecupan yang terlalu dalam untuk disebut iseng. Sejak malam itu, Edgar bukan Edgar yang polos lagi. Ia tumbuh—atau mungkin, terbakar.Minggu berganti, tubuh mereka saling hapal. Mereka bisa bercinta bahkan tanpa melepas seluruh pakaian. Bahkan ketika satu masih sibuk menelpon, satu lagi sudah mulai megang pinggang.Tapi...> “Edgar, kita nggak pernah ngobrol soal masa depan ya?”> “Maksudmu?”> “Kita cuma... ya gitu. Ketemu, mainan semangkaku, wik-wik, tidur. Ulang la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status