LOGINCarlos memang terbiasa menertawakan apa pun, termasuk sindiran yang seharusnya menyinggungnya. Sore itu pun sama. Ia duduk santai di lounge langganannya, satu tangan memutar gelas minuman, sementara matanya menyapu ruangan tanpa benar-benar fokus pada apa pun. Di depannya, Gerald bersandar dengan ekspresi yang terlalu santai untuk sesuatu yang jelas-jelas sedang ia siapkan. “Lo tuh ya, Carlos…” Gerald membuka percakapan sambil menggeleng pelan. “Kadang gue bingung. Lo ini sadar gak sih diri lo kayak apa?” Carlos menyeringai. “Sadar banget. Ganteng, kaya, menarik. Mau lanjut?” Gerald terkekeh pendek, tapi matanya tidak ikut tertawa. “Playboy cap kadal. Itu julukan yang paling cocok.” Carlos mengangkat bahu, santai. “Gue gak pernah bilang gue cowok baik baik.” “Iya,” Gerald mengangguk pelan. “Masalahnya… sifat kayak gitu ternyata nular juga ya di keluarga lo,ternyata turun temurun.” Carlos berhenti sebentar, lalu tertawa kecil. “Mulai nih. Mau bawa-bawa siapa lagi sekarang?
Perasaan bersalah itu tidak pernah benar-benar pergi dari Mariana;Lucy bernapas dengan sisa-sisa berat yang belum sepenuhnya hilang, bayangan tentang asap rokok dan sosok Edward selalu ikut muncul, menempel seperti bayangan yang tak bisa dilepaskan. Ia sempat ingin mengakhiri semuanya, memutus Edward sekali dan untuk selamanya, demi Lucy, demi dirinya sendiri. Jarinya pernah berhenti di atas layar ponsel, tepat di nama itu. “Udah cukup…” bisiknya pelan. Tapi sebelum keputusan itu benar-benar jadi, bayangan itu muncul—Durasi? Tahan uji.Stamina.. terlalu KuatTeknik.. sangat Kreatif.Dan yang paling pentimg Edward hafal titik-titik sensitif tubuhnya..Mariana tidak rela kehilangan kesenangan begitu aja. “Kalau aku lepas semuanya… aku bakal kehilangan kepuasan.” gumamnya. Pada akhirnya, ia tidak jadi menekan apa pun. Lucy perlahan sembuh. Batuknya mereda, napasnya kembali teratur, dan tangisnya kembali hidup. Rumah yang sempat tegang mulai menemukan ritmenya lagi, meski tidak
Awalnya terasa seperti sesuatu yang ringan, hampir seperti adegan yang terlalu indah untuk dipertanyakan. Edward berdiri di dekat jendela, cahaya sore jatuh miring di bahunya, mempertegas garis rahang yang tegas dan tatapan yang selalu seolah tahu apa yang ia inginkan. Di sela jemarinya, rokok menyala pelan, asapnya naik tipis, melingkar santai sebelum menghilang di udara. Ia menghisap tanpa terburu-buru, seolah dunia berjalan mengikuti ritmenya. Mariana duduk di sofa, memperhatikannya dengan senyum kecil yang sulit ia sembunyikan. “Apa sih lihatnya gitu amat?” Edward melirik, setengah tersenyum. Mariana hanya mengangkat bahu, tertawa pelan. “Nggak. Cuma… kamu tuh sok keren.” Edward mendekat tanpa menjawab, menyingkirkan rokoknya ke asbak, lalu berdiri tepat di depannya. Tangannya naik, menyelip ke rambut Mariana, menariknya sedikit mendongak. Ada aroma asap yang masih menempel, bercampur dengan sesuatu yang hangat dan familiar. Sebelum Mariana sempat bicara, bibir Edward sudah
Beberapa hari setelah itu, semuanya masih berjalan seperti biasa di permukaan. Mariana tetap di rumah, mencoba menjalani hari dengan ritme yang tampak normal, sementara Edgar tetap bersikap tenang seperti sebelumnya—tidak banyak bertanya, tidak pernah memaksa, dan seolah memilih memendam semua yang mungkin berputar di kepalanya. Namun ketenangan itu ternyata tidak benar-benar utuh. Sore itu, Edgar pulang dengan kondisi yang tidak bisa disembunyikan. Begitu pintu terbuka, Mariana yang sedang berada di ruang tengah langsung menoleh, dan dalam satu detik, tubuhnya refleks berdiri. Ada sesuatu yang langsung terasa tidak beres bahkan sebelum ia benar-benar melihat jelas. “Edgar—” Langkahnya cepat mendekat, hampir berlari kecil. Tangannya terangkat, ingin menyentuh wajah suaminya, tetapi tertahan di udara begitu ia melihat lebih jelas. Memar di sudut bibir. Pelipis yang sedikit bengkak. Dan goresan di tangan yang terlalu rapi untuk disebut kecelakaan biasa. “Ini kenapa?” su
Beberapa minggu setelah itu, vila yang awalnya terasa asing kini berubah menjadi ruang yang begitu akrab Pagi itu, cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela besar kamar, menyinari lantai kayu dan sebagian tempat tidur yang belum sempat dirapikan. Mariana duduk ditepi ranjamg. Edward keluar dengan langkah santai, rambutnya masih basah, tetesan air jatuh perlahan ke bahu dan dadanya. Ia tidak mengenakan atasan, hanya celana panjang santai yang menggantung rendah di pinggangnya. Tidak ada kesan sengaja pamer, tapi justru itu yang membuat semuanya terasa lebih nyata. Mariana terpaku sejenak, matanya menangkap setiap detail tanpa bisa langsung berpaling. Tubuh Edward terlihat kuat dan terlatih, bukan berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia menjaga tubuhnya. Bahunya lebar, garis lengannya tegas, dan ada ketenangan dalam cara ia berdiri—seolah ia sepenuhnya nyaman dengan dirinya sendiri. Mariana cepat-cepat mengalihkan pandangan, tapi ekspresi kecil di wajahnya sudah
Beberapa hari setelah itu, semuanya masih terlihat normal di permukaan, seolah tidak ada yang benar-benar berubah. Mariana tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa dengan sikap yang tenang dan lebih diam dari sebelumnya. Edgar juga tidak banyak berubah dari luar; ia tetap menjadi sosok yang stabil, tidak banyak bertanya, tidak menekan, dan tidak mencoba membuka hal-hal yang jelas belum siap dibicarakan. Lucy tetap menjadi pusat kecil yang mengikat semuanya, tawa dan kehadirannya membuat rumah itu tampak utuh seperti sebelumnya. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang bergeser perlahan. Tidak terlihat jelas, tidak terucap, tapi terasa. Seperti retakan halus yang belum pecah, tapi sudah ada. Dan Edward bukan tipe orang yang suka menunggu terlalu lama. --- Siang itu, Edgar keluar rumah seperti biasa. Ia hanya berniat pergi ke minimarket di ujung jalan untuk membeli beberapa kebutuhan kecil, sesuatu yang sudah menjadi bagian dari rutinitas hariannya. Ia tidak memikirkan apa pun s
Lantai marmer rumah itu bergema oleh ketukan hak tinggi milik Livia. mamtan istri carlos itu berjalan cepat, aura percaya dirinya begitu kuat, tubuh tegap dengan rambut dikuncir tinggi. Tangannya menggandeng Febby, anak perempuan mungil berusia dua tahun. “Jadi ini anak barunya, ya?” suara Livia
Malam berikutnya., kamar Carlos terasa berat. Lampu temaram menyinari dinding berlapis marmer, bayangan mereka berdua memanjang di selembar karpet bulu yang tebal. Elina duduk di tepi ranjang, jantungnya berdetak kencang. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi, karena setiap malam selalu berakhir sama
---Malam itu, ruang keluarga sunyi. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya lembut, tapi suasana jauh dari hangat. Elina duduk di sofa, tubuhnya sedikit menunduk. Sementara Carlos berdiri tegap di depan lukisan besar yang menggambarkan dirinya bersama para istri terdahulu. Matanya berbinar penuh
Malam itu hujan baru reda, aroma tanah basah masih terasa di udara. Elina baru saja menidurkan Arthur di buaian kecilnya. Bayi mungil itu tidur pulas, nafasnya teratur, wajahnya begitu damai. Elina tersenyum samar, membelai pipi anaknya. Hanya Arthur-lah alasan ia bertahan di rumah ini. Ia berjala







