Share

5. DIA MAKAN SEPERTI BABI BESAR

“Orang tua ini menyukai sportivitas Junior. Namun itu tidaklah masalah sama sekali, hanya masalah mengangkat satu jari.” Kata kakek Lin sambil tersenyum ringan. Dia sangat puas dengan sikap pemuda di hadapannya.

Menurutnya ini hanya masalah sepele dan tidak perlu diperdebatkan. Namun, melihat tindakan positif dari Benny Tan yang inisiatif, dia secara alami menyukai tindakan yang bertanggung jawab dan sikap  ‘jantan’ yang ditunjukkan oleh Benny Tan. Dia tersenyum dan tenggelam dalam pemikirannya sendiri. 

“Ternyata orang tua itu merekomendasikan pemuda yang memenuhi harapanku. Bahkan, mungkin bisa melampaui itu karena ini baru beberapa tarikan napas setelah bertemu.” Gumamnya pada dirinya sendiri. Hatinya penuh syukur kepada seorang individu tertentu yang merekomendasikan Benny Tan.

Di sisi lain, Tiara Lin sangat gelisah melihat ekspresi kakeknya yang riang dan hangat terhadap pria asing ini. Sebenarnya dia telah berencana akan mencari beberapa peluang pada acara jamuan makan ini agar bisa meloloskan dirinya sendiri dalam situasi yang telah direncanakan kakeknya. 

Melihat semuanya sudah sampai pada titik ini, dia tidak sepenuhnya menyerah. Dia adalah masih memutar otaknya untuk menemukan beberapa metode agar bisa membuat pemuda ini berpaling dan berhenti dari rencana konyol kakeknya. Dia tenggelam dalam pemikirannya sendiri sambil mengerutkan keningnya.

“ Anak baik, ayo bersulang untuk pemuda tampan ini.” Kata-kata Tuan Lin mengagetkan Tiara dari lamunannya.

“Eh.. ahh.. apa yang kakek katakan?” Dia tersentak kaget, dengan sedikit canggung tersenyum sambil mengharapkan kakek mengulangi kalimat tadi. Dia terlalu jauh merenung tadi, tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan kakeknya.

“Hahaha… anak baik. Ayo, bersulang untuk junior Benny Tan. Tidak baik jika kita tidak menghormati tamu. Apalagi kalian akan segera menikah, kakek akan segera mencarikan hari baik untuk acara pelaksanaannya.” Dia sedang dalam suasana hati yang baik jadi tidak memperhatikan detail kecil dari ekspresi Tiara Lin. Menurutnya Tiara mungkin hanya sedikit canggung karena pertemuan pertama ini. Juga, dari pemuda ini memancarkan pesona tertentu yang apabila dilihat atau berhadapan dengan beberapa gadis maka mereka tentu akan melayang.

“Ehh.. ini…,” Tiara Lin tersendat entah apa yang akan dikatakannya, itu seperti akan keluar namun ditelannya kembali.

Dia menggertakkan giginya dengan enggan meraih anggur putih, membuka tutup botolnya lalu menuangkan sedikit ke dalam cangkir di hadapannya. Tangannya sedikit gemetar, itu terlihat dari botol yang berayun seperti orang yang lagi sakit demam berdarah. Bergetar seperti mesin bor yang sementara beroperasi.

“Tiara Lin menyambut Tuan Muda Tan.” Walau kata-kata tersebut keluar dari mulutnya, itu terdengar sangat kecil dan tajam melengking.

Lebih tepatnya seperti suara anak kucing yang sedang kelaparan, ini sangat lucu.

Wajahnya memerah seperti tomat, itu membengkak di pipinya. Sepertinya, jika pada situasi ini ada seseorang yang menggodanya maka dia akan segera menangis. Yah, dia sangat malu dengan tindakannya sendiri. Mendengar dengan telinganya sendiri intonasi suara yang keluar dari mulutnya, dia tidak bisa mengelak karena kecanggungan ini. Sepertinya, dia ingin mencari lubang jarum di tanah untuk segera masuk dan bersembunyi.

Dalam sekali teguk dia menghabiskan anggur pada cangkirnya. Suasana hatinya tidak karuan. Itu seperti seekor rusa yang sedang berlari-lari memutar di dalam dadanya, mendebarkan.

“Tenang… tenanglah Tiara. Anda adalah Nona Muda Keluarga Lin yang sangat terhormat. Semua orang mendongak ke langit untuk berharap menatap diri Anda  dan berusaha menjilat Anda untuk memperoleh beberapa manfaat. Sejak kapan Anda menjadi tidak berguna seperti ini. Ayolah, semangat.. semangat Tiara.” Tiara Lin mengulang kalimat tersebut beberapa kali dalam pikirannya, mensugesti dirinya sendiri untuk memperoleh ketengannya. Juga, mengatur pernapasannya dengan menarik dan mengembus napas besar beberapa kali.

Melihat cucunya menuruti kata-katanya dan tidak membelot juga sangat patuh, Tuan Lin tersenyum mempesona.

Dia terdiam beberapa saat, entah apa yang sedang ada dalam pikirannya. Mungkin dia sedang mengarungi memori masa mudanya. Siapa yang tau? Hanya dia sendiri yang tau jalan pikirannya sendiri.

“Hehe.. anak baik. Kamu adalah harapan terbesar keluarga Lin saya. Semoga masa depanmu bersinar dan terang meneduhkan seperti purnama sepuluh ribu tahun.” Suasana hati Tuan Lin sepertinya sangat baik malam ini. Itu bisa terlihat dari senyum sumringah yang senantiasa mengiasi wajahnya. 

Sangat jarang momen-momen santai seperti ini bisa dilihat oleh Tiara Lin. Kakeknya adalah pebisnis yang sangat sibuk. Walau dia sudah menugaskan Tiara mengambil alih posisi sebagai CEO Lin Grup, sebenarnya aktivitas bisnisnya masih sangat sibuk. Sehari-harinya dia selalu berkeliling kesana-kemari, terkadang dia pulang larut malam. Bahkan ada kalanya sampai beberapa hari tidak pulang. Begitu dia pulang, hanya membawa ekspresi yang tertekan, kelelahan bisa dilihat dari pancaran raut wajahnya.

Pada titik ini, hanya dengan melihat kakeknya saja, Tiara Lin merasakan sedikit tekanan dalam hatinya. 

Dia tidak suka dengan rencana yang dibuat kakeknya, namun sekarang hanya dengan menatap senyuman demi senyuman menghiasi wajah tua itu, dia merasakan sedikit kelegaan dalam hatinya.

Dia tidak ingin menikahi pria di hadapannya ini namun di satu sisi, saat menatap kakek yang sangat bahagia saat ini dia hanya bisa ikut berbagi untuk merasakan kebahagiaan yang dirasakan kakeknya.

Sebenarnya, dia adalah gadis dengan hati yang tulus, tau menghargai orang lain juga sikap-sikap positif lainnya.

Semua karyawan di perusahaan juga sangat menghormatinya. Bukan semata karena dia adalah presiden mereka, lebih dari itu, dia sangat berintegritas juga protektif terhadap karyawan di bawah sayap perusahaan keluarga Lin. Dia sangat tegas terhadap metode, juga ide-ide cemerlang demi memajukan perusahaan keluarga Lin.

Siapa pun yang berani melecehkan karyawannya, dia akan membalas beberapa kali lipat untuk menjaga martabat para karyawannya. Itulah poin paling penting mengapa ia begitu sangat dihormati oleh semua bawahannya.

Terlepas dari itu semua, dia lahir dari rahim keturunan keluarga kelas atas. Dengan hidup berkecukupan sejak kecil, ada juga beberapa sikap yang mengikuti tren generasi kedua keluarga kaya raya. Tentu saja, itu sangat masuk akal dan bisa dipahami.

“Junior Tan, ayo cicipi hidangannya selagi hangat. Rasanya akan berkurang jika keburu dingin.” Tuan Lin melambaikan tanggannya kepada Benny Tan sebagai instruksi untuk mulai makan, “anggap saja rumah sendiri. King Star Hotel ini adalah salah satu properti di bawah Lin Grup. Jika di masa depan Junior ingin berkunjung, maka silahkan datang. Bukankah begitu Tiara?” Kata Tuan Lin sambil tersenyum sipit mengalihkan pandangannya ke Tiara Lin.

“Seperti yang kakek katakan.” Tiara Lin hanya bisa sedikit menganggukan kepala dengan anggun dan tersenyum tipis. 

Dia tidak cukup puas melihat penampilan kakeknya malam ini. 

Hal-hal kecil seperti ini sangat menghangatkan hatinya. Orang tuanya meninggal sewaktu dia belum mengerti apa-apa, kakeknya-lah yang menemani melalui hari-harinya sejak dia kecil, bercanda dan bermain bersama adalah suasana santai dengan rasa kekeluargaan yang kental. Diwaktu kakeknya sibuk berbisnis atau keluar kota, dia akan ditemani oleh bibi May Lin sebagai pengganti ibunya.

Situasi seperti sekarang ini sebenarnya sudah lama berkurang bahkan jarang terjadi. Sejak menjabat sebagai CEO Lin Grup, dia memiliki urusan dan tanggung jawab yang harus diemban. Begitu pula kakeknya, walau telah memposisikan Tiara Lin sebagai CEO Lin Grup, dia masih aktif dengan beberapa hal dalam bisinis. Mungkin karena sudah mendarah daging dalam dirinya, dia masih sering bepergian, kadang terhitung untuk waktu mingguan tidak kembali.

Apalagi akhir-akhir ini tekanan yang diterima Lin Grup semakin besar dari banyaknya persaingan, kakek tidak pernah diam sama sekali.

Tiara makan sambil sedikit-sedikit mencuri pandang ke pria yang dipasangkan oleh kakek kepadanya. Dia tidak bisa langsung memandang lurus, hanya bisa sedikit menyipitkan matanya, itu terlihat seperti singa yang sedang mengintai mangsa untuk menerkam.

“Astaga! Dia makan seperti babi besar. Apakah dia masih manusia?” Tiara Lin terbelalak dalam hatinya. Pria ini makan porsi besar dengan begitu bangga. Apakah dia tidak punya urat malu? Ini adalah pertemuan perdana, bukankah menjaga harga diri dan menyembunyikan beberapa hal kecil akan sangat membantu? Setidaknya harus meninggalkan sedikit kesan positif setelah pertemuan awal ini. Bukankah begitu?

Komen (1)
goodnovel comment avatar
BocahBodoh
testing,,,,,,,
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status