เข้าสู่ระบบ
"Aku tidak ingin melanjutkan pernikahan ini. Sampai kapanpun, gadis manja sepertimu tidak bisa menjadi istriku, Clara!"
Ucapan sang calon suami sontak membuat Clara tersentak. "Manja?"
"Benar. Aku rasa Yolla lebih baik darimu."
Deg!
Saat ini perasaan Clara benar-benar hancur. Mengapa calon suaminya itu ingin membatalkan pernikahan mereka tepat di hari H?
Lalu, bagaimana dengan tamu undangan? Keluarga? Sudah pasti Clara akan menjadi bahan omongan orang-orang dari kalangan bisnis orang tuanya.
Clara mencoba mengatur napas. "Apa kau yakin? Aku memang manja dan mirip sekali anak kecil, pasti tidak akan ada laki-laki yang mau bertahan denganku..." ucapnya memberanikan diri."Tapi, aku tidak seperti jalangmu itu yang hobi menggoda laki-laki lain, bahkan ketika dia sendiri sudah memiliki calon suami!"
Tarra sontak mengepalkan tangannya.
Wajah pria itu memerah dan ingin sekali menghajar Clara.
Namun, ditahannya. "Jangan bawa nama Yolla ke masalah ini. Aku harap kamu akan bahagia dengan laki-laki lain," ucap Tarra dengan suara pelan lalu dia kembali membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi begitu saja.
Tarra benar-benar pergi meninggalkan Clara di dalam ruang ganti itu dengan seorang diri.
Kini buliran air mata Clara kembali menetes. Dia bingung harus apa saat ini.
Tanpa pikir panjang, perempuan itu langsung menghapus semua make-up yang ada di wajahnya.
Dia meneriaki seorang perias dan menyuruhnya untuk mengulang make-up sebelum acara mulai.
Clara kembali di make-up oleh beberapa perias.Tak lama, Haris dan Elia masuk ke dalam ruangan itu. Mereka hanya menatap heran pada Clara, ingin bertanya, tapi tidak jadi karena akan memperlambat waktu kalau mereka terus-menerus mengobrol.
"Sayang, apa adikmu baik-baik saja?" tanya Elia sambil berbisik pada suaminya, Haris."Dia kuat, dia akan baik-baik saja," jawab Haris mencoba menenangkan istrinya, Elia.Sebenarnya saat Haris dan Elia ada di luar ruangan tadi, mereka sedikit mendengar beberapa percakapan Tarra dan Clara.Namun, mereka tidak ingin mempercayai semua itu hanya mendengar saja.Tanpa disadari, menit berlalu.Clara selesai di make-up ulang. Dia pun langsung bangun dari kursi dan menatap lekat pada kakak dan kakak iparnya.
Haris dan Elisa langsung memeluk Clara dan mencoba menenangkan semuanya, walaupun mereka masih tidak percaya dengan apa yang mereka dengar tadi.Clara sebenarnya sudah tidak kuat berada disini, apa lagi dia bingung harus melakukan apa saat ini. Tarra sudah pasti tidak akan menemuinya di Altar nanti, karena dia sudah memutuskan hubungannya sepihak.Hanya saja, sang kakak mendadak memberikan ponsel milik Clara padanya. "Ada pesan dari Yordan," ucap pria itu.
Mata Clara membulat.Dengan cepat, dia mengambil ponselnya dan membaca pesan dari sahabat kecilnya dan juga pria yang harusnya menikahi Yolla.
[ Kak Yordan: Cla, bisa kita bertemu sebentar? Aku tau hari ini adalah hari pernikahan kamu, sebentar saja di taman gedung kamu menikah. Karena ternyata, pernikahan aku juga di gedung yang sama denganmu. ]Setelah membaca pesan itu, Clara segera melangkah pergi begitu saja dari ruangan ganti.Di sisi lain, Haris dan Elia hanya bisa saling tatap dan menatap kepergian Clara.'Semoga Clara selalu bahagia,' batin Haris yang merasa sakit hati dengan nasib yang akan terjadi pada adiknya, Clara.****Di Taman gedung pernikahan****Clara melihat sosok laki-laki tampan yang sudah menggunakan jas hitam, laki-laki itu tersenyum saat melihat kedatangan Clara dan langsung menghampirinya."Cantik sekali," ucap Yordan yang sudah berdiri tepat di hadapannya Clara."Kak Yordan juga tampan," kata Clara yang memuji balik pada laki-laki yang ada di hadapannya.Laki-laki itu adalah Yordan, dia juga sudah bersiap akan menikahi Yolla hari ini.Namun, dia tidak akan bisa menikahi Yolla karena beberapa menit yang lalu Yolla mengakhiri hubungannya begitu saja dan sama seperti Tarra mengakhiri begitu saja hubungannya dengan Clara.Kedua orang di taman itu tahu kelanjutannya.Pasangan mereka kabur dan menikahi satu sama lain.
Lama, keduanya berdiam diri--mengatur emosi dalam hati.
Bahkan, tak menyadari jika acara pernikahan akan dimulai, hingga suara bel menandakan pernikahan akan segera dimulai.
Clara dan Yordan menatap ke arah taman yang berada di pojok gedung.
Di sana, ada Tarra dan Yolla lalu mereka melangkah masuk bersama.
Melihat itu, hati Clara semakin sakit, apalagi saat Tarra memperlakukan Yolla dengan sangat lembut.Yordan yang sangat peka langsung menghalangi tubuhnya agar Clara tidak melihat adegan kemesraan itu.
Hatinya Yordan juga sama sakitnya seperti yang di rasakan oleh Clara, tapi dia mencoba menutupinya."Kak, aku sepertinya mau pulang saja naik taksi," ucap Clara dengan suara pelan dan tubuh sudah lemas."Kenapa pulang? Kamu harus menikah!" tegas Yordan."Haha, menikah dengan siapa? Dengan bayangan Tarra?" Kini Clara seperti orang tidak waras, dia tertawa sambil tersenyum setelah mengatakan itu.Yordan menatap lekat manik mata Clara yang sangat indah. "Denganku." "Hah? Denganmu?" Clara hanya bisa berteriak dengan mengerutkan keningnya.Yordan tidak merespon ucapan Clara, dia langsung menggenggam tangan Clara dan menuntun Clara masuk kedalam gedung pernikahan.Mereka langsung masuk ke gedung yang sudah di reservasi oleh keluarga Bastian dan keluarga Ferdinan.
Sampai di dalam gedung, semua tamu undangan sudah berkumpul dan sudah menantikan acara pernikahan di mulai.Tubuh Clara seketika gemetar. Untungnya, Yordan tetap menuntun Clara masuk kedalam sana.
'Kenapa aku melangkah menuju Altar bersama kak Yordan? Apa aku benar-benar akan menikah dengannya?' paniknya.Lima tahun berlalu. Rumah tangga Clara dan Yordan semakin hari semakin bahagia, mereka tidak menyangka hari ini adalah hari pertama anak pertamanya masuk sekolah taman kanak-kanak. Namun, sang anak sudah sangat pandai berbicara, anak mereka sangat cerewet sekali, hehehe."Ma!" Elizabeth Yora Bastian mulai berlari menghampiri kamar orang tuanya setelah dirinya sudah menggunakan seragam sekolah dan tas ransel yang sudah digendongnya. "Mama, lama banget." Yora menunjukkan ekspresi kesal, tapi ia tidak benar-benar kesal, kekesalan yang begitu imut bagi anak seusianya.Clara dan Yordan menghampiri anaknya yang sudah siap pergi ke sekolah. Clara membungkukkan badannya dan mengecup kening Yora, begitu juga dengan Yordan."Papa, papa antar aku ke sekolah, kan?" Yora menatap ayahnya dengan penuh harapan, ia berharap jika hari pertamanya sekolah diantar oleh sang ayah juga.Yordan terdiam dan menatap Clara."Papa, aku tanya papa loh!" Suara Yora begitu gemas.Terdengar suara langkah kaki yang s
Di saat Tarra dan Yolla merasakan penyesalan, di sisi lain ada Clara dan Yordan yang selalu merasakan kebahagiaan, kebahagiaan yang selalu datang bertubi-tubi membuat pasangan suami istri itu selalu bersyukur dan berterima kasih pada sang pencipta."Sayang, aku bahagia sekali saat ibu dan ayah sudah merestui kamu dan mulai bersikap baik padamu." Clara memeluk erat tubuh suaminya.Posisi Clara dan Yordan saling berhadapan, mereka sedang menatap keluar jendela dari dalam kamar, tapi Clara memeluk tubuh Yordan dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang itu, dada yang selalu membuat Clara tenang dan nyaman."Aku lebih bahagia karena mertuaku mengizinkan ibuku tinggal di sini juga." Yordan mengecup kening istrinya dengan lembut."Ternyata kebahagiaan selalu datang di waktu yang tepat," ungkap Clara yang tidak sengaja meneteskan air matanya.Saat Soni dan Sonya izinkan Dewi tinggal bersama mereka, akhirnya Yordan memutuskan untuk membawa Dewi ke rumah mewah ini, rumah yang sudah menjadi sa
Di sebuah kontrakan petak. Tarra dan Yolla sedang termenung di ruangan masing-masing. Tarra berada didalam kamar, dan Yolla berada di ruang tengah. Tarra menatap datar sebuah foto yang ada di ponselnya, foto dirinya bersama mantannya, Clara. Tarra meneteskan air matanya, ia teringat dengan semua prilaku buruknya pada sang mantan. Di sisi lain, Yolla juga seperti itu, ia menatap foto dirinya bersama mantannya, Yordan. Apakah Tarra dan Yolla menyesal? Ya. Penyesalan hadir pada Tarra dan Yolla, mereka sedang merenung atas semua yang terjadi dalam hidupnya, hidup yang begitu perih dan sangat memprihatikan."Dia sudah bahagia dengan suami dan anaknya," gumam Tarra yang sudah mengetahui sang mantan sudah memiliki anak. "Mungkin, jika aku menikah dengannya dan menjadi suaminya, aku akan bahagia." Tarra menangis tanpa suara, ia mulai mengusap air matanya dengan kasar. Lalu ia teringat orang tuanya, ia bergumam. "Jika aku kembali, apakah mereka akan menerimaku lagi?" Tarra sepertinya sudah lel
Setelah berhari-hari liburan keluarga, kini liburan itu sudah berakhir dan semuanya kembali pada aktivitasnya masing-masing. Saat ini Soni dan Sonya berada di toko roti milik Haris dan Elia yang bernama Shana's Cake. Haris dan Elia masih terus bersyukur dan terharu dengan apa yang terjadi dalam hidup mereka, mereka masih tidak menyangka dengan yang terjadi. Namun, seperti inilah rencana Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan selalu memberikan kebahagiaan setelah kesedihan."Mulai besok, ibu akan merenovasi ini." Sonya ingin merenovasi toko milik anak dan menantunya."Bu, tidak perlu." Elia merasa tidak ingin merepotkan mertuanya."Tidak apa, sekarang bilang pada ibu jika kalian membutuhkan sesuatu," ucap Sonya yang terus melangkahkan kakinya menuju kedalam dapur.Elia mengikuti langkah Sonya ke dapur, di sana Sonya memeluk erat tubuh Elia yang sedikit gemetar, gemetar karena masih tidak menyangka dengan semuanya."Elia, terima kasih, terima kasih sudah setia dan menjaga anakku." Sonya kembali
Dewi tidak ingin ikut campur dengan masalah keluarga besannya, ia lebih memilih membawa Shana dan Yora ke ruangan lain, dan terlebih dia tidak ingin anak seusia Shana mendengarkan tentang pembicaraan orang dewasa tersebut. Clara tersentuh dengan prilaku ibu mertuanya yang segera sigap dengan situasi yang ada, dan Clara selalu merasa bersalah pada mertuanya karena orang tuanya selalu memperlakukan suaminya dengan tidak baik. Namun, Clara yakin momen seperti ini akan selalu terjadi, walaupun harus lama menunggu. Apakah Soni dan Sonya akan menerima kehadiran Yordan dan Elia sebagai menantu mereka? Ya, jawabannya iya."Maafkan saya selama ini memperlakukan kalian dengan tidak baik," ungkap Sonya yang terdengar tulus, bahkan ia meneteskan air matanya, ia juga terus menatap menantunya satu persatu.Elia yang sangat cengeng langsung meneteskan air matanya, dan Haris mulai merangkul pundak istrinya dengan penuh haru. Haris juga meneteskan air matanya, ia selalu tidak menyangka dengan momen sa
Satu tahun berlalu. Sonya sempat menginginkan rencana liburan pada Soni, dan akhirnya liburannya terlaksana setelah satu tahun berlalu, karena mereka tidak ingin cucu kedua mereka berlibur saat masih bayi, mereka khawatir akan kesehatan, karena bayi mudah sakit jika pergi jauh."Akhirnya liburan keluarga." Clara senang dengan orang tuanya yang mengadakan liburan keluarga. Clara juga berharap tidak ada keributan apapun saat mereka berlibur.Liburan keluarga saat ini berada di luar kota. Soni dan Sonya menyewa villa untuk keluarga besar mereka, Sonya terlihat sangat bahagia, begitupun dengan Soni."Terima kasih sudah mengundang saya dalam acara keluarga ini," ucap Dewi yang merasa beruntung diajak berlibur dengan sang besan."Saya yang seharusnya berterima kasih padamu," kata Sonya.Seketika suasana di ruangan keluarga terasa sunyi, orang-orang yang ada di sana saling menatap satu sama lain.'Semoga tidak ada pertengkaran,' batin Haris yang selalu khawatir jika orang tuanya akan berbuat







