Partager

Malam Pertama

Auteur: NonaAns
last update Date de publication: 2026-08-13 08:42:39

Gue gay!"

Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya.

Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega.

Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya.

"Lo mau apa?" tanya Kavi heran.

"Tolong bukain retsleting gue."

Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali.

Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran.

"Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu.

Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi.

Kavi kesulitan menelan salivanya. Pikirannya sudah tidak karuan kemana-mana. Di kamar hotel, berdua dengan wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Apa lagi yang perlu ditunggu, kan?

"Kav?"

Kavi tersadar dari lamunannya. Ia memejamkan mata dan memutar tubuhnya ke belakang. Tangannya meraih pengait kecil dan menurunkannya sedikit.

"Gue ... mending tunggu di luar aja. Kalau lo udah kelar mandi, kabarin aja."

Kavi cepat-cepat membuka pintu dan kabur.

Hal itu cukup mengagetkan Aruna, terlebih Kavi sedikit membanting pintu kamar hotel itu. Aruna mendengus, lalu tersenyum miris. Ia mengambil koper kecilnya. Rupanya, Anggun sudah menyiapkan beberapa setel pakaiannya. Aruna melepas gaun itu dan ia memilih menikmati mandinya dengan santai.

Aruna mengerutkan dahi saat melihat isi kopernya semua adalah daster tipis khusus untuk tidur.

"Ibu? Kenapa dibawain daster tipis-tipis begini, sih?" kesal Aruna, tapi tak lama ia sedikit bernapas lega.

"Aman kayaknya. Kavi, kan, setengah normal. Nggak bakal notice kalau daster gue tipis."

Aruna sudah mengganti pakaiannya dengan daster. Ia bahkan membereskan bunga-bunga di atas ranjang agar lebih bersih dan nyaman untuk ditiduri.

Aruna melemparkan tubuhnya ke atas ranjang menikmati betapa lembut, empuk, dan hangatnya ranjang itu. Ia pun mengambil ponsel dan mengirimkan pesan singkat pada Kavi. Tak menunggu waktu lama, pintu hotel terbuka. Kavi sudah melepas dasinya dan membawa jas di tangannya. Ia bahkan sudah melepas beberapa kancing kemejanya dan melipat kedua lengannya.

"Mandi, gih. Gue udah kelar," ucap Aruna tak acuh. Ia bahkan asik menatap ponselnya.

Sial! Kenapa baju dia tipis banget, sih? batin Kavi.

Kavi berjalan tak acuh seraya membuka kemejanya tepat di hadapan Aruna yang seketika membuat Aruna berteriak sembari menutup kedua matanya.

"Jangan gila ya, lo! Ngapain buka baju depan gue!" kesal Aruna.

Kavi membulatkan mata. Cepat-cepat ia berlari masuk ke kamar mandi. Napasnya mulai memburu. Sepertinya, yang merasa kurang nyaman di ruangan itu tidak hanya Aruna, tapi juga Kavi.

Kavi keluar dari kamar mandi. Rambutnya tampak setengah basah dengan handuk yang melingkar di lehernya. Ia berjalan cuek dengan hanya mengenakan celana boxer tanpa atasan.

"Sinting kenapa lo nggak pakai baju?" tanya Aruna seraya kembali menutup wajahnya.

"Gue nggak bisa tidur kalau pakai baju."

"Terus lo ... topless?" tanya Aruna tak percaya.

Kavi membuang napas kasar. Ini pertama kalinya ia tidur satu kamar dengan seorang perempuan, begitu juga Aruna. Sama-sama tidak terlalu nyaman. Kavi akhirnya membuka tasnya dan mengambil kaos promosi After Rain yang masih tersisa.

"After Rain?" gumam Aruna usai melihat kaos yang dikenakan Kavi.

Kavi mengambil bantal dan merebahkan diri di atas sofa yang jelas-jelas kurang besar untuk ukuran tubuhnya.

"Kok lo nggak bilang kalau band lo itu After Rain?"

"Bilang juga percuma. Emang lo tahu?"

"Gue sering dengerin lagunya. Yah, bukan gue, tapi Naura. Pantes aja dia bisa teriak heboh waktu lihat lo."

Kavi tersenyum. "Emang lo nggak pernah denger After Rain? Kami menang Anugerah musik pendatang baru tahun lalu."

Aruna mendengus, lalu tertawa. "Gue suka lagu-lagunya, tapi sebatas itu doang. Nggak sampai gue harus tahu personel-personelnya."

Kavi mengangguk paham. "Bentar lagi lo bakal gue kenalin sama mereka. Setelah ini, lo bakal pindah ke rumah gue dan di sana lo bakal sering ketemu sama member After Rain yang lain."

"Gue harus banget, ya, tinggal di rumah lo?"

"Perjanjiannya gitu, Sayang."

Wajah Aruna tiba-tiba memerah dan terasa panas saat Kavi tiba-tiba saja memanggil sayang padanya tanpa alasan.

"Kalau gitu, gue bakal dikasih kamar sendiri, kan? Nggak sama lo?"

Kavi mengangguk. "Lo bakal tidur di kamar gue. Kamarnya di lantai dua. Lebih nyaman daripada kamar tamu. Lo disana aja besok dan yang lebih penting, lo bakal aman dari keusilan member After Rain lainnya."

Aruna pun mengangguk setuju.

"Lo yakin mau tidur di sofa?" Aruna diam sejenak. Ia meremas ujung dasternya seraya menggeser sedikit posisi tidurnya.

"Ranjangnya luas. Lebih dari cukup kalau buat nampung kita berdua. Lo tidur sini aja, Kav."

Blush!

Entah kenapa, meminta Kavi tidur satu ranjang dengannya membuat wajah Aruna memanas.

"Gue di sini aja. Takut lo nggak nyaman."

"Tapi, di situ sempit. Kaki lo aja gantung. Sini aja, Kav. Gue nggak apa-apa, kok. Semalam ini doang. Lagipula lo bilang tadi kan, lo gay, jadi nggak bakal macem-macem sama gue," ucap Aruna seraya tersenyum.

Skakmat, Kavi! Lo kena tipuan lo sendiri, batin Kavi.

Ia perlahan beranjak dari tempatnya dan pelan-pelan merebahkan diri di atas ranjang. Takut mengganggu kenyamanan Aruna. Namun, Aruna justru mengubah posisi tidurnya menghadap pada Kavi yang seketika membuat Kavi terkejut.

"Lo tahu nggak, gue lagi kecintaan banget sama crush gue," ucap Aruna dengan mata berbinar.

Kavi menatap datar.

Tidur sama suami, masih bahas kecintaan sama cowok lain, batin Kavi.

Aruna mengambil ponselnya dan menunjukkan foto media sosial yang baru saja diunggah oleh kampusnya. Ia menunjukkan foto itu pada Kavi.

"Keren, kan, gebetan gue!" ucap Aruna girang.

Kavi menatap layar ponsel itu. Matanya membulat, rahangnya dengan cepat mengeras dan kedua tangannya seketika mengepal kuat. Orang yang ada di layar ponsel itu adalah Nathan Mahendra, asisten dosen mata kuliah Hukum Pidana.

Dia? Bajingan ini! Jangan sampai Aruna dekat sama dia! Batin Kavi.

________________________

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Suami Setengah Normal   Malam Pertama

    Gue gay!"Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya. Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega.Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya. "Lo mau apa?" tanya Kavi heran. "Tolong bukain retsleting gue." Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali.Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran."Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu.Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi.Kavi kesulitan menelan salivanya. Pikiran

  • Suami Setengah Normal   Hari H Pernikahan

    Aruna cepat-cepat menggandeng Kavi keluar dari kampusnya menuju mobilnya. Aruna tampak sangat kesal. "Lo marah?" tanya Kavi. "Iya! Lo udah lancang turun! Sekarang Naura udah tahu lo!" kesal Aruna. Kavi tersenyum. "Mungkin memang sejak awal temen lo udah kenal gue, bukan karena gue datang sama lo." Aruna mengambil napas dalam-dalam mencoba menetralkan deru napasnya. "Lagipula lo udah bilang kalau gue sepupu lo. Apa lagi masalahnya?" tanya Kavi bingung. "Ada! Masalahnya, dia ngefans banget sama After Rain dan lo ternyata adalah biasnya!" Kavi tertawa. "Cemburu hm?" godanya. Aruna hanya memanyunkan bibirnya. Rahangnya mulai mengeras dan hal itu membuat Kavi justru semakin gemas. Ia mencubit kecil pipi Aruna sebelum kembali mengendarai mobilnya. "Lo mau bawa gue kemana?" tanya Aruna. "Fitting baju. Lo nggak ada acara, kan?" Aruna membuang napas kasar. Tidak ada pilihan. Pernikahan itu sudah ditentukan, berikut tanggal, gaun, dan acaranya. Aruna bersedekap. Pasrah. "Gue

  • Suami Setengah Normal   Sepupu Dari Amerika

    Aruna menutup kepalanya dengan bantal manakala ia mendengar suara ketukan keras dari arah pintu kamarnya. Aruna mengerang. Matanya masih terasa sangat berat, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Aruna hanya berharap jika rencana pernikahannya dengan Kavi hanyalah mimpi buruknya. Namun, ia segera tersentak manakala Anggun membangunkannya dengan sangat keras dan jelas Anggun terus berteriak. "Aruna, bangun! Ada Kavi di bawah!" Aruna segera bangkit dari tempat tidurnya. Napasnya memburu, matanya membulat. Wajahnya mengkerut karena kesal. Ia mengacak rambutnua frustrasi. Ternyata drama perjodohannya adalah kisah nyata. "Oke, Bu!" jawab Aruna malas. Aruna berjalan membuka pintu dan melihat Anggun sudah berdiri di sana dengan wajah kesal. "Kamu masih perawan, tapi nggak bisa bangun pagi! Kamu bukannya ada kuliah pagi hari ini?" tanya Anggun yang segera membuat mata Aruna kian membulat. Sial! Hari ini adalah Kuliah Hukum Pidana, favoritnya. Bukan karena mata kuliahnya, tap

  • Suami Setengah Normal   Kesepakatan

    Mata Aruna membulat. Tidak percaya dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Kavi. "Lo gila? Nikah kontrak, kan, tetep aja kita nikah!" kesal Aruna. Kavi membuang napas kasar. ia tampak frustrasi dengan napas yang mulai memburu. "Gue nggak mau nikah, lo sama. Kalau kita nggak nikah sekarang, gue yakin banget Oma Odil akan nyari calon lain buat dinikahin sama gue. Jujur aja gue capek. Gue jenuh. Emangya, kalau lo nggak nikah sama gue sekarang, Eyang Dhali nggak bakal cari calon lain buat jadi suami lo?" Tubuh Aruna menegang kaku. Ia menahan napas sejenak, membayangkan betapa keras usahanya menolak pernikahan, Dhali pasti akan menekannya lagi dengan permintaan-permintaan konyol soal pernikahan itu. Aruna menggeleng seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Penolakannya seolah sia-sia. "Gue nggak mau nikah!" ucap Aruna seraya merengek. "Karena itu,gue mau menawarkan kesepakatan yang adil buat kita.Besok, kita ketemu lagi untuk bahas k

  • Suami Setengah Normal   Tradisi Dalam Keluarga Feodal

    "Gue gay!" Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya. Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega. Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya. "Lo mau apa?" tanya Kavi heran. "Tolong bukain retsleting gue." Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali. Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran. "Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu. Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi. *** "Aruna ...." Tangan rent

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status