Suami Setengah Normal

Suami Setengah Normal

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-08-13
Oleh:  NonaAnsOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
5Bab
7Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Kavi Rafandra (24 tahun) dan Aruna Maheswari (20 tahun) terpaksa menikah untuk memenuhi permintaan terakhir Oma Dhali (Nenek Aruna) yang baru saja selamat dari serangan jantung. Untuk itu, Kavi dan Aruna bersepakat untuk menikah kontrak dan menyembunyikan perihal pernikahan mereka dari orang lain (selain keluarga). Karena rasa terpaksa yang sama, akhirnya Kavi dan Aruna sepakat membuat perjanjian untuk menikah kontrak. Masa kontrak disepakati akan berakhir jika Oma Dhali meninggal dunia. Kavi dan Aruna menyembunyikan perihal surat kontrak ini. Untuk meyakinkan keluarga, Kavi mengajak Aruna untuk tinggal bersama. Namun, saat malam pertama, Aruna mengetahui satu fakta. Kavi seorang gay, tanpa Aruna tahu bahwa pengakuan itu hanya dibuat Kavi untuk menjaga jarak aman dengan Aruna dan agar Aruna merasa nyaman saat berada di dekat Kavi. Namun, siapa sangka Kavi justru terjebak dalam kebohongannya sendiri.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Tradisi Dalam Keluarga Feodal

"Gue gay!"

Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya.

Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega.

Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya.

"Lo mau apa?" tanya Kavi heran.

"Tolong bukain retsleting gue."

Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali.

Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran.

"Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu.

Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi.

***

"Aruna ...."

Tangan rentanya lemah menyentuh, lalu meremas dua tangan Aruna yang berdiri di samping brangkar perawatannya. Dhali, wanita baya itu terbaring lemah di atas brangkar ruang perawatan intensive. Ia baru saja lolos dari krisis, serangan jantung nyaris saja merenggut nyawanya.

"Eyang mohon padamu, terimalah perjodohan ini," ucap Dhali dengan suara bergetar dan sedikit tercekat.

"Ini permintaan terakhir Eyang. Sebelum eyang benar-benar pergi dari dunia ini,eyang mau lihat Aruna menikah," lanjut Dhali.

Aruna terdiam, terpaku, napasnya memberat. Ia mendongak menatap kedua orang tuanya yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Aruna meminta pembelaan, paling tidak mendukungnya untuk menolak permintaan konyol Dhali, tapi tidak satu pun yang maju melakukan pembelaan.

"Tapi Aruna nggak mau nikah muda,Eyang,"tolak Aruna dengan suara bergetar.

Dhali membulatkan mata, air matanya sudah mengambang di sana sejak tadi. Dadanya mulai sesak dan alat monitor detak jantungnya berubah menjadi lebih cepat dari sebelumya.

Anggun, ibunda Aruna menyentuh lengan putrinya,menatap Aruna dengan sorot penuh permohonan.

"Aruna,ini permintaan terakhir Eyang. Hanya kamu cucu eyang yang belum menikah. Eyang mau melihatmu menikah secepatnya,"ucap Dhali.

"Nggak bisa gitu, Eyang. Aruna nggak mau asal pilih calon suami! Pernikahan itu nggak kayak milih kucing dalam karung, Eyang," protes Aruna.

Anggun kembali melingkarkan tangan di pundak Aruna, mencoba menenangkan putrinya itu.

"Sayang, ini nggak seperti milih kucing dalam karung. Perjodohan ini datang dari Oma Odil, beliau sahabat dekat Eyang sejak lama. Kami sudah lama saling mengenal.Keluarga Oma Odil bukan keluarga sembarangan, Sayang. Mereka ...."

Belum Anggun menyelesaikan ucapannya, Aruna sudah menatapnya penuh kemarahan.

"Bu, Aruna nggak mau menikah! Ibu paham nggak, sih?" ucap Aruna dengan nada sedikit meninggi.

Suara monitor kembali berbunyi dengan ritme lebih cepat, tak lama kemudian Dhali kembali mengalami sesak napas. Anggun membulatkan mata. ia menekan tombol untuk memanggil perawat. Dhali kembali mendapat penanganan serius.

Saat berada di luar ruang intensive, Cipta, ayah Aruna mendekati putrinya dan menatapnya penuh arti.

"Ayah tahu, kamu tidak mau menikah muda. Banyak rencana yang ingin kamu capai, tapi ... kamu lihat, kan,kondisi eyang, Runa? Eyang tidak dalam keadaan yang baik. Emosi bisa memperburuk keadaan, jadi tolong ... ayah mohon turuti saja permintaannya," ucap Cipta lembut.

Aruna menatap langit yang mulai menggelap. Mendungnya menggantung seolah berempati dengan keadaan Aruna saat ini. Aruna memejamkan mata.Dadanya terasa sesak,napasnya memberat seperti sedang dihantam benda berat.

Air mata Aruna tiba-tiba mengalir di pipinya bersamaan dengan hujan yang mengguyur deras sore itu. Tangan Aruna meremas. ia gamang untuk memilih.

Saat bersamaan, Anggun menggandeng tangan seorang wanita renta dengan tongkat di tangannya. Penampilannya tampak elegan dan masih terlihat gurat-gurat kecantikan di wajahnya.

"Aruna,ini Oma Odil."

Aruna mengusap air matanya, ia menahan napasnya sejenak saat mendengar nama Oma Odil disebut. Tubuhnya menegang kaku. Namun, tak lama Aruna berjengit saat tangan hangat dan lembut Odil meraih tangan kanannya dan menggenggamnya.

Oma Odil tersenyum. Bibirnya melengkung tulus seperti bulan sabit. Ia mengusap lembut wajah Aruna.

"Cantik," ucapnya.

"Kavi ...."

Aruna menatap seorang pria dengan kaos lengan panjang, mengenakan masker hitam dan topi dengan warna senada melangkah dan berdiri tepat di samping Oma Odil.

"Aruna, perkenalkan ini Kavi, cucu oma," ucap Oma Odil.

Aruna dan Kavi saling memandang. Sedetik mereka bersalaman, tapi kemudian dikagetkan dengan pintu ruang perawatan yang kembali terbuka.

"Eyang sudah stabil,"ucap Cipta seraya mempersilakan Oma Odil dan cucunya untuk masuk.

"Kavi, sudah kenal cucu eyang?" tanya Dhali.

Kavi mengangguk. "Sudah, Eyang. Cucu eyang cantik sekali," ucap Kavi.

Aruna mencebikkan bibir dan menatap Kavi penuh dendam.

Dhali dan Odil tersenyum. "Dia calon istrimu, Kavi," ucap Dhali.

Seolah ribuan panah baru saja menghantam dada Aruna, dadanya bertambah sesak. Ia menatap Kavi dan tersenyum penuh ironi.

"Gimana, Aruna? Kavi nggak seperti kucing yang kamu pilih dalam karung,kan?" tanya Dhali sedikit menyindir ucapan Aruna tadi.

Aruna membuang napas kasar.

"Tetap saja, Aruna nggak mau menikah dengan orang asing, Eyang. Aruna nggak kenal dia," ucap Aruna tegas.

"Kalau begitu, nggak ada salahnya kenalan dulu," ucap Kavi yang seketika membuat Aruna melotot.

"Boleh Kavi bicara berdua dengan Aruna, Eyang?" tanya Kavi sopan.

Dhali dan Odil menyambut permintaan Kavi dengan penuh suka cita. Kedua eyang itu pun mengangguk bersamaan.

"Jadi, sebenarnya lo mau ajak gue kemana? Lo nggak benar-benar mau ngobrol sama gue, kan?" tanya Aruna kesal seraya berhenti melangkah dan bersedekap menatap Kavi.

"Gue memang mau ngajakin lo ngobrol, kok," jawab Kavi.

"Ya udah, ngobrol aja di sini!" Aruna menegaskan jika ia tidak ingin melangkah kemanapun.

Kavi menatap sekitar. Mereka kini berada tepat di depan lift pengunjung. Kavi menggeleng. Ia memencet tombol lift. Mau tidak mau, Aruna pun mengekori langkah Kavi menuju kedai kopi yang ada di kantin rumah sakit itu.

"Cepetan, lo mau ngomong apa?" ucap Aruna tegas.

Kavi tampak santai usai menyodorkan satu gelas es kopi latte di hadapan Aruna. Kavi duduk tenang, ia menatap Aruna seraya bersedekap dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Jadi, lo nggak mau nikah?" tanya Kavi langsung pada intinya.

Aruna mengangguk tegas.

"Sama."

Aruna mengerutkan dahi, bingung dengan ucapan Kavi barusan.

"Terus? Kenapa nggak lo batalin?"

"Nggak bisa."

Sedetik kemudian, tubuh Aruna melemah, seolah harapan satu-satunya terhindar dari pernikahan ini lenyap.

"Tapi, gue bisa menawarkan sebuah kesepakatan." Kavi menghentikan sejenak ucapannya. Ia tahu ada rasa penasaran di balik sorot mata Aruna padanya. "Nikah kontrak."

______________________

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
5 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status