Accueil / Romansa / Suami Setengah Normal / Sepupu Dari Amerika

Partager

Sepupu Dari Amerika

Auteur: NonaAns
last update Date de publication: 2026-08-13 08:39:48

Aruna menutup kepalanya dengan bantal manakala ia mendengar suara ketukan keras dari arah pintu kamarnya. Aruna mengerang. Matanya masih terasa sangat berat, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Aruna hanya berharap jika rencana pernikahannya dengan Kavi hanyalah mimpi buruknya. Namun, ia segera tersentak manakala Anggun membangunkannya dengan sangat keras dan jelas Anggun terus berteriak.

"Aruna, bangun! Ada Kavi di bawah!"

Aruna segera bangkit dari tempat tidurnya. Napasnya memburu, matanya membulat. Wajahnya mengkerut karena kesal. Ia mengacak rambutnua frustrasi. Ternyata drama perjodohannya adalah kisah nyata.

"Oke, Bu!" jawab Aruna malas.

Aruna berjalan membuka pintu dan melihat Anggun sudah berdiri di sana dengan wajah kesal.

"Kamu masih perawan, tapi nggak bisa bangun pagi! Kamu bukannya ada kuliah pagi hari ini?" tanya Anggun yang segera membuat mata Aruna kian membulat.

Sial! Hari ini adalah Kuliah Hukum Pidana, favoritnya. Bukan karena mata kuliahnya, tapi karena dosen pengampunya. Seorang mahasiswa magister hukum yang menjadi asisten dosen yang mengampu dan tidak lain adalah gebetan Aruna.

"Kavi? Ngapain ke sini pagi-pagi?" tanya Aruna heran. Ternyata, ucapan ibunya tadi pagi bukanlah ilusi.

Kavi yang baru saja meletakkan gelas kopinya itu pun mendongak seraya tersenyum.

"Mampir aja. Kamu ada kuliah pagi? Biar aku antar," ucap Kavi lembut dan sopan.

Aruna mengerutkan dahi dan segera menolak mentah-mentah tawaran Kavi itu.

"Nggak usah! Gue bisa jalan sendiri!"

Mendengar penolakan putrinya, Anggun pun segera menggeplak lengan Aruna dengan keras.

"Yang sopan sama calon suami! Kavi udah menyempatkan datang pagi-pagi buat jemput kamu, hargai, dong, Run!" kesal Anggun.

Aruna mengembuskan napas pasrah. Ia hanya mengambil segelas susu, meneguknya hingga tandas, lalu berpamitan dengan Anggun.

"Lain kali nggak usah jemput. Gue bisa berangkat dan pulang sendiri. Gue memang anak tunggal, tapi gue bukan anak manja! Lagian ngapain nada bicara lo jadi sopan banget. Pakai aku-kamu, kita belum sedeket itu, ya, Kav!" ucap Aruna kesal.

Kavi tersenyum miring sembari mengendari mobilnya menuju kampus tempat Aruna belajar.

"Ya kali, gue ngomong gini waktu ada nyokap lo. Bisa langsung di coret jadi calon mantu," ujar Kavi.

"Ya, bagus, dong! Biar kita nggak jadi nikah!" jawab Aruna kesal.

Kavi membuang napas kasar. Ia mengambil secarik kertas dari dalam dashbord mobilnya.

"Gue jemput lo bukan tanpa alasan. Ini kontrak yang udah lo ajukan ke gue semalam. Gue udah tanda tangan dan giliran lo! Terus, hari ini Oma sama Eyang udah memutuskan tanggal pernikahan kita. Awal bulan depan. Setelah lo selesai kuliah, kita harus fitting baju," ucap Kavi tegas.

Aruna menatap lembaran kertas itu dan membacanya.

"What? Awal bulan depan? Ini dua minggu dari sekarang! Kok bisa cepet banget?" tanya Aruna tidak terima.

Kavi menggedikkan bahunya. Ia terus menyetir dan tidak terlalu fokus pada Aruna yang sudah sejak tadi bergumam tidak jelas.

"Stop sini aja!" ucap Aruna saat mobil Kavi memasuki area parkir Fakultas Hukum Universitas Pratama.

Kavi melirik. "Kenapa?"

"Gue nggak mau temen-temen gue banyak pertanyaan!"

Tidak perlu menunggu mobil benar-benar berhenti, Aruna sudah turun dari mobil dan terburu-buru berlari meninggalkan mobil Kavi.

Aruna berlari kencang. Ia panik karena jam kuliahnya sebentar lagi dan Asisten dosen itu tidak suka keterlambatan. Aruna berlari dengan terburu-buru hingga tanpa sengaja menabrak seseorang yang baru saja keluar dari ruang dosen.

Bruk!

Kertas berhamburan. Aruna bahkan tersungkur di atas lantai. Ia mulai meracau, meminta maaf dengan cepat seraya memunguti kertas-kertas yang berhamburan di lantai. Orang yang ditabraknya ikut berjongkok dan mulai memunguti kertas, tapi tanpa sengaja menyentuh kertas yang juga akan dipungut oleh Aruna.

Aruna berjengit. Ia mendongak. Napasnya berhenti sejenak, bersamaan dengan kedua matanya yang tidak berkedip. Aruna syok, orang yang ia tabrak tadi adalah Asisten dosen yang akan mengajar di kelasnya.

"Astaga! Pak ... Nathan?" gumam Aruna dengan suara bergetar.

Nathan membenarkan kacamatanya seraya kembali berdiri.

"Maafin saya, Pak karena saya terburu-buru untuk masuk kelas bapak," ucap Aruna seraya menunduk.

Nathan menatap Aruna dengan sorot mata elangnya.

"Kelas saya?" tanya Nathan. Suaranya mendominasi sekaligus mengintimidasi.

Aruna kesulitan menelan salivanya. Takut-takut ia menatap Nathan.

"I-iya, Pak," jawab Aruna terbata.

Nathan tampak menatap jam tangannya sejenak, lalu kembali menatap Aruna seraya menggeram menahan kesal.

"Gara-gara kamu, saya terlambat 5 menit!" ujar Nathan tegas.

"Kamu akan membayar semua dengan tugasmu!" lanjutnya lagi sebelum pergi meninggalkan Aruna.

Aruna merengek. Tugas dari Nathan bukanlah hal main-main, manusia itu pelit nilai.

"Mati gue!" cicit Aruna seraya merengek.

"Lo kemana aja? Nggak masuk kelas?"

Aruna mendongak, ia melihat Naura berjalan turun menemui Aruna di selasaran tepat di depan kantor dosen.

"Gue telat. Kena hukum Pak Nathan," ucap Aruna seraya merengek.

Naura menaikkan satu alisnya. "Kok bisa? Pak Nathan bahkan kosong hari ini."

Aruna mengerutkan dahi. "Hah? Kok bisa kosong, tadi gue ketemu dia ...."

"Ya, memang ada, tapi doi telat, kesepakatannya kalau dia yang telat kuliahnya kosong. Lumayan, kan, bisa cari sarapan dulu kita," ucap Naura.

Aruna menunduk dan mulai menghentak-hentakkan kakinya. Kesal pada dirinua sendiri.

"Udah, mending lo ... Astaga! Run, cubit gue cepetan!" teriak Naura.

Aruna yang kebingungan pun segera mencubit pipi Naura keras-keras. Naura mengerang kesakitan, mengusap-usap pipinya, tapi senyumnya mengembang sempurna. Mungkin Naura gila. Namun, satu hal yang Aruna sadari, pandangan Naura sejak tadi tidak berubah. Aruna menoleh, mencoba menatap fokus dari sorot mata Naura, tapi Aruna justru dikejutkan dengan kehadiran Kavi dikampusnya.

Penampilannya cukup sederhana, hanya mengenakan kaos oblong dan celana panjang warna hitam dengan topi warna senada. Ia berjalan di koridor yang segera membuat para mahasiswi bersorak histeris.

"Sumpah! Gue mimpi apa malam tadi, dia ... Kavi Rafandra, vokalis After Rain!" teriak Naura yang seketika membuat Aruna mati kutu di hadapan Kavi yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya.

"Handphone lo ... ketinggalan di mobil gue," ucap Kavi santai.

Aruna terdiam di tempatnya. Hal itu membuat Naura mengerutkan dahi.

"Lo kenal sama Kavi, Run?" tanya Naura bersemangat.

Aruna membeku sejenak. Ia memutar otak, mencari jawaban yang tepat. Kavi menatap Naura dan menyodorkan tangannya untuk memperkenalkan diri. Tepat saat itu, Aruna segera berkata, "Dia ... sepupu gue dari Amerika!"

________________________

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Suami Setengah Normal   Malam Pertama

    Gue gay!"Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya. Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega.Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya. "Lo mau apa?" tanya Kavi heran. "Tolong bukain retsleting gue." Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali.Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran."Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu.Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi.Kavi kesulitan menelan salivanya. Pikiran

  • Suami Setengah Normal   Hari H Pernikahan

    Aruna cepat-cepat menggandeng Kavi keluar dari kampusnya menuju mobilnya. Aruna tampak sangat kesal. "Lo marah?" tanya Kavi. "Iya! Lo udah lancang turun! Sekarang Naura udah tahu lo!" kesal Aruna. Kavi tersenyum. "Mungkin memang sejak awal temen lo udah kenal gue, bukan karena gue datang sama lo." Aruna mengambil napas dalam-dalam mencoba menetralkan deru napasnya. "Lagipula lo udah bilang kalau gue sepupu lo. Apa lagi masalahnya?" tanya Kavi bingung. "Ada! Masalahnya, dia ngefans banget sama After Rain dan lo ternyata adalah biasnya!" Kavi tertawa. "Cemburu hm?" godanya. Aruna hanya memanyunkan bibirnya. Rahangnya mulai mengeras dan hal itu membuat Kavi justru semakin gemas. Ia mencubit kecil pipi Aruna sebelum kembali mengendarai mobilnya. "Lo mau bawa gue kemana?" tanya Aruna. "Fitting baju. Lo nggak ada acara, kan?" Aruna membuang napas kasar. Tidak ada pilihan. Pernikahan itu sudah ditentukan, berikut tanggal, gaun, dan acaranya. Aruna bersedekap. Pasrah. "Gue

  • Suami Setengah Normal   Sepupu Dari Amerika

    Aruna menutup kepalanya dengan bantal manakala ia mendengar suara ketukan keras dari arah pintu kamarnya. Aruna mengerang. Matanya masih terasa sangat berat, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Aruna hanya berharap jika rencana pernikahannya dengan Kavi hanyalah mimpi buruknya. Namun, ia segera tersentak manakala Anggun membangunkannya dengan sangat keras dan jelas Anggun terus berteriak. "Aruna, bangun! Ada Kavi di bawah!" Aruna segera bangkit dari tempat tidurnya. Napasnya memburu, matanya membulat. Wajahnya mengkerut karena kesal. Ia mengacak rambutnua frustrasi. Ternyata drama perjodohannya adalah kisah nyata. "Oke, Bu!" jawab Aruna malas. Aruna berjalan membuka pintu dan melihat Anggun sudah berdiri di sana dengan wajah kesal. "Kamu masih perawan, tapi nggak bisa bangun pagi! Kamu bukannya ada kuliah pagi hari ini?" tanya Anggun yang segera membuat mata Aruna kian membulat. Sial! Hari ini adalah Kuliah Hukum Pidana, favoritnya. Bukan karena mata kuliahnya, tap

  • Suami Setengah Normal   Kesepakatan

    Mata Aruna membulat. Tidak percaya dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Kavi. "Lo gila? Nikah kontrak, kan, tetep aja kita nikah!" kesal Aruna. Kavi membuang napas kasar. ia tampak frustrasi dengan napas yang mulai memburu. "Gue nggak mau nikah, lo sama. Kalau kita nggak nikah sekarang, gue yakin banget Oma Odil akan nyari calon lain buat dinikahin sama gue. Jujur aja gue capek. Gue jenuh. Emangya, kalau lo nggak nikah sama gue sekarang, Eyang Dhali nggak bakal cari calon lain buat jadi suami lo?" Tubuh Aruna menegang kaku. Ia menahan napas sejenak, membayangkan betapa keras usahanya menolak pernikahan, Dhali pasti akan menekannya lagi dengan permintaan-permintaan konyol soal pernikahan itu. Aruna menggeleng seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Penolakannya seolah sia-sia. "Gue nggak mau nikah!" ucap Aruna seraya merengek. "Karena itu,gue mau menawarkan kesepakatan yang adil buat kita.Besok, kita ketemu lagi untuk bahas k

  • Suami Setengah Normal   Tradisi Dalam Keluarga Feodal

    "Gue gay!" Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya. Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega. Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya. "Lo mau apa?" tanya Kavi heran. "Tolong bukain retsleting gue." Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali. Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran. "Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu. Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi. *** "Aruna ...." Tangan rent

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status