LOGINMata Aruna membulat. Tidak percaya dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Kavi.
"Lo gila? Nikah kontrak, kan, tetep aja kita nikah!" kesal Aruna. Kavi membuang napas kasar. ia tampak frustrasi dengan napas yang mulai memburu. "Gue nggak mau nikah, lo sama. Kalau kita nggak nikah sekarang, gue yakin banget Oma Odil akan nyari calon lain buat dinikahin sama gue. Jujur aja gue capek. Gue jenuh. Emangya, kalau lo nggak nikah sama gue sekarang, Eyang Dhali nggak bakal cari calon lain buat jadi suami lo?" Tubuh Aruna menegang kaku. Ia menahan napas sejenak, membayangkan betapa keras usahanya menolak pernikahan, Dhali pasti akan menekannya lagi dengan permintaan-permintaan konyol soal pernikahan itu. Aruna menggeleng seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Penolakannya seolah sia-sia. "Gue nggak mau nikah!" ucap Aruna seraya merengek. "Karena itu,gue mau menawarkan kesepakatan yang adil buat kita.Besok, kita ketemu lagi untuk bahas kontraknya. Deal?" ucap Kavi seraya menyodorkan tangannya mengajak Aruna untuk bersalaman. Aruna menatap tangan yang menggantung di hadapannya. Aruna menelan salivanya susah payah. Ia menggigit bibir bawahnya, ragu dengan langkah yang akan ia ambil. Aruna mengambil napas dalam-dalam, sebelum akhirnya menjabat tangan Kavi dengan erat. "Deal!" Kavi menyodorkan ponselnya pada Aruna. "Tulis nomor lo di situ. Besok gue hubungi lagi dan gue harap lo udah siap dengan isi kontrak lo," ucap Kavi tegas. *** Aruna mengambil secarik kertas entah untuk keberapa kalinya. Ia sudah banyak membuang kertas-kertas di lantai kamarnya. Aruna berpikir keras untuk menuliskan keinginannya dalam kertas itu. Aruna berjengit manakala ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk. Kucing Dalam Karung : Sharlock rumah lo, dong. Urusan gue udah kelar. Aruna mengembuskan napas kasar. ia membalas pesan Kavi, lalu kembali fokus menulis kesepakatannya. Aruna bergegas memunguti kertas-kertas yang berserakan di atas lantai untuk dibuang saat ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. "Ibu?" ucap Aruna saat melihat Anggun berdiri di ambang pintu. Anggun tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia menarik menggenggam lembut tangan Aruna, mengusapnya beberapa kali sebelum mengecup punggung tangan itu dengan lembut. Aruna menatap heran. "Ada apa, Bu?" "Ibu merasa bersalah tidak bisa membelamu tadi. Ibu tahu kau tidak mau menikah muda seperti sepupu-sepupumu, tapi ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti yang kamu ketahui,keputusan Eyang mutlak di keluarga ini. Ibu nggak punya kekuatan untuk menyanggahnya," gumam Anggun yang masih dapat di dengar oleh Aruna. Aruna mengembuskan napas panjang. "Aruna nggak menyalahkan ibu, kok. Jadi, nggak perlu minta maaf. Aruna tahu, Aruna ngga bisa menghindari perjodohan. Itu sudah seperti tradisi di keluarga ini." Anggun mengusap lembut wajah Aruna. "Ada Kavi di bawah.Kamu ganti baju, Kavi izin untuk ajak kamu pergi." Aruna menahan napas sejenak sebelum tersenyum kaku. Ia pun mengangguk. Setelah beberapa saat, Aruna turun menemui Kavi yang sedang mengobrol akrab dengan Anggun seraya menatap sebuah album foto. "Nah, Nak Kavi, itu Aruna sudah siap," ucap Anggun saat melihat Aruna mendekat. Kavi mendongak dan tersenyum saat melihat Aruna berdiri di hadapannya. "Kalau gitu, Kavi izin ajak Aruna keluar sebentar. Kavi janji nggak akan malam-malam, Tante,"ucap Kavi lembut. Ia membukakan pintu mobilnya untuk Aruna dan memastikan sabuk pengaman sudah terpasang sempurna di tubuh Aruna. Kavi berlari menuju kursi kemudinya dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Lo mau ajak gue kemana?" tanya Aruna heran. "Makan sate, gue laper." Mobil terparkir sempurna tepat di depan sebuah restoran Steak And Bistro. Alis Aruna terangkat saat Kavi kembali membukakan pintu mobil itu untuk Aruna. "Sate hmm?" sindir Aruna. Kavi tersenyum. Ia berjalan menuju sebuah ruangan privat di restoran itu. "Nggak ada orang di sini, jadi kita bebas buat bicarakan kontraknya. Kalau lo mau pesan sesuatu, jangan sungkan." Kavi duduk di hadapan Aruna, melepaskan jaket denimnya dan duduk seraya menatap buku menu di hadapannya. "Pesan apa?" tanya Kavi. "Orange Jus sama aglio olio pasta." Kavi mengangguk. Ia beranjak dari tempatnya, menemui pelayan restoran itu untuk menyampaikan pesanannya dan tak lama kembali lagi ke ruangan itu dan duduk santai di tempatnya. "Oke, jadi,lo mau nikah kontrak kita soal apa?" tanya Kavi tanpa basa basi. Aruna menunduk.Ia menggigit bibir bawahnya seraya membuang napas kasar. "Jujur, gue belum tulis kontraknya,"cicit Aruna. Kavi mengangguk. "Nggak masalah. Gue juga nggak tulis kontraknya. Lo bisa langsung bilang aja,nanti gue yang siapkan segala sesuatunya." "Gue mau, pernikahan kita jadi rahasia. Nggak ada yang boleh tahu selain keluarga,"ujar Aruna. "Rahasia, oke,tapi teman- teman band gue bisa jadi pengecualian." Aruna mengerutkan dahi. "Temen band?" "Mereka udah seperti keluarga gue sendiri. Gue bisa sampaikan klausul khusus ini sama mereka. Tenang aja, mereka bisa dipercaya, kok," ucap Kavi. "Gue juga nggak mau melibatkan perasaan selama kita menikah. Nggak ada kontak fisik dalam bentuk apapun, termasuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Jujur aja, ada cowok yang gue suka dan gue nggak mau kehadiran lo bikin kacau usaha pendekatan gue sama crush gue." Kavi bersedekap. Ia mendengus, lalu tertawa. "Karena lo nikah sama gue, artinya gue bawa amanah dari kedua orang tua lo buat jagain lo. Jadi, kalau lo mau kemana-mana sama crush lo itu, mau nggak mau lo harus izin sama gue." Aruna menggeram kesal, tapi ia tak ada pilihan selain setuju. "Ada lagi?" tanya Kavi. "Lo nggak mau sampaikan klausula lo?" tanya Aruna heran. "Klausul gue cuma dua. Pertama, setelah menikah, lo tinggal sama gue di rumah gue. Yang kedua, jangan pernah masuk ke studio yang jadi tempat kerja gue. Selebihnya, gue setuju semua syarat yang lo ajukan." Aruna menahan napas sejenak usai mendengar ucapan Kavi barusan. "Gue nggak mau tinggal sama lo!" tolak Aruna mentah-mentah. "Menurut gue, jauh lebih aman kalau lo ikut gue. Lo nggak mau, kan, kontrak ini ketahuan sebelum waktunya selesai? Rumah gue, otoritas gue, jadi gue pastikan lo bakal aman di sana." Aruna menggeram kesal. Ia tidak punya daya tawar lebih dan ucapan Kavi ada benarnya juga. "Deal!" ucap Aruna kesal. Kavi tersenyum. Ia mengajukan jari kelingkingnya dan meminta Aruna menautkan jari kelingkingnya juga sebagai simbol janji mereka. "Jadi, enaknya kita nikah untuk berapa lama?" tanya Kavi. ______________________Gue gay!"Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya. Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega.Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya. "Lo mau apa?" tanya Kavi heran. "Tolong bukain retsleting gue." Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali.Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran."Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu.Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi.Kavi kesulitan menelan salivanya. Pikiran
Aruna cepat-cepat menggandeng Kavi keluar dari kampusnya menuju mobilnya. Aruna tampak sangat kesal. "Lo marah?" tanya Kavi. "Iya! Lo udah lancang turun! Sekarang Naura udah tahu lo!" kesal Aruna. Kavi tersenyum. "Mungkin memang sejak awal temen lo udah kenal gue, bukan karena gue datang sama lo." Aruna mengambil napas dalam-dalam mencoba menetralkan deru napasnya. "Lagipula lo udah bilang kalau gue sepupu lo. Apa lagi masalahnya?" tanya Kavi bingung. "Ada! Masalahnya, dia ngefans banget sama After Rain dan lo ternyata adalah biasnya!" Kavi tertawa. "Cemburu hm?" godanya. Aruna hanya memanyunkan bibirnya. Rahangnya mulai mengeras dan hal itu membuat Kavi justru semakin gemas. Ia mencubit kecil pipi Aruna sebelum kembali mengendarai mobilnya. "Lo mau bawa gue kemana?" tanya Aruna. "Fitting baju. Lo nggak ada acara, kan?" Aruna membuang napas kasar. Tidak ada pilihan. Pernikahan itu sudah ditentukan, berikut tanggal, gaun, dan acaranya. Aruna bersedekap. Pasrah. "Gue
Aruna menutup kepalanya dengan bantal manakala ia mendengar suara ketukan keras dari arah pintu kamarnya. Aruna mengerang. Matanya masih terasa sangat berat, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Aruna hanya berharap jika rencana pernikahannya dengan Kavi hanyalah mimpi buruknya. Namun, ia segera tersentak manakala Anggun membangunkannya dengan sangat keras dan jelas Anggun terus berteriak. "Aruna, bangun! Ada Kavi di bawah!" Aruna segera bangkit dari tempat tidurnya. Napasnya memburu, matanya membulat. Wajahnya mengkerut karena kesal. Ia mengacak rambutnua frustrasi. Ternyata drama perjodohannya adalah kisah nyata. "Oke, Bu!" jawab Aruna malas. Aruna berjalan membuka pintu dan melihat Anggun sudah berdiri di sana dengan wajah kesal. "Kamu masih perawan, tapi nggak bisa bangun pagi! Kamu bukannya ada kuliah pagi hari ini?" tanya Anggun yang segera membuat mata Aruna kian membulat. Sial! Hari ini adalah Kuliah Hukum Pidana, favoritnya. Bukan karena mata kuliahnya, tap
Mata Aruna membulat. Tidak percaya dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Kavi. "Lo gila? Nikah kontrak, kan, tetep aja kita nikah!" kesal Aruna. Kavi membuang napas kasar. ia tampak frustrasi dengan napas yang mulai memburu. "Gue nggak mau nikah, lo sama. Kalau kita nggak nikah sekarang, gue yakin banget Oma Odil akan nyari calon lain buat dinikahin sama gue. Jujur aja gue capek. Gue jenuh. Emangya, kalau lo nggak nikah sama gue sekarang, Eyang Dhali nggak bakal cari calon lain buat jadi suami lo?" Tubuh Aruna menegang kaku. Ia menahan napas sejenak, membayangkan betapa keras usahanya menolak pernikahan, Dhali pasti akan menekannya lagi dengan permintaan-permintaan konyol soal pernikahan itu. Aruna menggeleng seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Penolakannya seolah sia-sia. "Gue nggak mau nikah!" ucap Aruna seraya merengek. "Karena itu,gue mau menawarkan kesepakatan yang adil buat kita.Besok, kita ketemu lagi untuk bahas k
"Gue gay!" Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya. Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega. Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya. "Lo mau apa?" tanya Kavi heran. "Tolong bukain retsleting gue." Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali. Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran. "Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu. Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi. *** "Aruna ...." Tangan rent







