Se connecterAruna cepat-cepat menggandeng Kavi keluar dari kampusnya menuju mobilnya. Aruna tampak sangat kesal.
"Lo marah?" tanya Kavi. "Iya! Lo udah lancang turun! Sekarang Naura udah tahu lo!" kesal Aruna. Kavi tersenyum. "Mungkin memang sejak awal temen lo udah kenal gue, bukan karena gue datang sama lo." Aruna mengambil napas dalam-dalam mencoba menetralkan deru napasnya. "Lagipula lo udah bilang kalau gue sepupu lo. Apa lagi masalahnya?" tanya Kavi bingung. "Ada! Masalahnya, dia ngefans banget sama After Rain dan lo ternyata adalah biasnya!" Kavi tertawa. "Cemburu hm?" godanya. Aruna hanya memanyunkan bibirnya. Rahangnya mulai mengeras dan hal itu membuat Kavi justru semakin gemas. Ia mencubit kecil pipi Aruna sebelum kembali mengendarai mobilnya. "Lo mau bawa gue kemana?" tanya Aruna. "Fitting baju. Lo nggak ada acara, kan?" Aruna membuang napas kasar. Tidak ada pilihan. Pernikahan itu sudah ditentukan, berikut tanggal, gaun, dan acaranya. Aruna bersedekap. Pasrah. "Gue kayaknya tahu kapan masa nikah kontrak kita berakhir." Aruna menahan sejenak ucapannya. Ia menoleh menatap Kavi. "Kalau Eyang Dhali meninggal, semua kekonyolan ini resmi berakhir!" lanjut Aruna. Kavi mengangguk setuju. Tak lama, mobil telah sampai di salah satu butik ternama milik Alexandro Duredo, seorang desainer gaun pernikahan. "Oma bilang, lo boleh pilih gaun yang lo mau. Kita sewa karena kalau bikin waktunya nggak cukup." Aruna berjalan tak acuh. Ia masuk ke butik dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Gaun-gaun cantik untuk pernikahan impian, tapi bukan untuk Aruna. Aruna membuang napas kasar. Ia pun memilih satu gaun sederhana, tanpa payet, tampak biasa saja, tapi tetap elegan. Gaun itu pun akhirnya dicoba, semua ukurannya pas dan saat Kavi menatap ke arah Aruna dengan gaun pengantin pilihannya, Kavi terdiam sejenak. Ia membeku beberapa detik sebelum tersenyum tipis. "Cantik ... ehem ... lo nggak mau coba yang lain, Run?" Aruna menggeleng. "Ini aja." Kavi mengangguk paham. Usai ia memilih jas yang akan ia gunakan, mereka segera kembali dan saat akan berjalan pulang, ponsel Aruna segera berbunyi. "Runa, Sayang kamu dimana, Nak?" Suara Anggun terdengar gemetar di ujung teleponnya. "Barusan fitting gaun, Bu. Ada apa?" "Cepat ke rumah sakit, Sayang ... Eyang ...." Aruna menangis dan detik itu juga ia meminta Kavi segera menuju rumah sakit sebelum terlambat. Anggun dan Cipta sudah berjaga di depan ruang perawatan intensive. Ada Oma Odil juga di sana dan beberapa kerabat Aruna. "Eyang sesak napas. Eyang mau kamu dan Kavi menikah sekarang," ucap Cipta. Aruna dan Kavi membeku di tempatnya. Mereka saling menatap sejenak. "Ayah, Aruna nggak siap," ucap Aruna disela-sela isak tangisnya. Kavi mengambil napas panjang, lalu menggenggam tangan Aruna erat. "Kalau begitu, kita persiapkan pernikahannya sekarang, Om," ucap Kavi tegas. Aruna menatap nanar tidak percaya dengan ucapan Kavi yang begitu yakin. Aruna tidak punya pilihan. Ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk menolak. Ia mengenakan gaun yang tadi ia bawa sementara Kavi juga sudah berganti setelan dengan jas. Beberapa keluarga turut hadir. Cincin pernikahan pun telah disiapkan. Aruna berjalan perlahan menuju ruang perawatan Dhali. Ia tampak cantik meski dengan riasan minim dan matanya sedikit sembab. Aruna dan Kavi berdiri tepat di hadapan Dhali. Wanita baya itu mengenakan masker oksigen di wajahnya. Sorot matanya tampak lemah dan bahkan tidak terlalu kuat mengangkat tangannya saat ia meminta Pendeta menikahkan cucunya. Aruna dan Kavi berdiri berhadapan. Mereka mengucapkan janji setia diiringi isak tangis semua oranh yang ada di ruangan itu. Cincin pernikahan dipasangkan di jari masing-masing, tidak ada musik pengiring, tidak ada hingar bingar, yang ada hanya isak tangis. "Kalian sudah resmi menjadi suami istri. Silakan cium pasangan Anda," ucap pendeta itu. Aruna membulatkan mata saat cadar penutup kepalanya dibuka perlahan oleh Kavi. Napasnya tertahan manakala Kavi melingkarkan tangan di pinggang rampingnya. Matanya menyorot penuh kehangatan sebelum akhirnya bibir hangat itu menempel tepat di puncak kepala Aruna. Semua orang tersenyum, termasuk Dhali yang kini mengusap air mata suka citanya melihat cucu paling bungsunya menikah. Aruna duduk di ruang tunggu rumah sakit, tepat di koridor ruang perawatan intensive itu. Aruna terdiam cukup lama seraya menatap cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya. Beberapa kali Aruna membuang napas kasar, ia tidak percaya pernikahan itu datang lebih cepat dari yang seharusnya. Tak lama Oma Odil datang dan memeluk Aruna erat. "Aruna, Sayang ... terima kasih," ucapnya pelan seraya menahan tangis. "Kavi itu nggak punya siapa-siapa selain Oma. Sekarang dia punya kamu. Oma jadi lega," ucap Oma Odil seraya mengusap air matanya. Ia tersenyum sembari mengusap lembut wajah Aruna. "Oma yakin sekali, oma nggak salah pilih." Oma Odil mengambil sebuah kartu dari dalam tasnya dan memberikan kartu itu pada Aruna. "Oma nggak bisa kasih hadiah apa-apa. Karena pernikahannya begtu mendadak. Jadi, hadiah pertamanya, Oma traktir tidur di hotel Harper aja ya. Itu kunci kamarnya. Satu dibawa Kavi. Selamat berbahagia," ucap Oma Odil. Kavi berjalan ke arah Aruna yang saat itu masih tertegun di tempatnya. "Kav, bawa Aruna ke hotel aja biar bisa istirahat," ucap Oma Odil. "Iya, kata dokter kondisi eyang udah kembali stabil, semoga nggak ada hal lebih serius setelah ini. Kamu sama Kavi mending istirahat aja di hotel, Run," ucap Anggun. Aruna tersenyum kaku. Ia berjalan beriringan dengan Kavi menuju tempat parkir. Tak lama ia kembali menundukkan kepala seolah Aruna belum bisa menerima kenyataan jika orang yang kini berada di sampingnya adalah suaminya. Kavi membawanya ke Harper Hotel dan membuka ruangan kamar yang telah dipesan khusus oleh Oma Odil. Kavi dan Aruna membeku sejenak tepat di ambang pintu bukan karena ukuran kamarnya yang cukup besar, tapi juga hiasan bunga mawar berbentuk hati di atas ranjang dan handuk angsa yang dibentuk seolah seperti dua hati yang menyatu cukup membuat Aruna dan Kavi tersenyum miris. Aruna berjalan beberapa langkah di hadapan Kavi menatap sekeliling kamar itu. "Gue tidur dimana?" gumam Aruna yang masih dapat di dengar oleh Kavi. Kavi menggigit bibir bawahnya. Ia meremas celana kainnya. Ia tahu, Aruna tidak terlalu nyaman dengan keberadaannya di kamar itu. Kavi mengembuskan napas kasar, lalu menatap Aruna dengan saksama. "Sebenarnya ada rahasia yang belum gue sampaikan sama lo." Aruna membalikkan tubuhnya. Ia menatap bingung pada Kavi usai mendengar ucapan pria itu. "Rahasia? Apa?" Kavi menarik napas dalam- dalam. "Gue gay!" _________________________Gue gay!"Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya. Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega.Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya. "Lo mau apa?" tanya Kavi heran. "Tolong bukain retsleting gue." Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali.Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran."Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu.Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi.Kavi kesulitan menelan salivanya. Pikiran
Aruna cepat-cepat menggandeng Kavi keluar dari kampusnya menuju mobilnya. Aruna tampak sangat kesal. "Lo marah?" tanya Kavi. "Iya! Lo udah lancang turun! Sekarang Naura udah tahu lo!" kesal Aruna. Kavi tersenyum. "Mungkin memang sejak awal temen lo udah kenal gue, bukan karena gue datang sama lo." Aruna mengambil napas dalam-dalam mencoba menetralkan deru napasnya. "Lagipula lo udah bilang kalau gue sepupu lo. Apa lagi masalahnya?" tanya Kavi bingung. "Ada! Masalahnya, dia ngefans banget sama After Rain dan lo ternyata adalah biasnya!" Kavi tertawa. "Cemburu hm?" godanya. Aruna hanya memanyunkan bibirnya. Rahangnya mulai mengeras dan hal itu membuat Kavi justru semakin gemas. Ia mencubit kecil pipi Aruna sebelum kembali mengendarai mobilnya. "Lo mau bawa gue kemana?" tanya Aruna. "Fitting baju. Lo nggak ada acara, kan?" Aruna membuang napas kasar. Tidak ada pilihan. Pernikahan itu sudah ditentukan, berikut tanggal, gaun, dan acaranya. Aruna bersedekap. Pasrah. "Gue
Aruna menutup kepalanya dengan bantal manakala ia mendengar suara ketukan keras dari arah pintu kamarnya. Aruna mengerang. Matanya masih terasa sangat berat, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Aruna hanya berharap jika rencana pernikahannya dengan Kavi hanyalah mimpi buruknya. Namun, ia segera tersentak manakala Anggun membangunkannya dengan sangat keras dan jelas Anggun terus berteriak. "Aruna, bangun! Ada Kavi di bawah!" Aruna segera bangkit dari tempat tidurnya. Napasnya memburu, matanya membulat. Wajahnya mengkerut karena kesal. Ia mengacak rambutnua frustrasi. Ternyata drama perjodohannya adalah kisah nyata. "Oke, Bu!" jawab Aruna malas. Aruna berjalan membuka pintu dan melihat Anggun sudah berdiri di sana dengan wajah kesal. "Kamu masih perawan, tapi nggak bisa bangun pagi! Kamu bukannya ada kuliah pagi hari ini?" tanya Anggun yang segera membuat mata Aruna kian membulat. Sial! Hari ini adalah Kuliah Hukum Pidana, favoritnya. Bukan karena mata kuliahnya, tap
Mata Aruna membulat. Tidak percaya dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Kavi. "Lo gila? Nikah kontrak, kan, tetep aja kita nikah!" kesal Aruna. Kavi membuang napas kasar. ia tampak frustrasi dengan napas yang mulai memburu. "Gue nggak mau nikah, lo sama. Kalau kita nggak nikah sekarang, gue yakin banget Oma Odil akan nyari calon lain buat dinikahin sama gue. Jujur aja gue capek. Gue jenuh. Emangya, kalau lo nggak nikah sama gue sekarang, Eyang Dhali nggak bakal cari calon lain buat jadi suami lo?" Tubuh Aruna menegang kaku. Ia menahan napas sejenak, membayangkan betapa keras usahanya menolak pernikahan, Dhali pasti akan menekannya lagi dengan permintaan-permintaan konyol soal pernikahan itu. Aruna menggeleng seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Penolakannya seolah sia-sia. "Gue nggak mau nikah!" ucap Aruna seraya merengek. "Karena itu,gue mau menawarkan kesepakatan yang adil buat kita.Besok, kita ketemu lagi untuk bahas k
"Gue gay!" Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya. Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega. Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya. "Lo mau apa?" tanya Kavi heran. "Tolong bukain retsleting gue." Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali. Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran. "Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu. Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi. *** "Aruna ...." Tangan rent







