Home / Romansa / Suami Setengah Normal / Tradisi Dalam Keluarga Feodal

Share

Suami Setengah Normal
Suami Setengah Normal
Author: NonaAns

Tradisi Dalam Keluarga Feodal

Author: NonaAns
last update publish date: 2026-08-13 08:37:10

"Gue gay!"

Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya.

Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega.

Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya.

"Lo mau apa?" tanya Kavi heran.

"Tolong bukain retsleting gue."

Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali.

Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran.

"Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu.

Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi.

***

"Aruna ...."

Tangan rentanya lemah menyentuh, lalu meremas dua tangan Aruna yang berdiri di samping brangkar perawatannya. Dhali, wanita baya itu terbaring lemah di atas brangkar ruang perawatan intensive. Ia baru saja lolos dari krisis, serangan jantung nyaris saja merenggut nyawanya.

"Eyang mohon padamu, terimalah perjodohan ini," ucap Dhali dengan suara bergetar dan sedikit tercekat.

"Ini permintaan terakhir Eyang. Sebelum eyang benar-benar pergi dari dunia ini,eyang mau lihat Aruna menikah," lanjut Dhali.

Aruna terdiam, terpaku, napasnya memberat. Ia mendongak menatap kedua orang tuanya yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Aruna meminta pembelaan, paling tidak mendukungnya untuk menolak permintaan konyol Dhali, tapi tidak satu pun yang maju melakukan pembelaan.

"Tapi Aruna nggak mau nikah muda,Eyang,"tolak Aruna dengan suara bergetar.

Dhali membulatkan mata, air matanya sudah mengambang di sana sejak tadi. Dadanya mulai sesak dan alat monitor detak jantungnya berubah menjadi lebih cepat dari sebelumya.

Anggun, ibunda Aruna menyentuh lengan putrinya,menatap Aruna dengan sorot penuh permohonan.

"Aruna,ini permintaan terakhir Eyang. Hanya kamu cucu eyang yang belum menikah. Eyang mau melihatmu menikah secepatnya,"ucap Dhali.

"Nggak bisa gitu, Eyang. Aruna nggak mau asal pilih calon suami! Pernikahan itu nggak kayak milih kucing dalam karung, Eyang," protes Aruna.

Anggun kembali melingkarkan tangan di pundak Aruna, mencoba menenangkan putrinya itu.

"Sayang, ini nggak seperti milih kucing dalam karung. Perjodohan ini datang dari Oma Odil, beliau sahabat dekat Eyang sejak lama. Kami sudah lama saling mengenal.Keluarga Oma Odil bukan keluarga sembarangan, Sayang. Mereka ...."

Belum Anggun menyelesaikan ucapannya, Aruna sudah menatapnya penuh kemarahan.

"Bu, Aruna nggak mau menikah! Ibu paham nggak, sih?" ucap Aruna dengan nada sedikit meninggi.

Suara monitor kembali berbunyi dengan ritme lebih cepat, tak lama kemudian Dhali kembali mengalami sesak napas. Anggun membulatkan mata. ia menekan tombol untuk memanggil perawat. Dhali kembali mendapat penanganan serius.

Saat berada di luar ruang intensive, Cipta, ayah Aruna mendekati putrinya dan menatapnya penuh arti.

"Ayah tahu, kamu tidak mau menikah muda. Banyak rencana yang ingin kamu capai, tapi ... kamu lihat, kan,kondisi eyang, Runa? Eyang tidak dalam keadaan yang baik. Emosi bisa memperburuk keadaan, jadi tolong ... ayah mohon turuti saja permintaannya," ucap Cipta lembut.

Aruna menatap langit yang mulai menggelap. Mendungnya menggantung seolah berempati dengan keadaan Aruna saat ini. Aruna memejamkan mata.Dadanya terasa sesak,napasnya memberat seperti sedang dihantam benda berat.

Air mata Aruna tiba-tiba mengalir di pipinya bersamaan dengan hujan yang mengguyur deras sore itu. Tangan Aruna meremas. ia gamang untuk memilih.

Saat bersamaan, Anggun menggandeng tangan seorang wanita renta dengan tongkat di tangannya. Penampilannya tampak elegan dan masih terlihat gurat-gurat kecantikan di wajahnya.

"Aruna,ini Oma Odil."

Aruna mengusap air matanya, ia menahan napasnya sejenak saat mendengar nama Oma Odil disebut. Tubuhnya menegang kaku. Namun, tak lama Aruna berjengit saat tangan hangat dan lembut Odil meraih tangan kanannya dan menggenggamnya.

Oma Odil tersenyum. Bibirnya melengkung tulus seperti bulan sabit. Ia mengusap lembut wajah Aruna.

"Cantik," ucapnya.

"Kavi ...."

Aruna menatap seorang pria dengan kaos lengan panjang, mengenakan masker hitam dan topi dengan warna senada melangkah dan berdiri tepat di samping Oma Odil.

"Aruna, perkenalkan ini Kavi, cucu oma," ucap Oma Odil.

Aruna dan Kavi saling memandang. Sedetik mereka bersalaman, tapi kemudian dikagetkan dengan pintu ruang perawatan yang kembali terbuka.

"Eyang sudah stabil,"ucap Cipta seraya mempersilakan Oma Odil dan cucunya untuk masuk.

"Kavi, sudah kenal cucu eyang?" tanya Dhali.

Kavi mengangguk. "Sudah, Eyang. Cucu eyang cantik sekali," ucap Kavi.

Aruna mencebikkan bibir dan menatap Kavi penuh dendam.

Dhali dan Odil tersenyum. "Dia calon istrimu, Kavi," ucap Dhali.

Seolah ribuan panah baru saja menghantam dada Aruna, dadanya bertambah sesak. Ia menatap Kavi dan tersenyum penuh ironi.

"Gimana, Aruna? Kavi nggak seperti kucing yang kamu pilih dalam karung,kan?" tanya Dhali sedikit menyindir ucapan Aruna tadi.

Aruna membuang napas kasar.

"Tetap saja, Aruna nggak mau menikah dengan orang asing, Eyang. Aruna nggak kenal dia," ucap Aruna tegas.

"Kalau begitu, nggak ada salahnya kenalan dulu," ucap Kavi yang seketika membuat Aruna melotot.

"Boleh Kavi bicara berdua dengan Aruna, Eyang?" tanya Kavi sopan.

Dhali dan Odil menyambut permintaan Kavi dengan penuh suka cita. Kedua eyang itu pun mengangguk bersamaan.

"Jadi, sebenarnya lo mau ajak gue kemana? Lo nggak benar-benar mau ngobrol sama gue, kan?" tanya Aruna kesal seraya berhenti melangkah dan bersedekap menatap Kavi.

"Gue memang mau ngajakin lo ngobrol, kok," jawab Kavi.

"Ya udah, ngobrol aja di sini!" Aruna menegaskan jika ia tidak ingin melangkah kemanapun.

Kavi menatap sekitar. Mereka kini berada tepat di depan lift pengunjung. Kavi menggeleng. Ia memencet tombol lift. Mau tidak mau, Aruna pun mengekori langkah Kavi menuju kedai kopi yang ada di kantin rumah sakit itu.

"Cepetan, lo mau ngomong apa?" ucap Aruna tegas.

Kavi tampak santai usai menyodorkan satu gelas es kopi latte di hadapan Aruna. Kavi duduk tenang, ia menatap Aruna seraya bersedekap dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

"Jadi, lo nggak mau nikah?" tanya Kavi langsung pada intinya.

Aruna mengangguk tegas.

"Sama."

Aruna mengerutkan dahi, bingung dengan ucapan Kavi barusan.

"Terus? Kenapa nggak lo batalin?"

"Nggak bisa."

Sedetik kemudian, tubuh Aruna melemah, seolah harapan satu-satunya terhindar dari pernikahan ini lenyap.

"Tapi, gue bisa menawarkan sebuah kesepakatan." Kavi menghentikan sejenak ucapannya. Ia tahu ada rasa penasaran di balik sorot mata Aruna padanya. "Nikah kontrak."

______________________

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Setengah Normal   Malam Pertama

    Gue gay!"Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya. Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega.Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya. "Lo mau apa?" tanya Kavi heran. "Tolong bukain retsleting gue." Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali.Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran."Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu.Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi.Kavi kesulitan menelan salivanya. Pikiran

  • Suami Setengah Normal   Hari H Pernikahan

    Aruna cepat-cepat menggandeng Kavi keluar dari kampusnya menuju mobilnya. Aruna tampak sangat kesal. "Lo marah?" tanya Kavi. "Iya! Lo udah lancang turun! Sekarang Naura udah tahu lo!" kesal Aruna. Kavi tersenyum. "Mungkin memang sejak awal temen lo udah kenal gue, bukan karena gue datang sama lo." Aruna mengambil napas dalam-dalam mencoba menetralkan deru napasnya. "Lagipula lo udah bilang kalau gue sepupu lo. Apa lagi masalahnya?" tanya Kavi bingung. "Ada! Masalahnya, dia ngefans banget sama After Rain dan lo ternyata adalah biasnya!" Kavi tertawa. "Cemburu hm?" godanya. Aruna hanya memanyunkan bibirnya. Rahangnya mulai mengeras dan hal itu membuat Kavi justru semakin gemas. Ia mencubit kecil pipi Aruna sebelum kembali mengendarai mobilnya. "Lo mau bawa gue kemana?" tanya Aruna. "Fitting baju. Lo nggak ada acara, kan?" Aruna membuang napas kasar. Tidak ada pilihan. Pernikahan itu sudah ditentukan, berikut tanggal, gaun, dan acaranya. Aruna bersedekap. Pasrah. "Gue

  • Suami Setengah Normal   Sepupu Dari Amerika

    Aruna menutup kepalanya dengan bantal manakala ia mendengar suara ketukan keras dari arah pintu kamarnya. Aruna mengerang. Matanya masih terasa sangat berat, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak semalam. Aruna hanya berharap jika rencana pernikahannya dengan Kavi hanyalah mimpi buruknya. Namun, ia segera tersentak manakala Anggun membangunkannya dengan sangat keras dan jelas Anggun terus berteriak. "Aruna, bangun! Ada Kavi di bawah!" Aruna segera bangkit dari tempat tidurnya. Napasnya memburu, matanya membulat. Wajahnya mengkerut karena kesal. Ia mengacak rambutnua frustrasi. Ternyata drama perjodohannya adalah kisah nyata. "Oke, Bu!" jawab Aruna malas. Aruna berjalan membuka pintu dan melihat Anggun sudah berdiri di sana dengan wajah kesal. "Kamu masih perawan, tapi nggak bisa bangun pagi! Kamu bukannya ada kuliah pagi hari ini?" tanya Anggun yang segera membuat mata Aruna kian membulat. Sial! Hari ini adalah Kuliah Hukum Pidana, favoritnya. Bukan karena mata kuliahnya, tap

  • Suami Setengah Normal   Kesepakatan

    Mata Aruna membulat. Tidak percaya dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Kavi. "Lo gila? Nikah kontrak, kan, tetep aja kita nikah!" kesal Aruna. Kavi membuang napas kasar. ia tampak frustrasi dengan napas yang mulai memburu. "Gue nggak mau nikah, lo sama. Kalau kita nggak nikah sekarang, gue yakin banget Oma Odil akan nyari calon lain buat dinikahin sama gue. Jujur aja gue capek. Gue jenuh. Emangya, kalau lo nggak nikah sama gue sekarang, Eyang Dhali nggak bakal cari calon lain buat jadi suami lo?" Tubuh Aruna menegang kaku. Ia menahan napas sejenak, membayangkan betapa keras usahanya menolak pernikahan, Dhali pasti akan menekannya lagi dengan permintaan-permintaan konyol soal pernikahan itu. Aruna menggeleng seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Penolakannya seolah sia-sia. "Gue nggak mau nikah!" ucap Aruna seraya merengek. "Karena itu,gue mau menawarkan kesepakatan yang adil buat kita.Besok, kita ketemu lagi untuk bahas k

  • Suami Setengah Normal   Tradisi Dalam Keluarga Feodal

    "Gue gay!" Aruna menaikkan alis kirinya menatap pria di hadapannya yang kurang lebih delapan jam yang lalu baru saja resmi berstatus sebagai suaminya. Kini mereka berada di sebuah kamar hotel tak jauh dari rumah sakit tempat Dhali di rawat. Mereka saling berhadapan dan menatap satu dengan yang lainnya. Aruna sejenak terdiam. Kavi bahkan kesulitan membaca ekspresi wajah Aruna saking datarnya. Namun, tak lama Aruna tersenyum lega. Kavi menaikkan satu alisnya menatap Aruna yang segera berbalik badan dan berdiri di hadapan Kavi. Membelakanginya. "Lo mau apa?" tanya Kavi heran. "Tolong bukain retsleting gue." Aruna menunjuk bagian belakang gaun pengantinnya yang seketika membuat Kavi mengerjap beberapa kali. Aruna menoleh, ia menatap tanpa memutar tubuhnya menghadap Kavi. Aruna memandang heran. "Kalau lo gay, seharusnya nggak masalah, kan, gue buka baju di sini?" tanya Aruna dengan alis terangkat satu. Shit ! Aruna, gue nggak serius! Batin Kavi. *** "Aruna ...." Tangan rent

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status