MasukDi dalam apartemen Cakrha yang bergaya industrial minimalis, aroma kopi arabika segera menyerbak saat mesin espresso otomatis bekerja. Tidak lama kemudian Cakrha keluar dari pantry dengan bertelanjang dada, lalu menyodorkan secangkir kopi panas ke Denzel yang sedang duduk di depan meja kerja tiga monitor milik Cakrha."Gila, Dok. Jayanti itu bener-bener predator," ujar Cakrha sambil meletakkan kopi di depan Denzel, matanya berkilat saat menceritakan kejadian di club malam itu. "Dia hampir suntik aku pake serum ungu. Kalau aku nggak akting jatuh ke lantai, mungkin sekarang aku udah jadi zombie yang setia banget sama dia."Denzel menyesap kopinya, matanya tetap tertuju pada layar saat ia memasukkan flashdisk hitam tersebut ke dalam perangkat isolasi data. "Itu serum Night Petal, Cak. Zat yang menyerang sistem limbik di otak supaya target kehilangan kehendak bebas. Jayanti nggak cuma main cantik, dia main saraf."Cakrha bergidik ngeri. "Pantesan Benny ketakutan banget. Tapi ada satu hal
Jayanti menyodorkan gelas kristal berisi cairan biru itu ke arah Cakrha. "Minumlah. Ini racikan khusus The Velvet Night. Tidak ada di menu umum. Ini akan membantumu lebih relaks sebelum kita bicara soal kontrak distribusi untuk klinik baru mamamu."Cakrha menerima gelas itu, merasakan suhu dingin yang menusuk. Di balik senyum menawannya, Cakrha mengaktifkan sensor mikro di kerongkongannya—perangkat dari Unit X yang bisa menetralisir zat asing sebelum masuk ke sistem pencernaan. Ia tahu, Jayanti sedang mengujinya."Terima kasih. Saya suka sesuatu yang eksklusif," ujar Cakrha sambil menatap langsung ke mata Jayanti, mencoba masuk ke dalam frekuensi emosi wanita itu. "Sama seperti alasan saya ke sini. Saya ingin produk yang tidak hanya mempercantik kulit, tapi juga bisa memberikan pengaruh lebih pada pasien VIP kami nanti."Mendengar kata pengaruh, binar mata Jayanti berubah. Ia merasa telah menemukan sekutu muda yang ambisius. "Kamu cerdas sekali, Cakrha. Kamu menginginkan obat khusus i
"Mama, Cakrha pikir kita butuh stok produk premium buat grand opening klinik nanti," ujar Cakrha dengan nada antusias yang dibuat-buat di depan Wandha. "Cakrha denger produk JK Glow itu nomor satu di kalangan temen-temen Mama. Bisa nggak Mama kenalin Cakrha langsung sama Tante Jayanti?"Wandha tersenyum bangga melihat putranya mulai peduli pada bisnis keluarga. "Ide bagus, Sayang! Jayanti itu memang perfeksionis, tapi kalau Mama yang bicara, dia pasti kasih harga dan jalur khusus."Tanpa membuang waktu, Wandha langsung menghubungi Jayanti Kusuma. Di seberang telepon, suara Jayanti terdengar manja namun penuh selidik saat mendengar nama putra Wandha ingin bertemu. "Oh, Cakrha putra sulungmu itu? Tentu saja, Wandha. Suruh dia datang ke The Velvet Night malam ini. Kita bicara di private lounge biar lebih santai."Tak lama setelah telepon ditutup, sebuah pesan masuk ke ponsel Cakrha dari nomor tak dikenal. Itu Jayanti."Sampai jumpa malam ini, Cakrha. Aku suka anak muda yang punya visi b
Denzel menyandarkan punggungnya ke kursi beludru, matanya menatap Benny dengan tatapan yang seolah bisa menelanjangi semua kebohongan di kepala botak pria itu. Melalui mata batinnya, Denzel melihat aura Benny berubah menjadi abu-abu pucat—tanda ketakutan yang luar biasa. Benny sedang berusaha mati-matian menjaga jarak dari Jayanti di depan Denzel."Sayang sekali kalau begitu," sahut Denzel tenang, suaranya rendah namun tajam. "Karena menurut analisis medis saya terhadap sampel obat Ibu Anda, ada zat penekan saraf yang hanya dimiliki oleh distribusi terbatas milik JK Glow. Dan yang lebih mengejutkan, Pak Benny, ada catatan transaksi pengiriman rutin dari kelab The Velvet Night langsung ke kediaman Anda."Wajah Benny seketika memucat. Ia hampir tersedak. Ibu Wandha pun menghentikan makannya, menatap Benny dengan kening berkerut. "Lho, Benny? Bukannya waktu itu kamu bilang Jayanti itu tangan kanan untuk urusan perizinan lahan di pusat kota? Kok sekarang bilangnya cuma kenal biasa?"Benny
Denzel berhasil mengunduh sebagian besar data dari server lokal rumah Benny melalui sniffer di tas medisnya, namun ia tahu itu hanyalah puncak gunung es. Data di rumah biasanya berisi catatan operasional harian, sedangkan arsip emas—daftar pejabat yang memegang saham kosong dan koordinat gudang logistik Black Rose, pasti tersimpan di server fisik yang terisolasi di kantor pusat Benny.Denzel menatap Ibu Benny yang mulai siuman, lalu menoleh ke arah Benny yang masih tampak sangat terguncang. Sebuah rencana licik namun elegan muncul di benak Denzel."Pak Benny, kondisi Ibu sudah stabil, tapi ada satu masalah besar," ujar Denzel dengan wajah serius, seolah-olah sedang menyampaikan vonis medis yang berat.Benny langsung mendekat, wajahnya pucat. "Apa itu, Dokter? Tolong katakan!""Zat dalam vitamin dari rekan bisnis Anda itu ternyata bereaksi buruk dengan sistem sarafnya. Saya sudah memberikan penawar sementara, tapi efek sisa zat itu sangat tidak stabil. Saya butuh sampel berkas medis as
"Terima kasih, Pak Benny. Saya sangat menghargai efisiensi Anda," sahut Denzel sambil menyesap kopi pahit yang disuguhkan. "Ibu Wandha juga bilang, Anda adalah orang yang paling bisa diandalkan jika menyangkut pengamanan aset yang sifatnya sangat privat."Mendengar kata aset privat, gerakan tangan Benny yang sedang merapikan jam Rolex-nya mendadak kaku sejenak. Ia menatap Denzel lebih dalam, mencoba mencari tahu apakah ada makna terselubung di balik ucapan dokter muda itu."Privat? Ah, benar. Kerahasiaan adalah napas bisnis saya," jawab Benny cepat, kembali menguasai keadaan. "Tapi saya penasaran, Dokter... selain klinik, apakah ada properti lain yang ingin Anda konsultasikan legalitasnya? Mungkin sesuatu yang letaknya jauh dari keramaian kota?"Denzel tersenyum tipis. Ia tahu Benny sedang memancingnya untuk melihat seberapa jauh ia tahu tentang operasional Black Rose."Mungkin nanti, Pak Ben. Setelah klinik ini selesai," jawab Denzel retoris. Saat ia hendak berdiri, ia sengaja menyen







