LOGINDenzel mendekati mereka dan menatap Vionka dengan penuh percaya diri. Dia bisa melihat betapa terkejutnya Vionka. Dia tersenyum, lalu kini menatap Wandha.
“Perkenalkan, aku Denzel Rahadian, suaminya Vionka. Aku bisa membuat wajahmu kembali mulus hanya dalam waktu satu jam...” ucap Denzel pada Wandha dengan tenang dan penuh keyakinan. Namun, Wandha malah merespons ucapan Denzel dengan memicingkan mata ke arahnya. “Serius? Memangnya apa yang mau kamu lakukan?” tanya Wandha, ragu. “Iya... dijamin, wajahmu akan kinclong kembali,” ujar Denzel sambil mengangkat ibu jarinya ke arah Wandha. Khawatir dengan apa yang sedang dilakukan Denzel, Vionka langsung mendekati suaminya itu. “Kenapa kamu memandang aku seperti itu, Sayang?” tanya Denzel sembari mengulas senyum melihat Vionka di sampingnya menatapnya heran. “Denzel, kamu sudah bisa...” ucap Vionka tertahan. “Iya, Vio... seperti yang kamu lihat...” pontong Denzel masih dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya melihat wajah istrinya terlihat menggemaskan dalam keadaan kebingungan seperti itu. “Panjang ceritanya, nanti saja ya aku ceritakan. Sekarang kita urus masalahmu dulu.” “Oke soal itu, tapi... aku sama sekali tidak mengizinkan kamu terlibat masalah yang sedang aku hadapi. Biar kan aku yang mengurusnya, dibantu Mama,” tegas Vionka. “Tidak bisa begitu, Sayang..., aku ini suamimu. Mau tidak mau aku harus membantu saat di tengah kesulitan. Percayalah, aku tidak main-main dengan apa yang sudah aku ucapkan,” jawab Denzel serius. “Aku tahu itu, tapi please.... untuk hal yang satu ini aku minta jangan ikut campur. Biarkan aku dan Mama saja yang akan menyelesaikan masalah ini. Lebih baik kamu pulang saja. Tunggu di rumah. nanti akan aku hubungi perkembangan masalahku.” “Tidak, Vio... kali ini kamu harus mendengarkan aku. Aku yakin bisa menyembuhkan jerawat di wajah klienmu ini. Jadi, tolong... jangan ragukan kemampuanku ini. Oke...?” Denzel mengatakannya dengan tegas, sambil memegang kedua bahu Vionka. Dia mencoba meyakinkan Vionka dengan menatap kedua bola mata istrinya yang tampak sendu itu. “Sekali aku bilang tidak ya tidak! Cukup! Jangan memaksa lagi!” putus Vionka dengan tegas, serta merta memalingkan wajahnya dari Denzel. Demikian pula Hannah dan Stefano yang mendengar keinginan Denzel. Keduanya langsung mencibir, menganggap lelaki bisu yang baru saja bisa bicara itu sedang membual. “Oh, ceritanya kamu mau jadi pahlawan gitu ya?” cibir Stefano. “Dasar tolol kamu, Denzel!” Hannah memaki. Stefano tertawa. Tawanya yang mengandung ejekan ini terdengar nyaring di telinga Denzel. Di titik ini, Denzel juga mendengar bisik-bisik dari para staf MCA yang berada di lobi. Mereka menganggapnya sedang melakukan hal yang konyol. Mana mungkin dia bisa menyembuhkan wajah si klien yang rusak parah itu hanya dalam waktu satu jam? “Apa dia pikir dirinya ini seorang pakar kulit profesional? Untuk kesan jerawat memerah seperti itu setidaknya perlu waktu 1 minggu untuk bisa pulih,” ujar seorang staf kepada rekannya di sebelahnya. “Mungkin suaminya Bu Vio ini punya mantra ajaib yang bisa bikin wajah berjerawat bisa semulus pantat bayi... hahaha...” timpal rekannya itu sambil tertawa mengejek. Denzel mendengarnya dengan jelas, tetapi dia mengabaikannya. Stefano, yang ingin sekali membalas perlakuan Denzel tadi, mulai memikirkan rencana busuk. Dia mendekatkan dirinya pada Hannah. “Tante, aku ada ide...” ucap Stefano setengah berbisik pada Hannah yang berdiri di samping Vania. “Biarkan saja Denzel bersikeras menyembuhkan Wandha, dengan syarat jika dia gagal melakukannya maka dialah yang harus dijebloskan ke penjara menggantikan Vionka. Dengan begitu akan lebih mudah bagiku dan Vionka untuk menikah. Bagaimana, Tante?” “Bagus sekali idemu, Nak Fano... Biar tahu rasa si Denzel. Sudah dipenjara, kehilangan istri pula. Lengkaplah penderitaan dia nanti,” ujar Hannah dengan mata memicing ke arah Denzel. “Iya Tante. Sebaiknya Tante segera dekati Vionka untuk membujuknya membiarkan Denzel membantunya,” ucap Stefano. Tentu saja Denzel pun mendengarnya, tetapi lagi-lagi dia mengabaikan. Fokusnya saat ini adalah meyakinkan Vionka bahwa dia bisa membantunya. “Jadi, bagaimana, Vio? Apa keputusanmu?” tanya Hannah saat dia mendekati. “Aku tak punya pilihan lain, Ma. Aku bersedia ikut Wandha ke kantor polisi. Mama tolong bujuk Denzel untuk menuruti keputusanku ini. Aku tidak ingin melibatkannya,” ucap Vionka terdengar sangat mengkhawatirkan keadaan Denzel. “Denzel, kamu sudah dengar sendiri, kan, keinginan Vionka?” cetus Hannah. “Berarti kamu tidak dibutuhkan lagi di sini. Sebaiknya kamu segera pergi saja dari sini sesuai keinginan istrimu. Atau, kalau kamu ingin pergi selama-lamanya dari keluargaku, itu lebih baik. Pergi sana!” ujar Hannah kemudian, mencoba memancing Denzel agar dia bersikeras menolong Vionka. “Tidak, Ma, aku tetap pada keputusanku. Aku tidak mungkin hanya berpangku tangan saja melihat Vionka digelandang ke kantor polisi. Diakui atau tidak sebagai menantu oleh Mama, aku tetap suami sah Vionka. Dan sebagai suami aku lebih punya hak membuat keputusan dari pada Mama soal masalah ini. Mama paham kan maksudku?” Mulut Hannah membulat mendengar Denzel mengucapkan kata-kata yang menohoknya ini. Seketika dia terdiam sambil mengatur napasnya yang tertahan. “Oh..., jadi kamu ingin menunjukkan rasa tanggung jawabmu sebagai kepala keluarga. Begitu ya?” ujar Hannah. “Sebenarnya aku sependapat dengamu dalam hal ini, bahwa suami itu punya kewajiban untuk menjaga keselamatan istrinya. Tapi, tindakanmu kali ini sangat berisiko! Jika ternyata kamu gagal melakukannya, justru kamu akan memperberat masalah istrimu! Klien pasti akan semakin marah dan menuntut ancaman yang lebih berat! Apa kamu tega itu terjadi pada istrimu, Denzel?!” tegasnya demi mewujudkan rencana Stefano. “Tidak perlu khawatir, Ma. Aku tidak akan gagal. Percayalah. Kali ini percayalah padaku,” jelas Denzel dengan nada meyakinkan. “Tapi kalau kamu gagal… bagaimana?” pancing Hannah lagi. “Kalau aku gagal, aku siap pasang badan, Ma... Biar aku saja yang menggantikan Vionka dipenjara!” jelas Denzel, yang disambut Hannah dengan sesungging senyum. “Nah, kamu dengar sendiri kan ucapan suamimu barusan, Vio... Jadi, biarkanlah dia mencoba mengobati klienmu ini. Anggap saja ini balas budinya selama setahun dia tinggal di rumah kita...” ujar Hannah, mencoba meyakinkan Vionka. Vionka menggeleng-gelengkan kepala. Dengan wajah sedih dia menatap ke arah Denzel, berharap suaminya itu mengurungkan niatnya. Hannah terus menasihati Vionka dengan dalih Denzel sedang menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami. “Helooo..., kok lama banget diskusinya? Jadinya bagaimana ini? Mau mengobati wajahku atau masuk penjara?” tanya Wandha dengan kesal karena sejak tadi merasa diabaikan oleh Denzel dan Vionka. “Sudah pasti jadi dong, Nona. Percayalah. Aku bisa diandalkan,” jelas Denzel dengan tenang, tanpa beban sedikit pun. Para staf MCA kembali menertawakannya. “Memangnya kamu bisa apa? Jangan sembarangan kamu! Ini wajahku sudah rusak begini. Mau kamu bikin lebih rusak lagi? Kamu siapa memangnya? Ahli kecantikan? Dokter? Dari penampilanmu sih kamu kayaknya orang biasa. Mana mungkin aku percaya sama kamu!” sergah Wandha. Denzel justru tersenyum. Sekilas dia menatap istrinya lalu kembali menatap Wandha. “Begini saja. Kita bertaruh. Kalau aku bisa mengembalikan wajahmu jadi seperti semula, maafkan kesalahan istriku dan lupakan masalah ini. Beri aku kesempatan. Sekali saja. Dan kalau aku gagal…” tawar Denzel. “Kalau kamu gagal? Apa memangnya yang bisa kamu pertaruhkan?” “Lakukan apa pun yang kamu suka terhadapku. Jebloskan aku ke penjara. Siksa aku sepuas hatimu. Kalau perlu bunuh sekalian. Tapi, jangan libatkan istriku dan keluargaku,” jawab Denzel mantap. Apa yang dikatakannya ini membuat istri dan ibu mertuanya tercengang...Tepat pukul 09.00 pagi, pelataran Balai Kota tampak tidak seperti biasanya. Ratusan awak media dari berbagai stasiun televisi nasional maupun internasional telah memadati area press conference. Puluhan kamera dengan lensa panjang berjajar rapi, lampu-lampu sorot menyala terang, menciptakan panggung yang begitu kontras dengan dunia bawah tanah yang biasa Denzel selami. Ketegangan terasa di udara, sebuah antisipasi besar atas pengumuman yang akan mengubah peta politik ibu kota.Gubernur Aryha melangkah keluar dari pintu besar aula utama dengan langkah tegap. Di belakangnya, tampak seorang ajudan mengenakan setelan jas hitam slim-fit yang sangat elegan, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi berwarna biru navy. Denzel berjalan dengan postur yang sangat tenang, meski di dalam batinnya ia masih melakukan sinkronisasi dengan energi di sekitarnya. Sorot mata ungunya yang redup tertutup sempurna oleh ekspresi wajahnya yang profesional dan berwibawa.Gubernur Aryha berdiri di depan mikr
Malam semakin larut, namun kantuk seolah enggan menyapa kelopak mata Denzel. Jam dinding digital di sudut kamar menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Suasana hening, hanya suara dengung halus pendingin ruangan yang membelah kesunyian. Denzel berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang gelap, namun pikirannya justru sedang riuh rendah. Bayangan podium Balai Kota, sorot kamera wartawan, hingga dokumen-dokumen negara yang harus ia tandatangani besok pagi berputar-putar seperti pusaran air.Menjadi Wakil Gubernur bukan sekadar mengganti setelan jaket taktis Unit X dengan jas formal. Bagi Denzel, ini adalah pengabdian yang akan menyita seluruh privasinya. Ia memikirkan bagaimana rakyat Jakarta akan memandangnya, bagaimana Manuel akan mencoba merusak reputasinya dari balik jeruji besi, dan yang paling utama, bagaimana ia bisa tetap menjadi suami yang baik bagi Vionka di tengah kesibukan politik yang gila.Vionka, yang sejak tadi menyadari kegelisahan suaminya, perlahan memiringkan tu
Malam telah jatuh sepenuhnya di langit ibu kota, namun bagi Denzel, kegelapan kali ini tidak lagi terasa seperti tempat persembunyian. Jam dinding di ruang tamu kediamannya menunjukkan pukul 21.30 WIB. Suasana di luar rumah tampak tenang, hanya deru angin malam yang sesekali menggoyahkan dahan pohon kamboja di halaman. Namun, di dalam mansion, atmosfer terasa begitu padat. Kabar mengenai keputusan Gubernur Aryha untuk menunjuk Denzel sebagai Wakil Gubernur yang baru telah menjadi getaran hebat yang merambat di antara orang-orang terdekatnya.Denzel duduk di sofa panjang, masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Di hadapannya, Vionka duduk dengan secangkir greentea yang sudah mulai mendingin. Denzel baru saja menyelesaikan ceritanya—tentang mandat yang diberikan Paman Aryha beberapa jam yang lalu di kediaman pribadinya, sebuah tawaran yang tidak mungkin ditolak jika ia ingin benar-benar mencabut akar kejahatan Manuel hingga ke dasar-dasarnya."Jadi, ini sudah
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar Denzel dengan lembut, seolah ingin menghapus sisa-sia ketegangan dari pertempuran batin di wihara Sunyi semalam. Denzel duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan wajah Vionka yang masih tertidur lelap dengan napas yang teratur. Sebuah ketenangan yang sangat mahal harganya. Namun, ketenangan itu terusik ketika ponsel di atas nakas bergetar pelan.Nama Gubernur Aryha muncul di layar. Denzel menghela napas, menyadari bahwa meskipun masalah mistis telah reda, pusaran politik Jakarta tidak pernah benar-benar berhenti berputar."Halo, Pak Aryha?" sapa Denzel dengan suara rendah agar tidak membangunkan istrinya."Denzel, syukurlah kamu mengangkatnya. Aku sudah mendengar laporan dari Unit X tentang Jaya dan keselamatan Vionka. Aku benar-benar lega," suara Aryha terdengar berat, ada kelegaan sekaligus kelelahan yang nyata di sana. "Maafkan aku, rencana pertemuan kita kemarin di Balai Kota harus dibatalkan. Situasi pasca-penyanderaan di Bank Sentr
Sisa-sisa energi hitam yang menyelimuti wihara perlahan memudar, tersapu oleh angin laut yang kini terasa lebih bersahabat. Di atas tanah yang retak, Jaya tergeletak tak berdaya, seluruh kesaktiannya telah dicabut paksa oleh Cakra Bumi. Tim taktis Unit X bergerak cepat melakukan evakuasi, namun di tengah hiruk-pikuk itu, Denzel justru terpaku menatap satu pemandangan yang menurutnya jauh lebih menghibur daripada kemenangan batin mana pun.Cakrha masih duduk bersimpuh, bahunya yang terluka naik-turun menahan isak tangis yang belum sepenuhnya reda. Wajahnya yang gempal sudah berantakan oleh campuran debu, peluh, dan air mata yang mengering. Laura di sampingnya masih sibuk memegang tisu, sementara Vionka yang sudah berada di pelukan Denzel hanya bisa tersenyum lemah melihat tingkah sahabat suaminya itu.Denzel berdehem pelan, mencoba menyembunyikan senyum jahil yang mulai merekah di sudut bibirnya. "Cak, air laut di bawah sana sudah asin, jangan ditambah lagi dengan air matamu. Bisa-bisa
Jaya menghentakkan tongkatnya ke tanah, memicu gelombang gempa batin yang membuat lantai wihara retak. Denzel melompat mundur, namun ia terpeleset oleh serpihan batu. Di detik yang sangat sempit itu, Jaya melepaskan pukulan Tapak Sukma Hitam tepat ke arah dada Denzel.DUAARR!Tubuh Denzel terlempar sejauh lima meter, menghantam tiang penyangga wihara hingga hancur. Denzel jatuh tersungkur di tanah yang dingin. Bajunya robek, dan darah segar mengalir dari sudut bibirnya serta luka di lengannya. Ia mencoba bangkit, namun tangannya bergetar hebat, lalu ia kembali jatuh dengan napas yang tersengal-sengal. Pusaka Cakra Bumi terlepas dari genggamannya, menggelinding menjauh ke arah kegelapan.Melihat hal itu, Cakrha yang berjaga di area bawah tidak bisa lagi menahan diri. Mengabaikan perintah Denzel, ia berlari mendaki tebing dengan sisa tenaganya, diikuti oleh Laura yang menjerit histeris."DOKTER! DENZEL!" teriak Cakrha.Cakrha jatuh berlutut di samping tubuh Denzel yang tak berdaya. Ia m
Suasana di depan gedung Bank Sentral yang terletak hanya beberapa blok dari Balai Kota sudah layaknya medan perang. Garis polisi dipasang dalam radius dua kilometer. Kendaraan taktis Barracuda dan penembak jitu Unit X memenuhi setiap sudut atap gedung sekitar. Gubernur Aryha berdiri di dalam tenda
Cakrha tiba-tiba menjentikkan jarinya, seolah-olah baru saja teringat sesuatu yang krusial. "Tunggu, Dok! aku hampir lupa. Bukannya Dokter punya kemampuan buat lihat aura hitam di sekitar orang? Kalau anggota Black Rose itu emang busuk sampai ke akar-akarnya, bukannya gampang tinggal nunjuk siapa a
Suasana malam di teras villa kayu itu sangat sunyi, hanya deru ombak yang memecah keheningan. Cakrha duduk tegak dengan senapan taktis di pangkuannya, matanya sesekali menyisir kegelapan pantai melalui teropong malam. Tiba-tiba, pintu kayu di belakangnya berderit pelan.Vania muncul membawa segelas
Malam itu, di bawah langit pelabuhan yang kelabu, Denzel membuktikan bahwa kedewasaan dan ketenangan adalah senjata yang jauh lebih mematikan daripada peluru mana pun.Di dalam remang gudang yang pengap, isak tangis Tasya akhirnya pecah. Tubuhnya masih gemetar hebat saat Vionka memeluknya erat, men







