Share

Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang
Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang
Author: Tekyuu

BAB 1

Author: Tekyuu
last update publish date: 2026-07-18 00:24:17

"Aluna, menikahlah denganku."

Pulpen hitam di tangan Aluna mendadak berhenti bergerak.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Ia masih berdiri membeku di depan meja kerja jati milik Nael San Diego, merengkuh map laporan keuangan cabang Eropa di dada. Pria di hadapannya bahkan tidak sudi mengangkat kepala. Tatapan matanya yang dingin tetap terpaku pada lembar angka yang sejak lima menit lalu diperiksanya. Di balik jendela kaca besar lantai dua belas, lanskap kota Paris yang diselimuti kabut tipis musim gugur membentang luas, tetapi kehangatan di ruangan itu seolah lenyap seketika.

Aluna berkedip lambat. Mengumpulkan kesadarannya yang meraba-raba kekosongan.

Mungkin desis pendingin udara kantor yang menghembuskan angin dingin Paris membuat pendengarannya terganggu.

"Maaf, Tuan Nael?" bisik Aluna, suaranya serak bergetar.

Nael membalik halaman dokumen dengan gerakan santai. Suara gesekan kertas kraf terdengar begitu keras di ruangan kedap suara itu.

"Aku bilang, menikahlah denganku."

Jantung Aluna seolah terlepas dari tangkainya dan jatuh bebas. Darahnya berdesir hebat, membuat ujung-ujung jarinya dingin seketika.

Lima tahun.

Selama lima tahun penuh bekerja sebagai sekretaris pribadi Nael San Diego di kantor pusat kawasan Rue de la Paix, Aluna sudah terbiasa menerima perintah kerja harian yang terdengar jauh lebih menakutkan daripada sebuah lamaran.

Jadwalkan ulang rapat direksi.

Batalkan makan malam dengan investor Prancis.

Hubungi klien cabang Singapura sekarang.

Siapkan seluruh revisi laporan sebelum pukul tujuh pagi.

Namun, tidak pernah sekalipun dalam mimpi terliarnya, Aluna membayangkan akan mendengar kalimat sakral itu meluncur dari bibir pria yang selama lima tahun ini diam-diam ia cintai dalam kesunyian.

Nael akhirnya meletakkan pulpen Montblanc mewahnya di atas meja. Suara ketukan ringan logam pada permukaan kayu jati memecah hening.

"Ini bukan pernikahan kontrak," ujar Nael tenang, tanpa nada ragu. "Aku membutuhkan istri yang sah secara hukum."

Aluna tetap membisu. Bibirnya terkunci rapat, tenggorokannya mendadak terasa sekering padang pasir.

Nael perlahan mengangkat pandangannya. Netra hitam pekat itu menatap Aluna lurus, dingin, dominan, dan tajam. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia baru saja mengguncang seluruh fondasi hidup perempuan di depannya.

"Dan kau adalah wanita yang paling tenang serta rasional di antara semua orang yang kukenal," lanjut Nael.

Genggaman Aluna pada map tebal itu semakin mengetat sampai buku-buku jarinya memutih.

"Kenapa saya?" tanya Aluna memaksakan suaranya keluar.

"Karena kau tidak merepotkan."

Jawaban itu terlempar begitu saja. Terasa seperti tamparan keras yang menyengat pipi, namun di saat bersamaan menyisipkan rasa perih atas profesionalisme yang selama ini ia agungkan.

Nael kembali menunduk, menatap barisan angka di mejanya seolah percakapan ini hanyalah pembahasan agenda harian biasa.

"Nenekku terus mendesakku untuk segera menikah tahun ini," kata Nael tanpa beban. "Aku tidak punya waktu untuk mencari seseorang dari awal, berkencan, lalu menjalani hubungan emosional yang belum tentu berakhir di pelaminan."

Aluna menelan ludah dengan susah payah. Rasa pahit menjalar di pangkal lidahnya.

"Jadi... Tuan memilih saya?"

"Ya."

Sesederhana itu.

Lima tahun perasaan yang ia simpan rapi dalam doa-doa sunyinya, kini diringkas Nael menjadi satu kata tak beremosi.

"Tuan..." Suara Aluna nyaris tenggelam oleh deru hembusan udara hangat ruangan. "Saya boleh meminta waktu untuk berpikir?"

Nael melirik jam tangan Rolex perak di pergelangan tangan kirinya.

"Berapa lama?"

"Sehari."

"Tidak."

Aluna spontan mengangkat wajahnya.

Nael bersandar santai pada kursi kulitnya, menopang dagu dengan jari-jemarinya yang panjang.

"Aku akan menunggu jawabanmu sampai sore ini," tegas Nael, suaranya tak terbantahkan. "Kalau kau keberatan atau merasa ragu, aku akan mencari wanita lain."

Dada Aluna mendadak sesak. Kalimat terakhir itu menghujam tepat di pusat kesadarannya.

Wanita lain.

Bayangan seorang perempuan lain berdiri di samping Nael, mengenakan gaun pengantin putih, menggandeng lengan tegap pria itu di hadapan media dan keluarga besar San Diego, membuat jemari Aluna mencengkeram map semakin kuat.

Lima tahun. Ia sudah menunggu momen ini selama lima tahun.

Dan sekarang, ketika pintu kesempatan itu terbuka lebar di depan matanya, ia justru memegang alasan moral untuk menolaknya.

Aluna menarik napas panjang, mengisap udara sebanyak-banyaknya untuk menenangkan detak jantungnya yang liar.

"Kalau saya menerima... kapan pernikahannya?"

"Besok."

Jawaban itu datang terlalu cepat.

"Dan hingga waktu yang tidak ditentukan," tambah Nael dengan tatapan mengintimidasi, "kita akan merahasiakan pernikahan ini sepenuhnya dari publik dan seluruh karyawan perusahaan."

Aluna mengangguk perlahan.

Tidak akan ada pesta mewah bertabur bunga. Tidak ada masa pacaran yang manis. Tidak ada kencan romantis di tepi Sungai Seine seperti yang selama ini diam-diam ia imajinasikan sebelum tidur.

Hanya sebuah kesepakatan praktis berkedok pernikahan.

Namun bukankah cinta Aluna pada Nael memang selalu seperti itu? Rahasia, sepihak, dan tanpa pernah menuntut pembalasan.

"Baik."

Gerakan tangan Nael yang hendak mengambil pulpen mendadak terhenti.

"Apa?"

Aluna mengangkat wajah, menatap lurus mata hitam pria itu. Kali ini sebuah senyum tipis yang sangat samar terbit di bibirnya, meski dadanya bergemuruh hebat.

"Saya bersedia menikah dengan Anda, Tuan Nael."

Untuk pertama kalinya sepanjang pagi itu, ekspresi wajah Nael yang sekeras batu berubah. Alis tebalnya terangkat sedikit. Hanya sekilas, namun cukup bagi Aluna untuk menangkap sedikit celah emosi manusiawi di sana.

"Baik," sahut Nael, kembali menguasai raut wajahnya. "Mulai hari ini, kita urus semua berkas dan persiapan secara pribadi."

Aluna mengangguk patuh. Ia berbalik, bersiap melangkah keluar dari ruangan CEO yang megah itu ketika suara bariton Nael kembali memanggilnya.

"Aluna."

Aluna menghentikan langkah, menoleh ke belakang. "Ya, Tuan?"

Nael menatapnya dengan pendar mata yang sulit diartikan.

"Jangan memakai panggilan formal ketika kita sedang berdua saja."

Aluna membeku di tempatnya.

"Mulai sekarang, kau adalah calon istriku."

Kalimat singkat itu seketika meletupkan rasa panas yang menjalar cepat ke seluruh permukaan wajah Aluna. Pipinya memerah seketika.

Ia segera menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan rona merah itu.

"Baik... Nael."

Entah mengapa, mengucapkan nama depan pria itu tanpa embel-embel jabatan untuk pertama kalinya terasa jauh lebih intim dan mendebarkan daripada yang pernah ia bayangkan.

**

"KAU GILA!"

Suara pekikan nyaring Moly membuat Aluna hampir menyenggol cangkir latte hangatnya di atas meja hingga tumpah.

"Moly, pelankan suaramu!" bisik Aluna panik. Matanya memutar cepat, memindai sekeliling café kecil bernuansa hangat di daerah Le Marais itu. Beberapa pengunjung lokal sempat menoleh heran.

Moly menatap sahabatnya dengan mata membelalak lebar, membiarkan sendok kecilnya tergeletak begitu saja. Sebagai seorang content creator Indonesia yang tinggal di Paris, Moly dikenal dengan energinya yang meluap-luap, sangat berbanding terbalik dengan Aluna yang selalu menyimpan rapat perasaannya.

"Kau bilang CEO dinginmu itu tiba-tiba melamarmu pagi ini?" Moly mencondongkan tubuhnya melintasi meja kayu, berbisik histeris.

"Ya."

"Dan kau... kau langsung bilang iya?!"

Aluna mengangguk lambat.

Moly seketika menutup mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Matanya berkedip-kedip cepat mencoba mencerna berita liar tersebut.

"Tunggu, tunggu sebentar." Moly menunjuk wajah Aluna dengan jari telunjuknya. "Lalu bagaimana dengan Rafael?!"

Pertanyaan tajam itu ibarat jarum yang menyengat tepat di titik terlemah Aluna.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 21

    Pagi berembun di Bandara Le Bourget menyambut empat penumpang yang melangkah melintasi karpet merah menuju tangga jet pribadi berwarna hitam berkilau milik keluarga San Diego. Deru halus mesin turbofan yang mulai memanas menggetarkan udara dingin di landasan pacu eksklusif tersebut.Aluna melangkah dengan jemari yang mencengkeram erat tali tas tangannya. Setiap incinya memancarkan profesionalisme yang dingin—mantel wol krem terpotong rapi, rambut disanggul modern, dan ekspresi wajah yang tak dapat dibaca. Namun di balik gaun sutranya, jantung Aluna berdegup seperti dentang lonceng peringatan.Di dalam kabin jet pribadi bertaraf kelas satu itu, aroma kulit premium, kayu mahoni, dan wewangian lembut memenuhi ruang bertekanan udara tersebut. Suasana kabin yang amat lapang justru terasa sempit dan menghempit bagi Aluna."Duduklah di sampingku, Nael," suara Aghata bergema manja seraya meletakkan tas jinjing kulit buaya miliknya di atas meja lipat mahon

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 20

    Denting lembut sendok teh berdenting menabrak cangkir porselen di sebuah kafe remang di kawasan Le Marais. Malam musim gugur menyelimuti kota Paris dengan hawa dingin yang menusuk, tetapi interior kafe yang didominasi ornamen kayu dan lampu-lampu berpendar hangat memberikan rasa nyaman yang kontras.Namun, kehangatan itu sama sekali tak menyentuh Aluna.Wanita itu duduk terpaku di sudut ruangan, jemarinya melingkari cangkir chamomile yang perlahan mulai kehilangan uap panasnya. Matanya menatap kosong ke arah genangan teh, hanyut dalam pusaran pikiran yang menyesakkan. Bayangan tentang penerbangan besok pagi ke Grasse—bersama Nael, Aghata, dan Rafael dalam satu jet pribadi—membuat rongga dadanya terasa serasa dihimpit batu besar."Sayang... kamu melamun lagi?"Sentuhan lembut pada punggung tangannya mengejutkan Aluna. Ia tersentak pelan, mendongak dan mendapati manik mata cokelat hangat milik Rafael yang menatapnya penuh kekhawatiran d

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 19

    Sinar matahari pagi musim gugur menerobos masuk melalui celah tirai penthouse. Sorot cahayanya menyinari sosok Aluna yang tengah berdiri di depan cermin meja rias. Pantulan di cermin itu tak lagi menampilkan wanita rapuh yang gemetar ketakutan semalam.Aluna memoleskan lipstik berwarna maroon gelap ke bibirnya. Sebuah warna tegas dan berani yang jarang sekali ia gunakan di hari kerja. Hatinya telah membeku, membentuk perisai baru yang ia rancang khusus untuk melindungi dirinya. Ia harus kebal dari pesona mematikan Nael San Diego.Lima tahun sudah ia memendam cinta sepihak yang menyiksa pada pria dingin itu. Cinta buta yang membuatnya bersedia menjadi istri rahasia di atas kertas. Mulai hari ini, ia bertekad hanya akan menjadi mesin pencatat yang efisien. Seorang sekretaris eksekutif tanpa hati yang tak menuntut apa-apa dari suaminya.Ketika Aluna melangkah keluar menuju ruang makan, Nael sudah duduk di ujung meja marmer. Pria itu menatap Aluna dari balik pinggiran cangkir kopinya. Mat

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 18

    Perjalanan pulang di dalam kabin Maybach dari Place des Vosges menuju kawasan Passy malam itu berlalu tanpa satu pun pertukaran kata. Keheningan yang membentang di antara Aluna dan Nael terasa jauh lebih pekat dan menyiksa daripada malam-malam sebelumnya.Pendar lampu jalanan kota Paris yang berkelebat masuk melalui kaca jendela mobil sesekali menyorot raut wajah Nael. Pria itu duduk bersandar dengan sangat tenang, memejamkan matanya separuh seolah pertarungan psikologis di meja makan tadi hanyalah hiburan ringan baginya.Di sisi lain, Aluna masih berjuang keras menata ritme napasnya yang berantakan. Jemarinya bertaut erat di atas pangkuan, menahan getaran sisa kepanikan yang nyaris melumpuhkan kewarasannya saat Nael mengklaim dirinya secara tersirat di hadapan Rafael.Setibanya di penthouse, udara dingin musim gugur menyambut mereka begitu pintu lift terbuka. Suasana apartemen mewah berlantai marmer itu sepi dan luas, sangat kontras dengan badai yang tengah ber

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 17

    Dunia Aluna seolah berhenti berputar. Udara di dalam ruang kerja CEO yang megah itu mendadak tersedot habis, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk lurus hingga ke sumsum tulang belakangnya."Apakah ada masalah dengan instruksiku, Aluna?" tanya Nael dengan nada rendah. Pria itu menyandarkan punggungnya pada tepi meja, memandangi wajah istrinya yang sepucat kertas manila."T-Tidak, Tuan Nael," jawab Aluna dengan suara serak yang nyaris pecah. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha membasahi tenggorokannya yang serasa diisi pasir panas. "Saya akan segera menghubungi pihak restoran."Nael menyunggingkan senyum tipis, nyaris tak terlihat. "Bagus. Pastikan reservasi itu atas nama pribadiku. Dan sampaikan pada pemuda itu, jangan sampai ia mengecewakan seleraku malam ini."Begitu Nael berbalik dan melangkah masuk kembali ke ruang kerja utamanya, lutut Aluna serasa berubah menjadi jeli. Ia menjatuhkan diri di atas kursi kerjanya dengan napas memburu.Tangan Aluna gemetar hebat saat m

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 16

    Ting.Denting bel lift berbunyi nyaring, memecah ketegangan pekat yang sejak tadi merantai kaku udara di dalam sangkar baja tersebut. Pintu perlahan bergeser terbuka, menampilkan hiruk-pikuk lobi utama gedung San Diego Corp yang terang benderang.Ini adalah lantai dasar, tempat Rafael harus melangkah keluar untuk tujuan makan siangnya. Namun, kaki pemuda jangkung itu tampak terpaku ke lantai lift selama beberapa detik yang terasa menyiksa.Manik mata cokelat Rafael tak bisa lepas dari jemari kokoh Nael yang masih bertengger dengan begitu posesif di atas bahu Aluna. Rahang pemuda Italia itu mengeras tipis, menahan sebuah gejolak emosi asing yang membakar dadanya."Permisi, Tuan San Diego, Ibu Aluna," pamit Rafael dengan suara bariton yang mendadak terdengar lebih kaku dari sebelumnya. Ia menunduk hormat, menelan bulat-bulat harga dirinya sebelum melangkah keluar dari dalam lift.Sebelum pintu lift kembali tertutup, Rafael menyempatkan diri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status