Share

BAB 2

Author: Tekyuu
last update publish date: 2026-07-18 00:24:36

"Aku... aku akan memutuskan hubungan dengannya," cicit Aluna.

"Kapan?"

Aluna menunduk, menatap uap tipis yang membumbung dari cangkir kopi hangatnya. "Secepatnya."

"Aluna!" tegur Moly dengan nada tertahan, cemas sekaligus tidak percaya. "Kau gila, ya?"

"Aku serius, Moly. Aku akan bicara baik-baik padanya."

Moly bersandar kembali ke kursi kayu, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Aluna penuh keprihatinan.

"Kau baru satu bulan berpacaran dengan budak cinta manis itu, Aluna. Tapi jujur padaku... apa kau sudah punya rasa padanya?"

Aluna menggigit bibir bawahnya erat. Jarinya sibuk mengusap gagang cangkir yang hangat.

"Bukan begitu..."

"Lalu apa?"

Aluna menghela napas panjang, sebuah beban berat terasa menghimpit dadanya. "Rafael membuatku merasa dihargai. Dia membuatku bahagia."

Moly memiringkan kepalanya, menatap Aluna dengan pandangan menohok. "Lalu Nael?"

"Nael adalah pria yang kucintai selama lima tahun terakhir," jawab Aluna jujur tanpa keraguan sedikit pun.

Moly menatap sahabatnya cukup lama. Keheningan menggantung di antara mereka diiringi alunan lagu Prancis klasik yang memutar pelan dari pengeras suara kafe.

"Jadi," Moly menyimpulkan dengan suara pelan namun menohok, "kau memilih pria yang kau cintai, dan tega mengorbankan pria yang membuatmu bahagia?"

Aluna bungkam. Ia tidak memiliki argumen sedikit pun untuk membela dirinya sendiri.

Bip. Bip.

Ponsel Aluna yang tergeletak di atas meja kayu mendadak bergetar halus. Layarnya menyala terang, menampilkan notifikasi pesan dari W******p.

Rafael : ‘Kak, malam ini aku jemput ke apartemen ya?’

"Kau sungguh-sungguh mau mengakhirinya malam ini?" tanya Moly seraya menyeruput espresso-nya dengan gaya santai.

Aluna memandangi layar ponselnya yang masih menyala di atas meja kayu kafe, menampilkan pesan singkat dari kekasihnya.

"Aku sudah mengetik balasannya, Moly," bisik Aluna pelan, menunjukkan layar ponselnya yang berisi janji bertemu malam ini di apartemen.

Moly mencondongkan tubuh, melirik isi pesan itu lalu mengibaskan tangannya dengan senyum tipis.

"Aluna. Kalau memang tidak sejalan, memutus hubungan seumur jagung itu jauh lebih bijak daripada membiarkannya menggantung."

"Aku takut menyakitinya," cicit Aluna, meremas jemarinya yang terasa dingin.

"Semua perpisahan itu menyakitkan," sahut Moly santai namun lugas. "Tapi kamu bukan penjahat hanya karena memilih pria yang sudah kamu cintai selama lima tahun. Selesaikan malam ini secara dewasa, oke?"

Aluna merapikan mantel tebalnya, memaksakan senyum tipis. "Aku jalan dulu."

"Beranikan dirimu, Aluna. Jangan goyah hanya karena dia membawakanmu camilan manis!" seru Moly sambil melambaikan tangan.

Aluna melangkah keluar menyongsong hembusan angin malam Paris yang menusuk tulang. Langkah kakinya menyusuri trotoar, seolah setiap pijakannya diseret oleh rasa bersalah.

Setibanya di apartemen lantai tiga yang sederhana, Aluna baru saja melepas mantelnya ketika ketukan berirama terdengar di pintu depan.

Aluna menarik napas panjang untuk menguatkan dadanya, lalu memutar kunci pintu.

"Kangen banget..."

Suara hangat itu menyambut Aluna bersamaan dengan tubuh jangkung yang langsung melangkah masuk dan merengkuh pinggangnya erat.

Rafael menyandarkan dagunya di bahu Aluna, menghirup aroma parfum melati yang selalu ia sukai dari kekasihnya. Di tangan kanannya, sebuah kantong kertas cokelat terangkat tipis.

"Aku membawakan crepes kayu manis dari Canal Saint-Martin," ujar Rafael lembut, mendaratkan satu kecupan hangat di pipi Aluna sebelum melepaskan pelukannya.

Sensasi bibir Rafael di pipinya membuat dinding ketegasan yang dibangun Aluna seketika retak.

"Rafael..." panggil Aluna halus, mencoba menjaga jarak.

"Aromanya masih harum banget, Sayang. Di luar dinginnya benar-benar tidak santai," potong Rafael, meletakkan kantong kertas di atas meja makan kayu mini.

Pemuda berusia dua puluh tahun itu melepas jaket kulitnya, lalu kembali mendekati Aluna. Tanpa ragu, ia menggenggam kedua tangan Aluna dan membawa jemari dingin perempuan itu ke bibirnya.

"Tanganmu dingin sekali," gumam Rafael menatap Aluna penuh perhatian. Netra cokelat terangnya berbinar tanpa prasangka.

Aluna menatap wajah tampan di hadapannya, wajah polos pemuda yang selama satu bulan terakhir memberi warna dalam hidupnya yang monoton.

"Ada hal penting yang ingin kubicarakan," kata Aluna, memaksakan suaranya terdengar stabil meski dadanya bergemuruh.

Rafael memiringkan kepalanya, menyunggingkan senyum manis yang memamerkan lesung pipi tunggalnya.

"Soal apa? Muka kamu tegang sekali dari tadi. Ada masalah pekerjaan di kantor?" tanya Rafael lembut, lalu menarik pinggang Aluna agar berdiri lebih dekat dengannya.

Sentuhan fisik yang begitu dekat dan intim ini selalu menjadi kelemahan Aluna. Rafael bukan pria asing, ia adalah kekasih yang menyayanginya secara ugal-ugalan.

"Ini tentang kita," cicit Aluna, mencoba menahan getaran di tenggorokannya. "Aku merasa... hubungan kita berjalan terlalu cepat."

Rafael terkekeh halus, mengusap punggung Aluna dengan telapak tangannya yang hangat.

"Terlalu cepat?" ulang Rafael manis. "Kita baru jalan sebulan, Aluna. Tapi setiap detik sama kamu, aku merasa sangat yakin."

"Tapi perbedaan usia kita, Rafael... kariermu baru mau dimulai, sedangkan aku-"

"Tiga tahun bukan benteng raksasa, Sayang," potong Rafael lembut, menatap lurus ke dalam mata Aluna. Ia membawa satu tangan Aluna untuk dibelai di pipinya sendiri.

"Aku tahu aku masih mahasiswa dan belum punya apa-apa sekarang," lanjut Rafael jujur tanpa nada emosi. "Tapi aku sedang berjuang. Aku mau membuktikan kalau aku bisa jadi pria yang pantas bersanding denganmu."

Tatap mata Rafael yang begitu penuh kepuasan dan cinta membuat kata 'putus' yang sudah berada di ujung lidah Aluna mendadak lolos dan lenyap.

Bibir Aluna terkunci rapat. Lidahnya serasa kelu untuk meremukkan impian pemuda yang sedang menggenggam tangannya dengan penuh harapan ini.

"Kenapa diam, hmm?" bisik Rafael, mendekatkan wajahnya hingga napas hangatnya menyapu permukaan kulit Aluna.

"Aku... aku hanya merasa tidak ingin menjadi beban untukmu," kilah Aluna, mengalihkan tatapannya karena tak sanggup menatap kejujuran di mata Rafael.

Rafael tersenyum jahil, lalu mendaratkan kecupan lembut dan lama di dahi Aluna.

"Kamu bukan beban. Kamu itu alasan aku semangat bangun pagi," bisik Rafael di samping telinganya, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aluna dan memeluknya erat.

Aluna memejamkan mata rapat-rapat dalam dekapan hangat itu. Keberaniannya runtuh sepenuhnya. Ia gagal. Ia tidak sanggup mengucapkannya.

Bagaimana mungkin ia tega menghancurkan senyum tulus ini hanya untuk alasan bahwa bos di kantornya baru saja melamarnya tadi pagi?

Bip. Bip.

Notifikasi pesan di atas meja makan memecah hening ruangan.

Aluna mengurai pelukan Rafael perlahan. "Biar kulihat sebentar."

Ia mengambil ponselnya, mengusap layarnya yang menyala terang. Sebuah pesan singkat dari nama kontak 'Tuan Nael' terpampang di sana.

Tuan Nael: Besok pagi pukul delapan, siapkan dokumen kependudukanmu. Kita ke kedutaan untuk mengurus pendaftaran pernikahan.

Darah di tubuh Aluna serasa mendesis dingin seketika.

Ia mematikan layar ponselnya dengan cepat sebelum Rafael sempat meliriknya.

"Siapa, Sayang?" tanya Rafael polos sambil mulai memotong crepes hangat di piring. "Kantor lagi?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 5

    "Aku tidak butuh persetujuanmu, Aluna.""Tapi aku belum siap!" suara Aluna bergetar hebat, napasnya memburu dramatis. "Ini keluarga besar San Diego! Bukankah seharusnya kau memberiku waktu untuk beradaptasi dulu? Aku bahkan belum menghafal silsilah keluargamu atau tata krama makan malam mereka!"Aluna menggenggam lengan jas Nael, tatapannya memohon penuh kegugupan. "Tolong, Nael... batalkan untuk malam ini. Berikan aku waktu beberapa hari,"Nael menggenggam pergelangan tangan Aluna, menatap lurus ke dalam manik mata perempuan yang kini resmi menjadi istrinya itu dengan dominasi mutlak."Tidak ada pembatalan," potong Nael dingin, tak tergerak sedikit pun oleh kepanikan Aluna. "Kau adalah Nyonya San Diego sekarang. Berdirilah di sampingku dan jalankan peranmu."**Mobil sedan hitam Nael meluncur membelah kegelapan malam Kota Paris menuju kawasan elit Neuilly-sur-Seine.Di kursi penumpang, Aluna meremas ponsel pribadinya di bawah pangkuan. Pikirannya kalut membayangkan Rafael yang mungki

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 4

    "M-maaf Tuan Nael, kami masih menunggu penyesuaian dari tim auditor independen pagi ini..."Sebelum ketegangan itu membakar ruangan lebih jauh, Aluna melangkah maju satu langkah secara halus. Tanpa instruksi, dengan keanggunan profesional yang luar biasa, ia menyodorkan sebuah dokumen cetak berlaminasi tipis tepat di samping jemari Nael."Dokumen validasi auditor independen sudah keluar pukul delapan lima puluh pagi ini, Tuan," sela Aluna dengan nada suara yang sangat tenang, jernih, dan terukur. "Deviasi disebabkan oleh kenaikan tarif retribusi pelabuhan lokal. Saya sudah melampirkan lembar skenario mitigasi biaya di halaman tiga untuk persetujuan Anda."Nael mengalihkan pandangannya dari layar proyektor ke dokumen di mejanya, lalu menatap Aluna selama dua detik.Di mata pria itu, terpancar rasa percaya yang mutlak. Aluna tidak hanya bekerja; ia selalu membaca arah pikiran Nael dua langkah di depan orang lain. Tanpa Aluna, rapat ini bisa berubah menjadi ladang pembantaian profesional

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 3

    "Kau membawa dokumen kependudukan yang kuminta semalam?"Suara bariton Nael memecah keheningan di dalam mobil sedan hitam yang terparkir di tepi jalan Rue de Cortambert. Pria itu tampak sangat rapi dengan setelan jas abu-abu gelap, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme teratur.Aluna mengangguk pelan, meremas tas tangannya di atas pangkuan. "Semua sudah ada di dalam map, Nael."Nael melirik jam tangan peraknya sekilas. "Bagus. Petugas Mairie sudah menunggu di dalam. Kita punya waktu tiga puluh menit sebelum aku harus memimpin rapat direksi."Aluna menatap bangunan Mairie du 16e arrondissement di hadapannya. Langit Paris pagi ini diselimuti kabut tipis, menghembuskan udara dingin yang menusuk hingga ke balik mantel tebalnya.Tidak ada gaun pengantin putih berenda. Tidak ada karangan bunga mawar. Bahkan tidak ada kerabat atau sahabat yang mendampingi."Mari masuk," ajak Nael singkat seraya membuka pintu mobil.Aluna menyulut napas panjang, melangkah mengekor di belakang punggung tegap

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 2

    "Aku... aku akan memutuskan hubungan dengannya," cicit Aluna."Kapan?"Aluna menunduk, menatap uap tipis yang membumbung dari cangkir kopi hangatnya. "Secepatnya.""Aluna!" tegur Moly dengan nada tertahan, cemas sekaligus tidak percaya. "Kau gila, ya?""Aku serius, Moly. Aku akan bicara baik-baik padanya."Moly bersandar kembali ke kursi kayu, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Aluna penuh keprihatinan."Kau baru satu bulan berpacaran dengan budak cinta manis itu, Aluna. Tapi jujur padaku... apa kau sudah punya rasa padanya?"Aluna menggigit bibir bawahnya erat. Jarinya sibuk mengusap gagang cangkir yang hangat."Bukan begitu...""Lalu apa?"Aluna menghela napas panjang, sebuah beban berat terasa menghimpit dadanya. "Rafael membuatku merasa dihargai. Dia membuatku bahagia."Moly memiringkan kepalanya, menatap Aluna dengan pandangan menohok. "Lalu Nael?""Nael adalah pria yang kucintai selama lima tahun terakhir," jawab Aluna jujur tanpa keraguan sedikit pun.Moly menatap s

  • Suamiku CEO, Pacarku Anak Magang   BAB 1

    "Aluna, menikahlah denganku."Pulpen hitam di tangan Aluna mendadak berhenti bergerak.Satu detik.Dua detik.Tiga detik.Ia masih berdiri membeku di depan meja kerja jati milik Nael San Diego, merengkuh map laporan keuangan cabang Eropa di dada. Pria di hadapannya bahkan tidak sudi mengangkat kepala. Tatapan matanya yang dingin tetap terpaku pada lembar angka yang sejak lima menit lalu diperiksanya. Di balik jendela kaca besar lantai dua belas, lanskap kota Paris yang diselimuti kabut tipis musim gugur membentang luas, tetapi kehangatan di ruangan itu seolah lenyap seketika.Aluna berkedip lambat. Mengumpulkan kesadarannya yang meraba-raba kekosongan.Mungkin desis pendingin udara kantor yang menghembuskan angin dingin Paris membuat pendengarannya terganggu."Maaf, Tuan Nael?" bisik Aluna, suaranya serak bergetar.Nael membalik halaman dokumen dengan gerakan santai. Suara gesekan kertas kraf terdengar begitu keras di ruangan kedap suara itu."Aku bilang, menikahlah denganku."Jantung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status