LOGIN"Aku... aku akan memutuskan hubungan dengannya," cicit Aluna.
"Kapan?"
Aluna menunduk, menatap uap tipis yang membumbung dari cangkir kopi hangatnya. "Secepatnya."
"Aluna!" tegur Moly dengan nada tertahan, cemas sekaligus tidak percaya. "Kau gila, ya?"
"Aku serius, Moly. Aku akan bicara baik-baik padanya."
Moly bersandar kembali ke kursi kayu, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Aluna penuh keprihatinan.
"Kau baru satu bulan berpacaran dengan budak cinta manis itu, Aluna. Tapi jujur padaku... apa kau sudah punya rasa padanya?"
Aluna menggigit bibir bawahnya erat. Jarinya sibuk mengusap gagang cangkir yang hangat.
"Bukan begitu..."
"Lalu apa?"
Aluna menghela napas panjang, sebuah beban berat terasa menghimpit dadanya. "Rafael membuatku merasa dihargai. Dia membuatku bahagia."
Moly memiringkan kepalanya, menatap Aluna dengan pandangan menohok. "Lalu Nael?"
"Nael adalah pria yang kucintai selama lima tahun terakhir," jawab Aluna jujur tanpa keraguan sedikit pun.
Moly menatap sahabatnya cukup lama. Keheningan menggantung di antara mereka diiringi alunan lagu Prancis klasik yang memutar pelan dari pengeras suara kafe.
"Jadi," Moly menyimpulkan dengan suara pelan namun menohok, "kau memilih pria yang kau cintai, dan tega mengorbankan pria yang membuatmu bahagia?"
Aluna bungkam. Ia tidak memiliki argumen sedikit pun untuk membela dirinya sendiri.
Bip. Bip.
Ponsel Aluna yang tergeletak di atas meja kayu mendadak bergetar halus. Layarnya menyala terang, menampilkan notifikasi pesan dari W******p.
Rafael : ‘Kak, malam ini aku jemput ke apartemen ya?’
"Kau sungguh-sungguh mau mengakhirinya malam ini?" tanya Moly seraya menyeruput espresso-nya dengan gaya santai.
Aluna memandangi layar ponselnya yang masih menyala di atas meja kayu kafe, menampilkan pesan singkat dari kekasihnya.
"Aku sudah mengetik balasannya, Moly," bisik Aluna pelan, menunjukkan layar ponselnya yang berisi janji bertemu malam ini di apartemen.
Moly mencondongkan tubuh, melirik isi pesan itu lalu mengibaskan tangannya dengan senyum tipis.
"Aluna. Kalau memang tidak sejalan, memutus hubungan seumur jagung itu jauh lebih bijak daripada membiarkannya menggantung."
"Aku takut menyakitinya," cicit Aluna, meremas jemarinya yang terasa dingin.
"Semua perpisahan itu menyakitkan," sahut Moly santai namun lugas. "Tapi kamu bukan penjahat hanya karena memilih pria yang sudah kamu cintai selama lima tahun. Selesaikan malam ini secara dewasa, oke?"
Aluna merapikan mantel tebalnya, memaksakan senyum tipis. "Aku jalan dulu."
"Beranikan dirimu, Aluna. Jangan goyah hanya karena dia membawakanmu camilan manis!" seru Moly sambil melambaikan tangan.
Aluna melangkah keluar menyongsong hembusan angin malam Paris yang menusuk tulang. Langkah kakinya menyusuri trotoar, seolah setiap pijakannya diseret oleh rasa bersalah.
Setibanya di apartemen lantai tiga yang sederhana, Aluna baru saja melepas mantelnya ketika ketukan berirama terdengar di pintu depan.
Aluna menarik napas panjang untuk menguatkan dadanya, lalu memutar kunci pintu.
"Kangen banget..."
Suara hangat itu menyambut Aluna bersamaan dengan tubuh jangkung yang langsung melangkah masuk dan merengkuh pinggangnya erat.
Rafael menyandarkan dagunya di bahu Aluna, menghirup aroma parfum melati yang selalu ia sukai dari kekasihnya. Di tangan kanannya, sebuah kantong kertas cokelat terangkat tipis.
"Aku membawakan crepes kayu manis dari Canal Saint-Martin," ujar Rafael lembut, mendaratkan satu kecupan hangat di pipi Aluna sebelum melepaskan pelukannya.
Sensasi bibir Rafael di pipinya membuat dinding ketegasan yang dibangun Aluna seketika retak.
"Rafael..." panggil Aluna halus, mencoba menjaga jarak.
"Aromanya masih harum banget, Sayang. Di luar dinginnya benar-benar tidak santai," potong Rafael, meletakkan kantong kertas di atas meja makan kayu mini.
Pemuda berusia dua puluh tahun itu melepas jaket kulitnya, lalu kembali mendekati Aluna. Tanpa ragu, ia menggenggam kedua tangan Aluna dan membawa jemari dingin perempuan itu ke bibirnya.
"Tanganmu dingin sekali," gumam Rafael menatap Aluna penuh perhatian. Netra cokelat terangnya berbinar tanpa prasangka.
Aluna menatap wajah tampan di hadapannya, wajah polos pemuda yang selama satu bulan terakhir memberi warna dalam hidupnya yang monoton.
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan," kata Aluna, memaksakan suaranya terdengar stabil meski dadanya bergemuruh.
Rafael memiringkan kepalanya, menyunggingkan senyum manis yang memamerkan lesung pipi tunggalnya.
"Soal apa? Muka kamu tegang sekali dari tadi. Ada masalah pekerjaan di kantor?" tanya Rafael lembut, lalu menarik pinggang Aluna agar berdiri lebih dekat dengannya.
Sentuhan fisik yang begitu dekat dan intim ini selalu menjadi kelemahan Aluna. Rafael bukan pria asing, ia adalah kekasih yang menyayanginya secara ugal-ugalan.
"Ini tentang kita," cicit Aluna, mencoba menahan getaran di tenggorokannya. "Aku merasa... hubungan kita berjalan terlalu cepat."
Rafael terkekeh halus, mengusap punggung Aluna dengan telapak tangannya yang hangat.
"Terlalu cepat?" ulang Rafael manis. "Kita baru jalan sebulan, Aluna. Tapi setiap detik sama kamu, aku merasa sangat yakin."
"Tapi perbedaan usia kita, Rafael... kariermu baru mau dimulai, sedangkan aku-"
"Tiga tahun bukan benteng raksasa, Sayang," potong Rafael lembut, menatap lurus ke dalam mata Aluna. Ia membawa satu tangan Aluna untuk dibelai di pipinya sendiri.
"Aku tahu aku masih mahasiswa dan belum punya apa-apa sekarang," lanjut Rafael jujur tanpa nada emosi. "Tapi aku sedang berjuang. Aku mau membuktikan kalau aku bisa jadi pria yang pantas bersanding denganmu."
Tatap mata Rafael yang begitu penuh kepuasan dan cinta membuat kata 'putus' yang sudah berada di ujung lidah Aluna mendadak lolos dan lenyap.
Bibir Aluna terkunci rapat. Lidahnya serasa kelu untuk meremukkan impian pemuda yang sedang menggenggam tangannya dengan penuh harapan ini.
"Kenapa diam, hmm?" bisik Rafael, mendekatkan wajahnya hingga napas hangatnya menyapu permukaan kulit Aluna.
"Aku... aku hanya merasa tidak ingin menjadi beban untukmu," kilah Aluna, mengalihkan tatapannya karena tak sanggup menatap kejujuran di mata Rafael.
Rafael tersenyum jahil, lalu mendaratkan kecupan lembut dan lama di dahi Aluna.
"Kamu bukan beban. Kamu itu alasan aku semangat bangun pagi," bisik Rafael di samping telinganya, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Aluna dan memeluknya erat.
Aluna memejamkan mata rapat-rapat dalam dekapan hangat itu. Keberaniannya runtuh sepenuhnya. Ia gagal. Ia tidak sanggup mengucapkannya.
Bagaimana mungkin ia tega menghancurkan senyum tulus ini hanya untuk alasan bahwa bos di kantornya baru saja melamarnya tadi pagi?
Bip. Bip.
Notifikasi pesan di atas meja makan memecah hening ruangan.
Aluna mengurai pelukan Rafael perlahan. "Biar kulihat sebentar."
Ia mengambil ponselnya, mengusap layarnya yang menyala terang. Sebuah pesan singkat dari nama kontak 'Tuan Nael' terpampang di sana.
Tuan Nael: Besok pagi pukul delapan, siapkan dokumen kependudukanmu. Kita ke kedutaan untuk mengurus pendaftaran pernikahan.
Darah di tubuh Aluna serasa mendesis dingin seketika.
Ia mematikan layar ponselnya dengan cepat sebelum Rafael sempat meliriknya.
"Siapa, Sayang?" tanya Rafael polos sambil mulai memotong crepes hangat di piring. "Kantor lagi?"
Pagi berembun di Bandara Le Bourget menyambut empat penumpang yang melangkah melintasi karpet merah menuju tangga jet pribadi berwarna hitam berkilau milik keluarga San Diego. Deru halus mesin turbofan yang mulai memanas menggetarkan udara dingin di landasan pacu eksklusif tersebut.Aluna melangkah dengan jemari yang mencengkeram erat tali tas tangannya. Setiap incinya memancarkan profesionalisme yang dingin—mantel wol krem terpotong rapi, rambut disanggul modern, dan ekspresi wajah yang tak dapat dibaca. Namun di balik gaun sutranya, jantung Aluna berdegup seperti dentang lonceng peringatan.Di dalam kabin jet pribadi bertaraf kelas satu itu, aroma kulit premium, kayu mahoni, dan wewangian lembut memenuhi ruang bertekanan udara tersebut. Suasana kabin yang amat lapang justru terasa sempit dan menghempit bagi Aluna."Duduklah di sampingku, Nael," suara Aghata bergema manja seraya meletakkan tas jinjing kulit buaya miliknya di atas meja lipat mahon
Denting lembut sendok teh berdenting menabrak cangkir porselen di sebuah kafe remang di kawasan Le Marais. Malam musim gugur menyelimuti kota Paris dengan hawa dingin yang menusuk, tetapi interior kafe yang didominasi ornamen kayu dan lampu-lampu berpendar hangat memberikan rasa nyaman yang kontras.Namun, kehangatan itu sama sekali tak menyentuh Aluna.Wanita itu duduk terpaku di sudut ruangan, jemarinya melingkari cangkir chamomile yang perlahan mulai kehilangan uap panasnya. Matanya menatap kosong ke arah genangan teh, hanyut dalam pusaran pikiran yang menyesakkan. Bayangan tentang penerbangan besok pagi ke Grasse—bersama Nael, Aghata, dan Rafael dalam satu jet pribadi—membuat rongga dadanya terasa serasa dihimpit batu besar."Sayang... kamu melamun lagi?"Sentuhan lembut pada punggung tangannya mengejutkan Aluna. Ia tersentak pelan, mendongak dan mendapati manik mata cokelat hangat milik Rafael yang menatapnya penuh kekhawatiran d
Sinar matahari pagi musim gugur menerobos masuk melalui celah tirai penthouse. Sorot cahayanya menyinari sosok Aluna yang tengah berdiri di depan cermin meja rias. Pantulan di cermin itu tak lagi menampilkan wanita rapuh yang gemetar ketakutan semalam.Aluna memoleskan lipstik berwarna maroon gelap ke bibirnya. Sebuah warna tegas dan berani yang jarang sekali ia gunakan di hari kerja. Hatinya telah membeku, membentuk perisai baru yang ia rancang khusus untuk melindungi dirinya. Ia harus kebal dari pesona mematikan Nael San Diego.Lima tahun sudah ia memendam cinta sepihak yang menyiksa pada pria dingin itu. Cinta buta yang membuatnya bersedia menjadi istri rahasia di atas kertas. Mulai hari ini, ia bertekad hanya akan menjadi mesin pencatat yang efisien. Seorang sekretaris eksekutif tanpa hati yang tak menuntut apa-apa dari suaminya.Ketika Aluna melangkah keluar menuju ruang makan, Nael sudah duduk di ujung meja marmer. Pria itu menatap Aluna dari balik pinggiran cangkir kopinya. Mat
Perjalanan pulang di dalam kabin Maybach dari Place des Vosges menuju kawasan Passy malam itu berlalu tanpa satu pun pertukaran kata. Keheningan yang membentang di antara Aluna dan Nael terasa jauh lebih pekat dan menyiksa daripada malam-malam sebelumnya.Pendar lampu jalanan kota Paris yang berkelebat masuk melalui kaca jendela mobil sesekali menyorot raut wajah Nael. Pria itu duduk bersandar dengan sangat tenang, memejamkan matanya separuh seolah pertarungan psikologis di meja makan tadi hanyalah hiburan ringan baginya.Di sisi lain, Aluna masih berjuang keras menata ritme napasnya yang berantakan. Jemarinya bertaut erat di atas pangkuan, menahan getaran sisa kepanikan yang nyaris melumpuhkan kewarasannya saat Nael mengklaim dirinya secara tersirat di hadapan Rafael.Setibanya di penthouse, udara dingin musim gugur menyambut mereka begitu pintu lift terbuka. Suasana apartemen mewah berlantai marmer itu sepi dan luas, sangat kontras dengan badai yang tengah ber
Dunia Aluna seolah berhenti berputar. Udara di dalam ruang kerja CEO yang megah itu mendadak tersedot habis, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk lurus hingga ke sumsum tulang belakangnya."Apakah ada masalah dengan instruksiku, Aluna?" tanya Nael dengan nada rendah. Pria itu menyandarkan punggungnya pada tepi meja, memandangi wajah istrinya yang sepucat kertas manila."T-Tidak, Tuan Nael," jawab Aluna dengan suara serak yang nyaris pecah. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha membasahi tenggorokannya yang serasa diisi pasir panas. "Saya akan segera menghubungi pihak restoran."Nael menyunggingkan senyum tipis, nyaris tak terlihat. "Bagus. Pastikan reservasi itu atas nama pribadiku. Dan sampaikan pada pemuda itu, jangan sampai ia mengecewakan seleraku malam ini."Begitu Nael berbalik dan melangkah masuk kembali ke ruang kerja utamanya, lutut Aluna serasa berubah menjadi jeli. Ia menjatuhkan diri di atas kursi kerjanya dengan napas memburu.Tangan Aluna gemetar hebat saat m
Ting.Denting bel lift berbunyi nyaring, memecah ketegangan pekat yang sejak tadi merantai kaku udara di dalam sangkar baja tersebut. Pintu perlahan bergeser terbuka, menampilkan hiruk-pikuk lobi utama gedung San Diego Corp yang terang benderang.Ini adalah lantai dasar, tempat Rafael harus melangkah keluar untuk tujuan makan siangnya. Namun, kaki pemuda jangkung itu tampak terpaku ke lantai lift selama beberapa detik yang terasa menyiksa.Manik mata cokelat Rafael tak bisa lepas dari jemari kokoh Nael yang masih bertengger dengan begitu posesif di atas bahu Aluna. Rahang pemuda Italia itu mengeras tipis, menahan sebuah gejolak emosi asing yang membakar dadanya."Permisi, Tuan San Diego, Ibu Aluna," pamit Rafael dengan suara bariton yang mendadak terdengar lebih kaku dari sebelumnya. Ia menunduk hormat, menelan bulat-bulat harga dirinya sebelum melangkah keluar dari dalam lift.Sebelum pintu lift kembali tertutup, Rafael menyempatkan diri







