Masuk
"Pak Damian tunggu!"
Teriak seorang gadis yang tengah berlari dengan setumpuk kertas ditangannya, berusaha mengejar langkah kaki Dosen didepan. Nafasnya tersengal-sengal karena lelah berlari disepanjang lorong kampus. Sedangkan sang dosen menghiraukan teriakan darinya. Mendengar suara teriakan yang melengking, beberapa mahasiswa mulai tertarik perhatiannya. Mereka seperti sudah terbiasa dengan kelakuan Azura yang selalu berisik ketika bertemu Dosennya itu, Damian. Cukup berani untuk mahasiswa yang berhadapan dengan Dosennya sendiri. Gadis itu bisa melihat, dosen yang sangat dia benci akan memasuki ruangannya. Kaki jenjangnya kembali melangkah dengan cepat, menimbulkan suara hentakan sepatu memenuhi lorong. Namun naas nasib sial selalu berpihak padanya. Pintu itu dibanting cukup keras oleh dosen itu tanpa membiarkan dirinya masuk kedalam. Dia meremas tangannya geram melihat kelakuan pria itu. "Dasar Dosen gila! Mimpi apa gue semalam punya dosen monster kek gitu." Gadis itu mengatur ritme nafasnya, dirinya cukup kesal akan kelakuan pria tidak punya hati seperti dosennya itu. Kalau bukan masalah nilai, malas rasanya ia berhadapan dengan pria arrogan itu. Lalu ia melangkah mendekati pintu melihat dari celah kaca Dosennya tengah duduk dengan laptop dimeja dengan serius. "Gue harus nyerahin tugasnya, bisa mati gue kalau harus ngulang tahun depan." Setelah banyak pertimbangan. Azura mengangkat tangan dan mengetuk pintu pelan. Gadis itu mencoba menetralkan detak jantungnya sendiri. Setelah mendengar sahutan dari pria didalam, gadis itu segera mendorong pintu dengan perasaan khawatir. Rasa takut mendominasi tubuhnya seperti sedang berhadapan dengan monster yang cukup berpengaruh di kampus. Rasanya cukup mendebarkan berhadapan dengannya. "Maaf Pak mengganggu waktunya, saya ingin memberikan tugas yang kemarin belum dikumpulkan. Saya harap bapak bisa menerima tugas saya pak." Gadis itu menyerahkan makalah yang sudah ia bawa ke hadapan dosen. Tangannya sedikit gemetaran antara takut dan nervous. Keringat dingin terasa ditubuhnya sekarang, menanti reaksi dari pria didepannya itu. "Tugas itu udah lewat, saya tidak akan menerimanya sekarang. Keluar saya sibuk!" usir pria itu tanpa melihat ke arah anak didiknya. "Saya mohon Pak. Terima tugas saya, semalaman saya ngerjain tugas ini masa ga di terima." Menatap pria di depannya dengan muka semelas mungkin. "Itu urusan kamu, kemarin waktu pengumpulan kamu malah kemana?" "Ya kan saya kemarin ada urusan jadi gabisa datang Pak. Ayo dong sekali ini aja terima tugasnya." Dia mengeluh dengan wajah memelas berharap tugasnya bisa diterima. "Udah telat. Sana keluar saya banyak kerjaan!" "Yah Pa, gaada toleransi kah? nih liat mata saya sampe kaya panda ini begadang ngerjain tugas Bapak." Gadis itu mendekatkan muka ke hadapan dosennya. Dosen itu mensejajarkan wajahnya dengan gadis di hadapannya. Memiringkan wajahnya dan menatap lekat wajah polos tanpa make up dengan lingkaran hitam di matanya. Namun tak menghilangkan kesan manis gadis itu. "Lebih mirip hantu daripada panda," ejek dosen itu padanya. Dengan senyuman tengil yang sangat menyebalkan dimatanya. "Hah, gadis secantik ini masa disamain sama hantu,, yang bener aja Bapa ini," gerutunya dengan raut wajah cemberut. "Percaya diri sekali kamu ini. Udah sana! Waktu saya terbuang gara-gara kamu. Tidak ada toleransi buat mahasiswa yang lelet seperti kamu." Pria itu kembali pada posisi awal, menatap laptop di depannya itu. Tanpa menghiraukan gadis didepannya. Gadis itu menatap tajam dosennya. " Dasar dosen sialan!" makinya dalam hati. Dia langsung keluar ruangan tanpa menoleh ke belakang. Mood-nya udah berantakan dari rumah, ditambah lagi berhadapan dengan Dosen yang membuatnya Frustasi. Azura Queenara nama gadis tersebut. Seorang mahasiswi akhir semester di fakultas komunikasi. Dengan kecantikan dan kepintarannya membuat ia jadi primadona di kampusnya. Dia juga memiliki reputasi yang baik dimata dosen-dosen. Namun, tidak dengan salah satu dosen di kampus. Damian Mahendra nama dosen muda yang terkenal akan ketegasannya. Dosen dengan ketampanan membuat banyak mahasiswi yang tergila-gila padanya. Namun tidak untuk Azura, menurutnya Damian itu sangat arrogant dan sangat killer. Apalagi setelah kejadian beberapa menit yang lalu, membuatnya semakin tidak menyukai Damian. Azura menghentakkan kaki melewati koridor menuju kelasnya. Di sepanjang jalan ia menyumpah serapah atas kelakuan dosen killernya itu. "Bisa kebawa gila gue ngadepin kelakuan monster menyerupai dosen itu." Mahasiswa lain yang melihat hanya bisa menggelengkan kepala pada tingkah laku Azura yang terbilang berani itu. Disela perjalanan menuju kelas. Ponsel Azura berbunyi dengan nyaringnya. Menghentikan langkah kakinya. Azura segera mengambil ponsel di saku celananya. Setelah melihat nama yang tertera di ponsel. Dia menatap ponselnya dengan heran, tidak biasanya sang Ayah nelpon saat ia berada di kampus. Azura menghela nafas, perasaannya sudah tidak enak saat Ayahnyanya tiba-tiba menelponnya. Dia berharap tidak ada masalah baru yang akan terjadi. Azura segera mengangkat panggilan telepon dari sang Ayah. "Hallo, kenapa Yah?" tanya Azura. "Kamu dimana? Pulang sekarang. Tidak ada bantahan ayah tunggu kamu di rumah sekarang." Suara tegas sang ayah menandakan ada hal penting yang mungkin akan terjadi. Sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh ayahnya. "Lah, langsung dimatiin. Gue kan belom ngomong apa-apa. Tapi, gabiasanya Ayah ngomong serius kek gitu. Kira-kira ada apa ya?" Entah bertanya pada siapa, Azura mengetuk jari pada kepalanya seolah sedang berpikir apa yang akan terjadi. Namun, tidak ada waktu untuk berpikir Ayahnya pasti benar menunggunya dirumahh padahal ada satu kelas lagi yang harus ia hadari. Tanpa pikir panjang Azura memberitahu temannya untuk mengabsennya di kelas. Setelah itu Azura mutar balik menuju parkiran. Dirinya sudah sangat penasaran apa yang akan terjadi kedepannya. *** Setelah sampai Azura bergegas memasuki rumah, Namun perhatiannya teralih saat melihat orang dirumahnya sedang sibuk dengan kerjaannya masing-masing. "Wah ada apa nih, kok pada sibuk semua?" tanya Azura saat melihat pelayan menyiapkan makanan yang begitu banyak. "Eh, Neng Azura sudah pulang? Bapak sama ibu udah nunggu daritadi di ruang tamu," ucap salah satu wanita paruhbaya disana. Tanpa menghiraukan pertanyaan dari anak majikannya. Azura menggaruk kepala gatal. Merasa bingung akan keadaan rumahnya. Dia bergegas menemui sang Ayah. Pasti ini ada hubungan dengan dirinya. Ayah Azura sedang membaca koran, ditemani secangkir kopi di meja. Di sampingnya terdapat wanita paruhbaya yang tidak lain ibu sambung Azura. Sejak tadi mereka hanya terdiam tidak banyak kata. "Akhirnyaa kamu pulang juga Azura. Ayah sudah nunggu kamu daritadi, ayo duduk dulu. Ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan sama kamu." Suara berat terdengar menyapa, memenuhi ruangan begitu menginjakkan kakinya ke dalam. Sosok pria paruh baya yang duduk menyambut kedatangan anak gadisnya. Azura duduk mengikuti perkataan ayahnya. "Ayah, sebenernya ada apa? kaya mau ada pesta aja. Banyak makanannya." Azura bertanya, dia cukup penasaran atas apa yang akan terjadi. Pria itu tersenyum, saat melihat raut wajah kebingungan putrinya. "Ayah akan jodohkan kamu dengan anak temen Ayah. Ayah harap kamu tidak menolaknya," ucap pria itu dengan santainya. Perkataannya seolah-olah tidak bisa dibantah sama sekali. Azura terdiam di tempat. Berusaha mencerna ucapan dari Ayahnya. "Apa?! Dijodohin? Ayah engga lagi bercanda, kan? Kenapa dadakan kayak gini?" ucapnya saat memahami apa yang dikatakan ayahnya. Sedangkan sang ibu hanya terdiam ditempat. Dirinya tidak berkuasa ikut campur dalam hal ini. Dia hanya Ibu sambung untuk Azura. "Iyaa lah, kalau Ayah bilang di telepon tadi. Kamu bakalan nolak, terus kabur Ayah tau ide licik kamu." Azura tidak bergeming, hidupnya seakan hancur setelah mendengar perkataan ayahnya. Ini terlalu cepat terjadi, ayahnya sangat pintar merencanakan semuanya. "Ayah kan sayang a-" "Udah jangan banyak drama Azura. Kamu harus nerima semua ini, kalau tidak Ayah akan sita semua fasilitas kamu. Termasuk si Monkey kamu itu." Pria itu mengancam anaknya untuk menerima semuanya. Azura melebarkan matanya. "Mony Ayah, bukan Monkey? Tapi kan aku masih kuliah gimana sih." Azura tidak terima nama mobil kesayangannya diubah oleh Ayahnya. "Jangan banyak alasan Azura?! Sekarang masuk kamar, siap-siap dandan yang cantik. Nanti malam calon mantu beserta keluarganya berkunjung. Nanti Ibu kamu akan membantu buat nyiapin semuanya." Azura tersentak di tempat mendengar perkataan ayahnya. Kenapa mendadak sekali? Ayahnya seperti sedang diburu oleh waktu. Apalagi katanya Malam ini ayahnya sudah gila sepertinya. "Apa, Malam ini?!"Pagi sudah mulai menyapa. Di sebuah bandara terdapat banyak orang yang berlalu lalang akan aktivitasnya masing-masing. Mereka jalan cepat seolah di buru oleh waktu. Salah satu pesawat disana ada yang baru mendarat dengan mulus dilapangan bandara. Seorang pria tengah mendorong dua koper di tangannya dengan mulut yang tidak bisa diam. "Gila banget punya bos, bisanya nyusahin mulu. Kalau bukan gara-gara dia bos, udah gue buang koper dia ke rawa-rawa. Seenak udel nyuruh-nyuruh gue," ucapnya dengan helaan nafas beratnya. Sedangkan atasannya dengan santai jalan di depannya tanpa menghiraukan keluhan asistennya itu. "Ini semua gara-gara lo, Reno. Cupu banget jadi orang untung si Azura kaga mutusin gue. Kalau sampe itu terjadi gue gantung lo di pohon toge." Tanpa menoleh dia berucap membuat sang asisten yang ada di belakangnya melebarkan mata tidak menyangka. "Lah, napa lo malah nyalahin gue? Salah sendiri selingkuh di tempat umum ya ketauan lah. Punya otak tuh pake bos, jangan dipake pas
Langit sudah makin gelap, lampu mulai terang di are perumahan. Di dalam kamar bernuansa biru terdapat sepasang suami istri yang masih terlelap di kasir yang sama. Mereka sudah menghabiskan beberapa jam tertidur dengan posisi yang lumayan intim itu. Sampai suara ketukan pintu, mulai mengusik tidur lelap seorang gadis disana. Badannya mulai merasakan beban berat diperutnya. Dahinya mengerut sesaat, sampai matanya tiba-tiba membola. Saat melihat Dosennya ada di depannya tengah tertidur di pelukannya. Niat hati ingin teriak pun, dia urungkan saat melihat wajah lelah dari pria itu. "Kenapa dia sampai ada disini, tunggu kayanya gue ngelupain sesuatu deh." Azura mengingat sesuatu yang mebuatnya kembali melebarkan matanya. Dia ingat saat menahan Damian untuk tetap ada di sisinya. Membuatnya malu seketika. "Aaaa, malu banget gue. Masa iya gue harus pura-pura lupa sama apa yang udah gue lakuin ke dia? Tapi di pikir-pikir ganteng juga nih cowo kalau aja sikapnya gak kaya monster mungkin.." uc
Di ruangan bernuansa biru terdapat seorang gadis tengah terisak di kasur. Sudah beberapa saat ia berada disana di habiskan dengan tangisan. Hatinya benar-benar sakit mendapatkan tamparan dari cinta pertamanya untuk yang pertama kalinya. Dadanya sakit membuat isakan pilu itu terdengar menyayat hati. "Kenapa sesakit ini?" tanyanya entah kesiapa, tangannya memukul dadanya yang lumayan sesak. Tanpa gadis itu sadari ia tidak sendiri disana, ada seorang pria yang tengah melihat dirinya disudut kamar dengan pandangan sulit di artikan. Dia sejak tadi disana mengikuti Azura dan hanya terdiam membiarkan gadis itu meluapkan emosinya dengan tangisannya. Pria itu mendekat ke arah sang gadis, dia tidak bisa membiarkan gadis itu menyakiti dirinya sendiri. Dia melangkah dengan cukup pelan dan secara spontan menghentikan pergerakan tangan Azura yang masih memukul dadanya. Tindakan itu membuat gadis yang tadinya tidak berhenti seketika menghentikan gerakan tangannya. Dengan mata menatap ke arah pria
Di meja makan terdapat banyak berjenis makanan, tidak ada percakapan disana hanya ada keheningan. Mereka tidak ada yang memulai untuk sekedar makan. Membuat beberapa orang disana saling tatap seakan tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Helaan nafas dari Kirana terdengar membuat mereka pokus padanya. "Sebenernya ada apa sih? Kenapa kalian diem aja kaya gitu, udah ayo makan. Masalah yang ada nanti lagi kita bahasnya." Wanita paruhbaya itu merasa kesal karena mereka hanya terdiam.Merasa canggung Azura pun menatap Ayah-nya dan ibu sambungnya yang masih terdiam. "Gapapa kok Bun, ayo makan semuanya." Azura berusaha mencairkan suasana namun tidak ada perubahan yang berarti. Gadis itu mengambil piring milik suaminya, dan menaruh nasi dengan beberapa lauk disana. Tentu saja dengan persetujuan dari Dosennya itu. Dia sesekali bertanya pada suaminya apa yang akan dimakan olehnya. "Pakai ini, Pak?" tanya Azura sekian kalinya, matanya tidak bisa disembunyikan jejak setelah menangis. Sedangka
"Ada apa sebenernya, Azura?"Suara tegas seorang pria paruhbaya terdengar membelah kesunyian di sana. Mereka berada di ruang belakang rumah Azura. Setelah beberapa saat hanya terdiam akhirnya suara sang ayah terdengar. sang Anak hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya. Dia cukup takut saat melihat tatapan tajam Ayahnya, ditambah dengan suara tegasnya. Membuat Azura tidak bisa berkutiksedikit pun. Sambil menautkan tangannya, Azura hanya terdiam tanpa menjawab ucapan dari Ayah-nya. Melihat respon putrinya yang hanya terdiam membuat Bima menghela nafas panjangnya. Dia benar-benar lelah sekarang, ditambah dengan tingkah putrinya itu. "Azura! jangan diem aja ada apa?" tanya Bima dengan nada rendahnya. Dia tidak bisa menekan anaknya yang sepertinya takut dengan suaranya tadi. Azura seketika mendongak kearah Ayah-nya. "Maaf, Ayah." Bukannya menjelaskan gadis itu malah meminta maaf kepada ayahnya. Membuat ayahnya seketika menghela nafas gusarnya. "Jadi benar kamu sama suamimu pisah ka
Di ruang makan terdapat beberapa orang tengah melahap makanannya tidak ada suara apapun kecuali dentingan sendok. Hal ini membuat kedua pria paruhbaya yang memang tidak tahu apa-apa pun menimbulkan tanda tanya besar dikepalanya. Ingin berbicara pun tidak bisa saat melihat aura wanita paruhbaya itu seperti mode senggol bacok. Setelah selesai makan mereka kumpul di ruang tamu, namun tidak ada yang memulai untuk berbicara. Mereka seakan menanti anaknya yang mengucapkan kesalahannya sendiri. Saat melihat keduanya hanya terdiam salah satu wanita paruhbaya itu menghela nafas beratnya. "Sebenernya ada apa sih?" tanya Devan karena merasa penasaran dengan apa yang sebenernya terjadi. Kepalanya di penuhi pertanyaan saat melihat tingkah mereka yang tidak biasa. Begitupun dengan Bima yang memang tidak tahu apa-apa. "Jelasin apa yang sebenernya terjadi Damian. Jangan diam aja kamu!" ucap Kirana kepada anaknya karena daritadi terdiam tidak ada suara. Mendengar hal itu Damian menatap ke arah bun







