Home / Romansa / Suamiku Duda Bisu / Bab 113. Hadiah

Share

Bab 113. Hadiah

Author: Liani April
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-06 10:00:16

Sayang sekali, hari itu menjadi hari terakhir honeymoon mereka di Bali.

Sejak pagi, Liora sudah terlihat sedikit murung, meski senyum masih terbit di bibirnya. Ada perasaan enggan untuk benar-benar meninggalkan pulau yang selama beberapa hari terakhir menjadi saksi banyak perubahan di antara mereka.

Sesuai rencana, sebelum kembali ke kota, Liora dan Kairan singgah ke pasar oleh-oleh untuk membeli souvenir bagi keluarga dan rekan kerja.

Namun, ada sesuatu yang berbeda dari

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 157. Menyayangi

    Kairan memberi kabar bahwa pesawat pribadi yang ia tumpangi akan segera mendarat.Ia datang bersama Yann, dan Niro ikut dalam penerbangan itu. Dari udara, Niro sempat menghubungi Oma, memberi tahu bahwa mereka hanya tinggal beberapa menit lagi sebelum tiba.Di bandara, Liora sudah menunggu sejak lama.Ia tidak sanggup menunggu di rumah. Duduk diam hanya membuat pikirannya berlari ke mana-mana. Maka ia memilih berdiri di dekat pintu kedatangan, mondar-mandir kecil sambil terus menatap pintu otomatis yang belum juga terbuka.Keluarga Kairan ikut berkumpul di sana. Namun Liora nyaris tidak mendengar percakapan mereka. Fokusnya hanya satu, Kairan.Rasa cemas bercampur harap membuat napasnya pendek-pendek.Rupanya mereka bukan satu-satunya yang menunggu.Beberapa paparazi sudah berjajar, kamera siap mengarah ke pintu kedatangan. Kisah Kairan yang disebut selamat dari tragedi pesawat membuat namanya kembali menjadi sorotan. Publik ingin tah

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 156. Liora Harus Tahu

    Kairan sudah berada di jalanan.Dengan kedua kaki yang mulai gemetar, ia berjalan menyusuri jalan luas yang gelap dan sepi. Tidak ada lampu, tidak ada suara kendaraan, hanya angin malam yang menggesek tanah tandus.Langkah demi langkah ia paksa.Ia tidak tahu ke mana harus pergi. Ia hanya tahu ia harus terus berjalan sampai menemukan seseorang. Apa saja. Siapa saja.Namun jalan itu seperti tidak berujung.Kairan semakin limbung. Tenggorokannya kering, perutnya kosong, kepalanya berdenyut hebat karena luka yang belum tertangani. Dunia terasa berputar.Akhirnya, tubuhnya menyerah.Ia ambruk di tengah jalan, terlentang di atas aspal yang masih menyimpan sisa panas siang tadi.Napasnya berat.Matanya menatap langit yang luas, dipenuhi bintang yang berhamburan seperti taburan cahaya kecil.Seandainya keadaan berbeda, ia mungkin akan menikmati pemandangan itu. Mungkin ia akan mengingat malam ketika ia dan Liora berdiri

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 155. Jalan yang Salah

    Ini adalah kisah Kairan. Beberapa jam sebelum kabar buruk itu menyebar ke seluruh keluarga.Pagi itu, setelah menutup panggilan dengan Liora, Kairan segera membereskan barang-barangnya. Ia ingin pulang secepat mungkin. Suara istrinya di telepon masih terngiang di telinga, membuat dadanya hangat sekaligus rindu.Mom membantunya mengepak koper, memastikan semua berkas kerja tersusun rapi. Laporan meeting, kontrak, dan dokumen penting dimasukkan ke map khusus agar tidak tercecer. Saat hendak menutup koper, Mom menemukan tiket pesawat dan paspor Kairan tergeletak di meja.“Jangan sampai ketinggalan,” pesan Mom sambil menyerahkannya.Kairan mengangguk. Ia memasukkan keduanya ke saku depan ransel agar mudah diambil saat pemeriksaan di bandara.Penerbangannya dijadwalkan pukul dua belas siang. Bandara berjarak sekitar tiga jam perjalanan dari rumah Mom, sehingga ia memutuskan berangkat lebih awal.Ia berpamitan pada Mom dan Ayah, lalu mengemudi mob

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 154. Menjemput

    “Niro? Ini aku… Kairan.”Tak ada yang pernah membuat Niro setercengang ini sepanjang hidupnya.Tubuhnya membeku. Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan. Untuk beberapa detik, dia bahkan lupa cara bernapas.“Apa… ini benar-benar kamu, Kairan?” suaranya bergetar.Di seberang sana terdengar napas tertahan, lalu jawaban singkat yang sangat dikenalnya.“Ya. Ini aku.”Tak mungkin salah.Tak ada yang bisa meniru suara itu. Intonasinya, jedanya, bahkan cara lelaki itu mengucapkan kata sederhana. Tanpa perlu bukti lain, Niro tahu itu benar Kairan.Namun justru itulah yang membuat pikirannya kacau.“Ini gila,” gumamnya. “Di sini semua orang yakin kamu korban pesawat jatuh. Katakan sesuatu yang masuk akal supaya aku tahu aku nggak lagi bicara dengan hantu.”Hening sejenak di ujung telepon.“Ceritanya panjang,” jawab Kairan akhirnya. “Aku nggak bisa menjelaskan sekarang. Ini panggilan internasional.

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 153. Selimut Hangat

    Tengah malam, Liora terbangun dengan napas tersengal.Keringat membasahi pelipis dan punggungnya, seakan dia baru saja berlari jauh. Dadanya naik turun, sementara kamar di sekelilingnya terasa terlalu sunyi dan terlalu dingin.Dia bermimpi buruk tentang Kairan.Dalam mimpi itu, Kairan memanggilnya dari tempat yang tak bisa dia jangkau. Suaranya dekat, tetapi tubuhnya tak pernah benar-benar bisa disentuh. Liora berlari, memanggil, memohon. Namun lelaki itu terus menjauh sampai akhirnya lenyap.Tidur ternyata tak memberi kelegaan. Justru mimpi itu lebih menyiksa daripada kenyataan.Liora masih setengah sadar ketika matanya menangkap bayangan di dekat pintu kamar. Dia mengerjap, mencoba memfokuskan pandangan.Sosok itu tinggi, tegap.Kairan.Nama itu langsung meluncur dari bibirnya dengan suara parau.“Kairan…”Namun sosok itu tidak menjawab. Ia justru berbalik dan berjalan keluar kamar, tubuhnya memudar seperti kabu

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 152. Kairan Pergi

    Memasuki hari keempat sejak kecelakaan itu, tim pencarian telah menemukan puluhan korban. Lima puluh enam jenazah berhasil diangkat dari perairan Alaska, namun nama Kairan masih belum tercantum dalam daftar identifikasi tim DVI—Disaster Victim Identification.Ketiadaan nama itu seharusnya memberi harapan. Namun di rumah Oma, harapan justru terasa semakin menyesakkan.Telepon terus berdering sejak pagi. Rekan bisnis, kerabat jauh, wartawan, bahkan orang-orang yang hanya pernah bertemu Kairan sekali pun ikut menghubungi, seakan ingin memastikan tragedi itu benar terjadi.Pak Yann sempat menelepon sore tadi, menyampaikan belasungkawa kepada Niro dengan suara berat. Setelah itu masih banyak panggilan lain masuk, tetapi tak satu pun dijawab.Prioritas mereka hanyalah kepastian tentang Kairan.Satu-satunya kabar yang sedikit memberi arah datang siang tadi. Tim SAR berhasil menemukan black box pesawat. Benda kecil itu digadang-gadang akan menjawab penyeba

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status