Beranda / Romansa / Suamiku Duda Bisu / Bab 6. Hari Pertama Sebagai Istri

Share

Bab 6. Hari Pertama Sebagai Istri

Penulis: Liani April
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 13:59:16

Liora resmi menjadi istri Kairan Narel Ardana.

Kesadaran itu datang perlahan, tidak dalam bentuk letupan bahagia yang riuh, melainkan seperti embun yang jatuh diam-diam. Dingin, nyata, dan menetap di dada. Tidak mengagetkan, tapi membuatnya sadar bahwa hidupnya kini benar-benar berubah.

Rumah yang kini ia tempati adalah rumah Kairan. Bangunan tiga lantai dengan dinding berwarna netral dan lorong-lorong sunyi yang membuat langkah kaki terdengar lebih jelas dari seharusnya. Terlalu besar untuk dua orang, pikir Liora. Namun ia tahu, cepat atau lambat, rumah ini akan menemukan iramanya sendiri.

Ia sempat berkeliling seorang diri ketika pertama kali tiba. Menyentuh gagang pintu satu per satu, memperhatikan jendela-jendela besar, dan cahaya sore yang menyelinap masuk melalui sela tirai. Tidak ada larangan. Tidak ada ruang terkunci. Tidak ada batasan yang ditetapkan Kairan.

Dan justru itu yang membuat Liora sedikit gugup.

Ia sempat membayangkan rumah seorang duda akan dipenuhi jejak masa lalu. Foto, benda kenangan, atau suasana yang menyisakan kehadiran perempuan lain. Namun dugaan itu runtuh. Rumah ini bersih. Netral. Seolah tidak ingin menyimpan apa pun yang sudah berlalu.

Liora menghargai itu. Maka ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak bertanya tentang masa lalu Kairan. Pernikahan ini adalah awal. Ia ingin menjalaninya tanpa bayang-bayang orang lain.

Liora berdiri di ruang tengah dengan tas kecil masih tergenggam di tangan. Di sampingnya, Kairan berdiri dengan postur tegap, jasnya sudah dilepas dan disampirkan di lengan. Sejak mereka masuk ke rumah itu, lelaki itu belum banyak bergerak apalagi bicara.

Liora menelan ludah.

“Ehm…” Liora membuka suara, suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia niatkan. “Kamarku... maksudku, kamar kita... di mana, ya?”

Kairan menoleh. Tatapannya singkat, seolah hanya memastikan Liora benar-benar ada di sana, bukan sekadar bayangan. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan melangkah menuju lorong.

Liora segera mengikutinya.

Langkah mereka tidak sejajar. Kairan berjalan sedikit lebih dulu, sementara Liora menjaga jarak satu langkah di belakang.

Kamar itu berada di ujung lorong. Kairan membuka pintu dan memberi isyarat dengan tangannya, mempersilakan Liora masuk lebih dulu.

Kamar tersebut luas, rapi, dan dingin. Bukan karena suhunya, melainkan karena hampir tidak ada jejak kehidupan di dalamnya. Tempat tidur besar dengan seprai putih polos, lemari kayu gelap, meja kecil di sudut ruangan.

Liora meletakkan tasnya perlahan di atas ranjang.

“Oh…” hanya itu yang keluar dari bibirnya.

Kairan berdiri di ambang pintu, tangannya bersedekap. Ia tidak masuk sepenuhnya, seolah memberi Liora ruang. Mata lelaki itu menyapu seisi kamar, lalu kembali pada Liora.

“Kalau ada yang perlu diubah,” kata Kairan. Suaranya rendah, datar, tapi jelas. “Bilang saja.”

Liora menoleh cepat. Ia sedikit terkejut bukan karena kata-katanya, tapi karena ia masih belum terbiasa mendengar suara Kairan di ruang sunyi seperti ini.

“Enggak,” jawabnya cepat. “Sudah bagus kok.”

Kairan mengangguk pelan.

Sunyi kembali jatuh di antara mereka.

Liora meremas jemarinya sendiri. Ia merasa perlu melakukan sesuatu. Mengisi kekosongan. Membuktikan bahwa ia pantas berada di rumah ini.

“Aku… mau bikin minum?” tawarnya ragu. “Kamu mau teh atau kopi?”

Kairan berpikir sejenak. “Teh,” katanya singkat.

Liora mengangguk cepat, seperti mendapat tugas penting. Ia keluar kamar lebih dulu, meninggalkan Kairan yang kembali berdiri di lorong.

Dapur ternyata sama bersihnya dengan ruang lain. Terlalu rapi untuk rumah yang akan dihuni. Liora membuka lemari, mencari gelas, menyalakan kompor untuk merebus air.

Tangannya bergerak otomatis, seperti sudah sering melakukan ini. Padahal dapur ini asing baginya.

Tak lama, langkah kaki terdengar mendekat.

Kairan berdiri di dekat meja makan, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Ia memperhatikan Liora dengan tatapan yang sulit dibaca. Bukan mengawasi, bukan menilai. Lebih seperti memastikan.

Liora menuang teh ke dua cangkir.

Ia menyerahkan satu pada Kairan, hati-hati agar jari mereka tidak bersentuhan. Tapi takdir rupanya punya rencana kecil lain. Ujung jari mereka bersinggungan sesaat.

Liora refleks menarik tangannya.

“Maaf,” katanya cepat.

Kairan juga menarik tangannya, menggeleng kecil. “Enggak apa-apa.”

Mereka duduk berhadapan di meja makan, memegang cangkir masing-masing. Uap teh mengepul pelan, mengisi udara dengan aroma hangat.

Liora meniup tehnya perlahan.

“Rumahnya besar, ya?” ucapnya, lebih pada dirinya sendiri.

“Iya,” jawab Kairan.

Sunyi lagi.

Tapi kali ini, tidak terlalu canggung. Tapi tidak sepenuhnya nyaman juga.

“Kalau kamu capek,” Kairan tiba-tiba berkata, “kamu bisa istirahat.”

Liora menatapnya. “Kamu juga.”

Kairan mengangguk.

Mereka tersenyum hanya sebentar, hanya sekilas.

Setelah minum teh, Kairan berdiri lebih dulu. “Aku ke ruang kerja sebentar.”

“Oh, iya.”

Kairan melangkah pergi, meninggalkan Liora sendirian di dapur. Liora mengembuskan napas panjang, baru sadar bahunya tadi tegang.

Hari pertama ternyata tidak semenakutkan yang ia bayangkan.

Malam itu, mereka makan bersama dengan jarak satu kursi kosong di antara mereka. Tidak banyak bicara, tapi juga tidak lagi kikuk seperti pagi tadi.

Saat waktu tidur tiba, mereka berdiri di depan kamar, ragu melangkah masuk bersamaan.

“Aku… tidur di sisi kanan?” tanya Liora pelan.

Kairan berpikir sebentar. “Iya.”

Liora masuk lebih dulu, naik ke tempat tidur dengan hati-hati, seolah takut mengganggu. Kairan menyusul, mematikan lampu, lalu berbaring di sisi lain.

Jarak di antara mereka masih ada.

Namun malam itu, sebelum memejamkan mata, Liora menyadari kalau ia tidak sendirian lagi.

Ia sudah menikah.

BERSAMBUNG

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 98. Pembunuh

    Liora sudah diperbolehkan pulang.Bersama Paman dan Tante, ia kembali ke rumah megah itu. Mereka berniat menginap sampai kondisi Liora benar-benar membaik. Keputusan itu tentu telah mendapat izin Kairan. Ia tak ingin Liora sendirian dalam keadaan seperti sekarang.Kembali berada di rumahnya sendiri, Liora lebih banyak beristirahat di kamar, menuruti saran dokter agar pemulihannya berjalan cepat.Keluarga Kairan datang bergantian menjenguk. Oma menjadi yang pertama, disusul para bibi. Seperti kebanyakan pelayat, mereka datang membawa rasa penasaran akan kronologi kejadian, sekaligus menitipkan ucapan belasungkawa atas duka yang menimpa Liora dan Kairan.Hingga hari keempat, kunjungan tak juga surut. Bukan hanya keluarga, rekan kerja Kairan pun berdatangan. Itu terjadi karena Kairan mengajukan cuti panjang. Ia ingin berada di sisi Liora, menemani masa-masa tersulit istrinya, memastikan Liora tak larut sendirian dalam kehilangan mereka.Selama itu, Li

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 97. Vitamin

    “Niro… bagaimana kalau Kairan membenciku karena aku menggugurkan anaknya?”Niro terdiam beberapa saat. Berbanding terbalik dengan Liora yang justru semakin terisak, seolah kalimat itu membuka pintu bagi semua ketakutannya.“Kenapa kamu berpikir begitu?” tanya Niro akhirnya.Wajar ia heran. Sejak awal, semua orang mengkhawatirkan kondisi fisik dan mental Liora, namun perempuan itu justru sibuk mencemaskan kemungkinan dibenci oleh Kairan. Bahkan itulah kalimat pertamanya setelah berpuasa bicara selama empat puluh delapan jam.“Liora, dengarkan aku,” ucap Niro serius. “Aku dan semua orang sama sekali nggak berpikir kalau ini salahmu. Apalagi Kairan.”Liora mengangkat wajahnya, matanya basah, seolah memprotes keyakinan itu.“Kairan sangat menunggu anak ini lahir,” suaranya bergetar. “Dia nggak sabar bertemu dengan anak kami. Tapi aku malah—”Kalimat itu terputus oleh tangisnya sendiri.Niro mengembuskan napas pelan. Ia mengenal Lio

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 96. Tidak Bicara

    Kabar duka itu menyebar begitu cepat. Seluruh pihak keluarga telah mengetahuinya, namun Kairan mengambil keputusan agar mereka tidak datang menjenguk lebih dulu. Ia ingin Liora tenang, tanpa harus menghadapi tatapan iba dan pertanyaan yang mungkin akan semakin melukai.Liora masih terpukul oleh kehilangan bayinya. Meski demikian, ia mampu menerima saran dokter Kinara untuk menjalani kuretasi ketika mentalnya telah siap.“Aku turut berduka atas kehilanganmu,” ucap dokter Kinara dengan suara lembut. “Tapi kamu harus kuat. Setidaknya, kamu harus memakamkan bayimu dengan layak.”Pendekatan itu bukan seperti dokter kepada pasien, melainkan sesama perempuan kepada perempuan lain yang sedang kehilangan.“Aku akan memastikan proses kuretasi tidak menyakitkan. Kamu akan ditemani suamimu. Kamu tidak akan sendirian.”Liora kembali menangis, namun ia mengangguk pelan. Ada kedamaian dalam cara dokter Kinara berbicara, dalam caranya menatap. Sampai-sampai Liora

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 95. Kehilangan

    “Bayi Anda telah meninggal dunia di dalam kandungan. Istri Anda mengalami keguguran.”Kairan seperti dipaku di tempat. Tubuhnya kaku, pikirannya kosong, seolah raganya dan jiwanya tercerabut dalam waktu yang bersamaan.“Istri Anda mengalami perdarahan akibat luka di telapak tangan dan syok berat karena trauma. Tekanan darahnya turun cukup drastis. Selain itu, rahimnya mengalami kontraksi yang tidak stabil.”Kairan menahan napas. “Lalu?Hening sesaat. Terlalu lama. Terlalu menyesakkan.“Maaf, Pak,” suara dokter Kinara melembut, “kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun detak jantung janin tidak dapat kami temukan saat tiba di rumah sakit.”Kata-kata itu seperti palu yang menghantam kepala Kairan.Tidak.Tidak mungkin.Dunia Kairan runtuh seketika.“Dok… tolong ulangi,” suaranya serak, nyaris tak berbentuk. “Mungkin alatnya salah… mungkin masih ada harapan…”Dokter Kinara menggeleng pelan. “Kami turut be

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 94. Petir di Siang Bolong

    “Liora! Liora! Apa yang terjadi? Hei!”Kairan bangkit begitu cepat sampai kursi di belakangnya terjungkal. Tangannya gemetar saat menggenggam ponsel.“Liora?” panggilnya lagi, memastikan sambungan itu masih ada.Tak ada jawaban. Hanya sunyi.Kairan tak menunggu satu detik pun. Ia menyambar kunci mobil dan berlari keluar dari ruangan, menerobos lorong kantor seperti orang kehilangan arah. Tidak ada yang ia pikirkan selain sampai ke rumah secepat mungkin.Nyatanya, Kairan harus berjibaku di jalanan beraspal. Dia mengemudi begitu cepatnya. Tidak peduli dia akan dikejar polisi karena menyalahi aturan kecepatan di jalanan. Dia ingin sampai ke tempat Liora. Hanya ingin cepat sampai.Begitu tiba di rumah, Kairan bahkan tak sempat mematikan mesin mobil dengan benar. Pintu terbuka begitu saja ketika ia melompat turun.“LIORA!”Tak ada sahutan. Namun entah mengapa, langkah kakinya langsung tertarik ke arah dapur. Seolah ada sesuatu yang

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 93. Penyesalan

    Usia kandungan Liora sudah menginjak sembilan bulan. Masa kelahiran kian dekat, membuat setiap hari terasa lebih berharga sekaligus menegangkan.Siang itu, Liora dan Kairan sedang menata kamar yang akan menjadi kamar bayi mereka, tepat di samping kamar utama. Kairan sibuk merakit kayu-kayu untuk tempat tidur bayi.Beberapa waktu lalu, ia telah menyelesaikan pemasangan lemari kecil untuk baju dan perlengkapan si kecil.Sementara itu, Liora menyusun dan menggantung pakaian-pakaian mungil dengan penuh kehati-hatian, seolah setiap helainya adalah doa.Menurut hasil USG terakhir, bayi mereka kemungkinan besar laki-laki. Kairan tampak begitu bergembira mendengar kabar itu.Namun bagi Liora, apa pun jenis kelaminnya, ia akan mencintai anak itu dengan sepenuh hati.Setelah hampir setengah jam berdiri, Liora menyudahi kegiatannya. Tubuhnya cepat lelah akhir-akhir ini. Ia melangkah menuju sofa dan duduk perlahan, menjulurkan kakinya yang mulai membeng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status