หน้าหลัก / Romansa / Suamiku Duda Bisu / Bab 5. Sebuah Kata Dari Kairan

แชร์

Bab 5. Sebuah Kata Dari Kairan

ผู้เขียน: Liani April
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-05 13:59:02

Dua minggu sebelum hari pernikahan, Liora kembali berdiri berhadapan dengan cermin besar di sebuah butik pengantin.

Kali ini ia tidak sendirian. Paman dan Tante ikut menemani, duduk di sofa empuk dengan wajah penuh ekspektasi, sementara beberapa staf butik mondar-mandir menyesuaikan detail terakhir.

Gaun itu jatuh sempurna di tubuh Liora.

Gaun berwarna pink.

Bukan pink pucat, bukan pula pink kekanakan. Warna lembut tapi berani seperti mimpi yang tidak ingin disembunyikan.

Gaun itu mengembang indah, dengan detail renda halus dan potongan klasik seperti putri dalam dongeng. Sejak kecil, Liora membayangkan hari pernikahannya seperti ini. Dan hari itu semakin dekat.

“Ih…” Tante mengernyitkan dahi, menatap Liora dari atas ke bawah. “Apa nggak terlalu mencolok? Pink begitu. Kenapa nggak putih saja? Lebih netral.”

Liora menatap bayangannya di cermin. Senyum di wajahnya meredup sedikit.

Entah kenapa, komentar Tante selalu berhasil menemukan celah paling lunak di hatinya.

Padahal Tante bukan tidak sayang. Justru sebaliknya, ia terlalu peduli, terlalu ingin memastikan segalanya “pantas” di mata orang.

“Putih juga bagus, Li,” Tante menambahkan, suaranya melunak tapi tetap tegas. “Usiamu juga bukan anak-anak lagi.”

Paman langsung berdiri dari duduknya. “Ah, siapa bilang warna ada usianya? Pink ya pink. Liora cocok kok.”

Seperti biasa, Paman selalu berada di sisinya.

Liora tersenyum kecil, tapi dadanya terasa penuh. Setelah menikah nanti, ia tidak lagi tinggal bersama mereka. Tidak lagi mendengar celoteh Tante yang menyebalkan tapi diam-diam ia rindukan.

Ia ingin menghargai mereka. Sekali ini saja.

“Apa sebaiknya aku ganti putih?” ucap Liora pelan.

Paman menoleh kaget. “Lho, katanya ini impianmu?”

“Iya… tapi…” Liora menggigit bibir. “Aku nggak mau Tante kecewa.”

Sebelum Paman sempat menyela, pintu ruang fitting pria terbuka.

Kairan keluar.

Setelan jas abu-abu membalut tubuhnya dengan potongan sempurna. Rambutnya tertata rapi, wajahnya tenang seperti biasa. Tidak ada senyum berlebihan, tidak ada gestur berlebihan.

Namun kehadirannya langsung mengubah suasana.

Pandangan Liora terangkat tanpa sadar.

Dari pantulan cermin, mata mereka bertemu.

Kairan melangkah mendekat, mengabaikan percakapan diantara Liora dengan Paman dan Tante.

Ia berdiri tepat di samping Liora, jarak mereka hanya sejengkal. Dari cermin, Liora bisa melihat betapa kontras tinggi tubuh mereka. Ia hanya setinggi bahu Kairan.

Tatapan Kairan jatuh pada gaun itu.

Lama.

Seolah ia benar-benar memperhatikan.

Liora tiba-tiba gugup.

Tanpa melihat Paman dan Tante, Kairan sedikit menunduk. Bibirnya mendekat ke telinga Liora.

Suaranya rendah. Pelan.

“Aku pilih pink.”

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan. Tidak ada pembelaan panjang.

Satu kalimat. Namun dada Liora langsung bergetar hebat.

Kairan mundur satu langkah, kembali menatap mereka berdua lewat cermin. Wajahnya tetap tenang, tapi telinganya memerah samar.

Paman tersenyum puas. Tante terdiam, lalu menghela napas pendek. “Ya sudah, kalau kalian berdua sepakat.”

Liora tidak menjawab. Ia sibuk menenangkan jantungnya sendiri.

Satu bisikan itu, entah kenapa terasa lebih bermakna daripada seribu kata.

***

Hari pernikahan tiba dengan cepat.

Gedung megah itu dipenuhi bunga-bunga bernuansa pink dan putih. Lampu kristal berkilau. Musik mengalun lembut.

Ada yang berbisik terlalu mewah untuk pernikahan kedua seorang duda.

Tapi mereka lupa, bagi Liora, ini adalah pernikahan pertamanya.

Ketika waktu akad semakin dekat, seorang panitia memanggil namanya.

Liora berdiri.

Langkahnya pelan. Tangannya terasa dingin. Ia menunduk sedikit saat berjalan, mencoba menenangkan diri dengan menghitung langkah.

Di ruang akad, Kairan sudah duduk di tempatnya.

Liora langsung mengenalinya.

Kemeja abu-abu. Rambut rapi. Wajah tenang tanpa ekspresi berlebihan. Punggungnya tegak, kedua tangan bertumpu di paha, jari-jarinya saling mengunci ringan.

Ia tidak menoleh ketika Liora masuk.

Namun Liora tahu bahwa Kairan menyadari kehadirannya.

Saat Liora duduk di tempat yang telah disediakan, jarak mereka tidak jauh. Cukup dekat untuk membuat Liora mencium samar aroma sabun dari tubuh Kairan.

Akad berjalan singkat. Suara penghulu jelas dan tegas. Jawaban Kairan pun demikian. Satu tarikan napas, satu kalimat, tanpa ragu.

Sah.

Kata itu menggema di kepala Liora.

Ia menunduk, mencoba memahami maknanya.

Kairan menoleh untuk pertama kalinya.

Tatapan mereka bertemu. Tidak lama. Tidak intens.

Namun Kairan mengangguk kecil.

Hanya itu.

Dan anehnya, anggukan kecil itu membuat Liora mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.

Setelah prosesi selesai, mereka berdiri berdampingan untuk sesi doa dan foto singkat. Liora masih canggung. Tangannya menggenggam gaun, takut salah posisi.

Tanpa berkata apa pun, Kairan menggeser tangannya sedikit. Tidak menyentuh. Hanya memberi ruang.

Liora menyesuaikan posisi. Dadanya menghangat.

Saat para tamu mulai memberi ucapan selamat, Kairan berdiri setengah langkah di depan Liora.

Ia tidak banyak tersenyum. Ia hanya mengangguk ketika orang menyalaminya.

Namun setiap kali ada yang menatap Liora terlalu lama atau bicara terlalu dekat, posisi Kairan bergeser tanpa suara. Seolah tubuhnya secara otomatis tahu harus berada di mana.

Liora menyadarinya perlahan. Dan hatinya mulai menghangat.

Hingga akhirnya, antrian tamu mereda.

Liora menyandarkan punggung ke kursi. Bahunya pegal, tapi hatinya penuh.

Kairan mencondongkan tubuh ke arahnya. Tatapannya jatuh pada wajah Liora, lama. Terlalu lama.

“Kenapa?” tanya Liora pelan.

Alih-alih menjawab, Kairan justru semakin menatapnya. Tatapan yang tidak dingin. Tidak pula ramah. Tatapan seorang lelaki yang sedang mengamati miliknya.

Liora menunduk malu.

Di tengah riuh musik dan suara penyanyi, bibir Kairan bergerak.

Ia mengatakan sesuatu.

Satu kalimat.

Liora mengerutkan dahi. Ia tidak bisa mendengarnya. Musik terlalu keras.

Namun lelaki itu tidak nampak ingin mengulang kalimatnya.

Sebaliknya, dia malah buang muka ke arah lain dan langsung berdiri karena saat itu ada tamu yang naik ke podium untuk bersalaman dengan pengantin.

Eh, Kairan bilang apa?

Liora ingin mendengar itu sekali lagi.

Sepertinya itu kalimat bagus sampai-sampai membuat telinga Kairan kemerahan.

Apa ya?

BERSAMBUNG

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Suamiku Duda Bisu   Bonus Part : Kinara dan Niro

    Bonus Part : Kinara dan NiroKinara sedang memeriksa seorang ibu hamil yang datang sendirian sore itu. Mereka duduk saling berhadapan di ruang praktik yang mulai lengang, sebab pasiennya memang sudah hampir habis.Kinara menuliskan resep obat dengan rapi di atas meja, lalu bertanya sekadar basa-basi, seperti yang biasa ia lakukan untuk mencairkan suasana.“Bunda datang sendiri? Suaminya enggak ikut?”Wanita berambut kepang itu tersipu. Bukannya menjawab biasa, ia malah terkikik pelan seolah menyimpan sesuatu yang lucu.Kinara mengangkat alis, heran.“Kenapa?”Wanita itu mendekat sedikit, lalu berbisik seperti sedang membagikan rahasia.“Suamiku malu datang ke sini, Bu Dokter.”“Malu?” Kinara tertawa kecil. “Memangnya kenapa?”Wanita itu melirik ke kiri dan kanan, memastikan tak ada orang lain, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menggeser-g

  • Suamiku Duda Bisu   Bonus Part : Harra dan Harri

    Bonus Part : Harra dan HarriHarra dan Harri kini sudah berusia tujuh tahun. Usia di mana energi mereka seolah tidak pernah habis.Rumah yang dulu terasa luas kini sering terasa sempit oleh tawa, langkah kaki kecil, dan suara pertengkaran sepele yang cepat datang, cepat pula pergi.Sejak kecil, Liora menyadari keduanya mewarisi bakat menggambar darinya. Terutama Harri, yang bisa duduk lama hanya untuk menorehkan garis-garis kecil di kertas. Harra tak kalah berbakat, meski ia lebih suka menggambar bunga, rumah, dan wajah orang-orang yang ia cintai.Liora senang melihat bakat itu tumbuh. Ia bahkan menyediakan meja khusus, kotak alat gambar, dan dinding papan tulis kecil di ruang bermain mereka.Sayangnya, dua anak itu tetap menganggap tembok rumah sebagai kanvas paling menarik.Baru minggu lalu Liora mengecat ulang salah satu dinding ruang keluarga yang dipenuhi cor

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 159. Hanya Tahu Mencintai

    Kairan sedang berada di ruang kerjanya ketika ponselnya bergetar. Nama Hilda muncul di layer. Nomor pribadi yang jarang sekali digunakan kecuali dalam keadaan mendesak.Begitu ia mengangkat, suara panik langsung menyambutnya.“Pak, ketuban Ibu pecah!”Kairan seketika berdiri. Kursinya terdorong ke belakang tanpa ia pedulikan.“Bagaimana keadaan Liora sekarang?”“Ibu sudah dibawa Maya ke rumah sakit, Pak. Sepertinya Ibu mau melahirkan hari ini!”Kairan tidak menunggu lebih lama. Ia meraih kunci mobil di meja, lalu berjalan cepat keluar ruangan.Selama berbulan-bulan terakhir ia sudah mempersiapkan segalanya untuk kelahiran kedua bayi kembar mereka. Ia bahkan jarang datang ke kantor. Hari ini saja ia memaksa datang untuk menyelesaikan satu urusan penting. Dan justru hari ini pula kedua bayi itu memilih lahir.“Aku langsung ke rumah sakit,” katanya cepat melalui telepon. “Tolong siapkan tas bayi dan baju Liora. Semua yang sudah ki

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 158. Mengerti

    Sudah lama Kinara tidak menginjakkan kaki di kafe tempat Niro dulu bekerja. Tempat itu menyimpan terlalu banyak kenangan, dan selama ini ia tak merasa perlu kembali. Namun siang tadi, sebuah telepon dari salah satu pelayan lama di sana membuatnya berubah pikiran.Pria itu mengatakan Niro ada di kafe itu.Kinara yang beberapa hari terakhir kesulitan menghubungi Niro langsung memutuskan datang. Ada kecemasan yang sejak kemarin menempel di dadanya, dan ia tahu ia tidak akan tenang sebelum melihat sendiri keadaan lelaki itu.Begitu mendorong pintu kafe, aroma kopi dan musik pelan langsung menyambutnya. Kinara berdiri sejenak di ambang pintu, matanya berkeliling mencari sosok yang ia tuju. Tidak sulit menemukannya.Niro duduk di kursi bar, menghadap ke meja bartender. Bahunya sedikit membungkuk, kepalanya tertunduk. Di depannya berdiri pria yang tadi menelepon Kinara.Kinara melangkah mendekat.Ia duduk di kursi kosong di samping Niro tanpa berka

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 157. Menyayangi

    Kairan memberi kabar bahwa pesawat pribadi yang ia tumpangi akan segera mendarat.Ia datang bersama Yann, dan Niro ikut dalam penerbangan itu. Dari udara, Niro sempat menghubungi Oma, memberi tahu bahwa mereka hanya tinggal beberapa menit lagi sebelum tiba.Di bandara, Liora sudah menunggu sejak lama.Ia tidak sanggup menunggu di rumah. Duduk diam hanya membuat pikirannya berlari ke mana-mana. Maka ia memilih berdiri di dekat pintu kedatangan, mondar-mandir kecil sambil terus menatap pintu otomatis yang belum juga terbuka.Keluarga Kairan ikut berkumpul di sana. Namun Liora nyaris tidak mendengar percakapan mereka. Fokusnya hanya satu, Kairan.Rasa cemas bercampur harap membuat napasnya pendek-pendek.Rupanya mereka bukan satu-satunya yang menunggu.Beberapa paparazi sudah berjajar, kamera siap mengarah ke pintu kedatangan. Kisah Kairan yang disebut selamat dari tragedi pesawat membuat namanya kembali menjadi sorotan. Publik ingin tah

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 156. Liora Harus Tahu

    Kairan sudah berada di jalanan.Dengan kedua kaki yang mulai gemetar, ia berjalan menyusuri jalan luas yang gelap dan sepi. Tidak ada lampu, tidak ada suara kendaraan, hanya angin malam yang menggesek tanah tandus.Langkah demi langkah ia paksa.Ia tidak tahu ke mana harus pergi. Ia hanya tahu ia harus terus berjalan sampai menemukan seseorang. Apa saja. Siapa saja.Namun jalan itu seperti tidak berujung.Kairan semakin limbung. Tenggorokannya kering, perutnya kosong, kepalanya berdenyut hebat karena luka yang belum tertangani. Dunia terasa berputar.Akhirnya, tubuhnya menyerah.Ia ambruk di tengah jalan, terlentang di atas aspal yang masih menyimpan sisa panas siang tadi.Napasnya berat.Matanya menatap langit yang luas, dipenuhi bintang yang berhamburan seperti taburan cahaya kecil.Seandainya keadaan berbeda, ia mungkin akan menikmati pemandangan itu. Mungkin ia akan mengingat malam ketika ia dan Liora berdiri

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 111. Canggung

    Sudah hampir satu jam mereka berusaha.Kulit mereka sama-sama basah oleh keringat. Napas berat masih tertahan di dada. Kairan telah mencoba banyak cara, mengubah posisi, menahan diri, lalu kembali mendekat dengan kehati-hatian yang makin menipis seiring waktu. Bekas kecupan berwarna kemera

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 110. Jatah Kairan

    Padahal baru beberapa menit lalu Kairan berdiri berhadapan dengan dua wanita berparas cantik dan bertubuh molek. Senyum mereka ramah, tatapan mereka jelas mengandung maksud.Namun lelaki itu meninggalkannya begitu saja, seolah pertemuan singkat tadi tak lebih dari angin pantai yang berlalu

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 107. Lepas Landas

    Dulu sekali, ketika Liora masih kecil, dia pernah memiliki sebuah daftar impian. Daftar itu ditulisnya di buku tulis tipis dengan sampul bergambar bunga. Buku yang sekarang entah sudah ke mana.Di antara mimpi-mimpi sederhana seperti memiliki rumah sendiri dan hidup tenang tanpa kekhawatir

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 103. Bersembunyi di Gua

    Liora tiba di lokasi reuni kampus yang digelar di sebuah aula hotel ternama. Hotel itu dikenal dengan pelayanan kelas atas dan sajian makanan yang selalu mendapat pujian. Pagi itu suasananya tampak hidup, dipenuhi orang-orang yang datang membawa kenangan masa lalu masing-masing.Setelah me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status