تسجيل الدخولDua minggu sebelum hari pernikahan, Liora kembali berdiri berhadapan dengan cermin besar di sebuah butik pengantin.
Kali ini ia tidak sendirian. Paman dan Tante ikut menemani, duduk di sofa empuk dengan wajah penuh ekspektasi, sementara beberapa staf butik mondar-mandir menyesuaikan detail terakhir.
Gaun itu jatuh sempurna di tubuh Liora.
Gaun berwarna pink.
Bukan pink pucat, bukan pula pink kekanakan. Warna lembut tapi berani seperti mimpi yang tidak ingin disembunyikan.
Gaun itu mengembang indah, dengan detail renda halus dan potongan klasik seperti putri dalam dongeng. Sejak kecil, Liora membayangkan hari pernikahannya seperti ini. Dan hari itu semakin dekat.
“Ih…” Tante mengernyitkan dahi, menatap Liora dari atas ke bawah. “Apa nggak terlalu mencolok? Pink begitu. Kenapa nggak putih saja? Lebih netral.”
Liora menatap bayangannya di cermin. Senyum di wajahnya meredup sedikit.
Entah kenapa, komentar Tante selalu berhasil menemukan celah paling lunak di hatinya.
Padahal Tante bukan tidak sayang. Justru sebaliknya, ia terlalu peduli, terlalu ingin memastikan segalanya “pantas” di mata orang.
“Putih juga bagus, Li,” Tante menambahkan, suaranya melunak tapi tetap tegas. “Usiamu juga bukan anak-anak lagi.”
Paman langsung berdiri dari duduknya. “Ah, siapa bilang warna ada usianya? Pink ya pink. Liora cocok kok.”
Seperti biasa, Paman selalu berada di sisinya.
Liora tersenyum kecil, tapi dadanya terasa penuh. Setelah menikah nanti, ia tidak lagi tinggal bersama mereka. Tidak lagi mendengar celoteh Tante yang menyebalkan tapi diam-diam ia rindukan.
Ia ingin menghargai mereka. Sekali ini saja.
“Apa sebaiknya aku ganti putih?” ucap Liora pelan.
Paman menoleh kaget. “Lho, katanya ini impianmu?”
“Iya… tapi…” Liora menggigit bibir. “Aku nggak mau Tante kecewa.”
Sebelum Paman sempat menyela, pintu ruang fitting pria terbuka.
Kairan keluar.
Setelan jas abu-abu membalut tubuhnya dengan potongan sempurna. Rambutnya tertata rapi, wajahnya tenang seperti biasa. Tidak ada senyum berlebihan, tidak ada gestur berlebihan.
Namun kehadirannya langsung mengubah suasana.
Pandangan Liora terangkat tanpa sadar.
Dari pantulan cermin, mata mereka bertemu.
Kairan melangkah mendekat, mengabaikan percakapan diantara Liora dengan Paman dan Tante.
Ia berdiri tepat di samping Liora, jarak mereka hanya sejengkal. Dari cermin, Liora bisa melihat betapa kontras tinggi tubuh mereka. Ia hanya setinggi bahu Kairan.
Tatapan Kairan jatuh pada gaun itu.
Lama.
Seolah ia benar-benar memperhatikan.
Liora tiba-tiba gugup.
Tanpa melihat Paman dan Tante, Kairan sedikit menunduk. Bibirnya mendekat ke telinga Liora.
Suaranya rendah. Pelan.
“Aku pilih pink.”
Hanya itu.
Tidak ada penjelasan. Tidak ada pembelaan panjang.
Satu kalimat. Namun dada Liora langsung bergetar hebat.
Kairan mundur satu langkah, kembali menatap mereka berdua lewat cermin. Wajahnya tetap tenang, tapi telinganya memerah samar.
Paman tersenyum puas. Tante terdiam, lalu menghela napas pendek. “Ya sudah, kalau kalian berdua sepakat.”
Liora tidak menjawab. Ia sibuk menenangkan jantungnya sendiri.
Satu bisikan itu, entah kenapa terasa lebih bermakna daripada seribu kata.
***
Hari pernikahan tiba dengan cepat.
Gedung megah itu dipenuhi bunga-bunga bernuansa pink dan putih. Lampu kristal berkilau. Musik mengalun lembut.
Ada yang berbisik terlalu mewah untuk pernikahan kedua seorang duda.
Tapi mereka lupa, bagi Liora, ini adalah pernikahan pertamanya.
Ketika waktu akad semakin dekat, seorang panitia memanggil namanya.
Liora berdiri.
Langkahnya pelan. Tangannya terasa dingin. Ia menunduk sedikit saat berjalan, mencoba menenangkan diri dengan menghitung langkah.
Di ruang akad, Kairan sudah duduk di tempatnya.
Liora langsung mengenalinya.
Kemeja abu-abu. Rambut rapi. Wajah tenang tanpa ekspresi berlebihan. Punggungnya tegak, kedua tangan bertumpu di paha, jari-jarinya saling mengunci ringan.
Ia tidak menoleh ketika Liora masuk.
Namun Liora tahu bahwa Kairan menyadari kehadirannya.
Saat Liora duduk di tempat yang telah disediakan, jarak mereka tidak jauh. Cukup dekat untuk membuat Liora mencium samar aroma sabun dari tubuh Kairan.
Akad berjalan singkat. Suara penghulu jelas dan tegas. Jawaban Kairan pun demikian. Satu tarikan napas, satu kalimat, tanpa ragu.
Sah.
Kata itu menggema di kepala Liora.
Ia menunduk, mencoba memahami maknanya.
Kairan menoleh untuk pertama kalinya.
Tatapan mereka bertemu. Tidak lama. Tidak intens.
Namun Kairan mengangguk kecil.
Hanya itu.
Dan anehnya, anggukan kecil itu membuat Liora mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.
Setelah prosesi selesai, mereka berdiri berdampingan untuk sesi doa dan foto singkat. Liora masih canggung. Tangannya menggenggam gaun, takut salah posisi.
Tanpa berkata apa pun, Kairan menggeser tangannya sedikit. Tidak menyentuh. Hanya memberi ruang.
Liora menyesuaikan posisi. Dadanya menghangat.
Saat para tamu mulai memberi ucapan selamat, Kairan berdiri setengah langkah di depan Liora.
Ia tidak banyak tersenyum. Ia hanya mengangguk ketika orang menyalaminya.
Namun setiap kali ada yang menatap Liora terlalu lama atau bicara terlalu dekat, posisi Kairan bergeser tanpa suara. Seolah tubuhnya secara otomatis tahu harus berada di mana.
Liora menyadarinya perlahan. Dan hatinya mulai menghangat.
Hingga akhirnya, antrian tamu mereda.
Liora menyandarkan punggung ke kursi. Bahunya pegal, tapi hatinya penuh.
Kairan mencondongkan tubuh ke arahnya. Tatapannya jatuh pada wajah Liora, lama. Terlalu lama.
“Kenapa?” tanya Liora pelan.
Alih-alih menjawab, Kairan justru semakin menatapnya. Tatapan yang tidak dingin. Tidak pula ramah. Tatapan seorang lelaki yang sedang mengamati miliknya.
Liora menunduk malu.
Di tengah riuh musik dan suara penyanyi, bibir Kairan bergerak.
Ia mengatakan sesuatu.
Satu kalimat.
Liora mengerutkan dahi. Ia tidak bisa mendengarnya. Musik terlalu keras.
Namun lelaki itu tidak nampak ingin mengulang kalimatnya.
Sebaliknya, dia malah buang muka ke arah lain dan langsung berdiri karena saat itu ada tamu yang naik ke podium untuk bersalaman dengan pengantin.
Eh, Kairan bilang apa?
Liora ingin mendengar itu sekali lagi.
Sepertinya itu kalimat bagus sampai-sampai membuat telinga Kairan kemerahan.
Apa ya?
BERSAMBUNG
***
Belajar dari kejadian sebelumnya, Liora kini tidak lagi pergi tanpa berpamitan.Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya sebentar sebelum mengetik pesan di ponsel.‘Aku mau ke toko buku sebentar ya.’Pesan itu terkirim, lalu ia menunggu. Bukan karena takut, melainkan karena ingin. Ada perasaan baru yang tumbuh dalam dirinya. Keinginan untuk saling memberi tahu, untuk tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.Tak lama kemudian balasan masuk.‘Iya. Hati-hati.’Sederhana. Namun cukup membuat hati Liora terasa ringan.Ia keluar rumah dengan langkah tenang, memanggil taksi seperti biasa. Dalam perjalanan, pikirannya dipenuhi rencana kecil yang terasa menyenangkan.Sejak kecil, menggambar adalah dunianya. Buku-buku sketsa lama dan alat pewarna favoritnya tertinggal di rumah Paman. Setelah menikah, barulah ia terpikir untuk menghidupkan kembali hobi itu. Mengisi waktu, mengisi diri.Di toko buku, Liora berke
Setelah teriakan itu pecah di dalam mobil, tak ada lagi suara yang tersisa.Liora membuang wajahnya ke arah jendela, menolak menatap Kairan. Dadanya naik turun, amarah bercampur sesak masih menekan kuat. Jika ia menoleh sekarang, ia takut akan kembali menangis. Atau justru mengatakan sesuatu yang lebih melukai.Perjalanan menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu jalan berbaris tanpa arti. Tidak ada musik, tidak ada percakapan. Hanya keheningan yang kali ini tidak netral, melainkan penuh sisa emosi.Ketika mobil berhenti di halaman rumah, Liora turun lebih dulu. Tangannya mendorong pintu dengan kasar hingga suara bantingan terdengar nyaring di malam yang sunyi.Ia tidak menunggu. Tidak menoleh. Langkahnya cepat, hampir berlari menuju kamarnya.Begitu pintu kamar tertutup, Liora menjatuhkan diri ke atas kasur. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Tubuhnya meringkuk, memeluk diri sendiri seperti janin yang mencari am
“Halo?”Suara Liora terdengar ragu saat menerima panggilan itu. Bahkan sebelum ia sempat menarik napas lebih dalam, dadanya sudah terasa sesak. Ia menelan ludah, bersiap mendengar suara di seberang sana.“Kamu dimana?”Nada suara Kairan terdengar tegang. Ada emosi yang ditimbulkan dari sepatah kata barusan.“A-aku ada di pantai,” Liora menjawab sembari ketakutan.Tangannya refleks memilin ujung baju. Seperti anak kecil yang ketahuan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Padahal ia hanya pergi sebentar. Padahal ia sudah meninggalkan pesan.“Pantai mana?”Nada itu masih sama. Datar, namun ditekan oleh emosi yang tertahan.Liora menyebutkan nama pantai, lalu menjelaskan rumah makan seafood tempatnya berada. Ia bicara terbata, takut ada satu kata saja yang salah dan akan membuat Kairan semakin marah.Belum sempat ia menambahkan apa pun, sambungan telepon terputus.TUT.Bunyi itu menggem
Belum pernah dalam hidup Liora merasa sangat jenuh. Kesunyian di dalam rumahnya membuat Liora seakan tertekan dan makin bersedih.Dia merasa tidak ada satu pun di rumahnya yang bisa menghibur hatinya saat ini.Maka Liora memutuskan untuk keluar sejenak dari rumah itu. Dia ingin bisa bernapas. Ingin membuang kegelisahan dan sesak yang dia sendiri tidak bisa menjabarkannya dengan baik.Liora hanya membawa tas kecil berisi dompet dan ponselnya. Dia hanya berencana untuk pergi sebentar, bukan selamanya.Dia hanya sedang marah dengan sikap dingin Kairan, bukan ingin meninggalkannya.Sebelum melangkah pergi, ia menulis sepucuk pesan singkat di selembar kertas. Tangannya bergetar halus saat menuliskan kalimat sederhana. Ia akan keluar sebentar dan akan kembali. Kertas itu ia letakkan di atas meja ruang tamu, tempat yang pasti akan dilewati Kairan saat pulang nanti.Liora tidak mampu mengirimkan pesan ke ponsel Kairan. Dia masih belum bi
Liora menangis.Di dalam bioskop yang gelap, di antara cahaya layar yang silih berganti menampilkan adegan romantis, air matanya jatuh tanpa suara. Ia menutup mata, bukan karena filmnya terlalu menyentuh, melainkan karena pikirannya telah berkelana terlalu jauh—ke tempat yang tidak seharusnya ia datangi.Di dalam bayangannya, Kairan menatapnya dengan mata yang hangat. Lelaki itu memanggil namanya dengan suara lembut, menyebut “Liora” seolah nama itu adalah sesuatu yang berharga. Dalam khayalnya, Kairan mencintainya. Menciumnya. Memeluknya tanpa ragu.Namun kesedihan datang menghantam dengan brutal ketika Liora sadar, semua itu tidak nyata.Ia terisak karena harus sampai membayangkan dirinya menjadi Anais hanya untuk merasakan bagaimana rasanya dicintai oleh suaminya sendiri.Liora bersumpah, ia tidak mengenal Anais. Tidak tahu bagaimana sifat wanita itu, tidak tahu apakah ia lebih cantik, lebih lembut, atau lebih pantas dari dirinya.Namun s
Sejak menikah dengan Kairan, dunia Liora seolah berhenti di dalam rumah itu.Hari-harinya diisi dengan rutinitas yang sama. Memasak, membersihkan rumah, menunggu Kairan pulang, lalu kembali tenggelam dalam sunyi. Ia tidak keberatan dengan kehidupan yang tenang.Namun, tetap saja ada bagian kecil dalam dirinya yang rindu pada sesuatu yang berbeda. Keluar rumah. Menghirup udara kota. Merasa menjadi seorang istri yang diajak berjalan bersama.Karena itu, ketika Kairan mengajaknya menonton bioskop, jantung Liora langsung berdebar.Bukan karena filmnya.Melainkan karena ini adalah kali pertama mereka pergi bersama sejak menikah. Kencan pertama, meski tak pernah disebut sebagai kencan.Liora mempersiapkan dirinya dengan lebih sungguh-sungguh dari biasanya. Ia berdiri di depan cermin cukup lama, memastikan setiap detail tampak pantas. Gaun sederhana berwarna krem membingkai tubuhnya dengan lembut. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya dijepit di satu







