Accueil / Romansa / Suamiku Duda Bisu / Extra Part : Kairan (bagian 2)

Share

Extra Part : Kairan (bagian 2)

Auteur: Liani April
last update Dernière mise à jour: 2026-02-05 11:00:02

Kairan harus berterima kasih pada Niro.

Bukan hanya karena Niro menemaninya dalam keseharian, tapi karena lelaki itu menjaga kewarasannya dengan cara yang benar. Dengan gaya santainya, Niro seperti menyeret Kairan keluar dari lembah panjang bernama kesedihan.

Lagipula sudah hampir satu tahun Anais dikebumikan, waktu yang cukup untuk memulai lembar baru.

Kairan teringat ucapan Anais tentang menikah lagi. Tentang bagaimana ia ingin Kairan tetap bahagia meski tanpa dirinya.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 98. Pembunuh

    Liora sudah diperbolehkan pulang.Bersama Paman dan Tante, ia kembali ke rumah megah itu. Mereka berniat menginap sampai kondisi Liora benar-benar membaik. Keputusan itu tentu telah mendapat izin Kairan. Ia tak ingin Liora sendirian dalam keadaan seperti sekarang.Kembali berada di rumahnya sendiri, Liora lebih banyak beristirahat di kamar, menuruti saran dokter agar pemulihannya berjalan cepat.Keluarga Kairan datang bergantian menjenguk. Oma menjadi yang pertama, disusul para bibi. Seperti kebanyakan pelayat, mereka datang membawa rasa penasaran akan kronologi kejadian, sekaligus menitipkan ucapan belasungkawa atas duka yang menimpa Liora dan Kairan.Hingga hari keempat, kunjungan tak juga surut. Bukan hanya keluarga, rekan kerja Kairan pun berdatangan. Itu terjadi karena Kairan mengajukan cuti panjang. Ia ingin berada di sisi Liora, menemani masa-masa tersulit istrinya, memastikan Liora tak larut sendirian dalam kehilangan mereka.Selama itu, Li

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 97. Vitamin

    “Niro… bagaimana kalau Kairan membenciku karena aku menggugurkan anaknya?”Niro terdiam beberapa saat. Berbanding terbalik dengan Liora yang justru semakin terisak, seolah kalimat itu membuka pintu bagi semua ketakutannya.“Kenapa kamu berpikir begitu?” tanya Niro akhirnya.Wajar ia heran. Sejak awal, semua orang mengkhawatirkan kondisi fisik dan mental Liora, namun perempuan itu justru sibuk mencemaskan kemungkinan dibenci oleh Kairan. Bahkan itulah kalimat pertamanya setelah berpuasa bicara selama empat puluh delapan jam.“Liora, dengarkan aku,” ucap Niro serius. “Aku dan semua orang sama sekali nggak berpikir kalau ini salahmu. Apalagi Kairan.”Liora mengangkat wajahnya, matanya basah, seolah memprotes keyakinan itu.“Kairan sangat menunggu anak ini lahir,” suaranya bergetar. “Dia nggak sabar bertemu dengan anak kami. Tapi aku malah—”Kalimat itu terputus oleh tangisnya sendiri.Niro mengembuskan napas pelan. Ia mengenal Lio

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 96. Tidak Bicara

    Kabar duka itu menyebar begitu cepat. Seluruh pihak keluarga telah mengetahuinya, namun Kairan mengambil keputusan agar mereka tidak datang menjenguk lebih dulu. Ia ingin Liora tenang, tanpa harus menghadapi tatapan iba dan pertanyaan yang mungkin akan semakin melukai.Liora masih terpukul oleh kehilangan bayinya. Meski demikian, ia mampu menerima saran dokter Kinara untuk menjalani kuretasi ketika mentalnya telah siap.“Aku turut berduka atas kehilanganmu,” ucap dokter Kinara dengan suara lembut. “Tapi kamu harus kuat. Setidaknya, kamu harus memakamkan bayimu dengan layak.”Pendekatan itu bukan seperti dokter kepada pasien, melainkan sesama perempuan kepada perempuan lain yang sedang kehilangan.“Aku akan memastikan proses kuretasi tidak menyakitkan. Kamu akan ditemani suamimu. Kamu tidak akan sendirian.”Liora kembali menangis, namun ia mengangguk pelan. Ada kedamaian dalam cara dokter Kinara berbicara, dalam caranya menatap. Sampai-sampai Liora

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 95. Kehilangan

    “Bayi Anda telah meninggal dunia di dalam kandungan. Istri Anda mengalami keguguran.”Kairan seperti dipaku di tempat. Tubuhnya kaku, pikirannya kosong, seolah raganya dan jiwanya tercerabut dalam waktu yang bersamaan.“Istri Anda mengalami perdarahan akibat luka di telapak tangan dan syok berat karena trauma. Tekanan darahnya turun cukup drastis. Selain itu, rahimnya mengalami kontraksi yang tidak stabil.”Kairan menahan napas. “Lalu?Hening sesaat. Terlalu lama. Terlalu menyesakkan.“Maaf, Pak,” suara dokter Kinara melembut, “kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun detak jantung janin tidak dapat kami temukan saat tiba di rumah sakit.”Kata-kata itu seperti palu yang menghantam kepala Kairan.Tidak.Tidak mungkin.Dunia Kairan runtuh seketika.“Dok… tolong ulangi,” suaranya serak, nyaris tak berbentuk. “Mungkin alatnya salah… mungkin masih ada harapan…”Dokter Kinara menggeleng pelan. “Kami turut be

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 94. Petir di Siang Bolong

    “Liora! Liora! Apa yang terjadi? Hei!”Kairan bangkit begitu cepat sampai kursi di belakangnya terjungkal. Tangannya gemetar saat menggenggam ponsel.“Liora?” panggilnya lagi, memastikan sambungan itu masih ada.Tak ada jawaban. Hanya sunyi.Kairan tak menunggu satu detik pun. Ia menyambar kunci mobil dan berlari keluar dari ruangan, menerobos lorong kantor seperti orang kehilangan arah. Tidak ada yang ia pikirkan selain sampai ke rumah secepat mungkin.Nyatanya, Kairan harus berjibaku di jalanan beraspal. Dia mengemudi begitu cepatnya. Tidak peduli dia akan dikejar polisi karena menyalahi aturan kecepatan di jalanan. Dia ingin sampai ke tempat Liora. Hanya ingin cepat sampai.Begitu tiba di rumah, Kairan bahkan tak sempat mematikan mesin mobil dengan benar. Pintu terbuka begitu saja ketika ia melompat turun.“LIORA!”Tak ada sahutan. Namun entah mengapa, langkah kakinya langsung tertarik ke arah dapur. Seolah ada sesuatu yang

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 93. Penyesalan

    Usia kandungan Liora sudah menginjak sembilan bulan. Masa kelahiran kian dekat, membuat setiap hari terasa lebih berharga sekaligus menegangkan.Siang itu, Liora dan Kairan sedang menata kamar yang akan menjadi kamar bayi mereka, tepat di samping kamar utama. Kairan sibuk merakit kayu-kayu untuk tempat tidur bayi.Beberapa waktu lalu, ia telah menyelesaikan pemasangan lemari kecil untuk baju dan perlengkapan si kecil.Sementara itu, Liora menyusun dan menggantung pakaian-pakaian mungil dengan penuh kehati-hatian, seolah setiap helainya adalah doa.Menurut hasil USG terakhir, bayi mereka kemungkinan besar laki-laki. Kairan tampak begitu bergembira mendengar kabar itu.Namun bagi Liora, apa pun jenis kelaminnya, ia akan mencintai anak itu dengan sepenuh hati.Setelah hampir setengah jam berdiri, Liora menyudahi kegiatannya. Tubuhnya cepat lelah akhir-akhir ini. Ia melangkah menuju sofa dan duduk perlahan, menjulurkan kakinya yang mulai membeng

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status