Home / Romansa / Suamiku Duda Bisu / Extra Part : Kinara (bagian 2)

Share

Extra Part : Kinara (bagian 2)

Author: Liani April
last update publish date: 2026-03-17 10:00:05

Kinara tidak pernah menyangka pagi itu akan dimulai dengan drama yang membuat dadanya seperti dipukul sesuatu yang tak terlihat.

Ia baru saja turun dari mobil ketika Kairan menghampirinya di depan rumah sakit. Wajah lelaki itu serius, terlalu serius untuk sekadar basa-basi.

“Kinara, kita harus bicara. Ini tentang Liora.”

Sudah sepuluh hari sejak ia menyetujui sandiwara konyol itu. Sepuluh hari berpura-pura menjadi calon istri kedua. Sepuluh hari menahan diri agar tidak la

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 149. Kejutan

    “Liora, aku lelah dengan Niro. Menurutmu, apa aku sebaiknya putus saja?”Pertanyaan itu membuat Liora menatap sahabatnya dalam-dalam. Ia tidak langsung menjawab. Ia ingin memastikan kata-katanya nanti tidak sekadar terdengar, tetapi benar-benar sampai ke hati Kinara.“Aku yakin,” ucapnya pelan, “kalau Niro mendengar kamu ingin putus, dia pasti nggak akan membiarkan itu terjadi.”Kinara menunduk. Jemarinya saling menggenggam, seperti berusaha menahan sesuatu yang hampir pecah.“Selama ini dia bertahan denganmu, itu karena dia serius,” lanjut Liora. “Bukankah kamu selalu jadi tempat dia pulang?”Ucapan itu membuat Kinara terdiam lebih lama. Bukan karena tidak percaya, tapi justru karena ia takut mempercayainya lagi.Hubungan mereka belakangan terasa seperti berjalan di atas tali tipis. Niro sering ke luar kota, jadwalnya padat, pertemuan mereka minim. Di sela jarak itu, mantan-mantan Niro bermunculan seperti bayangan masa lalu yang tak mau per

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 148. Aku Lelah

    Liora baru saja menutup panggilan video dengan Kairan. Suaminya itu sudah tiba di Amerika beberapa jam lalu dan langsung menyempatkan diri mengunjungi rumah Mom setelah menyelesaikan pertemuan di kota lain.Tadi, dalam satu layar, Liora melihat Kairan dan Mom berdiri berdampingan. Pemandangan itu membuat dadanya hangat sekaligus sedikit iri. Mereka bisa bertemu langsung, sementara ia hanya bisa menatap lewat layar.“Aku juga mau ke rumah Mom,” rengeknya, bibirnya manyun persis seperti beberapa hari lalu saat ia mengatakan hal yang sama pada Kairan.“Iya, kamu harus datang kemari,” balas Mom lembut. “Mom punya banyak bunga di halaman belakang. Kamu pasti suka sekali melihatnya.”Ucapan itu justru makin membuat kerinduan Liora membuncah.Saat ini Mom memegang ponsel Kairan, berbincang langsung dengan menantu kesayangannya yang tengah hamil besar. Di belakang Mom, Kairan duduk di meja makan, terlihat sedang menyantap sesuatu dengan lahap.“Mom,

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 147. Hadiahi Aku Ciuman

    Usia kehamilan Liora kini memasuki bulan ketujuh.Tidak ada masalah berarti sejauh ini. Semua berjalan baik, jauh lebih tenang dibanding pengalaman pahit yang pernah mereka lalui sebelumnya. Justru karena pengalaman itulah, Liora kini jauh lebih berhati-hati. Ia menjaga tubuhnya, pikirannya, dan perasaannya sebaik mungkin demi dua bayi yang tumbuh di dalam rahimnya.Jadwal di studio ia kurangi. Sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah. Beristirahat, membaca buku tentang kehamilan, atau sekadar duduk menikmati gerakan kecil di perutnya.Liora ingin menikmati masa ini sepenuhnya. Ia tidak memberi ruang bagi stres atau kesedihan. Bayinya harus sehat. Mereka harus lahir dengan selamat.Jika Liora memilih melambat, maka kehidupan Kairan justru semakin cepat berlari.Perusahaan KALA mulai merambah pasar luar negeri. Cabang-cabang di dalam negeri masih bisa diurus oleh orang kepercayaan mereka, tetapi untuk ekspansi internasional, para klien justru mem

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 146. Cantik dan Baik

    Kairan memeluk Liora dari belakang, keduanya berdiri di balkon rumah dengan udara sore yang mulai dingin menyusup ke sela pakaian.Langit sedang menampilkan warna oranye keemasan. Sore tadi Liora bilang ia ingin melihat matahari terbenam dari balkon, dan Kairan langsung menuruti. Kini Liora bersandar nyaman di dadanya, sementara tangan Kairan melingkar erat di perutnya, tepat di tempat dua kehidupan kecil sedang tumbuh.“Aku sudah memutuskan sesuatu,” kata Kairan pelan.Liora menoleh sedikit, memberi isyarat agar ia melanjutkan.“Aku akan menyewa asisten rumah tangga. Mungkin besok dia datang. Kamu yang temui dia, ya.”Berbeda dari dulu, kali ini Liora tidak menolak. Ia justru mengangguk kecil.Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang pernah membuatnya menyesal. Selain itu, sejak studio mulai ramai, rumah memang sering terbengkalai karena terlalu sering ditinggalkan.“Dan,” lanjut Kairan, suaranya lebih serius, “aku minta kamu jangan

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 145. Kue dan Kado

    Waktu bergerak maju tanpa terasa.Seperti halnya Kairan yang semakin tenggelam dalam kesibukan KALA, Liora pun mulai menemukan ritmenya sendiri setelah studio gambarnya resmi dibuka.Awalnya ia tidak menyangka, tempat kecil yang ia bangun dari luka dan kesepian itu ternyata mampu menarik begitu banyak orang. Orang-orang yang datang bukan sekadar ingin belajar menggambar, melainkan membawa cerita, kelelahan, dan kesunyian masing-masing.Liora baru benar-benar sadar bahwa di luar sana, banyak orang yang pernah berdiri di titik yang sama dengannya. Merasa sendirian, tidak didengar, dan tidak tahu harus menumpahkan perasaan ke mana.Melalui studio yang ia beri nama Self Healing Art, atau disingkat SHA, Liora membuka pintu untuk mereka.Dalam beberapa bulan saja, jumlah anggota bertambah pesat. Ruangan sederhana itu sering dipenuhi obrolan pelan, suara kuas di atas kanvas, serta tawa kecil yang muncul setelah seseorang berani membuka cerita.Buka

  • Suamiku Duda Bisu   Bab 144. Tidak Lagi

    Semua tamu sudah pulang.Acara peresmian KALA akhirnya berakhir, menyisakan keheningan yang terasa hangat setelah seharian dipenuhi riuh suara dan langkah orang.Di dalam ruangan kantor yang masih baru itu, hanya tersisa empat orang. Kairan, Liora, Niro, dan Kinara.Kairan berdiri di dekat jendela besar yang membentang dari lantai sampai langit-langit. Pantulan lampu kota berkilauan di kaca, memantulkan cahaya kuning dan putih yang membuat malam terasa hidup.Namun tatapan Kairan tidak benar-benar tertuju pada pemandangan itu. Matanya terlihat jauh, seolah pikirannya sedang berjalan ke tempat lain.Liora menghampirinya setelah selesai membersihkan wajah. Seharian penuh berbaur dengan orang, tersenyum, dan berbincang membuatnya kelelahan. Sisa lengket make up tadi sudah hilang, menyisakan wajah yang sederhana namun tetap cantik di mata Kairan.Ia berdiri di samping suaminya tanpa banyak suara, melipat tangan di belakang tubuh, dan ikut menata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status