INICIAR SESIÓN“Ini kamarku. Kalian lah yang tidak tahu tempat!” Nerisa meninggikan suaranya. Hatinya sangat sakit sekarang. Tidak cukup di ruang tamu, bahkan di kamar tidurnya pun Alexander dan Amelia melakukannya.“Ini juga kamar tidurku,” jawab Alexander.Hati Nerisa tersentak, ini kamar tidur dirinya dan Alexander, ruangan suami istri, tetapi Alex membawa wanita lain untuk masuk.“Kamu tahu apa yang baru saja kamu katakan?” Mata Nerisa berkaca-kaca.“Ini hanya sebuah kamar. Amelia menyukainya karena ruang tamu itu kecil.”“Kak Nerisa, tadi pagi kami juga melakukannya di sini. Tidak masalah dengan itu, kan?” Amelia menimpali.“Diamlah, Amel.” Alex menegurnya. “Sayang, kamu pindah ke ruang tamu saja. Kamar ini berikan pada Amelia.”Tangan Nerisa mengepal kuat, ia berbalik, kemudian melangkah pergi. Ia lekas menuruni anak tangga. Alexander ingin mengejar, tetapi Amelia meraih tangannya.“Dia hanya marah sebentar. Nanti juga balik lagi,” ucap Amel.Alexander menyugar rambutnya ke belakang. “Aku suda
“Kamu masih punya dirimu.” L meneguk minumannya.“Oh, ya? Tadi siapa yang ingin bunuh diri karena putus cinta?” Nerisa sedikit menggodanya.“Kadang kala kamu berhak merasa tidak waras, tetapi jangan sampai akal sehat mengambil alih dirimu. Aku bersedih sepanjang hidup, tetapi aku mencintai diriku.”“Ini berbeda dari yang kamu katakan tadi.”“Sudah kubilang kan, seseorang berhak bersedih. Hidup tetap berjalan.” L mengulurkan tangan. “Mau berteman?”“Aku tidak semudah itu menganggap orang asing sebagai teman.”“Itu malah lebih bagus.”“Apa maksudmu?” Kening Nerisa berkerut. Dia tadi menawarkan pertemanan, sekarang malah merasa itu kurang pilihan bagus.L turun dari tempat duduknya, ia mendekat. Sangat dekat hingga Nerisa merasa terpojok. Pria ini menatapnya secara intens. Nerisa membasahi bibir, jantungnya berdegup kencang. Mata pekat pria ini terasa melucutinya.“Kamu lebih cocok dijadikan pasangan.”“Minggir.” Nerisa mendorong pria itu. Ia mencoba menenangkan diri. “Pria gila.”L tert
Hari pertama pekerjaan Nerisa cukup lancar. Hampir sekitar dua tahun ini ia menganggur karena Alexander berjanji akan menghidupinya, asal bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Nerisa sudah berusaha menjadi istri yang diinginkan pria itu, tetapi Alexander punya tujuan sendiri.Alexander ingin bebas pergi menemui Amelia di luar negeri dengan alasan dinas. Tanda-tanda perselingkuhan itu sudah tampak, tetapi Nerisa masih membohongi dirinya. Ia percaya Alexander setia, ia tahu sebesar apa cinta pria itu kepadanya.Pertemuan dengan Amelia hanya kebetulan saja, begitulah yang Nerisa tanamkan dalam pikirannya. Amelia dan Alexander hanya sebatas kakak adik. Padahal Nerisa sangat tahu jika keduanya sama sekali tidak memiliki ikatan darah.Amelia diangkat adik oleh keluarga Valtheris karena ibunya. Sejak kecil tumbuh bersama, lalu wanita itu dibawa ke luar negeri. Bertahun-tahun putus kontak. Keduanya bertemu kembali saat Amelia menghadiri pesta ulang tahun Sebastian Valtheris.Pertama kaliny
Pukulan di meja itu cukup mengejutkan, tetapi Nerisa menikmatinya. Alexander mengamuk hanya karena istrinya tidak lagi menyiapkan sarapan dan kembali memulai karier yang baru setelah dipecat. Lalu bagaimana dengan perasaan istrinya yang telah lama dikhianati? Apa Alexander tidak bisa berpikir sakit hati Nerisa? Dia mau dimaklumi, tetapi sulit memberikan timbal balik. “Oh, ya, aku mungkin jarang pulang. Kamu sudah bersama Amel, dan aku juga punya keinginan untuk mencari kesenangan di luar sana,” ucap Nerisa. “Berani sekali kamu bicara seperti itu, Nerisa. Kamu sadar akan statusmu sendiri. Dengan kamu mencari kesenangan di luar, kamu hanya akan membuat malu keluarga Valtheris.” “Kalau kamu malu, ajukan saja perceraian.” Nerisa membalikkan perkataan Alexander. Jika pria ini mau bercerai, maka dia lah yang harus memberikan hartanya senilai 10 juta dollar. Ucapan Nerisa membuat Alexander ingat dengan setiap perkataan yang ia lontarkan pada istrinya itu. Ia sadar jika Nerisa pasti senga
Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Alexander melakukan hubungan intim bersama wanita lain di kediaman ini. Tempat di mana Nerisa menaruh harapan bahagia semenjak ditinggal keluarga. Mereka tidak perlu sembunyi lagi. Bermain adik kakak seolah-olah hubungan tersebut suci. Selama ini ia dibodohi oleh Alexander. Pria itu selalu menyangkal, tetapi sekarang kebenarannya telah terbukti. Keduanya menjalin hubungan. Kali ini dengan alasan soal harta dan pewaris. Fakta yang Nerisa ucapkan pun dianggap hanya khayalan belaka. Hati Alexander sudah tidak ada lagi untuk seorang Nerisa. Semuanya tertuju pada perempuan baru. Tersisa dua tahun lagi sampai perjanjian pernikahan itu batal. Nerisa harus bertahan. Ia telah dibodohi soal perasaan, dan ia tidak mau mengalah soal harta. Warisan itu ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, Nerisa berhak untuk mengambil alih. Meski harus tertusuk duri, hancur berkeping-keping, ia akan mendapatkannya. Jika keinginan Alexander seperti demikian,
“Apa maksudmu? Pernikahan terbuka apa?” Nerisa tidak mengerti dengan yang dikatakan oleh Alexander. Sikap Amelia tadi sudah keterlaluan. Dia melarang Alex menyentuh istrinya sendiri, dan pria ini tampaknya setuju. “Open marriage, aku ingin menjalin hubungan dengan Amelia. Aku ingin dia menjadi kekasihku.” Telinga ini masih bisa mendengar dengan jelas kata-kata yang baru saja Alexander ucapan. Sebuah pernikahan terbuka, di mana pasangan boleh menjalin hubungan dengan wanita lain atau laki-laki sesuai kesepakatan. Nerisa tertawa sembari memandang suaminya. “Ternyata kamu punya maksud tertentu di sini. Kamu ingin kita menjalani pernikahan terbuka, di mana aku setuju kamu menjalin hubungan dengan Amelia. Apa kamu sudah gila?!” “Dengarkan aku dulu, Nerisa. Aku melakukan ini demi kita berdua. Selama tiga tahun ini tidak ada anak di antara kita, sedangkan keluargaku menuntut seorang pewaris. Aku ini calon kepala keluarga Valtheris.” “Tidak harus menjalin hubungan dengan wanita lain.







