INICIAR SESIÓNAir mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Alexander melakukan hubungan intim bersama wanita lain di kediaman ini. Tempat di mana Nerisa menaruh harapan bahagia semenjak ditinggal keluarga. Mereka tidak perlu sembunyi lagi. Bermain adik kakak seolah-olah hubungan tersebut suci.
Selama ini ia dibodohi oleh Alexander. Pria itu selalu menyangkal, tetapi sekarang kebenarannya telah terbukti. Keduanya menjalin hubungan. Kali ini dengan alasan soal harta dan pewaris. Fakta yang Nerisa ucapkan pun dianggap hanya khayalan belaka. Hati Alexander sudah tidak ada lagi untuk seorang Nerisa. Semuanya tertuju pada perempuan baru. Tersisa dua tahun lagi sampai perjanjian pernikahan itu batal. Nerisa harus bertahan. Ia telah dibodohi soal perasaan, dan ia tidak mau mengalah soal harta. Warisan itu ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, Nerisa berhak untuk mengambil alih. Meski harus tertusuk duri, hancur berkeping-keping, ia akan mendapatkannya. Jika keinginan Alexander seperti demikian, maka Nerisa akan mengikuti permainannya. Sudah cukup ia menangis selama ini. Sekarang tidak ada lagi air mata. Alexander tidak pantas ditangisi. Tak perlu lagi memedulikan apa yang terjadi di lantai bawah sana. Ia mengunci pintu kamar, lalu naik ke tempat tidur. Anggap saja pasangan hina itu anjing yang menggonggong. Nerisa hanya perlu mengabaikan keduanya. Nerisa tidak percaya ia bisa tidur nyenyak, meski baru menyetujui pernikahan terbuka yang Alexander ajukan. Ia bertekad untuk tidak lagi melayani pria itu seperti biasanya terlebih lagi Amelia juga marah kekasih hatinya menyentuh si istri sah. Nerisa tidak perlu bangun di pagi hari demi menyiapkan sarapan untuk suaminya. Waktu telah menunjukkan pukul enam pagi. Nerisa tinggal bersiap karena ia perlu bekerja di perusahaan baru. Ia telah menantikan ini selama beberapa bulan lalu. Dulu Alexander bilang ia tidak perlu bekerja karena pria itu sanggup menghidupinya. Nerisa sangat percaya itu. Alexander memang mampu membiayainya, terlebih keluarga Valtheris itu termasuk kalangan atas. Namun, melihat perubahan suaminya yang tergila-gila dengan ikatan kakak adik, Nerisa mulai menjalankan rencana kehidupan ke depannya. Ia masih berharap pernikahan ini utuh ketika mendapati diri tengah hamil. Sekarang, angan-angan itu telah sirna. Melihat penampilannya di cermin, Nerisa siap menghadapi hari ini. Ia akan bertemu dengan teman-teman serta atasan baru. Ia keluar dari kamar, berjalan perlahan menuruni anak tangga satu per satu dan mendapati pelayan rumah yang tengah membereskan ruang tamu. Baju-baju serta pakaian dalam masih berserakan. “Mulai sekarang kamu akan mendapati penghuni baru di sini,” ucap Nerisa. “Selamat pagi, Nyonya.” Bibi itu menundukkan kepala sopan. “Apa ada tamu?” “Nanti kamu juga tahu.” Pelayan ini bingung apa yang dikatakan oleh Nerisa. Ia tidak memedulikannya, lalu melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Di bagian dapur sudah ada pelayan lainnya. “Selamat pagi, Nyonya. Saya sudah siapkan bahan-bahan yang akan dibuat untuk sarapan.” Selama di rumah ini, Nerisa selalu menyiapkan sarapan untuknya dan Alexander. Pelayan hanya perlu menyiapkan bahan makanan sesuai yang tertulis di jadwal. Pelayan datang pagi, lalu pulang sore hari. Mereka tidak akan menyiapkan makan siang maupun makan malam. “Mulai sekarang aku tidak akan menyiapkan sarapan untuk Alexander. Kalian buatkan untuknya saja. Oh, ya kalau bisa carikan pelayan yang bisa menginap. Mungkin Alexander membutuhkannya,” ucap Nerisa. “Ba-Baik, Nyonya.” Pelayan ini bingung dengan peraturan rumah sekarang. Ia hanya pekerja dan tahunya harus mengikuti setiap aturan. Nerisa hanya membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Ia tidak mau tahu Alexander dan Amelia mau makan apa di pagi hari ini. Yang terpenting ia bisa mengisi perutnya lebih dulu. Tidak lama pasangan baru itu muncul. Amelia menggandeng Alexander secara posesif seolah bila ia melepasnya, pria itu bakal kabur. Pelayan yang melihat kedatangan mereka, mulai mengerti kenapa Nerisa sampai mengubah aturan yang ada. Sarapan dari pelayan juga telah siap. Nerisa menikmati bubur serta susu, ia tidak menyapa Alexander, sibuk dengan telepon genggamnya. “Duduklah,” ucapnya pada Amelia. “Terima kasih, Sayang.” Ia menatap hidangan yang ada di meja. “Perutku sangat lapar. Ini karena kamu menguras tenagaku tadi malam.” Ia berkata seperti itu sembari melirik Nerisa. Namun, wanita itu tetap tertuju pada ponsel. “Kak Nerisa, bukankah kamu sudah mengundurkan diri dari perusahaan keluarga Valtheris? Kenapa kamu berpakaian formal seperti itu?” Nerisa mengangkat pandangannya. “Aku sudah dapat pekerjaan baru.” “Kamu bekerja lagi? Kenapa tidak bilang padaku?” tanya Alexander. “Aku sudah mengatakannya saat kamu memecatku.” “Aku tidak memecatmu. Waktu itu kamu sendiri yang keras kepala.” Alexander menyesap kopinya, lalu detik itu juga ia membuangnya. “Kopi apa ini?!” “Maaf, Tuan. Saya yang menyiapkan kopinya.” Pelayan menunduk, takut dimarahi. “Biasanya Nerisa yang menyiapkan kopi untukku.” Alexander memandang istrinya. “Sayang, kamu tidak menyiapkan kopiku?” “Kamu sudah punya yang baru, suruh saja dia. Aku ingin bersantai.” Wajah Alexander berubah muram, ia tahu ini balasan Nerisa. “Meski begitu kamu tetap istriku. Sudah layaknya kamu melayaniku.” Nerisa terkekeh mendengarnya. Ia menatap Alexander. “Suamiku menolak memperlakukanku seperti seorang istri, kenapa aku harus memperlakukannya sebagai seorang suami?” “Kak Nerisa, aku tahu kamu hanya ingin balas dendam. Aku mengajukan syarat itu karena cemburu. Aku tidak mau Alexander menyentuhmu, aku tidak kuat berbagi,” ucap Amelia. “Pikiran kita sama, Amel. Aku juga tidak kuat berbagi. Sayangnya, ada seseorang yang menyukai barang bekasku.” Braak … ! “Apa maksud ucapanmu itu, Nerisa?!” bentak Alexander.“Ini kamarku. Kalian lah yang tidak tahu tempat!” Nerisa meninggikan suaranya. Hatinya sangat sakit sekarang. Tidak cukup di ruang tamu, bahkan di kamar tidurnya pun Alexander dan Amelia melakukannya.“Ini juga kamar tidurku,” jawab Alexander.Hati Nerisa tersentak, ini kamar tidur dirinya dan Alexander, ruangan suami istri, tetapi Alex membawa wanita lain untuk masuk.“Kamu tahu apa yang baru saja kamu katakan?” Mata Nerisa berkaca-kaca.“Ini hanya sebuah kamar. Amelia menyukainya karena ruang tamu itu kecil.”“Kak Nerisa, tadi pagi kami juga melakukannya di sini. Tidak masalah dengan itu, kan?” Amelia menimpali.“Diamlah, Amel.” Alex menegurnya. “Sayang, kamu pindah ke ruang tamu saja. Kamar ini berikan pada Amelia.”Tangan Nerisa mengepal kuat, ia berbalik, kemudian melangkah pergi. Ia lekas menuruni anak tangga. Alexander ingin mengejar, tetapi Amelia meraih tangannya.“Dia hanya marah sebentar. Nanti juga balik lagi,” ucap Amel.Alexander menyugar rambutnya ke belakang. “Aku suda
“Kamu masih punya dirimu.” L meneguk minumannya.“Oh, ya? Tadi siapa yang ingin bunuh diri karena putus cinta?” Nerisa sedikit menggodanya.“Kadang kala kamu berhak merasa tidak waras, tetapi jangan sampai akal sehat mengambil alih dirimu. Aku bersedih sepanjang hidup, tetapi aku mencintai diriku.”“Ini berbeda dari yang kamu katakan tadi.”“Sudah kubilang kan, seseorang berhak bersedih. Hidup tetap berjalan.” L mengulurkan tangan. “Mau berteman?”“Aku tidak semudah itu menganggap orang asing sebagai teman.”“Itu malah lebih bagus.”“Apa maksudmu?” Kening Nerisa berkerut. Dia tadi menawarkan pertemanan, sekarang malah merasa itu kurang pilihan bagus.L turun dari tempat duduknya, ia mendekat. Sangat dekat hingga Nerisa merasa terpojok. Pria ini menatapnya secara intens. Nerisa membasahi bibir, jantungnya berdegup kencang. Mata pekat pria ini terasa melucutinya.“Kamu lebih cocok dijadikan pasangan.”“Minggir.” Nerisa mendorong pria itu. Ia mencoba menenangkan diri. “Pria gila.”L tert
Hari pertama pekerjaan Nerisa cukup lancar. Hampir sekitar dua tahun ini ia menganggur karena Alexander berjanji akan menghidupinya, asal bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Nerisa sudah berusaha menjadi istri yang diinginkan pria itu, tetapi Alexander punya tujuan sendiri.Alexander ingin bebas pergi menemui Amelia di luar negeri dengan alasan dinas. Tanda-tanda perselingkuhan itu sudah tampak, tetapi Nerisa masih membohongi dirinya. Ia percaya Alexander setia, ia tahu sebesar apa cinta pria itu kepadanya.Pertemuan dengan Amelia hanya kebetulan saja, begitulah yang Nerisa tanamkan dalam pikirannya. Amelia dan Alexander hanya sebatas kakak adik. Padahal Nerisa sangat tahu jika keduanya sama sekali tidak memiliki ikatan darah.Amelia diangkat adik oleh keluarga Valtheris karena ibunya. Sejak kecil tumbuh bersama, lalu wanita itu dibawa ke luar negeri. Bertahun-tahun putus kontak. Keduanya bertemu kembali saat Amelia menghadiri pesta ulang tahun Sebastian Valtheris.Pertama kaliny
Pukulan di meja itu cukup mengejutkan, tetapi Nerisa menikmatinya. Alexander mengamuk hanya karena istrinya tidak lagi menyiapkan sarapan dan kembali memulai karier yang baru setelah dipecat. Lalu bagaimana dengan perasaan istrinya yang telah lama dikhianati? Apa Alexander tidak bisa berpikir sakit hati Nerisa? Dia mau dimaklumi, tetapi sulit memberikan timbal balik. “Oh, ya, aku mungkin jarang pulang. Kamu sudah bersama Amel, dan aku juga punya keinginan untuk mencari kesenangan di luar sana,” ucap Nerisa. “Berani sekali kamu bicara seperti itu, Nerisa. Kamu sadar akan statusmu sendiri. Dengan kamu mencari kesenangan di luar, kamu hanya akan membuat malu keluarga Valtheris.” “Kalau kamu malu, ajukan saja perceraian.” Nerisa membalikkan perkataan Alexander. Jika pria ini mau bercerai, maka dia lah yang harus memberikan hartanya senilai 10 juta dollar. Ucapan Nerisa membuat Alexander ingat dengan setiap perkataan yang ia lontarkan pada istrinya itu. Ia sadar jika Nerisa pasti senga
Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Alexander melakukan hubungan intim bersama wanita lain di kediaman ini. Tempat di mana Nerisa menaruh harapan bahagia semenjak ditinggal keluarga. Mereka tidak perlu sembunyi lagi. Bermain adik kakak seolah-olah hubungan tersebut suci. Selama ini ia dibodohi oleh Alexander. Pria itu selalu menyangkal, tetapi sekarang kebenarannya telah terbukti. Keduanya menjalin hubungan. Kali ini dengan alasan soal harta dan pewaris. Fakta yang Nerisa ucapkan pun dianggap hanya khayalan belaka. Hati Alexander sudah tidak ada lagi untuk seorang Nerisa. Semuanya tertuju pada perempuan baru. Tersisa dua tahun lagi sampai perjanjian pernikahan itu batal. Nerisa harus bertahan. Ia telah dibodohi soal perasaan, dan ia tidak mau mengalah soal harta. Warisan itu ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, Nerisa berhak untuk mengambil alih. Meski harus tertusuk duri, hancur berkeping-keping, ia akan mendapatkannya. Jika keinginan Alexander seperti demikian,
“Apa maksudmu? Pernikahan terbuka apa?” Nerisa tidak mengerti dengan yang dikatakan oleh Alexander. Sikap Amelia tadi sudah keterlaluan. Dia melarang Alex menyentuh istrinya sendiri, dan pria ini tampaknya setuju. “Open marriage, aku ingin menjalin hubungan dengan Amelia. Aku ingin dia menjadi kekasihku.” Telinga ini masih bisa mendengar dengan jelas kata-kata yang baru saja Alexander ucapan. Sebuah pernikahan terbuka, di mana pasangan boleh menjalin hubungan dengan wanita lain atau laki-laki sesuai kesepakatan. Nerisa tertawa sembari memandang suaminya. “Ternyata kamu punya maksud tertentu di sini. Kamu ingin kita menjalani pernikahan terbuka, di mana aku setuju kamu menjalin hubungan dengan Amelia. Apa kamu sudah gila?!” “Dengarkan aku dulu, Nerisa. Aku melakukan ini demi kita berdua. Selama tiga tahun ini tidak ada anak di antara kita, sedangkan keluargaku menuntut seorang pewaris. Aku ini calon kepala keluarga Valtheris.” “Tidak harus menjalin hubungan dengan wanita lain.







