Compartir

Bab 7

Autor: Renita April
last update Fecha de publicación: 2026-10-09 19:31:49

“Kamu masih punya dirimu.” L meneguk minumannya.

“Oh, ya? Tadi siapa yang ingin bunuh diri karena putus cinta?” Nerisa sedikit menggodanya.

“Kadang kala kamu berhak merasa tidak waras, tetapi jangan sampai akal sehat mengambil alih dirimu. Aku bersedih sepanjang hidup, tetapi aku mencintai diriku.”

“Ini berbeda dari yang kamu katakan tadi.”

“Sudah kubilang kan, seseorang berhak bersedih. Hidup tetap berjalan.” L mengulurkan tangan. “Mau berteman?”

“Aku tidak semudah itu menganggap orang asing sebagai teman.”

“Itu malah lebih bagus.”

“Apa maksudmu?” Kening Nerisa berkerut. Dia tadi menawarkan pertemanan, sekarang malah merasa itu kurang pilihan bagus.

L turun dari tempat duduknya, ia mendekat. Sangat dekat hingga Nerisa merasa terpojok. Pria ini menatapnya secara intens. Nerisa membasahi bibir, jantungnya berdegup kencang. Mata pekat pria ini terasa melucutinya.

“Kamu lebih cocok dijadikan pasangan.”

“Minggir.” Nerisa mendorong pria itu. Ia mencoba menenangkan diri. “Pria gila.”

L tertawa. “Aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta?”

“Kepercayaan diri dari mana itu?”

“Aku tahu diriku sangat tampan.”

Nerisa terperangah, tetapi ucapan L memang benar. Dia sangat tampan. Tinggi, tubuhnya proposional, alis tebal, hidung mancung, matanya hitam pekat, dan bibirnya itu, menggoda.

“Hei, mau bermalam denganku?”

Tanpa sadar Nerisa melayangkan tamparan ke wajah pria itu. L memejamkan mata, lalu kembali duduk di kursinya. Bartender yang melihat kejadian itu, hanya menahan tawa.

“Aku menamparmu karena bicaramu sangat tidak sopan.” Pria gila dari mana ini? Baru pertama kali ini ia bertemu dengan laki-laki tak tahu malu.

“Bukankah biasa saja jika seorang pria mengajak wanita berkencan?”

“Aku bukan wanita seperti itu. Aku datang ke sini untuk menghibur diri.”

“Kita sama, aku juga datang menghibur diri.”

“Tidak harus tidur bersama.”

“Oh, maaf soal itu. Maksudku bukan tidur bersama, tetapi menghabiskan malam bersamaku sebagai teman ngobrol.”

Nerisa terdiam, ia mengepalkan tangan yang baru saja menampar pipi L. Pasti rasanya sangat sakit. “Kamu harus mengatakannya dengan jelas.”

“Aku juga tidak keberatan kalau kamu ingin kita tidur bersama.”

“Diamlah.” Nerisa meneguk minumannya lagi.

“Sesungguhnya jika kamu menerimaku, aku tidak keberatan untuk semalam.” L menyodorkan ponselnya. “Berikan kontakmu.”

“Aku tidak butuh.”

“Jika kamu bersedih lagi, aku bisa menjadi pendengar yang baik. Begitu juga sebaliknya. Aku butuh seorang teman sebagai pendengar.”

Nerisa memandang ponsel itu. Jika dipikir-pikir ia juga butuh seorang pendengar. Mungkin ada baiknya menyimpan nomor orang yang baru dikenal. Kadang-kadang orang asing juga bisa dipercaya. Nerisa bersedia bertukar kontak.

“Aku harus pulang.” Nerisa menyodorkan beberapa lembar uang sebagai bayaran minuman, lalu melangkah pergi.

L hanya tersenyum. “Dia bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal. Apa artinya kami bakal bertemu lagi?”

“Hei, Bos. Apa kamu jatuh cinta pada wanita itu?” tanya si bartender.

“Kamu pernah melihatnya?”

“Dia baru pertama kali ke sini.”

“Jika dia berada di sini lagi, hubungi aku.”

“Pasti, Bos.”

Siapa yang tahu jika bar ini milik L. Ia datang karena ingin meninjau saja keadaan usahanya. Selama ini L hanya melihat laporannya dari jauh. Sekarang ia telah kembali ke negara ini.

“Bos, kamu baru beberapa hari kembali ke negara ini. Apa nantinya bakal balik ke luar negeri?”

“Aku akan menetap untuk sementara. Keluargaku menyuruhku kembali. Mungkin mereka ingin tahu apakah hidupku hancur atau tidak.”

“Soal putus cinta, apa itu sungguhan?”

“Tentu saja itu benar. Itu sebabnya, aku minum-minum.”

Bartender itu menggeleng, ia mengenal L cukup lama di luar negeri. Lalu pindah ke kota ini karena pria itu juga. L memberinya pekerjaan sebagai peracik minuman di bar. Sudah setahun ia bekerja di sini, dan merasa nyaman tinggal di negara ini.

L masih ingin minum-minum. Ia telah kembali ke negara ini karena sebuah telepon dari seseorang yang ia benci, tetapi tidak bisa. Karena orang itulah ia bisa hidup. Ia perlu membalas budi, lalu memutus hubungan.

Sementara Nerisa sudah dalam perjalanan pulang. Perasaannya membaik setelah bicara pada pria konyol yang patah hati. Ia tidak menerima balasan pesan dari Alexander lagi atau ajakan untuk makan malam bersama.

Tiba di kediaman, Nerisa melihat kendaraan suaminya. Alexander sudah kembali, tetapi ia tidak peduli. Begitu masuk, ia merasakan sepi. Ya, rumah sebesar ini hanya dihuni beberapa orang saja. Pelayan baru yang Nerisa suruh cari mungkin belum ada. Nerisa melewatkan ruang makan, ia sama sekali tidak bernapsu. Ia langsung menuju lantai atas, ke kamarnya. Ia membuka pintu, masuk begitu saja.

“Akhhhh!”

Nerisa kaget, ia menjatuhkan tas miliknya. Amelia berteriak, lalu lekas melindungi tubuhnya dengan selimut. Sementara Alexander tampak kesal, ia mengambil celana pendek, kemudian memakainya.

“Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu lebih dulu?” tanyanya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Suamiku Ingin Pernikahan Terbuka   Bab 8

    “Ini kamarku. Kalian lah yang tidak tahu tempat!” Nerisa meninggikan suaranya. Hatinya sangat sakit sekarang. Tidak cukup di ruang tamu, bahkan di kamar tidurnya pun Alexander dan Amelia melakukannya.“Ini juga kamar tidurku,” jawab Alexander.Hati Nerisa tersentak, ini kamar tidur dirinya dan Alexander, ruangan suami istri, tetapi Alex membawa wanita lain untuk masuk.“Kamu tahu apa yang baru saja kamu katakan?” Mata Nerisa berkaca-kaca.“Ini hanya sebuah kamar. Amelia menyukainya karena ruang tamu itu kecil.”“Kak Nerisa, tadi pagi kami juga melakukannya di sini. Tidak masalah dengan itu, kan?” Amelia menimpali.“Diamlah, Amel.” Alex menegurnya. “Sayang, kamu pindah ke ruang tamu saja. Kamar ini berikan pada Amelia.”Tangan Nerisa mengepal kuat, ia berbalik, kemudian melangkah pergi. Ia lekas menuruni anak tangga. Alexander ingin mengejar, tetapi Amelia meraih tangannya.“Dia hanya marah sebentar. Nanti juga balik lagi,” ucap Amel.Alexander menyugar rambutnya ke belakang. “Aku suda

  • Suamiku Ingin Pernikahan Terbuka   Bab 7

    “Kamu masih punya dirimu.” L meneguk minumannya.“Oh, ya? Tadi siapa yang ingin bunuh diri karena putus cinta?” Nerisa sedikit menggodanya.“Kadang kala kamu berhak merasa tidak waras, tetapi jangan sampai akal sehat mengambil alih dirimu. Aku bersedih sepanjang hidup, tetapi aku mencintai diriku.”“Ini berbeda dari yang kamu katakan tadi.”“Sudah kubilang kan, seseorang berhak bersedih. Hidup tetap berjalan.” L mengulurkan tangan. “Mau berteman?”“Aku tidak semudah itu menganggap orang asing sebagai teman.”“Itu malah lebih bagus.”“Apa maksudmu?” Kening Nerisa berkerut. Dia tadi menawarkan pertemanan, sekarang malah merasa itu kurang pilihan bagus.L turun dari tempat duduknya, ia mendekat. Sangat dekat hingga Nerisa merasa terpojok. Pria ini menatapnya secara intens. Nerisa membasahi bibir, jantungnya berdegup kencang. Mata pekat pria ini terasa melucutinya.“Kamu lebih cocok dijadikan pasangan.”“Minggir.” Nerisa mendorong pria itu. Ia mencoba menenangkan diri. “Pria gila.”L tert

  • Suamiku Ingin Pernikahan Terbuka   Bab 6

    Hari pertama pekerjaan Nerisa cukup lancar. Hampir sekitar dua tahun ini ia menganggur karena Alexander berjanji akan menghidupinya, asal bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Nerisa sudah berusaha menjadi istri yang diinginkan pria itu, tetapi Alexander punya tujuan sendiri.Alexander ingin bebas pergi menemui Amelia di luar negeri dengan alasan dinas. Tanda-tanda perselingkuhan itu sudah tampak, tetapi Nerisa masih membohongi dirinya. Ia percaya Alexander setia, ia tahu sebesar apa cinta pria itu kepadanya.Pertemuan dengan Amelia hanya kebetulan saja, begitulah yang Nerisa tanamkan dalam pikirannya. Amelia dan Alexander hanya sebatas kakak adik. Padahal Nerisa sangat tahu jika keduanya sama sekali tidak memiliki ikatan darah.Amelia diangkat adik oleh keluarga Valtheris karena ibunya. Sejak kecil tumbuh bersama, lalu wanita itu dibawa ke luar negeri. Bertahun-tahun putus kontak. Keduanya bertemu kembali saat Amelia menghadiri pesta ulang tahun Sebastian Valtheris.Pertama kaliny

  • Suamiku Ingin Pernikahan Terbuka   Bab 5

    Pukulan di meja itu cukup mengejutkan, tetapi Nerisa menikmatinya. Alexander mengamuk hanya karena istrinya tidak lagi menyiapkan sarapan dan kembali memulai karier yang baru setelah dipecat. Lalu bagaimana dengan perasaan istrinya yang telah lama dikhianati? Apa Alexander tidak bisa berpikir sakit hati Nerisa? Dia mau dimaklumi, tetapi sulit memberikan timbal balik. “Oh, ya, aku mungkin jarang pulang. Kamu sudah bersama Amel, dan aku juga punya keinginan untuk mencari kesenangan di luar sana,” ucap Nerisa. “Berani sekali kamu bicara seperti itu, Nerisa. Kamu sadar akan statusmu sendiri. Dengan kamu mencari kesenangan di luar, kamu hanya akan membuat malu keluarga Valtheris.” “Kalau kamu malu, ajukan saja perceraian.” Nerisa membalikkan perkataan Alexander. Jika pria ini mau bercerai, maka dia lah yang harus memberikan hartanya senilai 10 juta dollar. Ucapan Nerisa membuat Alexander ingat dengan setiap perkataan yang ia lontarkan pada istrinya itu. Ia sadar jika Nerisa pasti senga

  • Suamiku Ingin Pernikahan Terbuka   Bab 4

    Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Alexander melakukan hubungan intim bersama wanita lain di kediaman ini. Tempat di mana Nerisa menaruh harapan bahagia semenjak ditinggal keluarga. Mereka tidak perlu sembunyi lagi. Bermain adik kakak seolah-olah hubungan tersebut suci. Selama ini ia dibodohi oleh Alexander. Pria itu selalu menyangkal, tetapi sekarang kebenarannya telah terbukti. Keduanya menjalin hubungan. Kali ini dengan alasan soal harta dan pewaris. Fakta yang Nerisa ucapkan pun dianggap hanya khayalan belaka. Hati Alexander sudah tidak ada lagi untuk seorang Nerisa. Semuanya tertuju pada perempuan baru. Tersisa dua tahun lagi sampai perjanjian pernikahan itu batal. Nerisa harus bertahan. Ia telah dibodohi soal perasaan, dan ia tidak mau mengalah soal harta. Warisan itu ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, Nerisa berhak untuk mengambil alih. Meski harus tertusuk duri, hancur berkeping-keping, ia akan mendapatkannya. Jika keinginan Alexander seperti demikian,

  • Suamiku Ingin Pernikahan Terbuka   Bab 3

    “Apa maksudmu? Pernikahan terbuka apa?” Nerisa tidak mengerti dengan yang dikatakan oleh Alexander. Sikap Amelia tadi sudah keterlaluan. Dia melarang Alex menyentuh istrinya sendiri, dan pria ini tampaknya setuju. “Open marriage, aku ingin menjalin hubungan dengan Amelia. Aku ingin dia menjadi kekasihku.” Telinga ini masih bisa mendengar dengan jelas kata-kata yang baru saja Alexander ucapan. Sebuah pernikahan terbuka, di mana pasangan boleh menjalin hubungan dengan wanita lain atau laki-laki sesuai kesepakatan. Nerisa tertawa sembari memandang suaminya. “Ternyata kamu punya maksud tertentu di sini. Kamu ingin kita menjalani pernikahan terbuka, di mana aku setuju kamu menjalin hubungan dengan Amelia. Apa kamu sudah gila?!” “Dengarkan aku dulu, Nerisa. Aku melakukan ini demi kita berdua. Selama tiga tahun ini tidak ada anak di antara kita, sedangkan keluargaku menuntut seorang pewaris. Aku ini calon kepala keluarga Valtheris.” “Tidak harus menjalin hubungan dengan wanita lain.

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status