INICIAR SESIÓNHari pertama pekerjaan Nerisa cukup lancar. Hampir sekitar dua tahun ini ia menganggur karena Alexander berjanji akan menghidupinya, asal bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Nerisa sudah berusaha menjadi istri yang diinginkan pria itu, tetapi Alexander punya tujuan sendiri.
Alexander ingin bebas pergi menemui Amelia di luar negeri dengan alasan dinas. Tanda-tanda perselingkuhan itu sudah tampak, tetapi Nerisa masih membohongi dirinya. Ia percaya Alexander setia, ia tahu sebesar apa cinta pria itu kepadanya. Pertemuan dengan Amelia hanya kebetulan saja, begitulah yang Nerisa tanamkan dalam pikirannya. Amelia dan Alexander hanya sebatas kakak adik. Padahal Nerisa sangat tahu jika keduanya sama sekali tidak memiliki ikatan darah. Amelia diangkat adik oleh keluarga Valtheris karena ibunya. Sejak kecil tumbuh bersama, lalu wanita itu dibawa ke luar negeri. Bertahun-tahun putus kontak. Keduanya bertemu kembali saat Amelia menghadiri pesta ulang tahun Sebastian Valtheris. Pertama kalinya juga Nerisa bertemu dengannya. Dia cantik, segar, seperti bunga yang baru saja mekar. Saat itu, Alexander meminta Nerisa untuk fokus berumah tangga, lalu dirinya sibuk di kantor, dinas luar kota maupun luar negeri. Beberapa karena pekerjaan, tetapi lebih banyak mengunjungi Amelia. Ketika Nerisa mempertanyakan hubungan itu, Alexander masih menyangkal. Ia merindukan Amelia karena wanita itu adalah adiknya, dan sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Nerisa tidak punya adik maupun kakak, ia putri tunggal keluarga Macnary. Ia tidak mengerti ikatan kekerabatan seperti itu. Nerisa mencoba memaklumi karena kondisi Alexander juga sulit. Ia anak kedua, tetapi Tuan Besar Sebastian sering mengabaikannya. Itu sebabnya, Alexander berjuang mati-matian bekerja agar ia bisa dipandang. Jam kerja selesai, Nerisa tidak kembali ke kediaman. Ia memilih ke bar. Ia tidak boleh minum alkohol untuk sekarang, tetapi di sana tempat yang mungkin bisa membuat pikirannya tenang sejenak. Tiba di bar, Nerisa memesan soft drink. Ia menikmati musik sembari meneguk minumnnya secara perlahan. Bar masih lenggang di sore hari. Cukup nyaman untuk merenungkan masalah rumah tangganya sekarang. “Nona, kamu baik-baik saja?” tanya pria yang berprofesi sebagai bartender ini. “Ya, aku baik-baik saja.” Nerisa memaksakan senyum. Ia meneguk habis minumannya, lalu minta tambah. Ia butuh teman bicara, tetapi malu pada diri sendiri. Wanita yang tidak bisa menjaga suaminya sendiri. Nerisa menertawakan nasibnya sekarang. Dulu ia mati-matian membela Alexander ketika ada seseorang yang mengadu mengenai kejelekan suaminya. Nerisa selalu menjadi pembela yang terdepan. Namun sekarang, ia menyesal tidak mendengarkan orang itu. “Berikan aku bir, Bos.” Seseorang duduk di sebelah. Nerisa melirik orang asing itu, dan secara kebetulan pria itu juga memandangnya. Ia menampilkan senyum tipis, lalu mengalihkan pandangan pada telepon genggam. Pesan dari Alexander yang menanyakan keberadaannya tiba. Nerisa membalas singkat jika ia tengah dalam perjalanan pulang. Lalu tidak ada lagi balasan. Ya, Alexander mengirim pesan mungkin hanya ingin dianggap sebagai suami perhatian. Semua itu sudah omong kosong bagi Nerisa. “Pelan-pelan, Bos. Apa kamu dalam masalah?” tanya bartender itu. “Tambah satu bir lagi. Aku ingin mabuk, dan melupakan semua masalah.” Pria itu tertawa. “Jika kamu mabuk, jangan menyusahkan orang.” “Hei, tenang saja.” Pria itu menyodorkan kartu. “Aku bayar. Jika aku mabuk, panggilkan taksi.” Ia masih tertawa, lalu pandangannya mengarah pada Nerisa. “Nona, kamu juga punya masalah kan?” “Kamu sungguh tidak sopan. Kita tidak saling kenal,” sahut Nerisa. Ia sebaiknya pergi dari sini. Begitu ia ingin beranjak dari duduknya, pria itu menghalangi. “Minggir.” “Temani aku minum. Aku butuh teman.” “Aku ingin pulang.” Nerisa mengatakannya dengan tegas. “Nona, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Bahkan kamu pun tidak mau menemaniku.” Mata pria ini berkaca-kaca. “Aku ini orang baik.” Nerisa kembali duduk, lalu memesan lagi minuman. “Ceritakan saja, aku siap mendengarkan.” “Aku baru saja putus cinta.” Nerisa malah tertawa. Ia terpingkal-pingkal, dan membuat pria asing serta bartender terheran-heran. Apa yang lucu? Pria asing itu bahkan ingin membunuh diri sendiri dengan mabuk-mabukkan. “Apa dia tidak waras?” tanya pria itu pada bartender. “Hei, Nona. Kamu sehat, kan?” “Ini sangat lucu.” Wajah pria itu berubah muram. “Aku baru saja kehilangan cinta sejatiku, tapi kamu malah tertawa.” “Kamu bisa cari yang lain.” Nerisa mengusap air mata di pipi. Ia benar-benar tertawa lepas. Ia punya teman bicara yang bernasib sama. “Wanita itu mengakhiri hubungan kami karena aku tidak bisa membiayai hidupnya lagi. Aku benar-benar pecundang.” Pria itu meneguk minumannya lagi, lalu minta tambah. “Nasib kita sama.” “Kamu juga putus cinta?” Pria itu kaget. “Ya, bisa dibilang begitu.” “Cari saja yang lain lagi.” Keduanya terdiam sesaat, lalu tertawa. Dua orang yang sama-sama sedang patah hati, bertemu tanpa sengaja, dan menjadi teman ngobrol. “Aku, Nerisa.” “Panggil saja aku, L.” “Itu nama panggilanmu?” Pria itu mengangguk. “Ya, artinya pecundang.” “Kamu tidak terlihat seperti itu.” “Orang-orang menyebutku begitu, bahkan keluargaku.” Wajah L berubah sedih. Sedetik kemudian, raut wajahnya kembali ceria. “Buat apa dipikirkan, aku tidak peduli pada mereka.” “Aku juga tidak punya siapa pun.” Nerisa menunduk.“Ini kamarku. Kalian lah yang tidak tahu tempat!” Nerisa meninggikan suaranya. Hatinya sangat sakit sekarang. Tidak cukup di ruang tamu, bahkan di kamar tidurnya pun Alexander dan Amelia melakukannya.“Ini juga kamar tidurku,” jawab Alexander.Hati Nerisa tersentak, ini kamar tidur dirinya dan Alexander, ruangan suami istri, tetapi Alex membawa wanita lain untuk masuk.“Kamu tahu apa yang baru saja kamu katakan?” Mata Nerisa berkaca-kaca.“Ini hanya sebuah kamar. Amelia menyukainya karena ruang tamu itu kecil.”“Kak Nerisa, tadi pagi kami juga melakukannya di sini. Tidak masalah dengan itu, kan?” Amelia menimpali.“Diamlah, Amel.” Alex menegurnya. “Sayang, kamu pindah ke ruang tamu saja. Kamar ini berikan pada Amelia.”Tangan Nerisa mengepal kuat, ia berbalik, kemudian melangkah pergi. Ia lekas menuruni anak tangga. Alexander ingin mengejar, tetapi Amelia meraih tangannya.“Dia hanya marah sebentar. Nanti juga balik lagi,” ucap Amel.Alexander menyugar rambutnya ke belakang. “Aku suda
“Kamu masih punya dirimu.” L meneguk minumannya.“Oh, ya? Tadi siapa yang ingin bunuh diri karena putus cinta?” Nerisa sedikit menggodanya.“Kadang kala kamu berhak merasa tidak waras, tetapi jangan sampai akal sehat mengambil alih dirimu. Aku bersedih sepanjang hidup, tetapi aku mencintai diriku.”“Ini berbeda dari yang kamu katakan tadi.”“Sudah kubilang kan, seseorang berhak bersedih. Hidup tetap berjalan.” L mengulurkan tangan. “Mau berteman?”“Aku tidak semudah itu menganggap orang asing sebagai teman.”“Itu malah lebih bagus.”“Apa maksudmu?” Kening Nerisa berkerut. Dia tadi menawarkan pertemanan, sekarang malah merasa itu kurang pilihan bagus.L turun dari tempat duduknya, ia mendekat. Sangat dekat hingga Nerisa merasa terpojok. Pria ini menatapnya secara intens. Nerisa membasahi bibir, jantungnya berdegup kencang. Mata pekat pria ini terasa melucutinya.“Kamu lebih cocok dijadikan pasangan.”“Minggir.” Nerisa mendorong pria itu. Ia mencoba menenangkan diri. “Pria gila.”L tert
Hari pertama pekerjaan Nerisa cukup lancar. Hampir sekitar dua tahun ini ia menganggur karena Alexander berjanji akan menghidupinya, asal bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik. Nerisa sudah berusaha menjadi istri yang diinginkan pria itu, tetapi Alexander punya tujuan sendiri.Alexander ingin bebas pergi menemui Amelia di luar negeri dengan alasan dinas. Tanda-tanda perselingkuhan itu sudah tampak, tetapi Nerisa masih membohongi dirinya. Ia percaya Alexander setia, ia tahu sebesar apa cinta pria itu kepadanya.Pertemuan dengan Amelia hanya kebetulan saja, begitulah yang Nerisa tanamkan dalam pikirannya. Amelia dan Alexander hanya sebatas kakak adik. Padahal Nerisa sangat tahu jika keduanya sama sekali tidak memiliki ikatan darah.Amelia diangkat adik oleh keluarga Valtheris karena ibunya. Sejak kecil tumbuh bersama, lalu wanita itu dibawa ke luar negeri. Bertahun-tahun putus kontak. Keduanya bertemu kembali saat Amelia menghadiri pesta ulang tahun Sebastian Valtheris.Pertama kaliny
Pukulan di meja itu cukup mengejutkan, tetapi Nerisa menikmatinya. Alexander mengamuk hanya karena istrinya tidak lagi menyiapkan sarapan dan kembali memulai karier yang baru setelah dipecat. Lalu bagaimana dengan perasaan istrinya yang telah lama dikhianati? Apa Alexander tidak bisa berpikir sakit hati Nerisa? Dia mau dimaklumi, tetapi sulit memberikan timbal balik. “Oh, ya, aku mungkin jarang pulang. Kamu sudah bersama Amel, dan aku juga punya keinginan untuk mencari kesenangan di luar sana,” ucap Nerisa. “Berani sekali kamu bicara seperti itu, Nerisa. Kamu sadar akan statusmu sendiri. Dengan kamu mencari kesenangan di luar, kamu hanya akan membuat malu keluarga Valtheris.” “Kalau kamu malu, ajukan saja perceraian.” Nerisa membalikkan perkataan Alexander. Jika pria ini mau bercerai, maka dia lah yang harus memberikan hartanya senilai 10 juta dollar. Ucapan Nerisa membuat Alexander ingat dengan setiap perkataan yang ia lontarkan pada istrinya itu. Ia sadar jika Nerisa pasti senga
Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh juga. Alexander melakukan hubungan intim bersama wanita lain di kediaman ini. Tempat di mana Nerisa menaruh harapan bahagia semenjak ditinggal keluarga. Mereka tidak perlu sembunyi lagi. Bermain adik kakak seolah-olah hubungan tersebut suci. Selama ini ia dibodohi oleh Alexander. Pria itu selalu menyangkal, tetapi sekarang kebenarannya telah terbukti. Keduanya menjalin hubungan. Kali ini dengan alasan soal harta dan pewaris. Fakta yang Nerisa ucapkan pun dianggap hanya khayalan belaka. Hati Alexander sudah tidak ada lagi untuk seorang Nerisa. Semuanya tertuju pada perempuan baru. Tersisa dua tahun lagi sampai perjanjian pernikahan itu batal. Nerisa harus bertahan. Ia telah dibodohi soal perasaan, dan ia tidak mau mengalah soal harta. Warisan itu ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, Nerisa berhak untuk mengambil alih. Meski harus tertusuk duri, hancur berkeping-keping, ia akan mendapatkannya. Jika keinginan Alexander seperti demikian,
“Apa maksudmu? Pernikahan terbuka apa?” Nerisa tidak mengerti dengan yang dikatakan oleh Alexander. Sikap Amelia tadi sudah keterlaluan. Dia melarang Alex menyentuh istrinya sendiri, dan pria ini tampaknya setuju. “Open marriage, aku ingin menjalin hubungan dengan Amelia. Aku ingin dia menjadi kekasihku.” Telinga ini masih bisa mendengar dengan jelas kata-kata yang baru saja Alexander ucapan. Sebuah pernikahan terbuka, di mana pasangan boleh menjalin hubungan dengan wanita lain atau laki-laki sesuai kesepakatan. Nerisa tertawa sembari memandang suaminya. “Ternyata kamu punya maksud tertentu di sini. Kamu ingin kita menjalani pernikahan terbuka, di mana aku setuju kamu menjalin hubungan dengan Amelia. Apa kamu sudah gila?!” “Dengarkan aku dulu, Nerisa. Aku melakukan ini demi kita berdua. Selama tiga tahun ini tidak ada anak di antara kita, sedangkan keluargaku menuntut seorang pewaris. Aku ini calon kepala keluarga Valtheris.” “Tidak harus menjalin hubungan dengan wanita lain.







