Short
Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne

Orang yang Kucintai Tidak Berada di Valenne

Por:  EjiCompletado
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Capítulos
4vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Aku menghabiskan delapan tahun penuh mendampingi suamiku, Kelvano Davendra, seorang pemain selo, melewati masa-masa ketika dia menutup diri, menghancurkan dirinya sendiri, dan berulang kali mencoba mengakhiri hidup, hingga akhirnya berhasil tampil di Gedung Musik Emas Valenne. Pada tahun yang paling berat, dia bahkan tak mampu menggenggam busur selo dengan stabil. Berkali-kali, aku menemukannya di kamar yang terkunci dan menemaninya melewati saat-saat ketika dia kehilangan kendali dan mengalami kehancuran mental. Dia menulis komposisi utuh pertamanya untukku dan memberinya judul [Orang yang Paling Dicintai]. Katanya, selama aku ingin mendengarnya, dia akan memainkan selo untukku seumur hidupnya. Namun, setelah namanya mulai dikenal luas dan undangan pertunjukan memenuhi jadwalnya di seluruh dunia, ia menjadi begitu sibuk hingga hanya bisa meluangkan sepuluh menit setiap minggu untuk menemaniku. Setiap kali akhirnya tiba saat yang berharga itu, permintaanku selalu sama, mendengar [Orang yang Paling Dicintai] sekali lagi. Namun, dia hanya memejamkan mata dengan letih. “Tampil di konser sudah cukup menguras tenaga. Aku nggak mau, setelah jam kerja usai, masih dibebani tekanan pekerjaan.” Aku tak tega melihatnya kelelahan. Sejak saat itu, aku tak pernah lagi meminta. Hingga pada hari Sabtu, ketika aku mendadak ditugaskan ke Valenne untuk melakukan wawancara, aku justru mendengar melodi yang familier itu dari gedung konser yang sudah kosong seusai pertunjukan. Para penonton sudah lama meninggalkan tempat itu. Hanya asisten perempuannya yang masih ada, tertidur bersandar di bangku barisan depan. Sementara itu, suamiku duduk di tengah panggung, memainkan [Orang yang Paling Dicintai] berulang kali agar dia terlelap. Seseorang mengingatkannya bahwa sudah waktunya beristirahat. Namun, dia hanya menatap perempuan itu dan berkata pelan, “Nggak apa-apa. Dia suka mendengarnya.” Malam itu, dia memainkan selo selama tiga jam penuh. Ternyata, bukan karena dia kelelahan atau tidak ingin membawa pekerjaan pulang. Dia hanya tidak bersedia memainkan lagu itu sekali lagi untukku. Aku tidak masuk untuk menuntut penjelasan. Aku hanya berbalik, lalu pergi. Malam itu juga, aku menerima penugasan dari perusahaan untuk dipindahkan ke Negara Westoria selama tiga tahun. Begitu permohonan itu terkirim, aku melepas cincin pernikahan yang sudah delapan tahun kupakai ....

Ver más

Capítulo 1

Bab 1

Pada saat yang sama, dia mengirimiku pesan.

[Pertunjukannya sudah selesai. Jatah sepuluh menit kita minggu ini dipindahkan ke minggu depan saja.]

Aku menghapus percakapan itu tanpa membalas.

Karena [Orang yang Paling Dicintai] kini sudah memiliki pendengar baru, sudah saatnya aku juga meninggalkan panggung.

....

Kelvano baru pulang ketika waktu hampir menunjukkan pukul satu dini hari.

Dia membawa kotak selonya, masih mengenakan kemeja hitam yang dipakainya saat pertunjukan.

Langkahnya mendadak terhenti saat sampai di belakangku dan melihat kata “Valenne” di layar.

“Kamu pergi ke Valenne hari ini?”

“Ya.”

Jari-jariku bergerak di papan sentuh, menghapus satu bagian catatan rekaman yang berulang.

“Aku mendadak mendapat tugas untuk mewawancarai seorang konduktor keturunan Barat.”

“Kapan kamu sampai di sana?”

“Sore.”

Kelvano terdiam selama dua detik.

“Kenapa kamu nggak datang menemuiku?”

“Aku sibuk bekerja. Begitu wawancaranya selesai, aku langsung pulang.”

Aku tidak mengangkat kepala.

Dari sudut mataku, kulihat bahunya yang semula tegang perlahan mengendur.

Seolah-olah Kelvano akhirnya bisa memastikan bahwa aku tidak memasuki gedung konser itu dan tidak menyaksikan semua yang terjadi setelah pertunjukan berakhir.

Dia meletakkan kotak selonya di dekat dinding, lalu mengusap pergelangan tangannya.

“Hari ini aku bermain terlalu lama, tanganku kram lagi.”

Kelvano duduk di sampingku seolah tidak ada yang aneh, kemudian menyodorkan tangan kanannya.

“Tolong pijat tanganku sebentar, lalu siapkan air rendaman herbalnya.”

Selama delapan tahun terakhir, hal itu hampir menjadi kebiasaan di antara kami yang tidak perlu dibicarakan lagi.

Di masa terburuknya, tangan kanan Kelvano bahkan tak mampu menggengam gelas dengan stabil.

Demi mempelajari cara memijat tangannya, aku sampai konsultasi dengan fisioterapis untuk mendapatkan bimbingan. Setiap letak otot di tangannya kucatat dengan saksama dalam sebuah buku.

Jari mana yang kaku dan bagian mana yang harus dipijat.

Seberapa parah rasa sakitnya dan obat jenis apa yang perlu diganti.

Bahkan saat Kelvano memejamkan mata, aku tahu apa yang dibutuhkannya sesaat lagi.

Namun, malam ini, aku hanya menatap tangannya.

Ada bekas kemerahan baru di ujung jarinya akibat gesekan.

Bekas itu muncul karena dia bermain terlalu lama tanpa henti.

Tiga jam.

Demi membuat Lily terlelap, dia memainkan komposisi yang ditulisnya untukku berulang kali di gedung konser yang sudah kosong.

Pantas saja dia kelelahan.

Pantas saja tangannya sakit.

Dan setelah pulang, dia masih mengharapkanku untuk membantu meredakan rasa sakit itu.

Aku menutup laptop. “Biar tim yang ikut denganmu saja yang mengurusnya.”

Tangan Kelvano membeku di udara.

“Apa?”

“Timmu ‘kan punya fisioterapis.”

Aku memasukkan laptop ke dalam tas.

“Ke depannya, kalau pertunjukan sudah selesai, minta mereka saja yang memijatmu.”

Kelvano menatapku. Kedua alisnya perlahan berkerut.

“Soraya, kamu masih kesal gara-gara waktu 10 menit itu?”

Aku tidak menjawab.

Kelvano menarik kembali tangannya. Nada suaranya terdengar sedikit lelah.

“Kamu juga lihat sendiri jadwalku akhir-akhir ini. Aku bukan sengaja nggak menemanimu.”

“Hmm.”

“Minggu depan saja.”

Kelvano seolah sedang menghadapi pertengkaran sepele. Setelah berpikir sejenak, dia menawarkan kompensasi yang menurutnya sudah cukup murah hati.

“Waktu kita minggu depan kutambah jadi dua puluh menit. Bagaimana? Sudah cukup?”

Dua puluh menit.

Dua kali lipat dari jatah sepuluh menit yang semula dijanjikan.

Haruskah aku merasa senang?

Kalau dulu, aku pasti akan senang.

Aku akan meluangkan satu malam penuh jauh-jauh hari, menolak semua pekerjaan, memilih restoran dengan saksama, lalu berulang kali memastikan apakah ada pertunjukan mendadak dalam jadwalnya.

Sekalipun pada akhirnya hanya ada dua puluh menit yang benar-benar menjadi milikku, aku tetap akan menghibur diri dengan berpikir bahwa Kelvano sudah berusaha semaksimal mungkin.

Namun, baru tadi malam, Kelvano duduk di gedung konser yang kosong dan memainkan selo untuk Lily selama tiga jam penuh.

Perempuan itu tertidur di kursi barisan depan.

Kelvano takut suara selo yang berhenti akan membangunkannya. Karena itu, sambil menahan sakit di pergelangan tangannya, dia terus mengulang komposisi itu berkali-kali.

Bahkan sekali memainkan komposisi itu saja sudah memakan waktu lebih dari dua puluh menit.

Ternyata, waktu yang harus kutunggu selama seminggu penuh hanya cukup baginya untuk menidurkan perempuan lain.

Aku menunduk tanpa menjawab.

Kelvano menunggu beberapa saat.

Mungkin menganggap diamku sebagai persetujuan, raut wajahnya yang semula tegang perlahan mengendur.

“Rendaman herbalnya jangan terlalu panas, seperti biasa saja.” Setelah berkata demikian, dia berbalik dan masuk ke kamar mandi.

Tak lama kemudian, terdengar suara air mengalir.

Aku tidak mengambil kantong ramuan herbal.

Aku juga tidak lagi berjongkok di samping bak mandi seperti biasanya untuk mengatur suhu airnya dengan saksama.

Sebaliknya, aku kembali membuka laptop dan masuk ke sistem perusahaan.

Surat konfirmasi penugasan ke Westoria sudah berada di sana selama beberapa jam.

Masa penugasan tiga tahun.

Keberangkatan tujuh hari lagi.

Di bagian paling bawah halaman, terdapat kolom kosong yang menunggu tanda tanganku.

Saat itu, suara Kelvano terdengar dari dalam kamar mandi.

“Soraya, airnya sudah kamu siapkan?”

Aku menggenggam tetikus, lalu berhenti sejenak di atas tombol konfirmasi.

Sesaat kemudian, aku mengekliknya.

Sistem menampilkan sebuah pemberitahuan.

[Permohonan resmi berlaku.]

Aku menatap layar dan untuk pertama kalinya, tidak menjawab panggilannya.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
10 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status