FAZER LOGIN“Jadi kehendak ibuku adalah kunci untuk membunuhmu?” tanya Adrian sambil menatap penguasa purba. Penguasa purba tersenyum. “Benar,” jawab penguasa purba. “Itulah alasan kehendaknya harus disembunyikan.” Adrian mengepalkan tangan. “Kalau begitu, kenapa kau tidak menghancurkannya sejak awal?” tanya Adrian. “Karena aku tidak bisa menyentuh kehendak itu secara langsung,” jawab penguasa purba. Adrian menyipitkan mata. “Kenapa?” tanya Adrian. “Karena kehendak ibumu berasal dari garis penjaga yang diciptakan untuk mengikatku,” jawab penguasa purba. Adrian menatap simbol putih di dadanya. “Jadi selama ini kemampuan itu bukan sekadar warisan,” ujar Adrian. “Bukan,” jawab penguasa purba. “Itu adalah senjata.” Adrian menarik napas. “Kalau begitu, aku akan menggunakannya,” ujar Adrian. Penguasa purba tertawa. “Kau pikir semudah itu?” tanya penguasa purba. Adrian mengangkat tangan. “Aku tidak perlu mengalahkanmu dengan kekuatan,” jawab Adrian. “Aku hanya perlu menemukan kelemahanm
“Kalau kau sudah bangun, tunjukkan dirimu!” seru Adrian sambil menatap langit-langit Kuil Penjaga Pertama. Guncangan semakin kuat. Debu berjatuhan dari atap kuil, sementara inti purba di dalam tubuh Adrian berdenyut seperti jantung kedua. [PERINGATAN KRITIS.] [PENGUASA INTI PURBA TERDETEKSI.] [JARAK: TIDAK DAPAT DIUKUR.] Adrian mengepalkan tangan. “Jangan sembunyikan dirimu di balik tekanan energi,” ujar Adrian. “Aku tidak akan tunduk hanya karena kau lebih tua dariku.” Sebuah suara menggema dari seluruh penjuru kuil. “Kesombonganmu masih sama seperti saat pertama kali darahmu diciptakan,” ujar suara tersebut. Adrian mengerutkan kening. “Darahku tidak diciptakan untukmu,” jawab Adrian tegas. Suara itu tertawa rendah. “Kau akhirnya mengingatnya,” ujar suara tersebut. Adrian merasakan sesuatu bergerak di dalam inti purbanya. [KEHENDAK SANG PENJAGA AKTIF.] [KEHENDAK PENGUASA INTI AKTIF.] Dua kekuatan itu menyatu. Adrian menarik napas. “Keluar dari tubuhku,” perintah Adr
“Buka semuanya,” ujar Adrian sambil berdiri di depan cahaya putih yang berputar di tengah kuil. [MEMORI TERAKHIR AKAN DIBUKA.] [PERINGATAN: IDENTITAS DAN KESADARAN DAPAT TERPENGARUH.] Adrian mengepalkan tangan. “Aku sudah memilih,” jawab Adrian tegas. Cahaya putih langsung meledak. Dalam sekejap, Adrian berada di sebuah tempat yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Langit berwarna merah gelap, tanah dipenuhi simbol kuno, dan di tengah tempat itu berdiri sebuah altar raksasa. Di atas altar terdapat bayi. Adrian menatap dirinya sendiri. “Itu aku,” ujar Adrian. Di samping altar berdiri Aryan dan ibunya. Namun mereka bukan satu-satunya orang di sana. Kaelvar juga hadir. Di hadapan mereka berdiri sosok tinggi berjubah putih. Adrian tidak bisa melihat wajahnya. “Siapa dia?” tanya Adrian. Suara dari dalam ingatan menjawab. “Dialah pencipta kehendak inti purba,” jawab suara tersebut. Adrian menatap sosok itu. “Jadi dia yang memilihku?” tanya Adrian. Sosok berjubah putih me
“Kenangan pertama yang kulihat adalah kebohongan?” tanya Adrian sambil berdiri di tengah Kuil Penjaga Pertama. Suara ibunya kembali terdengar dari dalam pikirannya. “Jangan percaya apa pun yang menunjukkan ayahmu sebagai pembunuhmu,” jawab suara ibunya. Adrian menatap ruangan luas di hadapannya. “Kalau begitu, tunjukkan kebenarannya kepadaku,” ujar Adrian. Simbol-simbol kuno di dinding mulai menyala. [KEHENDAK SANG PENJAGA TERDETEKSI.] [MEMORI TERKUNCI TERSEDIA.] [RISIKO KERUSAKAN KESADARAN: TINGGI.] Adrian menarik napas panjang. “Buka memorinya,” perintah Adrian. Cahaya putih menyelimuti tubuhnya. Dalam sekejap, Adrian kembali melihat masa lalu. Ia melihat Aryan berdiri di sebuah ruangan gelap. Di hadapannya terdapat seorang bayi. Bayi itu adalah dirinya. Aryan mengangkat sebuah benda tajam. Adrian membeku. “Ayah...” ujar Adrian. Dalam ingatan, Aryan perlahan mengangkat tangannya. “Aku harus melakukan ini,” ujar Aryan. Adrian menatap adegan tersebut dengan dada b
“Siapa orang yang menyebabkan ibuku menyembunyikan kehendaknya?” tanya Adrian sambil menatap Kaelvar. Kaelvar terdiam beberapa saat. “Jawabanku tidak akan mengubah apa yang harus kau lakukan,” ujar Kaelvar. Adrian melangkah mendekat. “Jangan menghindar,” bentak Adrian. “Aku sudah cukup lama hidup dalam kebohongan.” Kaelvar menatap mata Adrian. “Orang itu adalah Darvaz,” jawab Kaelvar. Adrian membeku. “Darvaz?” tanya Adrian. “Ya,” jawab Kaelvar. “Namun Darvaz bukan satu-satunya orang yang terlibat.” Adrian mengepalkan tangannya. “Lalu siapa yang membawanya sekarang?” tanya Adrian. “Penjaga Awal,” jawab Kaelvar. Adrian langsung berbalik menuju lorong. “Kita pergi ke Kuil Penjaga Pertama,” ujar Adrian. Alya menyusul. “Aku ikut denganmu,” ujar Alya. Adrian mengangguk. “Kali ini aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kehendak ibuku dariku,” jawab Adrian. Mereka bergerak melewati lorong kuno. Semakin jauh Adrian melangkah, semakin kuat denyutan inti purba di dalam
“Siapa yang mencari ibuku?” tanya Adrian sambil menatap lorong gelap. Langkah kaki semakin terdengar jelas. Inti purba di dalam tubuh Adrian berdenyut keras, sementara simbol putih dari Kehendak Sang Penjaga memancarkan cahaya. [PERINGATAN.] [TIGA ENTITAS PURBA TERDETEKSI.] [TARGET UTAMA: KEHENDAK SANG PENJAGA.] Adrian mengangkat tangan. “Kalau mereka datang untuk mengambil sesuatu dari ibuku, mereka harus melewatiku terlebih dahulu,” ujar Adrian. Alya berdiri di belakangnya. “Adrian, jangan menghadapi mereka sendirian,” ujar Alya. Adrian menoleh sebentar. “Aku tidak sendirian,” jawab Adrian. “Tapi aku yang harus menghadapi mereka.” Tiga bayangan perlahan muncul dari ujung lorong. Mereka mengenakan jubah hitam dengan simbol lingkaran putih di dada. Kaelvar langsung memperlihatkan ekspresi serius. “Penjaga Awal,” ujar Kaelvar. Adrian menatap ketiga sosok itu. “Jadi mereka yang memburu kehendak ibuku?” tanya Adrian. Sosok pertama melangkah maju. “Kehendak itu bukan mili







